Googlebook baru saja dibuka untuk pra-pesan dan langsung ramai dibicarakan. Sebagai pemilik Chromebook Plus, saya justru tidak tertarik bermigrasi.
Chromebook itu eksperimen, bukan tulang punggung
Saya membeli Chromebook untuk menjajal sistem operasi baru. Sehari-hari saya memakai Windows 11 penuh waktu dan Linux separuh waktu, sehingga Chromebook paling jarang tersentuh. Dokumen kerja saya hidup di Microsoft 365, bukan di ekosistem Google.
Masalahnya ada pada versi web-nya. Microsoft 365 daring terasa berat dibandingkan Google Docs, dan fungsinya tidak selengkap versi desktop. Fitur seperti catatan kaki sebenarnya ada di sana, tapi disembunyikan sampai terasa seperti tidak ada. ChromeOS dan Linux sama-sama bergantung pada versi web ini, jadi tidak ada yang lebih nyaman (saya pernah menjajal OnlyOffice di Chromebook lewat Linux Crostini sebagai jalan lain). Googlebook OS tampaknya akan serupa, dan tanpa langganan Google AI Premium manfaat tambahannya bagi saya mungkin minimal.
Di era agen AI, sistem operasi makin tidak menentukan
Pekerjaan saya sering berupa memeriksa dokumen laporan daring. Data masuk kini saya serahkan ke agen AI untuk dianalisis, dibersihkan, dan dirapikan, sementara saya memeriksa hasilnya. Karena alurnya begini, saya tidak keberatan berpindah sistem operasi, bahkan kadang cukup lewat ponsel. Yang menentukan adalah kualitas pengawasan, bukan logo di layar boot.
Laptop berikutnya
Saya belum berencana membeli laptop baru. Saat waktunya tiba, kriteria utama saya adalah dukungan pembaruan (EOL) yang paling panjang, lalu daya tahan baterai untuk kerja lapangan dan Microsoft 365 desktop yang utuh. Windows berbasis ARM atau MacBook lebih cocok dengan daftar itu.
Apa kata Internet?
Yang sejalan dengan saya
- Googlebook bukan pengganti Chromebook. Kedua lini tetap ada: Chromebook untuk kebutuhan sederhana dan terjangkau, Googlebook untuk paket premium dengan Android dan Gemini yang lebih dalam.
- Harganya premium. Googlebook mulai dari USD 899 sampai USD 1.299, sedangkan Chromebook Plus USD 369 sampai 799.
- Bagi pemilik Chromebook Plus, tumpang tindihnya besar. Gemini dan dukungan aplikasi Android sudah ada di sana.
- Sebagian pengulas menyebutnya evolusi, bukan revolusi, bahkan menjulukinya “Chromebook Pro”.
Yang berbeda dari sudut pandang saya
- Pujian utama di Internet adalah integrasi dengan ponsel Android lewat Cast My Apps dan Quick Access, yang membutuhkan Android 17. Pengguna iPhone atau Android lama kehilangan daya tarik utamanya. Masalah saya bukan di ponsel, tetapi di ekosistem dokumen.
- Media memuji Gemini yang menyatu dengan kursor lewat Magic Pointer. Bagi saya kecerdasan itu bisa datang dari layanan AI mana pun di sistem operasi apa pun.
- Pertanyaan yang belum terjawab adalah seberapa terbuka atau terkunci sistemnya, dan apakah ia matang untuk kerja produktif atau hanya sekelas tablet Android.
Yang justru menguatkan pilihan saya
- Lini peluncuran Googlebook terbelah antara x86 dan Arm, dan HP Googlebook 14 memakai Snapdragon X Elite. Arah industri laptop memang menuju Arm, dan itu memperkuat alasan saya melirik Windows on ARM atau MacBook.
Penutup
Googlebook bukan produk buruk. Ia tepat untuk mereka yang hidup di ekosistem Google dan Android. Saya bukan orang itu. Yang saya cari adalah Microsoft 365 desktop yang utuh, baterai awet, dan dukungan pembaruan yang panjang.
Sumber
- Wikipedia: Googlebook
- Gizmochina: Googlebook vs Chromebook
- Gadget Hacks: Googlebook vs Chromebook, What to Check Before Preorder
- Analytics Insight: Googlebooks 2026
- Jason Journals: Googlebook or Chromebook Pro
- Computerworld: 8 critical questions about the Googlebook
- Trusted Reviews: Googlebooks have finally arrived
- Tech Insider: Googlebook hands-on reviews





Tinggalkan Balasan