Bayangkan seorang pengendara sepeda motor di jalur Sragen–Solo yang selamat dari tabrakan beruntun. Luka fisiknya ringan, tetapi dua malam kemudian ia tidak bisa tidur, terus teringat bunyi benturan, tersentak setiap mendengar klakson, dan merasa seolah semuanya “tidak nyata”. Keluarga mengira ia hanya perlu istirahat. Padahal, apa yang ia alami bisa jadi gangguan stres akut (acute stress disorder/ASD): reaksi yang berat dan mengganggu fungsi sehari-hari pada hari-hari pertama setelah peristiwa traumatis.
Apa itu gangguan stres akut?
Menurut kriteria DSM-5-TR, gangguan stres akut didiagnosis bila seseorang terpapar kematian, ancaman kematian, cedera serius, atau kekerasan seksual (langsung, menyaksikan, mengetahui menimpa orang dekat, atau paparan berulang pada detail peristiwa tersebut), lalu muncul sedikitnya sembilan dari empat belas gejala yang berlangsung tiga hari hingga satu bulan setelah peristiwa. Jika gejala bertahan lebih dari sebulan, diagnosisnya bergeser menjadi gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder/PTSD). Perlu dicatat, ICD-11 dari WHO memakai pendekatan berbeda: reaksi stres akut dipandang sebagai respons normal yang tidak digolongkan sebagai gangguan jiwa, tetapi tetap layak dikenali dan didampingi.
Peristiwa pemicu di sekitar kita
Pemicunya tidak harus bencana besar. Kecelakaan lalu lintas, kebakaran rumah, banjir bandang, gempa, kekerasan, perampokan, persalinan yang mengancam nyawa, hingga menyaksikan kematian mendadak di IGD atau di rumah dapat menjadi pencetus. Sebuah tinjauan naratif 2026 menegaskan bahwa penyintas kecelakaan lalu lintas dapat mengalami gangguan stres akut, PTSD, depresi, kecemasan, hingga gangguan tidur, dan bahwa anak serta remaja sangat rentan (Erdoğan-Yıldırım dkk., 2026). Pada pasien cedera wajah, sebuah meta-analisis mendapati sekitar 27% mengalami PTSD pada 1–3 bulan pascacedera, turun menjadi sekitar 10% pada 6–12 bulan (Lal dkk., 2024). Artinya, banyak orang pulih dengan sendirinya, tetapi sebagian membutuhkan bantuan.

Gejala: lima kelompok yang perlu dikenali
| Kelompok gejala | Contoh yang dirasakan |
|---|---|
| Intrusi | Kenangan yang muncul tiba-tiba dan menyakitkan, mimpi buruk, kilas balik, distres hebat saat melihat pengingat peristiwa |
| Suasana hati negatif | Tidak mampu merasakan emosi positif seperti bahagia atau puas |
| Disosiasi | Merasa linglung, dunia terasa tidak nyata, sulit mengingat bagian penting peristiwa |
| Penghindaran | Menolak membicarakan atau melewati tempat dan orang yang mengingatkan pada kejadian |
| Kewaspadaan berlebih | Sulit tidur, mudah marah, sulit berkonsentrasi, mudah terkejut |
Gejala-gejala ini wajar muncul beberapa hari pertama. Yang menjadi tanda bahaya adalah bila begitu berat sehingga orang tidak dapat bekerja, mengurus diri, atau merawat keluarga, atau bila muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Dalam keadaan terakhir, segera cari pertolongan profesional atau layanan gawat darurat terdekat.
Siapa yang lebih berisiko?
Riwayat gangguan jiwa, trauma sebelumnya, minimnya dukungan sosial, dan beratnya peristiwa meningkatkan risiko. Meta-analisis studi prospektif menunjukkan perempuan lebih sering mengalami respons stres psikologis segera setelah trauma yang lebih berat, dan respons awal inilah yang tampaknya mendorong perbedaan keparahan PTSD antara perempuan dan laki-laki (Haering dkk., 2024). Pada anak, gejala sering muncul berbeda, misalnya mengompol kembali, bermain berulang dengan tema kejadian, atau menempel pada orang tua, sehingga penilaian perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan (Kerbage dkk., 2026).
Bagaimana diagnosis dan penanganannya?
Diagnosis ditegakkan lewat wawancara klinis oleh dokter atau psikolog/psikiater, sambil menyingkirkan penyebab lain seperti cedera kepala, efek zat atau obat, dan gangguan medis lain. Pada pasien trauma yang dirawat, pedoman Eastern Association for the Surgery of Trauma (2025) secara bersyarat merekomendasikan skrining risiko PTSD selama perawatan awal dan sangat merekomendasikan terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT) untuk mengurangi risiko berkembangnya PTSD (Kartiko dkk., 2025).
Tinjauan sistematis dan meta-analisis Cochrane-style terhadap 61 studi menyimpulkan bahwa intervensi dini yang ditawarkan kepada semua orang yang terpapar trauma tidak memberi manfaat bermakna. Sebaliknya, pada mereka yang sudah bergejala, terutama yang memenuhi kriteria gangguan stres akut atau PTSD, terapi perilaku kognitif berfokus trauma (CBT-T) memberi manfaat paling kuat, disusul terapi kognitif tanpa paparan dan eye movement desensitization and reprocessing (EMDR) singkat (Roberts dkk., 2019). Sesi debriefing tunggal yang memaksa seseorang menceritakan ulang kejadian tidak dianjurkan (Kerbage dkk., 2026).
| Pendekatan | Posisi dalam bukti terkini |
|---|---|
| Pertolongan pertama psikologis (rasa aman, ketenangan, dukungan praktis, tanpa memaksa bercerita) | Dasar bagi semua penyintas, termasuk di layanan primer dan lokasi bencana |
| Skrining gejala pada pasien trauma | Direkomendasikan bersyarat selama perawatan awal |
| CBT-T, terapi kognitif, EMDR singkat | Dianjurkan bagi yang bergejala atau memenuhi kriteria ASD/PTSD |
| Debriefing tunggal untuk semua orang | Tidak dianjurkan |
Obat-obatan, bila diperlukan, ditujukan untuk gejala spesifik seperti gangguan tidur berat dan diputuskan oleh dokter; obat penenang golongan benzodiazepin tidak menjadi andalan karena dapat mengganggu pemulihan dan berisiko ketergantungan.
Apa yang dapat dilakukan keluarga dan lingkungan?
- Pastikan orang tersebut aman, hangat, makan, dan dapat beristirahat; dampingi tanpa menghakimi.
- Dengarkan bila ia ingin bercerita, tetapi jangan memaksanya menceritakan detail kejadian.
- Jaga rutinitas sederhana: tidur teratur, aktivitas ringan, batasi alkohol dan rokok sebagai pelarian.
- Periksakan diri ke puskesmas, dokter, atau layanan psikologi jika gejala berat, mengganggu fungsi, atau bertahan lebih dari beberapa minggu.
Panduan praktis dapat dibaca dalam Psychological First Aid: Guide for Field Workers dari WHO, yang relevan bagi relawan maupun tenaga kesehatan di lapangan.
Pesan penutup
Terguncang setelah peristiwa mengerikan bukanlah kelemahan. Sebagian besar orang membaik dalam hitungan minggu dengan dukungan yang baik, tetapi mengenali mereka yang membutuhkan lebih dari sekadar waktu dapat mencegah gejala menetap menjadi PTSD. Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan.
Rujukan
Informasi bibliografis diambil dari PubMed.
- Kartiko S, dkk. Posttraumatic stress disorder mitigation in trauma patients: an evidence-based systematic review from the Eastern Association for the Surgery of Trauma. J Trauma Acute Care Surg. 2025;99(6):962-74. doi:10.1097/TA.0000000000004639
- Roberts NP, dkk. Early psychological intervention following recent trauma: a systematic review and meta-analysis. Eur J Psychotraumatol. 2019;10(1):1695486. doi:10.1080/20008198.2019.1695486
- Erdoğan-Yıldırım Z, dkk. Invisible traces after traffic accidents: psychological and behavioral consequences of physical injuries. Injury. 2026;57(6):113277. doi:10.1016/j.injury.2026.113277
- Lal B, dkk. Post-traumatic stress disorder in maxillofacial trauma victims: a systematic review and meta-analysis. J Stomatol Oral Maxillofac Surg. 2024;125(12 Suppl 2):101993. doi:10.1016/j.jormas.2024.101993
- Haering S, dkk. Sex and gender differences in risk factors for posttraumatic stress disorder: a systematic review and meta-analysis of prospective studies. J Psychopathol Clin Sci. 2024;133(6):429-44. doi:10.1037/abn0000918
- Kerbage H, dkk. Posttraumatic stress disorder from early childhood to late adolescence: a resilience-oriented approach. Discov Ment Health. 2026;6(1). doi:10.1007/s44192-026-00488-3





Tinggalkan Balasan