Bayangkan seorang remaja di Palembang yang sejak balita harus ditransfusi darah setiap tiga sampai empat minggu. Jadwal sekolahnya berputar di sekitar kantong darah, kadar besi tubuhnya terus dipantau karena menumpuk akibat transfusi, dan keluarganya hafal rute ke rumah sakit rujukan. Sekarang bayangkan sebuah terapi yang, dalam uji klinis, membuat sebagian besar pasien seperti dia tidak lagi membutuhkan transfusi sama sekali.
Terapi itu bernama exagamglogene autotemcel (exa-cel; nama dagang Casgevy), terapi gen pertama berbasis CRISPR-Cas9 yang mendapat persetujuan regulator untuk manusia. Hasil uji klinisnya memang mengesankan, tetapi ceritanya tidak sesederhana “penyakit sembuh”. Ada kemoterapi berat di awal, pengikut yang masih pendek, dan harga yang menjulang. Artikel ini menelaah apa yang sudah terbukti, apa yang belum, dan apa artinya bagi pasien di Indonesia.
Latar belakang: dua penyakit, satu gen
Penyakit sel sabit dan talasemia beta sama-sama disebabkan kelainan gen HBB yang menyandi rantai beta hemoglobin. Pada penyakit sel sabit, satu perubahan asam amino membuat hemoglobin membentuk serat kaku saat oksigen rendah, sehingga sel darah merah melengkung seperti sabit, menyumbat pembuluh, dan memicu vaso-occlusive crisis (VOC, krisis nyeri hebat yang sering berakhir di IGD). Pada talasemia beta, produksi rantai beta berkurang atau hilang; pada bentuk transfusion-dependent (TDT), pasien bergantung pada transfusi seumur hidup beserta obat pengikat besi (kelasi).
Di Indonesia, talasemia jauh lebih relevan daripada sel sabit. Data Kementerian Kesehatan yang dikutip media memperkirakan sekitar 3.000 bayi lahir dengan talasemia setiap tahun, dengan angka pembawa sifat sekitar 3 sampai 8 persen penduduk (JawaPos). Satu-satunya terapi kuratif yang lazim adalah transplantasi sel punca dari donor saudara yang cocok, yang tidak tersedia bagi sebagian besar pasien.
Apa yang baru
Exa-cel adalah terapi sel autologus: sel punca darah (CD34+) diambil dari pasien sendiri, disunting di laboratorium, lalu dikembalikan. Penyuntingan ini tidak memperbaiki gen HBB yang rusak. Ia justru “menyalakan kembali” hemoglobin janin (fetal hemoglobin, HbF), yang secara alami berhenti diproduksi setelah bayi lahir. HbF tidak ikut menyabit dan dapat menggantikan fungsi hemoglobin dewasa yang cacat 1,2.
Bagaimana cara kerjanya
Anggap gen BCL11A sebagai saklar peredam yang mematikan produksi HbF pada sel darah merah dewasa. CRISPR-Cas9 bekerja seperti gunting molekuler yang dipandu ke satu titik spesifik, yaitu enhancer BCL11A yang khusus aktif di sel darah merah. Setelah titik itu dipotong, saklar peredam rusak, dan gen HbF kembali menyala hanya di garis keturunan sel darah merah 1,2. Alurnya:
| Tahap | Yang terjadi |
|---|---|
| 1. Pengambilan sel | Sel punca darah dikumpulkan lewat aferesis (beberapa siklus). |
| 2. Penyuntingan | Sel disunting CRISPR-Cas9 di laboratorium (butuh waktu berminggu-minggu). |
| 3. Pengondisian | Pasien menerima kemoterapi busulfan dosis tinggi (mieloablatif) untuk mengosongkan sumsum tulang. |
| 4. Infus | Sel hasil sunting dikembalikan; pasien dirawat sampai neutrofil dan trombosit pulih. |
| 5. Pemantauan | Kadar HbF dan hemoglobin dipantau; transfusi dapat dihentikan bila respons baik. |
Bukti ilmiah
Bukti utama berasal dari uji klinis fase 3 satu kelompok (tanpa pembanding) yang didanai pengembang obat. Lima publikasi berikut saling melengkapi: dua uji pivotal pada usia 12 sampai 35 tahun, uji pada anak, serta analisis kualitas hidup dan besi tubuh.
| Studi | Desain dan sampel | Temuan utama |
|---|---|---|
| Frangoul dkk., N Engl J Med 2024 (penyakit sel sabit) 1 | Fase 3, satu kelompok; 44 pasien diinfus, 30 dapat dievaluasi; usia 12-35 tahun; median pengikut 19,3 bulan | 29 dari 30 pasien (97%) bebas VOC minimal 12 bulan berturut-turut; 30 dari 30 (100%) bebas rawat inap akibat VOC; tidak ada kanker |
| Locatelli dkk., N Engl J Med 2024 (TDT) 2 | Fase 3, satu kelompok; 52 pasien diinfus, 35 dapat dievaluasi; median pengikut 20,4 bulan | 32 dari 35 (91%) bebas transfusi minimal 12 bulan; rerata hemoglobin total 13,1 g/dL dan HbF 11,9 g/dL; tidak ada kematian atau kanker |
| Frangoul dkk., N Engl J Med 2026 (anak 5-11 tahun) 3 | Dua uji fase 3; 15 anak TDT dan 11 anak sel sabit; median pengikut sekitar 16-17 bulan | 8 dari 8 anak TDT dan 8 dari 8 anak sel sabit yang diikuti minimal 16 bulan memberi respons; semua anak mengalami efek samping derajat 3-4; 2 anak TDT mengalami penyakit veno-oklusif hati berat akibat busulfan, 1 meninggal |
| Sharma dkk., Blood Adv 2025 (kualitas hidup) 4 | Analisis luaran lapor-pasien; 30 dewasa dan 12 remaja sel sabit | Perbaikan bermakna pada kualitas hidup dan nyeri, bertahan hingga bulan ke-36 pada dewasa |
| Sheth dkk., Am J Hematol 2026 (besi dan eritropoiesis TDT) 5 | Analisis eksploratori; 56 pasien TDT | 55 dari 56 (98%) bebas transfusi minimal 12 bulan; 68% berhenti terapi pengikat besi; hepsidin dan penanda eritropoiesis membaik |
Perhatikan bahwa angka 97 persen dan 91 persen dihitung dari pasien yang sudah memiliki pengikut cukup lama, bukan dari semua yang diinfus. Itu praktik analisis yang lazim pada analisis interim, tetapi pembaca perlu menyadarinya.
Apa artinya bagi pasien dan masyarakat
Bagi pasien dan keluarga, manfaat potensialnya besar: bebas krisis nyeri atau bebas transfusi, tanpa perlu donor saudara yang cocok. Namun harganya juga besar, bukan hanya uang. Pasien harus menjalani kemoterapi busulfan yang berat, dirawat berminggu-minggu, dan menghadapi risiko infeksi, gangguan hati, serta dampak pada kesuburan. Dari sisi biaya, harga katalog yang dilaporkan di Amerika Serikat sekitar US$2,2 juta per pasien (angka dapat berubah dan belum termasuk biaya rumah sakit). Saya tidak menemukan informasi izin edar maupun skema pembiayaan JKN untuk terapi ini di Indonesia, sehingga untuk saat ini ia belum menjadi pilihan yang realistis bagi pasien di Medan, Makassar, atau Sragen sekalipun.
Pesan praktisnya: bagi keluarga yang anaknya menyandang talasemia, prioritas tetap pada transfusi teratur, kelasi besi yang patuh, dan pemantauan di fasilitas rujukan. Bagi pasangan yang ingin merencanakan kehamilan, skrining pembawa sifat dan konseling genetik tetap cara paling murah untuk mencegah talasemia berat.
Apa artinya bagi tenaga kesehatan
Bagi klinisi, exa-cel menggeser pertanyaan dari “adakah terapi kuratif tanpa donor?” menjadi “siapa yang layak, kapan, dan di mana?”. Kandidat ideal adalah pasien dengan penyakit berat (misalnya VOC berulang meski sudah hidroksiurea, atau TDT) yang cukup bugar menjalani mieloablasi. Hal yang perlu diwaspadai: toksisitas busulfan (termasuk penyakit veno-oklusif hati, terutama pada anak), perlunya pusat dengan kemampuan transplantasi dan pemantauan jangka panjang, serta konseling preservasi kesuburan sebelum terapi. Edukasi pasien sebaiknya jujur bahwa data pengikutnya masih berkisar dua sampai tiga tahun.
Keterbatasan dan pertanyaan terbuka
- Semua uji adalah fase 3 satu kelompok tanpa pembanding acak; ukuran sampelnya kecil dan didanai produsen.
- Pengikut median sekitar 16 sampai 20 bulan; efek jangka panjang (misalnya keamanan genom, risiko keganasan, ketahanan respons selama puluhan tahun) belum diketahui. Studi pengikut jangka panjang masih berjalan.
- Pada anak, uji baru melibatkan 26 orang dan sudah mencatat satu kematian akibat komplikasi kemoterapi, sehingga keseimbangan manfaat dan risiko pada anak masih perlu dikonfirmasi.
- Risiko teoretis penyuntingan di luar target (off-target) dipantau, tetapi tidak ada kanker dilaporkan dalam uji pivotal.
Dimensi etik, sosial, dan regulatif
Terapi ini bersifat somatik: perubahan hanya terjadi di sel darah pasien dan tidak diwariskan ke anak, berbeda dengan penyuntingan embrio yang secara luas dianggap tidak dapat diterima. Isu etik utamanya adalah keadilan akses. Penyakit ini paling banyak menyerang kelompok yang paling sulit membayar, sementara terapinya berharga jutaan dolar dan membutuhkan pusat berteknologi tinggi. Persetujuan berinformasi pada anak dan orang tua harus menjelaskan risiko kemoterapi dengan terang; kasus terapi gen eksperimental lain yang pernah kami bahas menunjukkan mengapa transparansi risiko tidak boleh ditawar (baca ulasannya). Dari sisi regulasi, produk terapi sel dan gen di Indonesia memerlukan evaluasi BPOM dan fasilitas yang memenuhi standar; pembiayaannya belum memiliki kerangka yang jelas.
Konteks yang lebih luas
Exa-cel adalah penanda bahwa penyuntingan gen telah berpindah dari laboratorium ke praktik klinis. Pendekatan berikutnya yang sedang dikembangkan berupaya mengurangi kebutuhan kemoterapi mieloablatif dan biaya produksi, dua hambatan terbesar untuk negara berpenghasilan menengah seperti Indonesia. Sementara itu, pengobatan konvensional seperti hidroksiurea, yang formulasi pediatriknya telah kami ulas di sini, tetap menjadi tulang punggung perawatan.
Pesan kunci
- Untuk pembaca umum: exa-cel menyunting sel punca darah pasien sendiri agar tubuh kembali memproduksi hemoglobin janin; pada uji klinis, hampir semua pasien yang dapat dievaluasi bebas krisis nyeri (sel sabit) atau bebas transfusi (talasemia).
- Untuk pembaca umum: ini bukan terapi sederhana: perlu kemoterapi berat, perawatan lama, dan berharga jutaan dolar; belum tersedia di Indonesia sejauh yang kami temukan.
- Untuk tenaga kesehatan: bukti berasal dari uji fase 3 satu kelompok dengan pengikut sekitar 1,5 sampai 2 tahun; toksisitas busulfan, kesuburan, dan akses adalah isu utama.
- Untuk keduanya: skrining pembawa sifat, transfusi dan kelasi yang baik tetap fondasi penanganan talasemia di Indonesia.
Tanya jawab singkat
Apakah exa-cel menyembuhkan penyakit sel sabit dan talasemia?
Dalam uji klinis, mayoritas pasien yang dapat dievaluasi bebas gejala utama selama setidaknya 12 bulan. Istilah “sembuh” masih terlalu dini karena pengikut jangka panjang belum tersedia.
Apakah perubahan gen ini diwariskan ke anak?
Tidak. Penyuntingan dilakukan pada sel punca darah (sel somatik), bukan sel telur atau sperma.
Mengapa pasien perlu kemoterapi?
Kemoterapi busulfan mengosongkan sumsum tulang agar sel hasil sunting dapat menetap. Inilah sumber utama risiko serius, termasuk gangguan hati dan kesuburan.
Apakah terapi ini tersedia di Indonesia?
Kami tidak menemukan informasi izin edar atau pembiayaan JKN untuk terapi ini. Pasien sebaiknya berdiskusi dengan dokter spesialis anak hematologi-onkologi atau penyakit dalam hematologi.
Apa yang bisa dilakukan keluarga sekarang?
Patuh pada transfusi, kelasi besi, dan kontrol rutin; pasangan usia subur dapat menjalani skrining pembawa sifat dan konseling genetik.
Referensi
- Frangoul H, Locatelli F, Sharma A, Bhatia M, Mapara M, Molinari L, et al. Exagamglogene autotemcel for severe sickle cell disease. N Engl J Med. 2024. doi:10.1056/NEJMoa2309676. PMID: 38661449.
- Locatelli F, Lang P, Wall D, et al. Exagamglogene autotemcel for transfusion-dependent beta-thalassemia. N Engl J Med. 2024. doi:10.1056/NEJMoa2309673. PMID: 38657265.
- Frangoul H, de la Fuente J, Chopra Y, Meisel R, et al. Exa-cel in children with transfusion-dependent beta-thalassemia or sickle cell disease. N Engl J Med. 2026. doi:10.1056/NEJMoa2603387. PMID: 42274009.
- Sharma A, Locatelli F, Bhatia M, et al. Improvements in health-related quality of life in patients with severe sickle cell disease after exagamglogene autotemcel. Blood Adv. 2025. doi:10.1182/bloodadvances.2025016701. PMID: 40857358.
- Sheth S, Corbacioglu S, de la Fuente J, Algeri M, Rupprecht J, et al. Correction of ineffective erythropoiesis and normalization of iron homeostasis after exagamglogene autotemcel in transfusion-dependent beta-thalassemia. Am J Hematol. 2026. doi:10.1002/ajh.70382. PMID: 42252696.
Disclaimer: artikel ini bersifat edukatif, berbasis literatur ilmiah yang tersedia saat penulisan (Oktober 2026), dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Keputusan diagnosis dan terapi tetap menjadi ranah dokter yang menangani Anda.





Tinggalkan Balasan