Di dataran tinggi itu, orang tidak menghitung bulan dengan angka. Agustus disebut lakraniphaxi, bulan yang bermulut, dan sepanjang bulan itu tanah dianggap lapar, jadi orang memberinya daun koka, alkohol, dan janin llama kecil yang dikubur di bawah ambang pintu. Eulalia Condori turun dari bus di Wila Qala pada hari ketiga bulan bermulut itu, setelah sembilan belas tahun tidak pulang, dan hal pertama yang dilakukan tanah itu kepadanya adalah merebut napasnya.

Udara setipis kertas pembungkus. Ia berdiri di tepi jalan tanah dengan koper beroda yang tak berguna di atas kerikil, dan merasa paru-parunya mengecil sebesar kepalan anak kecil. Bus itu meninggalkannya dalam awan debu keperakan. Di kejauhan, deretan puncak bersalju tampak seperti gigi geligi yang rapi, dan di bawahnya, rumah-rumah adobe berwarna sama dengan tanah, nyaris tak terbedakan, seakan-akan desa itu hanyalah gagasan tanah tentang tempat tinggal.

Tak ada yang menjemput. Ibunya sudah delapan bulan dikubur, tanpa kehadirannya.

Itu yang pertama dari beberapa hal yang tidak ingin ia pikirkan, maka ia memikirkan map di dalam kopernya. Map kardus abu-abu berisi dua belas lembar kontrak sewa padang gembala komunal, dengan kolom kosong untuk cap jempol. Kantor hukum tempatnya bekerja di La Paz mewakili sebuah perusahaan yang menginginkan tanah di balik bukit itu, dan ia sudah mengatakan kepada atasannya bahwa ia pulang untuk berkabung. Itu setengah benar. Eulalia pandai dalam setengah-setengah yang benar. Itulah keahlian yang membuatnya dibayar.

Rumah ibunya masih berdiri. Pintunya diikat dengan seuntai bawang putih yang sudah mengering, dan di ambang, seperti perkiraan, ada tanah yang digali dan ditimbun lagi. Seseorang telah memberi makan rumah itu selama ia pergi. Tetangga sebelah, Doña Justa, yang rambutnya dikepang dua sampai ke pinggang dan matanya keruh seperti air rendaman jagung, muncul tanpa suara di belakangnya dan berkata dalam bahasa Aymara yang sudah berkarat di telinga Eulalia, “Kau datang di bulan yang salah.”

“Ibuku meninggal di bulan yang salah juga,” jawab Eulalia, dan langsung menyesal, sebab perempuan tua itu hanya mengangguk, seolah-olah itu catatan yang sudah lama ia tunggu.


Ia mencoba menyalakan kompor ibunya dan gagal tiga kali. Tangannya masih mengingat cara memutar korek yang lembap, tetapi tubuhnya sudah lupa cara meniup api tanpa terengah di ketinggian empat ribu meter. Doña Justa mengamatinya dari ambang pintu, lalu tanpa berkata-kata mengajarinya lagi, seperti mengajari anak kecil, dengan jari-jari tua yang gemetar halus dan sabar.


Malam pertama ia tidur dengan jaket, topi, dan dua selimut wol yang berbau lanolin dan asap. Rumah itu menyimpan bau ibunya di serat-seratnya: minyak kemiri, kentang beku yang dijemur menjadi chuño, dan sesuatu yang manis dan agak busuk, seperti buah yang terlalu lama disimpan untuk hari raya. Ia terjaga hingga lewat tengah malam, menghitung kesalahannya seperti orang menghitung uang receh.

Ibunya pernah mengirim surat tiga kali setahun. Eulalia membalas satu kali setahun, selalu dengan uang. Ketika ibunya mulai kurus, kata orang-orang yang dititipi kabar, ia mengirim uang lebih banyak, bukan dirinya. Ada kalimat yang diam-diam ia pegang sebagai dalih: aku sudah membayar. Seakan-akan sebuah hidup bisa dilunasi dengan nomor rekening.

Di luar, anjing-anjing desa melolong bergantian, dari ujung ke ujung, seperti berita yang merambat dari mulut ke mulut.


Sebelum matahari terbit, ia berjalan ke pemakaman di lereng. Kuburan di dataran tinggi tidak bernisan batu yang rapi. Gundukan-gundukan rendah itu dihiasi kaleng bekas berisi bunga kertas, botol plastik yang diisi chicha, dan sepotong roti yang sudah dikeraskan angin. Di gundukan ibunya, seseorang telah meletakkan sehelai ponco kecil dan segenggam daun koka yang disusun rapi, seperti hidangan bagi tamu yang tak kunjung tiba.

Eulalia berdiri lama di situ. Ia tak menangis. Ia mencoba, tetapi air matanya, seperti kata-kata, sudah lama dititipkan di tempat lain. Ia hanya meletakkan telapak tangan di tanah yang dingin dan kasar, dan merasa dirinya penagih yang datang terlambat ke sebuah rekening yang sudah ditutup.

Seekor anjing kurus duduk tak jauh dari sana, menatapnya dengan sabar yang tidak wajar.


Pagi harinya ia tahu mengapa tak ada yang menjemput.

Don Faustino dan Don Hilarión, dua lelaki yang dulu ikut menandatangani surat pendahuluan untuk perusahaan, terbaring di dipan masing-masing. Eulalia datang mengantar map dan kantong gula sebagai tanda sopan, dan disambut bau yang tak ia kenal. Bukan bau penyakit biasa. Bau ruangan yang sudah lama tidak dimasuki apa pun yang hidup.

Don Faustino kurus sekali. Kulitnya menggantung dari tulang pipinya seperti kain basah di jemuran. Istrinya bercerita dengan suara rendah bahwa pada suatu pagi di akhir Juli suaminya terbangun dengan lidah pahit dan perut yang berdenyut, tanpa ingat apa pun tentang malam sebelumnya. Hanya satu: ia bermimpi ada orang yang menyebut nama jiwanya dengan sangat sopan. Sejak itu daging di tubuhnya seakan-akan dihisap dari dalam. Tak ada luka. Dukun pengobat sudah memeriksa punggungnya, dan tak menemukan satu goresan pun.

“Lik’ichiri,” kata istrinya, hampir tanpa suara, seakan-akan nama itu sendiri bisa mendengar.

Eulalia pernah mendengar nama itu sebagai anak. Sosok yang menyerupai biarawan, atau orang kota, atau apa pun yang tidak cocok dengan keluarga mana pun. Ia datang pada malam hari kepada para pejalan sendirian atau orang yang tidur lelap, memakai doa dan serbuk tulang untuk menidurkan, lalu dengan alat kecil mengambil lemak keras di sekitar ginjal. Tubuh tak berbekas apa-apa sampai terlambat. Ibunya dulu memperingatkan, dengan nada setengah bercanda, bahwa orang yang pulang kemalaman dari ladang harus mengunyah bawang putih. Eulalia mengiranya takhayul untuk menakut-nakuti anak yang nakal.

Namun kata istri Don Faustino yang berikutnya membuat tengkuknya dingin. “Dua-duanya sudah menandatangani. Dan orang-orang bilang kau datang membawa sisanya.”


Desa itu mulai memperhatikan orang asing, dan yang paling mudah diperhatikan adalah Anders.

Ia datang dua hari sebelum Eulalia, seorang ahli hidrologi muda dari Denmark yang tinggi seperti tiang listrik, berkacamata, dengan kulit yang terbakar matahari ketinggian sampai mengelupas di hidung. Ia membawa tabung ukur, tripod, dan buku catatan, dan ia mengukur mata air di punggung bukit karena sebuah lembaga di negerinya ingin tahu seberapa cepat gletser kecil di atas desa itu menyusut. Ia sopan dan canggung, sering tersenyum, dan bicara bahasa Spanyol yang terlalu rapi. Ia tinggal di ruang kosong di balik toko kecil Doña Beatriz.

Anak-anak mengikutinya di jalan sambil berbisik. Para ibu menutup pintu ketika ia lewat. Seseorang melempar batu kecil ke tripodnya, bukan untuk melukai, tetapi untuk berkata sesuatu. Ada lelaki yang berkata, tanpa menyebut siapa pun, bahwa di tahun delapan puluhan ada penyuluh kesehatan asing yang mengukur lingkar pinggang anak-anak desa tetangga, dan setelah itu tiga anak menghilang dari daftar kelas. Entah benar atau tidak. Cerita tentang ketakutan jarang peduli pada kebenaran, sebab ketakutan itu sendiri sudah merupakan jenis catatan sejarah.

Eulalia menemukan dirinya membela Anders di depan toko, dengan Spanyol dari kantor hukum yang licin dan pasti. Ia berkata bahwa lelaki itu hanya mengukur air. Bahwa kabar seperti itu adalah cara orang miskin menamai sesuatu yang terlalu besar untuk dilawan. Orang-orang menatapnya tanpa membantah. Dan dalam diam itu, ia merasa dirinya yang sedang diukur.

Doña Justa, sang yatiri, duduk di bangku toko dengan segelas teh koka. Ia tidak memandang Anders sama sekali. Ia memandang Eulalia.

“Kau membela dia dengan sangat pandai,” katanya. “Seperti orang yang biasa membela hal-hal yang tidak ia sukai.”


Anders menemuinya di belakang toko, memegang topi di dada seperti orang yang meminta maaf atas keberadaannya. Ia berterima kasih dengan canggung, lalu menunjukkan buku catatannya: kolom-kolom angka kecil, tinggi muka air, suhu, laju cair. Gletser di atas desa kehilangan satu setengah meter tiap tahun. “Dalam dua puluh tahun, mungkin mata air ini hilang,” katanya. “Orang-orang tidak perlu takut padaku. Aku hanya membawa kabar yang sudah mereka ketahui.”

Eulalia menatap deretan angka itu dan berpikir bahwa tak seorang pun di desa ini membutuhkan angka untuk tahu bahwa air makin jauh. Yang mereka butuhkan adalah seseorang untuk disalahkan, dan ia, yang paham angka sekaligus bahasa mereka, berdiri di persimpangan yang paling berbahaya.

“Jangan jalan sendirian di malam hari,” katanya kepada Anders.

Lelaki itu tertawa kecil. “Kupikir itu hanya cerita.”

“Ya,” jawab Eulalia. “Itu hanya cerita.” Dan ia tidak yakin siapa yang sedang ia yakinkan.


Sore itu Doña Justa memanggilnya ke dapur, dan tanpa basa-basi menunjukkan seekor domba hitam yang diikat di halaman belakang.

“Untuk Faustino,” katanya. “Darahnya dicurahkan ke tubuh orang sakit, lalu ia harus makan lemak sebanyak yang bisa ditelannya. Begitulah cara kami dulu. Kadang berhasil. Kadang yang diambil terlalu banyak.”

“Kalau yang mengambil itu orang asing,” kata Eulalia, “kenapa darah domba bisa mengembalikannya?”

Perempuan tua itu memutar-mutar cangkir tehnya. “Siapa bilang ia orang asing? Nenek moyang kami menyebutnya orang asing karena ia datang dari luar lingkaran. Tetapi lingkaran bisa dilewati dari dalam juga. Ada yang keluar dengan sepatu bagus dan kembali dengan kertas.” Ia tidak melanjutkan. Ia tidak perlu.

Eulalia merasa pipinya memanas, dan itu sebabnya ia keluar dengan dalih mencari angin. Di halaman, domba hitam itu menatapnya dengan mata tenang yang berbentuk seperti lubang kunci. Ia mendengar dari dalam rumah suara Doña Justa bergumam dalam bahasa yang lebih tua daripada gereja, dan ia sadar bahwa ia sudah lama tidak mendengar bahasa yang tidak sedang ingin menjual sesuatu.


Pada malam ketujuh, Eulalia bermimpi tentang suara kecil.

Bukan suara manusia. Detak halus yang teratur, seperti mesin jahit yang dijalankan sangat jauh, atau jam saku di dalam saku orang yang sedang berjalan menuju rumah. Ia bangun dan mendapati kamarnya diterangi cahaya bulan sabit yang masuk lewat celah pintu, dan ikatan bawang putih di pintu sudah diganti, tanpa seorang pun tahu siapa yang melakukannya. Ia ingin tertawa. Ia tidak tertawa.

Dari balik dinding terdengar seseorang memanggil, dan itu bukan nama yang dipakainya di La Paz. Itu nama lama, nama yang diberikan ibunya di atas tungku, sepotong kecil bunyi yang katanya adalah rumah bagi ajayu, jiwa yang bisa tertinggal di tempat orang terkejut. Suara itu persis suara ibunya, tidak meniru, hanya persis, dengan nada ragu-ragu yang sama seperti ketika ibunya menunggu telepon dari kota yang tak pernah berdering.

Eulalia menutup telinga dengan selimut dan menghitung napas sampai fajar.


Hari kesembilan, Anders menghilang.

Kata Doña Beatriz, ia pergi sore hari membawa lampu minyak kecil dan sebotol air, hendak berjalan ke pos ukur di tikungan ketiga untuk membaca alatnya pada senja, dan belum kembali sampai bulan terbit. Orang-orang berkumpul di depan toko dengan wajah yang dipaksa tenang. Tak seorang pun menyebut apa yang mereka takutkan. Tak seorang pun juga menawarkan diri untuk mencari. Orang-orang itu menunggu sesuatu, dan Eulalia terlambat memahami bahwa yang mereka tunggu adalah dirinya.

“Kau yang bisa bicara dengan dia,” kata seseorang.

Itu benar, dan itu bukan alasan yang sebenarnya.

Doña Beatriz menyodorkan sebuah lampu minyak cadangan, dan tangannya gemetar sampai minyak bergoyang di dalam kaca. “Jangan tidur di jalan,” bisiknya. “Dan jangan menjawab kalau ada yang memanggilmu dengan nama kecilmu.” Eulalia mengangguk, sebab ia tahu bahwa nama kecilnya hanya diketahui oleh dua orang, dan salah satunya sudah dikubur di lereng.


Ia berjalan sendirian. Jalan tanah itu berkelok ke atas, memotong padang ichu yang merunduk ditiup angin dingin, dan bintang-bintang di atas altiplano terlalu banyak untuk disebut indah, terlalu rapat sehingga langit tampak sakit. Ia membawa senter yang cahayanya mati-matian melawan gelap dan seuntai bawang putih yang dikalungkan Doña Justa ke lehernya tanpa berkata apa pun.

Di tikungan ketiga, ia menemukan lampu itu terlebih dahulu: nyala kuning kecil yang bergoyang di atas sebuah batu pipih di tepi jalan. Anders terbaring di samping batu, tertutup ponco wol, napasnya dalam dan teratur, seperti bayi. Ia tidur dengan tenang, nyaris bahagia.

Dan di batu itu, membelakanginya, duduk seseorang.

Ia mengenakan jubah panjang berwarna tanah dan topi lebar yang menutupi tengkuk. Punggungnya lurus, sabar, seperti orang yang menunggu bus yang ia tahu pasti akan datang. Tak ada bau. Tak ada bayangan, atau mungkin bayangannya hanya tertelan ke dalam gelap yang lebih besar. Di pangkuannya, Eulalia melihat sesuatu yang berkilat sebentar, kecil, sebesar kotak korek, dengan detak yang sama persis seperti di mimpinya.

Padang tinggi Andes di malam hari di bawah bulan sabit; sosok berjubah duduk membelakangi pembaca di atas batu pipih di tepi jalan, di samping lampu minyak kecil dan seorang pejalan yang tertidur berselimut ponco.
Di tikungan ketiga, seseorang menunggu dengan sabar.

Ia tahu seharusnya ia lari. Ia tahu seharusnya ia menjerit memanggil desa. Yang ia lakukan adalah berdiri diam, sebab sesuatu dalam dirinya, sesuatu yang lebih tua dari kantor hukum dan lebih patuh daripada rasa takut, mengenali kesabaran itu.

“Dia bukan urusanmu,” kata Eulalia, pelan, dalam Aymara yang mengejutkan dirinya sendiri karena lancar. “Dia hanya mengukur air.”

Sosok itu tidak menoleh. Suaranya datang dari mana saja, dari batu, dari rumput, dari bagian dalam telinganya sendiri, dan nadanya adalah nada ibunya yang sedang menyisir rambut seorang anak: tidak marah, tidak menuduh, hanya menyebutkan yang sudah diketahui.

“Hoy por ti, mañana por mí.”

Hari ini untukmu, besok untukku. Itu rumus ayni, dasar hubungan di antara orang-orang di dataran tinggi: kau membantu menanam di ladangku, aku menuai di ladangmu; kau menguburkan ibuku, aku menguburkan ibumu. Tak ada yang lunas dalam ayni, dan justru karena itulah segalanya tetap hidup. Orang asing yang datang, mengambil, dan pergi tanpa mengembalikan adalah makhluk yang paling dikutuk di lembah itu, sebab ia memutus lingkaran.

Eulalia merasakan lututnya melemah. Ia memikirkan dua belas lembar kertas di dalam kopernya. Ia memikirkan Don Faustino dan Don Hilarión, yang menandatangani karena ia, atau orang-orang seperti dirinya, berkata bahwa tanda tangan itu aman. Ia memikirkan uang yang dikirimnya ke ibunya, rapi dan dingin, dan telepon yang tidak pernah ia angkat pada hari ibunya terakhir menelepon.

Ia ingat hari itu dengan ketepatan yang kejam. Ponsel bergetar di meja saat rapat. Layar menampilkan satu kata, Mamá, dan ia menekan tombol diam sambil berkata kepada klien, tunggu sebentar, ini bukan hal penting. Pesan suara itu hanya berisi napas dan sebuah kalimat yang tak selesai: “Hija, di sini sudah dingin sekali, kapan…” Ia tidak pernah mendengarkannya sampai habis. Ia menghapusnya dengan alasan penyimpanan.


Ia sadar, dengan kejernihan yang menyakitkan, bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan orang asing. Ia berhadapan dengan penagih yang hanya menunggu orang yang mengerti angka.

“Kau tidak mengambilnya dari Don Faustino karena ia memberi tanda tangan,” katanya. “Kau mengambilnya karena aku.”

Sosok itu tidak menjawab. Tetapi untuk pertama kalinya ia menggeser sedikit duduknya, memberi tempat di batu pipih itu, tempat yang cukup untuk satu orang lagi. Seperti sebuah undangan. Seperti ketika ibunya menepuk-nepuk bangku di samping tungku, tanpa kata-kata, ketika Eulalia kecil pulang terlambat dan ingin dimaafkan tanpa meminta.

Ia duduk.

Detak itu menjadi lebih jelas. Ada kesejukan di punggung bawahnya, di dekat tempat sebuah ginjal tinggal, lembut seperti ujung jari anak kecil yang menyentuh kelopak. Tak sakit. Ia justru merasa lega, seperti ketika beban yang disimpan terlalu lama akhirnya diangkat oleh tangan yang tidak menghakimi. Di sampingnya, Anders menghela napas dalam tidurnya dan berbalik, dan di bawah langit yang terlalu penuh itu, Eulalia merasa jiwanya, ajayu-nya, merenggang pelan keluar dari tubuhnya seperti benang dari gulungan.


Ia terbangun menjelang fajar di tepi jalan, dalam dingin yang menggigit, dengan Anders yang duduk tegak di sebelahnya, kebingungan dan memegangi kepalanya.

“Aku ketiduran,” kata lelaki itu dalam Spanyol yang terlalu rapi. “Kupikir aku hanya mau beristirahat sebentar.”

Tak ada jubah. Tak ada topi. Hanya batu pipih, lampu minyak yang sudah mati, dan jejak dingin di punggung bawah Eulalia yang tak bisa ia jelaskan. Ia membantu lelaki itu berdiri. Mereka berjalan turun ke desa dalam cahaya kelabu yang terbit pelan di balik puncak bersalju. Orang-orang berdiri di depan toko dan menyaksikan mereka datang. Doña Justa, yang berdiri paling depan, tidak bertanya apa pun. Ia hanya menatap pinggang Eulalia, lama, sebelum menunduk.


Ia pergi dari Wila Qala dua hari kemudian. Map kardus abu-abu itu ia tinggalkan di dalam kompor ibunya, dan ia menyalakan api sampai semuanya menjadi abu halus yang melayang naik lewat cerobong. Di kantor, ia akan mengatakan bahwa warga menolak. Itu setengah benar, dan untuk pertama kalinya ia tidak menikmati keahliannya.

Di desa itu, kata orang yang berkirim kabar kemudian, Don Faustino bangun pada suatu pagi dengan lapar yang tak masuk akal dan meminta bubur. Don Hilarión menyusul seminggu kemudian. Kulit mereka berangsur terisi. Doña Justa tidak mengakui apa-apa. Ia mengatakan hanya bahwa bulan yang bermulut sudah berakhir dan tanah sudah kenyang.


Eulalia kembali ke La Paz, ke kamar sewaannya di lantai empat dengan jendela menghadap lembah yang gemerlap oleh lampu kota, dan hidup seperti sebelumnya. Hampir.

Ia mulai kehilangan berat badan tanpa alasan. Dokter yang diperiksanya berkata ginjalnya baik, hasil darahnya baik, semuanya baik, dan menyarankan makan lebih banyak. Perutnya kerap berdenyut di dini hari. Setiap malam, tepat ketika kota mulai sunyi, ia mendengar dari kejauhan sebuah detak kecil yang teratur, seperti mesin jahit di rumah seseorang yang tak tidur.

Seorang rekan kerja memberinya seuntai bawang putih dari pasar, setengah bercanda, setelah mendengar ia sering pucat. Eulalia berterima kasih dan menggantungnya di kenop pintu dengan penuh sopan santun, lalu pada malam harinya, setelah lampu dimatikan, ia bangkit dan memindahkannya ke atas lemari, jauh dari jangkauan, jauh dari ambang.

Ia membuka jendela sedikit saja. Udara dingin masuk membawa bau debu dan asap kota.

Di kegelapan, ia berbaring telentang dan mengucapkan, pelan, kepada langit-langit, kepada ibunya, kepada siapa pun yang mau mendengar:

“Hoy por ti.”

Dan menunggu mañana.


Catatan dari Penjaga Tengah Malam

Cerita ini terinspirasi dari kharisiri (Aymara; juga lik’ichiri), yang dalam bahasa Quechua dikenal sebagai ñaqaq atau pishtaku: sosok penyedot lemak dalam cerita rakyat dataran tinggi Bolivia dan Peru. Ia disebut menidurkan korbannya lewat doa atau serbuk tulang, lalu mengambil lemak di sekitar ginjal dengan alat kecil. Korban terbangun tanpa luka, tanpa ingatan, dan perlahan layu. Legenda ini diyakini berakar dari masa penaklukan Spanyol, dan oleh banyak peneliti dibaca sebagai bahasa ketakutan masyarakat yang tereksploitasi: ketakutan pada pihak luar yang mengambil tanpa mengembalikan, hal yang melanggar prinsip timbal balik (ayni) yang dijunjung budaya Aymara dan Quechua.

Wila Qala, Eulalia, Anders, Doña Justa, dan semua tokoh lain adalah rekaan. Dalam tradisi aslinya, kharisiri adalah sang pengeksploitasi. Cerita ini sengaja membalik cermin: bagaimana kalau yang ditagih adalah orang dalam, perantara yang menikmati sistem yang sama? Ini tafsir fiksi, bukan klaim tentang keyakinan nyata siapa pun. Kepercayaan pada kharisiri adalah bagian hidup yang serius bagi banyak komunitas Andes, dan di masa lalu tuduhan semacam ini pernah berujung kekerasan terhadap orang tak bersalah, jadi mohon dibaca sebagai fiksi dan dengan hormat. Ungkapan “Hoy por ti, mañana por mí” (“hari ini untukmu, besok untukku”) adalah padanan Spanyol yang lazim dipakai untuk menggambarkan ayni.

Estimasi waktu baca: sekitar 14 menit. Peringatan konten: tema kematian orang tua, rasa bersalah, penyakit melemahkan, dan kecurigaan terhadap orang asing; tanpa adegan kekerasan grafis.

Jejak Sumber

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca