Les pèlerins au-dessus des nuages

Bagian I: Kepulangan · Bab 2

“Marthen.”

Oma mengucapkan nama itu dengan cara orang mengucapkan nama seseorang yang baru saja muncul di tikungan jalan, bukan nama orang yang dua puluh satu tahun tidak pulang. Ringan. Hampir menegur. Ia menegakkan punggung di kursi rotan, dan tangannya yang tadi menggantung ragu di udara kini bergerak pasti, menepuk-nepuk sarung di pangkuannya seperti menepuk tikar supaya tamu duduk.

“Marthen, ose su pulang? Kenapa cepat? Matahari masih tinggi.”

Raka tidak bergerak dari anak tangga pertama. Tas kanvas itu masih di tangannya, dan tiba-tiba buku-buku di dalamnya terasa seberat batu karang yang diangkat dari dasar laut.

“Oma,” katanya. “Ini Raka.”

Oma tertawa. Tawa pendek, tawa yang dulu ia pakai setiap kali Raka kecil mengaku tidak lapar padahal perutnya berbunyi. “Raka masih tidur siang. Jangan bangunkan dia, nanti dia menangis sampai sore.” Ia memiringkan kepala, memandangi wajah Raka dengan mata yang menyipit, mata yang mencari sesuatu dan menemukan sesuatu yang lain. “Mana ikan? Ose pulang tidak bawa ikan? Perahu di mana?”

Di belakangnya, Raka mendengar pagar bambu berderit pelan. Sari tidak pergi. Sari tidak masuk. Ia hanya berdiri di sana, dan Raka bisa merasakan tatapannya di tengkuk seperti panas matahari jam dua.

“Perahu di pantai, Oma,” kata Raka akhirnya. Suaranya keluar lebih serak dari yang ia mau. “Ikan… ikan nanti.”

“Ah.” Oma mengangguk-angguk, puas, seolah semua sudah berada di tempatnya. “Laut lagi pelit, to? Musim begini laut pelit. Bapa ose dulu juga bilang begitu.” Ia berhenti. Keningnya berkerut sebentar, seperti ada benang kusut di dalam kepalanya yang ditarik dari ujung yang salah. Lalu kerutan itu hilang, dan ia menunjuk kursi kayu di sebelahnya. “Duduk. Ose bau solar.”

Raka naik. Tiga anak tangga yang dulu ia lompati sekaligus kini berbunyi di bawah berat tubuhnya, satu per satu, seperti menghitung. Ia meletakkan tas di lantai papan dan duduk di kursi kayu itu. Dari dekat, ia bisa melihat kulit di punggung tangan Oma yang tipis dan berbintik cokelat, urat-urat biru yang menonjol seperti akar ketapang di tanjakan. Ia bisa mencium bau Oma: sabun batang, sirih, dan sesuatu yang manis dan tua seperti lemari kayu yang lama tidak dibuka.

Ia ingin memegang tangan itu. Ia tidak berani. Lelaki yang duduk di sebelah Oma sekarang adalah Marthen, dan Raka tidak tahu apakah Marthen dulu biasa memegang tangan ibunya.

Ia menggigit bagian dalam pipinya sampai terasa asin.

Laut di bawah sana berkilat. Seekor elang bondol berputar rendah di atas karang, sabar, seperti orang yang menunggu jawaban.


Sari akhirnya naik juga. Ia muncul di beranda dengan tas kain yang masih menyilang di dada, dan wajah Oma langsung berubah, terbuka seperti jendela yang didorong angin pagi.

“Sari! Anak manis. Ose dari mana?”

“Dari Tual, Oma. Jemput orang.”

“Jemput siapa?”

Sari melirik Raka sekilas. Lirikan yang cepat sekali, tetapi Raka menangkapnya, dan di dalamnya ada sesuatu yang lebih lembut daripada kasihan. “Jemput tamu jauh, Oma.”

“Tamu.” Oma mengulang kata itu tanpa minat, lalu meraih tangan Sari dan menariknya mendekat, meraba-raba pergelangannya seperti orang memeriksa kain di pasar. “Ose kurus. Ose makan tidak? Bidan harus makan. Kalau bidan sakit, siapa yang tolong orang beranak?”

“Beta makan, Oma.”

“Bohong. Ose dari kecil pembohong.” Oma menepuk punggung tangan Sari dua kali, keras, lalu melepaskannya. “Sama dengan dia,” katanya, menunjuk Raka dengan dagu. “Dua-dua pembohong. Dari kecil main di dermaga, pulang bilang tidak berenang, rambut masih basah.”

Sari tertawa. Raka juga, dan tawanya keluar setengah, tersangkut di tenggorokan. Oma ingat dermaga itu. Oma ingat dua anak berambut basah yang berdiri di depan tangga dengan kaki berpasir dan bohong yang sama. Ia hanya tidak ingat bahwa salah satu dari anak itu sekarang duduk di sebelahnya.

Ingatan, pikir Raka, ternyata tidak hilang seperti air yang tumpah. Ia hilang seperti gigi sisir yang patah satu-satu, dan yang tersisa tetap menyisir, hanya meninggalkan helai-helai yang tak tersentuh.

Sari berjongkok di depan kursi rotan, mengeluarkan sebuah tensimeter dari tas kainnya, manset abu-abu yang karetnya sudah retak di beberapa tempat. Oma menyodorkan lengannya tanpa diminta, terbiasa. Selama Sari memompa dan mendengarkan dengan stetoskop, beranda itu sunyi kecuali bunyi pompa karet yang mendesis dan ombak di bawah.

“Seratus enam puluh,” kata Sari pelan, kepada Raka, bukan kepada Oma. “Kemarin seratus tujuh puluh.”

“Beta bawa obat dari Ambon. Dokter di sana…”

“Nanti beta lihat dulu obatnya. Jangan ose kasih sendiri.” Sari melipat manset itu dengan rapi, terlalu rapi, seperti orang yang sedang memikirkan hal lain. “Oma kadang lupa sudah minum, lalu minum lagi. Kadang lupa sama sekali. Obatnya harus ose simpan, bukan Oma.”

Raka mengangguk. Ada begitu banyak yang harus ia pelajari, dan ia baru sadar bahwa semua orang di kampung ini sudah mempelajarinya lebih dulu, tanpa dia.

Sari berdiri. Ia melakukannya pelan, satu tangan bertumpu pada lutut, dan Raka melihat ia menahan napas sesaat sebelum benar-benar tegak.

“Beta harus ke Polindes. Mama Yakoba di ohoi sebelah sudah sembilan bulan, katanya perut su turun.” Ia menyandang tasnya kembali. “Mama Ani nanti antar makan malam. Genset nyala jam setengah tujuh, mati jam sepuluh. Pelita ada di dapur, minyak tanah di jeriken bawah tempat tidur Oma.”

“Sari.”

Ia berhenti di tangga.

Raka tidak tahu apa yang hendak ia katakan. Terima kasih terlalu kecil. Maaf terlalu besar, dan bukan untuk diucapkan di beranda dengan Oma yang mendengarkan dan tidak mendengarkan.

“Ose hati-hati di jalan,” katanya akhirnya.

Sari memandanginya sebentar, lalu tersenyum dengan satu sudut bibir. “Ohoi sebelah cuma satu tanjung, Raka. Beta su jalan ke sana ribuan kali waktu ose masih di kota.” Ia turun. Di pagar, ia menoleh. “Biar Oma panggil ose apa saja. Jangan dibantah terus. Oma capek kalau dibantah.”

Lalu ia pergi, dan kali ini langkahnya tidak cepat. Raka memperhatikannya sampai rok batik pudar itu hilang di balik pohon jambu air, dan ia baru sadar bahwa ia menahan napas, seperti Sari tadi.


Rumah itu lebih kecil dari ingatannya, dan lebih bersih dari yang ia kira.

Ruang depan berlantai papan yang sudah licin oleh kaki bertahun-tahun. Di dinding bambu tergantung salib kayu, kalender gereja tahun 1995 dengan gambar Yesus menggembalakan domba, dan sebuah foto hitam-putih dalam bingkai yang kacanya retak di pojok kiri. Raka berdiri lama di depan foto itu. Seorang lelaki muda berdiri di samping perahu, bertelanjang dada, tertawa ke arah sesuatu di luar bingkai. Di sebelahnya, seorang perempuan muda berkebaya menggendong bayi yang wajahnya tertutup selendang.

Bapa. Mama. Dan dia sendiri, yang bahkan tidak kelihatan.

Ia tidak pernah tahu siapa yang memotret mereka. Ia tidak pernah bertanya. Ada begitu banyak hal di rumah ini yang tidak pernah ia tanyakan, karena dulu ia terlalu kecil, dan kemudian ia terlalu jauh.

Kamarnya yang dulu ada di sebelah dapur. Tikar pandan tergulung di sudut, sebuah lemari kecil yang pintunya diikat dengan tali rafia supaya tidak terbuka sendiri, dan jendela kayu yang menghadap ke laut. Seseorang sudah menyapu kamar itu. Seseorang sudah mengganti sarung bantal dengan kain bermotif bunga yang masih kaku oleh kanji. Di ambang jendela ada segelas kaca berisi tiga tangkai bunga kembang sepatu, sudah sedikit layu. Raka tidak perlu bertanya siapa.

Ia membuka tas, mengeluarkan buku-buku satu per satu, menumpuknya di atas lemari kecil. Chairil di atas, kamus di bawah, Pramoedya bersampul koran di tengah, tersembunyi seperti biasa. Lalu kantong plastik obat. Ia menyimpan strip-strip obat tekanan darah itu di dalam saku tasnya sendiri, mengikuti pesan Sari, dan mengeluarkan sebotol minyak kayu putih.

Ketika ia kembali ke beranda, Oma masih di kursi rotan, memandangi laut. Matahari sudah turun ke arah Kei Besar di kejauhan, dan cahayanya menguning, melunak, menyentuh wajah Oma seperti tangan yang mengusap.

Raka berlutut di samping kursi. Ia membuka tutup botol itu.

Oma menoleh sebelum ia sempat mengatakan apa-apa. Hidungnya bergerak sedikit, seperti hidung anjing yang mencium hujan.

“Itu bau apa?”

“Minyak kayu putih, Oma. Dari Buru.”

Oma mengulurkan tangannya. Raka meneteskan sedikit ke telapak tangan itu, dan Oma, dengan gerakan yang tidak ragu sama sekali, gerakan yang lebih tua dari semua ingatan yang tersisa di kepalanya, mengoleskannya ke pelipis kiri, lalu pelipis kanan, lalu menempelkan telapak tangannya yang masih licin ke pipi Raka.

Tangan itu dingin dan wangi.

“Bau anak kecil,” kata Oma. “Anak kecil kalau demam.”

Raka memejamkan mata.

Ia ingin Oma mengatakan namanya. Satu kali saja. Ia ingin itu dengan sangat, dengan cara yang membuatnya malu, seperti anak yang meminta permen di depan orang banyak. Tetapi Oma hanya membiarkan tangannya di pipi Raka beberapa detik, lalu menariknya kembali dan menyekanya ke sarung.

“Marthen,” katanya, “nanti malam ose jangan melaut. Langit merah begitu.”

Raka melihat langit. Langit tidak merah. Langit kuning pucat dan bersih, dengan awan tipis seperti sisik ikan.

“Iya, Oma. Beta tidak melaut.”

“Janji?”

“Janji.”

Oma mengangguk dan kembali memandangi laut, dan wajahnya tenang, tenang sekali, seperti seseorang yang akhirnya mendapatkan jawaban yang sudah ia tunggu sangat lama.


Mama Ani datang menjelang magrib, ketika azan dari masjid berkubah hijau mengalun di atas atap-atap rumbia dan bercampur dengan suara anak-anak yang dipanggil pulang dari pantai. Ia perempuan bertubuh lebar dengan suara yang lebih lebar lagi, dan ia membawa rantang susun tiga yang dibungkus kain.

“Nyong Raka! Astaga, ose su jadi bapa-bapa!” Ia meletakkan rantang di meja, lalu memegang kedua bahu Raka dan memutarnya ke kiri dan ke kanan seperti memeriksa ikan di para-para. “Kurus. Orang kota tidak kasih ose makan? Beta bawa ikan kuah kuning. Enbal juga ada, tadi pagi baru bakar.”

“Terima kasih, Mama.”

“Terima kasih apa. Ose pulang, itu terima kasihnya.” Mama Ani melirik ke beranda, tempat Oma masih duduk, lalu merendahkan suaranya. Bagi Mama Ani, merendahkan suara berarti bicara seperti orang biasa. “Oma su panggil ose Marthen?”

Raka mengangguk.

“Jangan ose ambil hati.” Mama Ani membuka tutup rantang satu per satu. Uap kuah kuning naik, harum kunyit dan asam dan daun kemangi. “Oma panggil semua laki-laki Marthen. Bapa Desa juga pernah dipanggil Marthen. Bapa Desa sampai bingung, dia jawab, iya, Mama, beta Marthen, lalu Oma suruh dia perbaiki perahu. Bapa Desa itu tidak bisa bedakan haluan dengan buritan.” Ia tertawa sendiri, keras, lalu menutup mulutnya. “Pendeta Jon juga. Hanya Imam Hasan yang tidak pernah dipanggil Marthen. Mungkin karena dia pakai kopiah.”

Raka tersenyum. Ia tidak tahu bahwa ia masih bisa tersenyum hari ini.

“Malam ini beta tidak suruh Mama Lena tidur di sini,” lanjut Mama Ani, menata piring seng di meja. “Ose su ada. Tapi kalau Oma bangun tengah malam dan mau jalan ke pantai, ose jangan tidur keras. Oma suka jalan ke pantai kalau malam. Katanya mau tunggu perahu.”

“Perahu siapa?”

Mama Ani berhenti menata piring. Ia memandang Raka dengan mata yang tiba-tiba tidak tertawa.

“Ose tahu perahu siapa, Nyong.”


Genset koperasi menyala tepat pukul setengah tujuh. Raka mendengarnya dari jauh, deru mesin yang terbatuk-batuk dua kali sebelum stabil, dan lampu neon satu-satunya di ruang depan berkedip, berkedip lagi, lalu menyala dengan cahaya putih kebiruan yang membuat semua benda tampak sedikit lebih pucat dari aslinya. Laron-laron langsung berdatangan dari kegelapan dan berputar di bawah lampu seperti ingatan yang tidak tahu harus hinggap di mana.

Mereka makan berdua di meja kayu. Oma duduk tegak, kedua tangan terlipat di atas meja, dan sebelum Raka sempat menyentuh sendok, Oma memejamkan mata dan mulai berdoa.

Doa itu panjang. Raka sudah lupa betapa panjangnya doa makan Oma. Ia sudah lupa juga betapa jernihnya: tidak ada satu kata pun yang tersangkut, tidak ada kalimat yang berhenti di tengah. Oma berdoa untuk makanan, untuk tangan Mama Ani yang memasaknya, untuk nelayan yang menangkap ikannya, untuk hujan yang belum turun dan singkong yang menunggu hujan itu. Ia berdoa untuk Sari, supaya Tuhan menguatkan tangannya dan menjaga jantungnya. Raka membuka mata sedikit mendengar kata itu, tetapi Oma sudah melanjutkan. Ia berdoa untuk jemaat, untuk Pendeta Jon, untuk saudara-saudara di masjid.

Lalu suaranya merendah.

“Tuhan, jaga Marthen di laut. Bawa dia pulang sebelum gelap.”

Dan sesudah itu, tanpa jeda, dengan nada yang sama, dengan kesungguhan yang sama:

“Dan Raka, Tuhan. Raka di Ambon. Dia sendiri di sana. Kasih dia makan. Kasih dia teman. Kalau dia sakit, jangan biar dia sakit sendiri. Dan kalau dia su lupa jalan pulang, Tuhan, Tuhan yang tunjukkan. Karena Oma su tua. Oma su tidak bisa jemput dia.”

Raka tidak bisa melihat piringnya lagi. Kuah kuning di depannya menjadi genangan cahaya yang kabur dan bergetar. Ia menunduk lebih dalam, sampai dagunya hampir menyentuh dada, dan ia menekan kedua tangannya yang terlipat satu sama lain sampai buku-buku jarinya sakit.

Ia duduk di sini. Ia duduk di sini, satu meja dengan Oma, satu lampu, satu doa. Dan Oma mendoakannya seolah ia masih di seberang Laut Banda, sendirian di kamar kos berdinding papan yang bocor kalau hujan.

Mungkin, pikirnya, Oma tidak salah.

“Amin,” kata Oma.

“Amin,” kata Raka, dan kata itu nyaris tidak terdengar.

Oma membuka mata dan meraih sendok. Ia memandang Raka, lalu memandang mata Raka yang basah, dan keningnya berkerut sebentar.

“Kenapa ose menangis? Ikannya pedas?”

Raka tertawa, dan tawa itu pecah di tengah. “Iya, Oma. Pedas sekali.”

“Mama Ani memang begitu. Dari dulu tangannya berat cabai.” Oma menyendok kuah, meniupnya, dan menyuapkannya ke mulut dengan tenang. “Makan pelan-pelan. Minum air. Laki-laki tidak boleh kalah sama cabai.”


Pukul sepuluh, genset mati.

Bunyinya tidak berhenti tiba-tiba. Deru mesin itu melambat, menurun, seperti seseorang yang perlahan-lahan tertidur di tengah kalimat, dan lampu neon meredup menjadi garis oranye tipis sebelum padam sama sekali. Lalu kegelapan. Kegelapan kampung pesisir yang tidak sama dengan kegelapan kota: tebal, hangat, dan penuh suara. Jangkrik. Tokek di bawah atap. Seekor anjing yang menggonggong tiga kali di ujung kampung dan berhenti. Dan di bawah semua itu, laut, yang tidak pernah berhenti bicara.

Raka menyalakan pelita di dapur. Ia mengantar Oma ke kamarnya, membantunya berbaring di ranjang kayu dengan kelambu yang sudah ditambal di banyak tempat, menyelipkan ujung kelambu ke bawah kasur seperti yang dulu Oma lakukan untuknya. Oma tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap langit-langit kelambu dengan mata terbuka, dan Raka meninggalkan pelita kecil menyala di atas meja di sudut kamar.

Di kamarnya sendiri, ia menggelar tikar pandan dan berbaring tanpa membuka baju. Ia tidak mengantuk. Tubuhnya masih mengayun, sisa tiga hari di laut, seolah lantai papan itu adalah dek kapal dan rumah ini sedang berlayar pelan ke suatu tempat yang tidak ia ketahui.

Ia memandangi jendela. Di luar, langit penuh bintang, jauh lebih banyak dari yang pernah ia lihat di Ambon, begitu banyak sampai tampak seperti tumpahan garam di atas kain hitam.

Ia memikirkan doa itu. Ia memikirkan kata jantung yang diucapkan Oma begitu biasa, di antara doa untuk hujan dan doa untuk singkong. Ia memikirkan Sari yang berdiri pelan di beranda dan menahan napas. Ia memikirkan Mama Ani yang berkata, ose tahu perahu siapa, Nyong.

Ia tahu. Tentu saja ia tahu.

Entah berapa lama ia berbaring seperti itu, sebelum ia mendengar lantai papan berderit.

Cahaya kuning bergoyang di ambang pintu. Oma berdiri di sana, memegang pelita kecil dengan dua tangan, rambutnya yang putih lepas dari gelungan dan tergerai di bahu. Dalam cahaya pelita, wajahnya tampak lebih muda dan sekaligus lebih tua, seperti wajah yang dilukis di atas air.

“Raka?” panggilnya pelan. Bukan kepadanya. Kepada kamar itu. Kepada tikar di lantai. Panggilan yang dulu Oma ucapkan setiap malam, untuk memastikan anak kecil di kamar sebelah dapur sudah tidur dan tidak sedang menangis diam-diam memanggil bapanya.

Raka tidak menjawab. Ia takut kalau ia menjawab, Oma akan melihat wajahnya, dan wajah itu tidak akan cocok dengan suara yang ia cari.

Oma masuk. Ia meletakkan pelita di lantai, lalu duduk di ujung tikar dengan susah payah, satu tangan bertumpu pada dinding. Ia tidak memandang wajah Raka. Ia memandang tangan Raka yang tergeletak di atas tikar, lalu meraihnya, dan menggenggamnya dengan kedua tangannya yang kering dan dingin dan masih sedikit berbau minyak kayu putih.

Lalu ia mulai bernyanyi.

Lagu itu. Suara Oma sangat pelan, lebih pelan dari tadi siang, hampir hanya napas yang diberi nada. Bahasa Kei mengalir dari mulutnya seperti air yang menemukan jalannya sendiri di antara batu-batu, naik dan turun, sabar, dengan gumam panjang di ujung setiap baris yang bergetar di tenggorokan.

Raka mengenal setiap nadanya. Ia tidak pernah mengerti seluruh kata-katanya, tetapi ia mengenalnya, seperti orang mengenal suara pintu rumahnya sendiri dalam gelap. Ia menghitung tanpa sadar. Bait pertama. Bait kedua.

Di tengah bait kedua, suara Oma berhenti.

Bukan berhenti seperti dulu, di ambang bait ketiga, dengan punggung tangan yang menutup mulut. Kali ini Oma berhenti seperti orang yang tersandung dalam gelap. Mulutnya masih terbuka. Nadanya masih menggantung di udara. Tetapi kata berikutnya tidak datang. Raka merasakan genggaman di tangannya mengencang, lalu gemetar. Oma mengulang baris terakhir yang ia ingat, lalu berhenti lagi di tempat yang sama. Mengulang lagi. Berhenti lagi. Seperti perahu yang terus-menerus didorong ke pantai oleh ombak yang sama.

“Oma lupa,” bisiknya. Suaranya kecil sekali, suara anak perempuan yang kehilangan jalan pulang di pasar. “Oma lupa yang sesudah ini.”

Raka mendengar dirinya sendiri bernyanyi sebelum ia memutuskan untuk bernyanyi.

Suaranya parau, jelek, tidak pernah dilatih. Ia tidak tahu arti kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya tahu bunyinya, karena bunyi itu sudah ditanam di dalam dirinya sejak sebelum ia bisa bicara, malam demi malam, demam demi demam, di kamar yang sama, di tikar yang mungkin juga sama. Ia melanjutkan baris itu dari tempat Oma berhenti. Satu baris. Dua baris. Gumam panjang di ujungnya yang tidak sebagus gumam Oma, yang terlalu cepat habis karena napasnya pendek oleh tangis yang ditahan.

Ia menyelesaikan bait kedua.

Oma diam. Genggamannya mengendur pelan-pelan. Di cahaya pelita, Raka melihat bahu tua itu turun, napasnya memanjang, kepalanya miring ke dinding bambu. Matanya terpejam.

Raka mengira Oma sudah tidur. Ia tidak berani bergerak. Ia membiarkan tangannya tetap di dalam genggaman Oma, dan ia mendengarkan laut, dan ia merasakan sesuatu di dadanya yang selama sembilan tahun terkunci seperti pintu lemari yang diikat tali rafia, kini sedikit, sedikit sekali, terbuka.

Lalu Oma berbicara. Matanya masih tertutup. Suaranya berbeda dari suara yang sepanjang hari tadi ia dengar: lebih rendah, lebih utuh, seperti suara yang datang dari ruangan lain di dalam diri Oma, ruangan yang pintunya jarang terbuka.

“Bait ketiga jangan ose nyanyi, Nyong.”

Raka menahan napas.

“Itu bukan punya ose,” kata Oma. “Itu punya laut. Laut belum kembalikan.”

Lalu napasnya kembali panjang dan teratur, dan genggamannya lepas sama sekali, dan Oma tertidur di ujung tikar dengan kepala bersandar di dinding bambu, rambut putihnya jatuh menutupi separuh wajah.

Raka tidak tidur malam itu.

Ia menyelimuti Oma dengan sarungnya sendiri, mengecilkan sumbu pelita, lalu duduk di ambang jendela dan memandangi laut sampai bintang-bintang memudar satu per satu di atas Kei Besar. Oma tadi menyebutnya Nyong. Oma tidak menyebutnya Marthen. Dan Oma tahu, entah bagaimana, bahwa lagu itu punya bait ketiga yang tidak pernah dinyanyikan.

Menjelang subuh, ketika langit di timur mulai berwarna seperti air cucian beras, Raka melihat sesuatu di laut.

Jauh di luar karang, di tempat air berubah dari hijau menjadi biru gelap, ada satu titik cahaya kecil. Diam. Tidak bergerak seperti lampu perahu nelayan yang pulang. Tidak berkedip seperti bintang yang rendah. Cahaya itu hanya ada di sana, kuning dan tenang, persis di arah yang dulu, kata orang, ditempuh perahu bapanya pada suatu pagi di bulan Desember.

Raka mengucek matanya.

Ketika ia membuka mata lagi, cahaya itu masih di sana.


Catatan kecil. Kuah kuning: masakan ikan berkuah kunyit dan asam khas Maluku; Polindes: Pondok Bersalin Desa, tempat bidan desa melayani persalinan dan pemeriksaan; Genset: mesin pembangkit listrik; di banyak kampung pulau, listrik hanya menyala beberapa jam pada malam hari; Mama, Bapa: sapaan hormat untuk perempuan dan laki-laki dewasa dalam bahasa Melayu Ambon; To: partikel penegas, kira-kira “kan” atau “bukan”.

Kalau kisah Raka dan Ohoi Woma menemani pagimu, kamu bisa ikut menjaga nyala cerita ini dengan secangkir dukungan untuk penulis.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. […] ← Bab 2: Oma yang Lupa Daftar Bab […]

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca