Bagian II: Nyanyian yang Hilang · Bab 6
Raka turun dua anak tangga sebelum ia sadar tidak tahu apa yang hendak ia katakan.
Ikan itu masih menetes. Airnya jatuh ke tanah di antara kaki Yosef yang telanjang, satu-satu, membuat bunyi kecil seperti jam dinding di rumah Pak Elias. Anak itu tidak bergerak. Ia berdiri dengan kepala sedikit menunduk, gaya anak yang sudah sering disuruh menunggu di depan rumah orang dewasa dan tahu bahwa menunggu adalah sebagian dari sopan santun.
“Ose dari laut?” tanya Raka.
“Iya, Pak. Baru naik.”
“Bapa di mana?”
“Di perahu. Bersih jaring.” Yosef mengangkat ikan itu lagi, sedikit lebih tinggi. “Pak Guru ambil, Pak. Bapa bilang jangan bawa pulang.”
Raka memandangi kakap merah itu. Sisiknya menangkap cahaya bulan seperti uang logam yang baru dicuci. Ikan sebesar itu, di pasar Tual, bisa dijual mahal. Di Ohoi Woma ikan sebesar itu tidak diberikan kepada sembarang orang. Ia tahu apa artinya menolak. Ia anak kampung ini, meski sembilan tahun di Ambon sudah mengikis banyak hal dari dirinya, dan ia masih ingat: ikan yang ditolak adalah tangan yang ditepis.
Ia turun ke tanah dan menerima tali itu. Ikan itu lebih berat dari yang ia kira.
“Beta terima ikannya,” kata Raka. “Bilang terima kasih untuk Bapa. Tapi yang lain belum beta terima.”
Yosef mengangkat wajah.
“Yang lain apa, Pak?”
“Yang ose bilang tadi. Tidak sekolah lagi.” Raka menimbang ikan itu di tangannya, seperti menimbang kata-kata. “Itu belum beta terima. Besok sore beta datang ke rumah ose. Beta mau bicara dengan Bapa.”
Anak itu membuka mulut, menutupnya lagi. Lalu sesuatu di wajahnya bergeser. Bukan senyum. Lebih kecil dari senyum dan lebih lama tinggal.
“Rumah beta di ujung utara, Pak. Dekat kali. Yang ada perahu biru di bawah.”
“Beta tahu.”
“Pak Guru tahu?”
“Tidak,” kata Raka. “Tapi besok beta tahu.”
Yosef tertawa, satu kali, seperti batuk, lalu berbalik dan berlari melintasi halaman. Pagar bambu berbunyi ketika ia membukanya terlalu cepat. Raka berdiri di bawah pohon jambu air dengan seekor kakap merah di tangan dan memandangi jejak kaki basah yang berderet di pasir, makin samar, menuju laut.
Ia membersihkan ikan itu malam itu juga, di belakang dapur, dengan pisau Oma yang gagangnya dililit karet ban. Ia menggaraminya dan menyimpannya di dalam baskom bertutup. Tangannya bau amis sampai pagi. Di balik dinding bambu Oma bernyanyi dalam tidur. Lagu lain, pendek dan berulang, seperti orang memanggil ayam pulang ke kandang.
Pak Elias tidak terkejut.
Raka menemuinya di selasar sekolah sebelum lonceng berbunyi, ketika Pak Yan masih menyapu daun mangga dari tanah lapang. Ia menceritakan ikan itu, dan kalimat Yosef, dan Pak Elias mendengarkan dengan tangan di belakang punggung dan mata ke arah laut.
“Ohoitimur,” kata Pak Elias. “Bapanya Kornelis. Beta ajar dia di SD. Kelas empat dia berhenti.” Ia diam sebentar. “Tiap tahun begini, Pak Guru. Tiap tahun dua, tiga anak. Air bagus, mereka pergi. Air jahat, mereka datang lagi, tapi su ketinggalan, jadi malu, jadi tidak datang lagi.”
“Bapak pernah ke rumahnya?”
Pak Elias memalingkan wajah dari laut dan memandang Raka, lama, seperti memandang murid yang bertanya sesuatu yang tidak ada di buku.
“Waktu beta masih muda, beta pergi ke semua rumah,” katanya. “Ose pergi sudah. Nanti ose tahu sendiri.”
Lalu kunci-kunci di rantainya berbunyi, dan ia berjalan ke kelas tiga.
Di kelas dua bangku Yosef kosong. Raka mengabsen dan tidak bertanya. Paulus yang menjawab tanpa ditanya, “Melaut, Pak,” dan kali ini tidak ada yang tertawa. Barangkali kabarnya sudah sampai lebih dulu. Di kampung ini kabar selalu sampai lebih dulu.
Rumah keluarga Ohoitimur berdiri di ujung utara kampung, di tempat sebuah kali kecil berair payau keluar ke laut dan pasirnya berubah kelabu. Rumah panggung dari papan yang tak pernah dicat, tiangnya tinggi karena air pasang besar kadang naik sampai halaman. Di bawah rumah, di antara tiang-tiang, sebuah perahu kayu berwarna biru tua terbalik di atas dua batang kelapa. Biru itu sudah lama. Di beberapa tempat catnya mengelupas dan memperlihatkan biru yang lebih tua lagi di bawahnya, dan di bawah biru itu, kayu.
Tiga anak kecil bermain di pasir dengan kepiting yang diikat benang. Mereka berhenti dan menatap Raka dengan mata yang sama dengan mata Yosef.
“Bapa!” teriak yang paling besar, tanpa melepaskan benangnya. “Pak Guru!”
Kornelis Ohoitimur duduk di para-para di samping rumah, menjahit jaring. Ia lelaki berumur empat puluhan dengan bahu yang lebih lebar dari pintu dan rambut yang dipotong pendek sekali, nyaris gundul. Tangan kanannya dibalut kain putih kotor sampai pergelangan. Ia menjahit dengan tangan kiri, pelan, dengan jarum bambu yang panjangnya sejengkal, dan setiap simpul yang ia buat ditarik dengan giginya.
Ia tidak berdiri ketika Raka datang. Ia mengangguk ke arah bangku kayu di depannya.
“Pak Guru duduk.”
Raka duduk. Dari dalam rumah seorang perempuan bertubuh kecil muncul membawa dua gelas teh, meletakkannya di papan, lalu menghilang lagi tanpa suara. Mama Agustina, pikir Raka. Ia pernah melihat nama itu di buku register bersampul batik di meja Polindes, di daftar ibu-ibu yang anaknya ditimbang.
“Ikan sudah sampai?” tanya Kornelis.
“Sudah, Bapa. Terima kasih. Terlalu besar untuk beta dan Oma.”
“Untuk Mama Hendrika tidak ada yang terlalu besar.” Kornelis menarik simpul dengan giginya. “Dulu Mama Hendrika menyanyi waktu beta punya bapa dikubur. Satu kampung menangis. Beta kecil, beta tidak menangis, tapi beta ingat suaranya.”
Raka memandangi tangan yang dibalut itu.
“Tangan Bapa kenapa?”
“Tali.” Kornelis mengangkatnya sedikit, seperti memperlihatkan barang yang rusak di pasar. “Ikan besar tarik, tali lari, tangan beta tidak lepas. Su dua minggu. Ibu bidan bilang jangan basah. Ibu bidan tidak tahu, kalau nelayan tangannya tidak basah, anaknya tidak makan.”
Ia mengatakannya tanpa marah. Ia mengatakannya seperti orang menyebutkan arah angin.
“Jadi Yosef yang pegang tali,” kata Raka.
“Yosef yang pegang tali. Yosef yang pegang mesin. Yosef yang naik turun.” Kornelis berhenti menjahit. “Pak Guru, beta tidak bodoh. Beta tahu sekolah itu bagus. Beta yang suruh Yosef masuk SMP waktu orang lain suruh anaknya ikut bagan. Tapi sekarang bulan baik. Musim timur tinggal sebentar. Sesudah itu musim barat, laut tutup, katong makan apa yang katong simpan sekarang. Dan beta punya utang.”
Ia berdiri, akhirnya, dan masuk ke rumah. Ketika keluar ia membawa sebuah buku tulis bergaris yang sampulnya sudah lembek dan berminyak, dibungkus plastik bekas gula.
“Ini,” katanya. Ia meletakkan buku itu di papan di depan Raka. “Om Ferry, pengumpul ikan dari Tual, kasih katong jaring baru, kasih mesin katinting. Katong bayar dengan ikan. Dia tulis di dia punya buku, tapi tiap kali dia datang, dia tulis juga di katong punya buku. Supaya sama.”
Raka membuka buku itu. Halaman-halamannya penuh angka dalam dua macam tulisan tangan. Yang satu miring dan cepat, dengan pulpen tinta biru yang kadang luber. Yang lain tegak, besar-besar, ditulis dengan pensil yang ditekan terlalu keras sampai kertasnya berlekuk. Tanggal. Jenis ikan. Kilo. Harga per kilo. Potong utang. Sisa utang.
“Beta tidak bisa baca banyak,” kata Kornelis, dan untuk pertama kali suaranya merendah. “Angka beta bisa sedikit. Tapi Om Ferry tulis cepat, bicara cepat. Jadi Yosef yang baca. Yosef yang hitung. Waktu dia kelas enam, dia tunjuk satu halaman, dia bilang, Bapa, ini salah tambah, kurang lima ribu. Om Ferry periksa, Om Ferry ketawa, Om Ferry bilang, anak pintar. Sesudah itu Om Ferry tidak pernah salah tambah lagi.”
Ia duduk kembali dan mengambil jarumnya.
“Itu kenapa beta suruh dia sekolah sampai SMP,” katanya. “Supaya tidak ada yang salah tambah.”
Raka menatap halaman-halaman itu. Tulisan pensil yang tegak dan besar-besar itu bukan tulisan Kornelis. Ia mengenalinya. Ia sudah melihatnya di buku absen, di nama yang selalu kosong di kolom hadir. Yosef Ohoitimur. Huruf-huruf yang ditekan terlalu keras, seperti orang yang takut tulisannya akan terbang.
“Jadi Bapa perlu dia di laut,” kata Raka pelan, “dan Bapa perlu dia di sekolah.”
Kornelis tidak menjawab. Simpul berikutnya ia tarik dengan gigi, lebih keras dari yang perlu.
Dari bawah rumah terdengar bunyi kayu dipukul. Yosef keluar dari balik perahu biru dengan palu di tangan dan serbuk kayu di rambut. Ia melihat Raka dan berhenti, dan Raka melihat ia menyembunyikan palu itu di belakang punggung, entah kenapa, seperti anak yang ketahuan bermain ketika seharusnya belajar, padahal yang terjadi justru sebaliknya.
“Yosef,” kata Raka. “Musim barat datang bulan apa?”
Anak itu berkedip. Lalu, tanpa berpikir, seperti orang menyebut namanya sendiri: “Desember, Pak. Kadang akhir November kalau angin cepat. Sampai Maret. April mulai teduh, Mei musim timur.”
“Angin musim barat dari mana?”
“Barat laut, Pak. Bawa hujan. Ombak tinggi di selatan pulau. Kalau di utara masih bisa sedikit, di balik tanjung.”
“Kenapa?”
Yosef memandang bapanya, seolah meminta izin menjawab pertanyaan yang terlalu mudah. Kornelis tetap menjahit.
“Karena tanjung tahan angin, Pak.”
Raka mengangguk. Ia teringat buku paket IPS kelas dua yang ia baca minggu lalu, satu bab tentang angin muson, dua halaman, dengan gambar peta dan panah-panah yang melengkung dari benua ke benua. Asia. Australia. Tekanan udara tinggi, tekanan udara rendah. Anak-anak di kelasnya menghafalnya untuk Ebtanas. Anak-anak di kelasnya juga, setiap tahun, menunggu angin itu datang ke pintu rumah mereka.
Ia menutup buku utang dan menyerahkannya kembali kepada Kornelis dengan dua tangan.
“Bapa,” katanya. “Kalau air jahat, Yosef sekolah?”
“Kalau air jahat, dia sekolah.”
“Kalau air bagus, dia boleh datang sore ke rumah Oma? Satu jam. Sesudah tidur siang. Beta ajar dia apa yang dia tinggal.”
Kornelis memandanginya. Mata lelaki itu kecil dan merah di pinggirnya, mata orang yang sudah tiga puluh tahun memandangi air yang memantulkan matahari.
“Pak Guru mau ajar anak beta di rumah, tidak dibayar?”
“Beta dibayar tiga puluh lima ribu sebulan, Bapa. Kadang dengan ikan. Bapa su bayar beta satu kakap merah.”
Untuk sesaat Raka mengira lelaki itu akan marah. Lalu Kornelis tertawa. Tawanya besar dan pendek dan terdengar sampai ke kali, dan tiga anak kecil di pasir menoleh serentak.
“Anak Marthen,” katanya, menggeleng-geleng. “Bapa ose dulu juga begitu. Mulut tidak pernah kalah.” Ia meletakkan jarumnya. “Beta belum bilang ya. Beta belum bilang tidak. Pak Guru ikut katong melaut satu malam. Besok malam. Sesudah itu Pak Guru bilang lagi kenapa anak beta harus duduk di bangku.”
Raka mendengar dirinya menjawab sebelum ia sempat berpikir.
“Baik, Bapa.”
Yosef, di bawah rumah, menjatuhkan palunya ke pasir.
Pagi berikutnya ia membawa peta itu ke kelas.
Bukan peta Indonesia yang menguning di dinding, yang Kei-nya dilingkari pulpen biru oleh tangan yang tak dikenal. Ia membawa peta yang ia gambar sendiri semalam di bawah pelita, di balik kertas sampul buku tulis yang ia bentangkan di tikar: Kei Kecil dan Kei Besar, Tual, Langgur, tanjung di selatan Ohoi Woma, karang di depan pantai. Garisnya miring di sana-sini. Ia bukan penggambar. Tetapi ketika ia menempelkannya di papan tulis dengan empat paku payung, delapan belas kepala mendongak bersamaan, dan sesuatu di ruangan itu berubah, seperti udara sebelum hujan.
“Ini apa?” tanya Hasan dari bangku kiri.
“Kalian yang bilang,” kata Raka.
“Ohoi Woma, Pak!” Maria, dari depan, sebelum yang lain. Telunjuknya lurus. “Itu gereja. Tapi Pak Guru salah gambar tanjungnya. Tanjung lebih panjang. Lebih tajam.”
Beberapa anak tertawa. Raka tidak membantah. Ia memberikan kapur kepada Maria, dan anak itu maju dengan ragu, lalu dengan berani, dan memanjangkan tanjung itu dengan garis tebal yang jauh lebih yakin daripada garis Raka.
Lalu ia membuka buku paket IPS di halaman angin muson dan membacakan satu paragraf. Tekanan tinggi di benua Asia. Angin bertiup ke arah tekanan rendah di benua Australia. Membawa banyak uap air. Musim hujan.
Anak-anak mendengarkan dengan wajah orang yang mendengarkan khotbah dalam bahasa yang tidak mereka pahami sepenuhnya.
Raka menutup buku.
“Siapa di sini yang bapanya, atau omnya, atau kakaknya, tidak melaut kalau bulan Desember?”
Hampir semua tangan naik.
“Kenapa tidak melaut?”
“Angin barat, Pak!” Bukan satu suara. Enam, tujuh. “Ombak besar!” “Opa bilang laut tutup!” “Beta punya kakak pernah terbalik di belakang tanjung!”
“Angin barat itu,” kata Raka, dan ia mengetuk paragraf di buku paket dengan ujung jarinya, “yang di buku ini namanya angin muson barat. Dari mana datangnya?”
Sunyi lagi. Tetapi kali ini sunyinya lain. Bukan sunyi orang yang menunggu. Sunyi orang yang mencari.
“Dari barat laut, Pak,” kata sebuah suara di belakang, pelan. Theresia, si ketua kelas. “Beta punya bapa bilang begitu. Dari barat laut.”
Raka berjalan ke peta di papan dan menarik satu panah dengan kapur, dari pojok kiri atas, dari luar kertas, dari tempat yang di peta besar di dinding bernama Asia, melengkung melewati laut, menghantam pantai selatan pulau mereka sendiri.
“Ini yang dihafal untuk Ebtanas,” katanya. “Angin muson barat bertiup dari Asia ke Australia, bulan Oktober sampai April, membawa hujan. Tulis. Hafal.” Ia meletakkan kapur. “Tapi kalian su tahu ini sebelum kalian bisa baca. Kalian cuma belum tahu namanya di buku.”
Ia melihat Maria menulis. Tidak menyalin. Menulis. Di pinggir halamannya, di bawah definisi yang ia salin dari papan, ia menggambar sesuatu yang kecil: sebuah tanjung yang panjang dan tajam.
Ketika lonceng velg mobil berbunyi, Raka berbalik dan melihat bayangan di jendela selasar. Pak Elias berdiri di sana, tangan di belakang punggung, memandangi panah kapur di papan tulis. Ia tidak masuk. Ia tidak berkata apa-apa. Ia berdiri cukup lama sampai Raka bisa menghitung napasnya sendiri, lalu berjalan pergi, dan kunci-kunci di rantainya berbunyi seperti biasa.
Seperti biasa. Raka memikirkan itu sepanjang jalan pulang. Tidak lebih cepat. Tidak lebih keras.
Sore itu ia meminta Mama Lena menginap.
Perempuan itu datang selepas magrib dengan Alkitab bersampul kulit dan bantal kecil di bawah lengan, dan ketika Raka menjelaskan bahwa ia akan ikut Kornelis Ohoitimur melaut, Mama Lena memandanginya dari kepala sampai kaki, dari kemeja kampus yang lengannya ia gulung sampai sarung yang ia ikat di pinggang, dan menahan senyum dengan sangat tidak berhasil.
“Ose bawa jaket,” katanya. “Angin malam di luar karang lain dengan angin Ambon.”
Sari lewat ketika Raka sedang mengisi botol air di sumur. Ia membawa tensimeter dalam tas kainnya, pulang dari ohoi sebelah, dan langkahnya pelan. Ia melihat sarung di pinggang Raka, botol air, senter pinjaman Bapa Desa, dan berhenti.
“Anak Marthen akhirnya melaut,” katanya.
“Satu malam saja.”
“Ose ingat, ose mabuk laut.”
“Di kapal besar. Di perahu kecil beta tidak mabuk.”
“Itu karena di perahu kecil ose terlalu takut untuk mabuk.” Sari tersenyum. Lalu ia batuk, satu kali, pendek, dan memalingkan wajah ke arah laut seolah batuk itu kebetulan lewat dan bukan miliknya. Ketika ia memandang Raka lagi, wajahnya sudah biasa. “Yosef bagus di laut. Lebih bagus dari bapanya. Ose dengar dia baik-baik.”
“Ose kenal Yosef?”
“Beta jahit dagunya waktu dia umur sebelas. Jatuh dari tiang perahu. Tiga jahitan. Dia tidak menangis, dia cuma tanya berapa lama luka begitu sembuh, kalau dihitung hari.” Sari menyesuaikan tali tasnya di bahu. “Anak itu selalu mau tahu berapa. Berapa hari, berapa kilo, berapa jauh.”
Lalu ia berjalan pergi ke arah Polindes, dan Raka berdiri dengan botol air yang meluap di tangannya, dingin, sampai ke siku.
Oma sudah di kamarnya ketika Raka masuk untuk mengambil jaket. Ia duduk di tepi ranjang di bawah kelambu bertambal, rambutnya tergerai, botol minyak kayu putih di pangkuan. Ia memandangi Raka yang berdiri di ambang pintu dengan jaket di tangan dan sarung di pinggang.
“Marthen,” katanya.
Raka diam.
Oma memandang ke jendela, ke langit di atas laut yang sudah biru tua dan bertabur bintang pertama. Lama. Seperti membaca sesuatu di sana.
“Langit tidak merah,” katanya akhirnya.
“Tidak, Oma.”
“Kemari.”
Ia mendekat dan berlutut di depan ranjang. Oma membuka tutup botol itu dengan jempolnya yang tebal, menuang sedikit ke telapak tangan, dan mengoleskannya di pelipis Raka. Kiri, lalu kanan. Baunya tajam dan hangat dan masuk ke matanya, dan Raka memejamkan mata.
“Pulang sebelum terang,” kata Oma. “Ose dengar? Sebelum terang.”
“Beta dengar, Oma.”
Telapak tangan itu tinggal sebentar di pipinya. Lalu Oma menarik tangannya, menutup botol, dan berbaring membelakanginya, dan menarik sarung sampai ke bahu, dan bernapas seperti orang yang sudah tidur sejak lama.
Perahu biru itu lebih kecil di air daripada di bawah rumah.
Mereka berangkat setelah genset mati, ketika kampung sudah gelap dan hanya laut yang masih menyimpan cahaya, cahaya bintang dan cahaya bulan yang baru naik di atas Kei Besar. Yosef menarik tali mesin katinting tiga kali sebelum mesin itu batuk dan hidup, dan bunyinya, tok-tok-tok yang kecil dan keras kepala, memecah sunyi seperti paku dipukul ke papan. Kornelis duduk di haluan dengan tangan yang dibalut di pangkuan. Raka duduk di tengah, di atas papan melintang, memegang lampu petromaks yang belum dinyalakan.
Ia tidak mabuk. Sari benar, barangkali. Barangkali ia terlalu takut untuk mabuk. Atau barangkali tubuhnya ingat sesuatu yang kepalanya sudah lupa: bahwa ia pernah duduk di perahu seperti ini, di tengah, di antara dua lutut, dan seseorang di belakangnya menyanyi pelan untuk mesin yang belum ada waktu itu.
Mereka keluar melewati celah karang. Air berubah warna di bawah mereka, dari hijau pucat yang bisa dilihat dasarnya menjadi hitam yang tidak bisa. Yosef membelokkan perahu ke timur, menyusuri karang, menjauhi tanjung.
Di sebelah kanan, ke arah barat daya, laut terbentang luas dan gelap dan rata.
Raka memandangnya. Tidak ada cahaya di sana malam ini. Hanya air.
“Kenapa tidak ke sana?” tanyanya, mengangguk ke barat daya, setengah kepada Yosef, setengah kepada laut.
Yosef memandang bapanya. Kornelis tidak menoleh.
“Di sana tidak ada ikan untuk katong,” kata Kornelis.
Yosef memperlambat mesin. Dengan suara rendah, seperti menyampaikan sesuatu yang tidak seharusnya ia sampaikan di depan bapanya, ia berkata, “Opa dulu bilang, di sana dulu sasi, Pak. Dulu sekali. Sekarang su tidak ada sasi lagi. Tapi orang tua masih tidak mau pasang jaring di situ.”
“Kenapa sasinya tidak ada lagi?”
“Yosef,” kata Kornelis. Hanya itu. Dan anak itu memutar gagang mesin, dan perahu melaju lagi ke timur, dan barat daya tinggal di belakang mereka, gelap dan rata, seperti pintu yang ditutup pelan-pelan.
Mereka berhenti di sebuah tempat yang menurut mata Raka sama saja dengan tempat-tempat lain. Air hitam. Langit penuh bintang. Bunyi ombak yang memecah di karang, jauh di sebelah kiri. Tetapi Yosef mematikan mesin, dan perahu melayang dalam sunyi yang tiba-tiba sangat besar, dan anak itu membungkuk ke luar lambung dan memasukkan tangan kanannya ke dalam air sampai siku.
Ia diam begitu lama. Matanya terpejam.
“Ose buat apa?” bisik Raka.
“Baca arus, Pak.” Yosef tidak membuka mata. “Kalau arus dorong ke telapak, ikan di depan. Kalau arus dorong ke punggung tangan, katong su lewat.”
Kornelis, di haluan, berdeham.
“Beta yang ajar dia itu,” katanya. “Tapi bukan beta yang punya. Bapa ose yang ajar beta, Pak Guru. Waktu beta umur Yosef. Marthen bilang, laut ini tidak bisa dibaca dengan mata. Mata gampang ditipu. Tangan tidak.”
Raka memandangi tangan anak itu yang lenyap ke dalam air hitam. Ia memikirkan dayung yang terdampar tiga hari setelah ayahnya hilang. Ia memikirkan telapak tangan ayahnya, yang tidak pernah bisa ia ingat bentuknya, dan untuk pertama kali ia mengerti bahwa bentuk itu tidak hilang. Bentuk itu berpindah. Ke tangan Kornelis. Ke tangan anak empat belas tahun yang terpejam di lambung perahu biru.
Yosef menarik tangannya. “Di sini, Bapa.”
Mereka menyalakan petromaks. Cahayanya putih dan mendesis dan menyilaukan, dan dalam cahaya itu laut tiba-tiba hidup: ikan-ikan kecil berkilat di permukaan, bayangan-bayangan yang lebih besar bergerak di bawahnya. Yosef menurunkan pancing ulur, tali senar yang digulung pada potongan kayu, dengan umpan potongan cumi. Kornelis menurunkan satu lagi dengan tangan kiri. Mereka memberikan gulungan ketiga kepada Raka.
“Kalau rasa ditarik, jangan langsung tarik,” kata Yosef. “Tunggu dia makan. Hitung tiga.”
Raka menghitung tiga sebanyak dua puluh kali sebelum ia merasakan sesuatu yang bukan arus.
Malam berjalan. Mereka mendapat dua kakap, seekor kerapu berbintik yang matanya marah, beberapa ikan kecil yang dilepas kembali. Raka mendapat satu, kakap kecil yang tak lebih besar dari telapak kakinya, dan Kornelis bersorak seolah ia menangkap hiu. Di antara tarikan, di antara sunyi, Yosef bicara. Pelan, dan lebih banyak daripada yang pernah Raka dengar dari anak itu, dan kebanyakan tentang angka.
Kerapu sebesar itu kira-kira dua kilo. Om Ferry bayar sekian per kilo untuk kerapu hidup, separuh untuk yang mati. Jadi kerapu harus disimpan di palka berisi air, ganti airnya tiap jam. Utang mesin tinggal sekian. Kalau tiap malam dapat tiga kilo, sampai musim barat, kurang lebih lunas, kalau tidak ada yang rusak. Kalau mesin rusak, tambah lagi. Ia menghitung semua itu dalam kepala, lebih cepat dari Raka, dan Raka tidak berpura-pura bisa mengikutinya.
“Ose hitung cepat,” kata Raka.
“Harus, Pak. Om Ferry bicara cepat.”
“Di kelas ose juga hitung cepat?”
Yosef diam. Tali senar di tangannya bergetar, lalu diam lagi.
“Di kelas angkanya tidak ada ikannya, Pak,” katanya.
Raka tertawa, dan kemudian ia berhenti tertawa, karena ia sadar anak itu tidak bercanda.
“Ukiran di bangku ose,” katanya kemudian. “Perahu layar. Itu ose yang buat?”
Dalam cahaya petromaks yang putih ia melihat wajah Yosef berubah gelap, malu, seperti anak yang ketahuan.
“Itu kapal, Pak. Bukan perahu.” Ia menggulung talinya sedikit. “Beta lihat di Tual. Kapal sekolah pelayaran dari Ambon. Tiang tiga. Orang-orangnya pakai baju putih semua.” Ia memandang ke laut, ke arah yang Raka tahu adalah arah Ambon, jauh di balik kegelapan. “Kalau mau masuk sekolah pelayaran, harus ada ijazah SMP, Pak. Beta tanya orang di kapal itu. Dia bilang harus.”
Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia tidak perlu.
Kornelis, di haluan, memandangi tangannya yang dibalut. Ia juga tidak mengatakan apa-apa.
Bulan sudah turun di belakang mereka ketika Kornelis menyuruh Yosef mematikan petromaks.
Mereka duduk dalam gelap yang kini terasa lebih tebal, menunggu mata terbiasa lagi. Bintang-bintang kembali satu per satu. Di timur, di atas Kei Besar, langit belum berubah, tapi Raka bisa merasakan sesuatu di udara, dingin yang lain, dingin yang datang sebelum terang.
Pulang sebelum terang, kata Oma.
Yosef menarik tali mesin. Sekali. Dua kali. Mesin itu batuk dan diam.
“Biar dulu,” kata Kornelis. “Dingin. Tunggu sebentar.”
Mereka menunggu. Perahu itu bergoyang pelan, berputar sedikit oleh arus, dan dalam putaran itu haluannya menghadap ke barat daya, dan Raka melihat Kornelis memandang ke sana. Bukan sekilas. Lama, dengan cara orang memandang kuburan di pinggir jalan yang setiap hari ia lewati.
“Bapa,” kata Raka. “Bapa kenal beta punya bapa baik?”
“Satu kampung kenal Marthen.”
“Bapa ada di laut, waktu dia hilang?”
Sunyi. Yosef, di buritan, berhenti mengutak-atik mesin.
Kornelis tidak menjawab untuk waktu yang lama. Ketika akhirnya ia bicara, suaranya lain dari suara yang menertawakan Raka di para-para kemarin sore. Lebih rendah. Lebih tua. Seperti suara yang datang dari dalam perahu itu sendiri, dari kayu di bawah cat biru di bawah cat biru.
“Beta umur dua puluh waktu itu, Pak Guru. Beta ikut beta punya bapa. Katong di laut pagi itu juga, di sebelah sana.” Ia mengangguk ke timur, ke arah karang. “Semua orang di kampung bilang badai. Musim barat, Desember, perahu kecil, badai. Itu yang orang bilang di gereja. Itu yang orang tulis di surat ke Tual.”
Ia diam. Air menepuk lambung perahu, pelan, berirama, seperti seseorang yang mengetuk pintu dan tidak mau dibukakan.
“Pagi itu laut tenang, Pak Guru,” kata Kornelis. “Tenang macam malam ini. Beta ingat. Beta tidak pernah lupa. Pagi itu tidak ada badai.”
Yosef menarik tali mesin sekali lagi, dan kali ini mesin itu hidup, dan bunyi tok-tok-tok yang kecil dan keras kepala itu menelan apa pun yang barangkali akan Kornelis katakan sesudahnya.
Catatan kecil. Katinting: mesin tempel kecil berporos panjang yang dipasang di buritan perahu nelayan; Petromaks: lampu bertekanan berbahan bakar minyak tanah, cahayanya putih terang dan dipakai untuk memancing malam; Pancing ulur: pancing tangan tanpa joran, tali senarnya digulung pada potongan kayu; Palka: ruang penyimpanan ikan di badan perahu; Angin muson: angin musim yang berganti arah kira-kira tiap setengah tahun, membawa musim hujan dan kemarau.
Kalau kisah Raka dan Ohoi Woma menemani pagimu, kamu bisa ikut menjaga nyala cerita ini dengan secangkir dukungan untuk penulis.





Tinggalkan Balasan