A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Seminggu sejak meninggalkan kedokteran jiwa kini beralih tugas ke bagian interna, satu frase ‘sangat berat’. Ya, kedokteran interna bukanlah sebuah bidang yang sederhana, ia meliputi sebuah kompleksitas yang cukup memerlukan analisis dan pengetahuan luas di bidang kedokteran klinis. Sudah menjadi hal yang umum bahwa, para dokter muda yang sedang menjalani kepanitraan di bagian ilmu penyakit dalam akan melipatgandakan berkali-kali jadwal terbangnya dan jam belajar serta berlatihnya. Ini adalah masalah memperkuat basis kedokteran dan mengembangan sayap kompetensi klinis.

Tidur di atas jam 12 malam dan bangun sebelum jam 5 pagi, atau melewati 36 jam tanpa istirahat adalah hal yang lumrah dalam kancah interna. Somehow you might find a love in studying internal medicine. Terkadang keragaman ilmu yang begitu banyak amatlah memikat, mulai dari seni anamnesis hingga kesempurnaan fisik diagnostik, sampai pada analisis kerja dan mekanisme tatalaksana. Sesuatu yang mungkin cukup menyebalkan di posisi ini adalah, ketika menyadari betapa banyaknya yang belum diketahui ataupun dipahami tentang sesuatu yang begitu sederhana. Menemukan banyak hal yang mengangkat batas-batas keminiman deduksi dan sebuah motivasi yang indah untuk tetap terus belajar … dan belajar.

Beberapa hal yang menjadi wajib dalam bidang ini, aku sendiri menghandalkan Mayo Clinic Internal Medicine Concise Textbook 2008 sebagai yang pertama, karena belum bisa menumkan Buku Ajar Diagnostik Fisik oleh Swarzt yang kupinjamkan pada seorang teman berbulan yang lalu (sementara kuganti dengan buku saku). Tidak lupa buku kecil yang menjadi teman dalam suka dan duka, The Famous Scut Monkey Handbook: Clinician’s Pocket Reference 11th Edition, aku suka manualnya si manual ini. Berapa bahan lain yang berserakan juga memenuhi literaturku, sampai-sampai sering kebingungan oleh mereka.

Ini akan menjadi sepuluh minggu yang berat dan panjang, ha ha… namun itulah ilmu penyakit dalam ^_^

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca