A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Ada sebuah kisah pendek betapa kekayaan dapat mengubah karakter seseroang.

Seorang ibu memiliki seorang putra, dan uang yang banyak. Suaminya meninggal ketika si anak masih kecil. Anak ini tumbuh dalam limpahan harta yang meruah, ia memiliki banyak teman, namun hampir semua teman-temannya bukanlah golongan baik-baik dalam masyarakat. Ibaratnya jika kolam penuh dengan air, banyak katak datang berkumpul, namun ketika kolam kering, semua katak pun lenyap. Ketika orang memiliki kekayaan, sangat mudah orang berkumpul di sekitarnya, namun ketika kekayaan sirna, mudah pula lenyapnya orang-orang yang tadinya berkumpul.

Entah bagaimana anak ini tumbuh, teman-temannya yang terdiri dari para penjahat semakin hari semakin banyak. Setiap hari si anak datang pada ibunya dan meminta uang dalam jumlah yang banyak. Sedemikian hingga makin hari, si ibu yang semakin tidak mampu menghadapi kelakuan si anak menjadi semakin putus asa, awalnya perasaan tidak suka muncul, lambat laun tumbuh menjadi benci yang makin pekat. Dan sang anak pun serupa, makin lama ia mulai berpikir, mungkin ia tidak terlalu memerlukan ibunya.

Si ibu berpikir daripada memiliki anak seperti itu, yang menjatuhkan kehormatan keluarga dan nama baik kedua orang tuanya sendiri, sebaiknya mati saja daripada dibiarkan hidup semakin menjadi-jadi. Sehingga suatu hari si ibu membuat rencana untuk mengakhiri hidup putranya. Dan sang putra pun memiliki rencana yang sama.

Si ibu datang ke kamar anaknya untuk membawakan santap siang, seketika itu juga si anak memukul kepala ibunya dengan tongkat besi, sehingga melayang sudah nyawa si ibu. Si anak tampak senang kini ia bisa menguasai harta seorang diri, namun beberapa menit kemudian si anak pun tewas setelah menyantap makanan yang dibawa ibunya.

Artikel Baru Terbit

  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca