A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan paket instalasi OpenSUSE 11.2 Linux dari Bli Dani Iswara. Saya pun memutuskan untuk mencobanya. Karena saya tidak terlalu paham dengan Linux dan masih khawatir jika salah langkah. Maka saya menengok kembali panduan yang pernah saya buat sendiri di “OpenSUSE 11.1 di Acer TravelMate 6293”. Hanya saja kali ini saya membiarkan jatah partisi lebih kecil, cuma dikasih jatah segitu soalnya sama Windows Vista.

Saat instalasi, seperti biasa saya memilih Gnome sebagai dekstop, dan memilih lokak Indonesia. Hmm…, cuma hobi sih, tapi saya rasa pengaturan seperti itu jauh lebih baik untuk saya.

Desktop Open SUSE 11.2 kali ini lebih artistik dibandingkan edisi sebelumnya, more dark green touch than before. Saya melihat semuanya lancar dan stabil. Saya pun melakukan pengaturan modem Pantech PX-500 dan kartu MOBI unlimited saya untuk menjelajah internet, hmm…, hasilnya sangat bagus. Berselancar dengan peramban asli sangat nyaman, walau saya rasa tidak terbiasa dengan font-nya yang sedikit berbeda dengan Vista.

Walau belum mencoba semua aplikasi yang ada, saya rasa saya cukup menyukainya. Sayang, belum ada fitur yang bisa menggantikan Windows Live Writer di Linux, jika ada pasti saya tidak akan sungkan pindah ke Linux. Namun hal itu bukan yang urgent, dari semua bagian yang ada, saya menyukai Linux yang mengambil Gecko sebagai logonya ini.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

14 tanggapan

  1. Avatar zack
    zack

    owh jadi saya harus memisahkan harddisk untuk open suse?
    kira space untuk open suse sekitar berapa ya mas???

    hardisk saya 32ogb
    C: 100gb untuk widows 7
    D: 1000gb kosong ( apa perlu di partisi lagi untuk linux itu ? )
    E : untuk data

    kalu di instal di D :
    jagi gak ngaruh gitu kan yah??
    pas booting ada pilihan 2
    open suse sama windows 7??
    bukan begitu???

    1. Avatar Cahya

      Zack,

      Begini, kalau semisal Windows 250 GB punya dua partisi C (125 GB) dan D (125 GB). Jadi kita akan membuat sebuah partisi kosong dulu. Semisal D yang akan diambil, maka partisi D diciutkan dengan partition manager bawaan Windows, ambillah 20 GB. Jadi nanti akan ada Partisi C (125 GB), D (105 GB) dan sebuah ruang kosong 20 GB → lakukan partisi pada ruang kosong ini.

      Restart Windows dan mulai instalasi OpenSUSE, nanti dia akan memilih partisi baru ini secara otomatis dan memecahnya menjadi beberapa partisi Linux termasuk swap. Jadi Linux dalam partisi ini konsepnya tidak akan mengganggu Windows.

      Kalau dalam partisimu yang 320 GB itu terserah, mau partisi yang mana. Linux untuk keperluan standar 20-40 GB saja sudah cukup, sekalian untuk belajar. Kalau memang D pada awal-nya kosong, ya tidak masalah untuk Linux (namun rasanya 100 GB terlalu besar untuk Linux, kecuali nanti memang mau bekerja lebih banyak di Linux).

      Ya, saat booting sistem akan diambil alih oleh Linux (GRUB), defaultnya akan memilih Linux di baris awal, kemudian safemode-nya, baru Windows dan partisinya, tapi nanti bisa disetel kalau mau Windows yang dipilih menjadi default boot.

  2. Avatar zack
    zack

    klsaya menggunakan OS windows 7.
    saya ingin dual os dengan open suse
    tapi sedikit kendala saat pemartisi hardisk.
    saya takudh data di windows 7 ilang.
    bagaimana cara instalnya ?????
    ada nomer yang bisa di hubungi gak mas???

    1. Avatar Cahya

      Zack,

      Maaf sebelumnya, namun saya belum pernah menggunaka Windows 7, selama ini paling jauh saya hanya menggunakan Windows Vista. Prinsipnya jika kita menyediakan sebuah partisi kosong tidak berguna (tidak masuk ke dalam bagian Windows) secara otomatis OpenSuSE akan memberikan opsi untuk dipasang di partisi tersebut tanpa mengganggu sistem operasi Windows.

      Namun bagaimana melakukan, memecah, menghapus atau menyediakan partisi lama/baru di Windows 7, saya sama sekali belum berpengalaman.

      Saya sarankan untuk bergabung di Milis OpenSuSE Indonesia untuk mengaji masalah ini lebih dalam. Silakan mendaftar, dan sampaikan permasalahan yang Zack hadapi secara terperinci.

      Termasuk komputer yang digunakan, konfigurasi hardware, sistem operasi, dan konfigurasi partisi yang ada saat ini.

      Saya yakin akan ada banyak yang lebih bisa membantu daripada saya. Dengan pengalaman yang lebih baik 🙂 – saya juga ada di situ.

      Nomor telepon saya bisa ditemukan di bagian “contact” Website saya. Namun nomor saya tidak selalu aktif dan dapat dihubungi, terutama jika saya sedang dinas.

  3. Avatar zack
    zack

    mas gampang gak instal open suse
    cz baru download
    tolong jawab ke email saya ya mas thankss

    1. Avatar Cahya

      zack,

      Gampang atau tidaknya itu sangat relatif bagi masing-masing orang. Menurut saya sih tidak rumit, jika pernah berpengalaman dengan Windows, seharusnya instalasi Linux seperti OpenSuSE tidaklah sulit.

      Panduannya juga ada banyak di internet, semisal yang resmi ada di en.opensuse.org/installation atau banyak pembahasan mengenai fitur dan problem di blognya Mas Vavai (vavai.com). Mungkin juga berkas pdf panduannya dalam bahasa Indonesia bisa diunduh di Panduan Instalasi OpenSuSE 11.0.

  4. Avatar dani
    dani

    untuk touchpad, saya menemukan di gnome melalui pengaturan gconf-editor: desktop ›› peripherals ›› touchpad, tandai tap_to_click dan horiz_scroll-enabled (kalo perlu). entah itu yang ngefek atau perlu ngedit berkas lain. soalnya di lxde, touchpad normal-normal aja. 🙂

    1. Avatar Cahya

      Bukannya opsi tapping dengan scrolling diatur secara berbeda ya Bli?

      Boleh deh saya coba, btw, gnome editor ada di mana ya? He he… 😀

      1. Avatar dani
        dani

        kan yang scrolling memang jika perlu. lupa, kalo belum ada, install dulu paket gconf-editor atau tes di terminal. nanti cari di menu. kalo belum muncul di menu, di terminal ketik gconf-editor. 🙂

    2. Avatar Cahya

      Yup, sudah ketemu tempatnya, sedang dites 🙂

  5. Avatar dani
    dani

    masalah baterai, saya jawab di sini:
    di windows gemana? berapa lama? di linux (KDE) ada mode power profile: performance, powersave, aggressive, extreme, presentation. entah di gnome. 🙂

    1. Avatar Cahya

      Saya belum mencoba terperinci seperti itu, bukannya baterai itu automanage ya? Kalau di Vista begitu unplugged bisa tahan 2 jam 40 menit, sedangkan Gnome SuSe 1 jam 10 menit (cuma tandanya saja lho Bli), nanti saya tes lebih jauh lagi.

      Biasanya sih pengalaman dulu, pakai Linux daya baterai bisa tahan jauh lebih lama 🙂

  6. Avatar dani
    dani

    beberapa paket tambahan yang mungkin perlu (termasuk proprietari): acroread, msttcorefont (huruf windows), pelbagai pustaka/’library’ multimedia (ada di repo community), qwit (twitter berbasis Quanta), google chrome (tambah repo google dulu), opera, midori, pidgin (jika ngga biasa make kopete), skype, lxde (untuk desktop cadangan, make beberapa pustaka gnome juga). 🙂
    .-= dani´s last blog ..Hendaya Kognitif Mengakses Web =-.

    1. Avatar Cahya

      Aduh, nanti deh saya cobanya Bli. Orofaring lagi bengkak ini habis dari operasi tadi.

      Trims buat tipsnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca