A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Karena sering kali teledor dengan jadwal, saya bisa saja berakhir dengan menyaksikan diri saya yang terburu-buru terjebak macet di perjalanan. Entah kenapa saya memiliki sifat teledor ini, pergi ke suatu pertemuan, eh… bisa-bisanya notulen (buku notes) ketinggalan, pulang ke rumah, eh…, kunci kamar ketinggalan di dalam tas di tempat pertemuan.

Selalu saja ada yang membuat kepala saya pening, sampai membuat kaki saya pegal lari ke sana-sini karena keteledoran saya sendiri. Manggut-manggut di depan senior/atasan, minta maaf sambil keringat capek dan keringat dingin campur aduk jadi satu, aih…, entah apa rasanya. Namun begitulah sebagian besar hari-hari saya. Orang bilang terlalu memperhatikan kerikil di jalan sampai tidak sadar menabrak tiang listrik.

Tapi yang paling parah lagi, saya selalu menonaktifkan nada dering ponsel saya. Lha, di rumah sakit kan tidak boleh berisik, atau lebih tepatnya tidak etis. Kalau di rumah malah karena sudah capek dan tidak ingin gangguan, nada dering ponsel pun masih tetap bergoyang sunyi. Jadinya saya sering kali melewatkan pemberitahuan penting.

Namun jika pemberitahuan itu sendiri datang terlambat bagaimana? Dapatkah Anda datang rapat yang sudah berlangsung lusa ketika pemberitahuannya baru datang hari ini.

Nah itulah yang lucu yang saya terima via surel pagi ini, coba lihat gambar ini…

Tapi tidak salah sih, karena di sini pagi sih tanggal 13, namun di sana masih tanggal 12 April, kita kan pakai GMT(+) sedangkan di lokasi itu menggunakan GMT(-).

Tapi sudahlah…, kok saya yang pusing.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Rumah Baru, Wajah Baru
    Legawa.com baru saja melakukan pembaruan identitas visual dengan logo baru yang sederhana, menggambarkan matahari di atas awan. Simbol ini merepresentasikan perjalanan penulis dan esai yang dihasilkan. Desain yang bersih dan konsisten diharapkan dapat menjadikan blog ini lebih tenang dan jujur, tanpa elemen yang bersaing.
  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

12 tanggapan

  1. Avatar budiarnaya
    budiarnaya

    Kadang rasa terburu – buru itu pasti dimiliki oleh semua orang bang…. dan kadang membikin malu ketika kita lupa sesuatu, seperti saya pernah lupa membawa dompet ketika membeli bensin, saat mau bayar , clingak clinguk…. akhirnya stnk jadi jaminan bang…

  2. Avatar rismaka
    rismaka

    Tapi anehnya ngeblog ga pernah lupa ya? 😆

    1. Avatar Cahya

      rismaka,

      Kadang saya tiga hingga empat hari ga nge-blog karena sudah ada posting terjadwal, ya sudah biarkan saja demikian, paling kalau ada waktu balas-balas komentar 🙂

  3. Avatar rismaka
    rismaka

    Pengalaman saya untuk kasus “sering ketinggalan kunci rumah”, itu bisa disiasati dengan membawa kunci bersamaan dengan dompet. Biasanya kalau dompet itu tidak pernah ketinggalan kan? 🙂

    Saya biasanya menggantungkan kunci kamar di dompet, karena kebetulan dompet saya ada rantainya utk menghindari pencopetan.

    1. Avatar Cahya

      rismaka,

      Ha ha…, masalah saya juga pernah ketinggalan dompet Mas 😀

  4. Avatar Asop
    Asop

    Perbedaan waktu memang menyebalkan…

  5. Avatar Debby

    saya juga suka pening-pening neh karena kebanyakan tugas dari kantor,jadi suka lupa sama hal2 kecil yang penting, hehehe

    salam kenal,

    ^^

    1. Avatar Cahya

      Salam kenal Debby…

  6. Avatar aldy

    Kayaknya harus segera punya pendamping tetap, agar ada yang mengingatkan.
    Dan harus juga diperhatikan baik-baik ! ( Halaaaah ),
    ntar kalau sudah kerja jangan sampai lupa, bahwa mas cahya sudah punya pendamping tetap.
    Kalau ini terjadi, rasakan sendiri akibatnya 😀

    1. Avatar Cahya

      Ha ha…, bukannya itu yang malah bikin repot Pak Aldy 😀

      Pun saya nantinya berencana (karena belum saat ini) akan mengambil pendamping, saya rasa saya patut membenahi banyak kekurangan pada diri saya agar saya layak untuknya 😉

      1. Avatar aldy
        aldy

        Pendamping tetap bikin repot ? kayaknya pengalaman belanja kemarin bisa sedikit dijadikan cerminan (*sok tua juga *)

      2. Avatar Cahya

        Bukan…, maksudnya kalau sampai lupa sudah punya pendamping, itu yang bikin repot Pak Aldy 🙂

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca