Menjelang 17 Agustus banyak narablog yang menunjukkan semangat nasionalisnya, Dani Iswara misalnya memulai dengan memantapkan kembali menulis dalam bahasa Indonesia yang baik & benar, di sisi lain Wira Utama menggunakan papan kepala merah putih pada blog, demikian juga dengan narablog Budiastawa menggunakan logo merah putih untuk kesempatan kali ini.
Lalu bagaimana dengan pemilik blog ini – ngomong-ngomong orangnya sedang tidak jelas ada di mana – apakah akan ada sesuatu? Entahlah, sebagai penulis & editor saya belum dihubungi. Tapi sepertinya pemilik blog belum memutuskan untuk mengangkat topik ini.
Mungkin ia ingin mempertegas definisi nasionalisme itu sendiri bagi dirinya, bukan sekadar kata yang terucap atau makna yang tertuang dalam kamus-kamus. Ketegasan yang mungkin hanya bisa ditemukan dalam sebuah refleksi.
Dan karena itu, saya rasa ada baiknya dia mulai bertanya…
Apa makna negeri ini bagimu?
Walau mungkin jawabannya tak akan pernah tiba dalam sebentuk kata-kata atau ide belaka.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
(mikir).. mungkin kalo untuk ganti CSS masih mungkin hehe.. ato kalo emang sudah kepepet, kyaknya cukup ganti header aja :D..
untuk menulis dengan B. Indonesia yang baik dan benar, saya mesti belajar untuk menggaet pembaca agar tidak monoton waktu mereka membacanya, dan itu yang masih saya bingungkan hehehe.
Tinggalkan Balasan