Anggrek merupakan salah satu kegemaran dalam keluarga saya, walau tidak termasuk berburu dan mengoleksi anggrek, namun beberapa tanaman jenis ini ada di rumah. Salah satunya adalah anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis), yang begitu indah saat mekarnya.
Sebagai salah satu bunga nasional Indonesia, selain melatih putih (Jasminum sambac) dan padma raksasa (Rafflesia arnoldi), maka anggrek putih sebagai puspa pesona memang mengagumkan.
Saya rasa sebagai puspa pesona, rasanya orang-orang yang mampu di negeri ini memiliki bunga ini guna menghiasi pekarangan rumahnya. Ini akan mengingatkan kita bahwa pesona negeri ini juga ada pada alamnya yang tidak bisa kita tak acuh begitu saja.
Negeri ini sibuk dengan urusan politik dan kriminalitas serta pelbagai masalah sosial tiada henti. Kadang kita lupa melihat lingkungan kita juga yang mengalami krisis yang tidak kalah memprihatinkannya, lihat saja abrasi dan penurunan tanah di Jakarta yang sedang hangat, atau nelayan suku Bajo yang semakin sulit mendapatkan tangkapan, sungai-sungai yang tercermar.
Anggrek bulan hanyalah sebuah lambang, yang semoga bisa mengingatkan kita, bahwa pesona negeri ini baik yang menciptakan kenyamanan bagi rakyatnya untuk tetap hidup di dalamnya, maupun ketertarikan dunia luar, juga merupakan titipan alam kepada bangsa ini. Selayaknya pesona ini terus dijaga dengan penuh kesadaran.
Saya mengambil gambar di atas dengan kamera ponsel seadanya, baru kemudian saya berpikir. Apa ini memang anggrek bulan ya…?
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan