A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Terkisahlah seorang saudagar yang kaya raya, namun ia sangat takut akan kematian. Sedemikian takutnya si saudagar ini, sehingga ia memuja Dewa Maut – Yama dengan persembahan yang teratur dan seksama.

Bertahun-tahun si saudagar melakukan puja dengan tekun pada Yama, dan membuat Yama sangat senang akan perhatian dan puja yang khusus itu, namun kematian bukanlah sesuatu yang dapat dihindari, Yama hanya bisa berjanji, bahwa Ia tidak akan datang menerkam si saudagar dengan tiba-tiba, namun akan memberikan pemberitahuan terlebih dahulu, sehingga si saudagar bisa membereskan urusannya di dunia terlebih dahulu.

Hingga beratahun-tahun berselang, saudagar tersebut menemukan dirinya sebentar lagi akan menghadap pada kematian, dan di saat yang kritis tersebut, ia merasa amat marah pada Yama, dan alasannya amarahnya adalah bahwa Yama telah berbohong padanya, dan Yama adalah pembohong serta penipu.

Rupanya si saudagar itu merasa tidak pernah menerima isyarat apapun dari Yama, dan tidak juga diberitahukan bahwa ia akan segera meninggal.

Namun Yama menjawab, “Ah, itu tidak benar. Aku telah memperingatkanmu, bahkan tidak hanya sekali, namun empat kali, jauh sebelum aku kini akan melaksanakan tugasku padamu.”

Selanjutnya Yama menjelaskan, “Peringatanku yang pertama adalah rambut putihmu, namun engkau malah mengecatnya dan melupakan pemberitahuanku ini. Kemudian kubuat rambutmu rontok dan membotakkan kepalamu, tapi kamu malah menggunakan rambut palsu, dan meremehkan pemberitahuanku. Ketiga kalinya, kurontokkan semua gigimu, tapi kamu malah menggunakan gigi palsu, dan menganggap aku masih jauh. Dan terakhir, kubuat keriput semua kulit tubuhmu. Namun tidak ada satupun peringatan itu kamu pedulikan.”

Sesungguhnya, Yama telah menepati janjinya. Sama halnya tanda kehidupan yang telah diberikan pada manusia, ketika tamu-tamu Ilahi datang mengetuk pintu hati kita, kita tetap tak acuh dan menganggap hanya angin lalu.

Adaptasi dari Chinna Katha III, hal. 54.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

16 tanggapan

  1. Avatar Agung Pushandaka
    Agung Pushandaka

    Tapi banyak juga yang dijemput tanpa peringatan. Tiba-tiba makjleb, mati.. 😛

    Kematian seharusnya memang jadi rahasia alam sajalah. Kita hidup saja yang benar, masalah kapan mati, biar alam yang menentukan. 🙂

    Atau jangan-jangan, jatuh sakit itu sebenarnya peringatan dari Dewa Maut juga mas? Tapi manusia berusaha membantahnya dengan pergi ke dokter dan berobat. Hehe!

  2. Avatar Adi

    Kematian tidak bisa diketahui, bahkan yang muda juga bisa mati, yang tUa masih belum. Perbanyak kebaikan saat masiH hidup di dunia.

  3. Avatar jarwadi

    tepatnya semua yang hidup di bumi ini takan bisa melewatkan “kematian”

  4. Avatar ganda
    ganda

    Nice story Bli. 😀 Mengingatkan kepada Sang Pencipta.

  5. Avatar Cahya

    Pak M. Musryid,
    Namun semangat masih muda dan selalu sehat kan Pak :).

    Pendarbintang,
    Tapi sekarang anak SMA pun sudah bisa ubanan lho :D.

    Pak Narno,
    Karenanya kita sebenarnya tidak perlu mengkhawatirkannya kan Pak :).

  6. Avatar pendarbintang

    Wah…

    Candaanku sama teman-teman yang udah mulai beruban tuh “SP 1″…

  7. Avatar narno
    narno

    kematian itu pasti datang dan yang pasti semakin dekat tidak semakin jauh

  8. Avatar M Mursyid PW
    M Mursyid PW

    Jadi sadar, sudah kepala 4 usiaku.

  9. Avatar Cahya

    Pak Aldy,
    Kematian itu hanya datang sekali dalam kehidupan, dan saya tidak ingin melewatkannya :).

  10. Avatar aldy~PF
    aldy~PF

    Hehehe…perbuatan jamak manusia masa kini, enggan menerima kenyataan bahwa dirinya sudah diambang jurang kematian.

    Tapi kalau tidak begitu, bukan manusia namanya 🙁

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca