A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Terkisahlah seorang saudagar yang dinasihati oleh guru rohaninya agar selalu ingat dan mengucapkan nama Tuhan. Namun sang saudagar menyampaikan keluhannya, bahwa ia kesulitan menemukan waktu yang tepat, ia terlalu sibuk dengan urusan niaganya, tidak memiliki waktu untuk duduk dan mengucapkan nama Tuhan. Semua tenaga dan waktunya telah terkuras habis untuk tokonya.

Lalu gurunya bertanya, kapan dia memiliki waktu di luar urusan dagangnya. Ia berkata saat istirahat untuk makan, namun itu pun tidak cukup untuk mengucapkan nama Tuhan, ia mesti makan dengan cepat dan kembali ke toko, tidak mungkin baginya untuk mengucapkan nama Tuhan saat makan.

Ketika ditanya waktu lainnya, saudagar berkata bahwa ia mesti pergi agak jauh dari desanya setiap pagi guna memenuhi panggilan alam, setidaknya selama setengah jam. Maka gurunya meminta sang saudagar untuk memanfaatkan waktu ini untuk smarana (mengucapkan nama Tuhan) harian.

Saudagar itu pun mengikuti saran gurunya untuk memanfaatkan waktu tersebut setiap pagi. Hingga suatu ketika Hanuman – Putra Vayu melintas di udara, ia melihat saudagar tersebut mengucapkan nama “Ram, Ram, Ram…” sambil buang air besar. Hanuman begitu marah karena perbuatan saudagar ini yang tidak pada tempatnya. Hanuman marah karena saudagar tersebut telah mencemari nama Rama, karena ia telah mengucapkannya pada waktu yang tidak bersih. Dengan serta merta Hanuman melesat turun dan menampar saudagar tersebut hingga terjungkal.

Hanuman kemudian melanjutkan perjalanannya kembali ke Ayodhya. Ketika sampai di hadapan junjungannya, Hanuman sangat gembira memandang wajah Rama yang penuh dengan kelembutan cahaya Ilahi, namun ketika ia seksama memerhatikan kembali, ada lebam kemerahan di pipi-Nya yang berbentuk seperti telapak tangan.

Hanuman terkejut, namun tetap terdiam, ia begitu sedih sehingga kehilangan kata-kata.

Rama tersenyum dan berkata lembut padanya, “Hanuman, jangan tanyakan pada-Ku, nama yang telah memberikan tamparan ini. Aku selalu mengetahui sejak awal sebelum bhakta-Ku akan tertimpa malapetaka. Sehingga tepat pada waktunya, Aku dapat menggantikan tempat mereka untuk menyelamatkan mereka.

Saudagar yang malang tersebut” lanjut Rama, “yang sedang berjongkok di luar desanya dengan mengucapkan nama-Ku ketika engkau tengah dalam perjalananmu kemari. Sanggupkah ia menahan amarahmu yang datang melalui tamparanmu? Pastilah ia tidak berdaya. Maka Aku menengahi amarahmu dan menerimanya dengan pipi-Ku ini, Hanuman yang Kukasihi.

Diadaptasi dari Chinna Katha III, h. 18-19.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

4 tanggapan

  1. Avatar Ningrum

    Tuhan memang Maha Pengasih dan Penyayang :).

    Tapi kok ya pedagannya sibuk banget ya, padahal kan ya sambil nunggu konsumen bisa juga ber-smarana

  2. Avatar niQue
    niQue

    eh? saya juga taunya ga boleh baca2 ayat2 suci klo pas ber'hajat', tapi klo dalam hati kan ga ada yang tau, kecuali DIA, jadi saya mah klo pas inget, pas mau nyebut2 (baca : dzikir) gitu ya nyebut aja 😀

    nice post, thanks bro 🙂

  3. Avatar jarwadi

    [like this] inspiring story

  4. Avatar indobrad
    indobrad

    Waktu kecil saya juga pernah menyanyikan lagu rohani ketika sedang BAB dan serta-merta dimarahi Mama saya. Jadi ingat adegan tersebut. hehe.

    Saya cukup terkejut dengan akhir ceritanya. Namun kalo dipikir-pikir lagi, kemarahan Hanuman itu ada benarnya juga….. kali ya?!

    *wondering*

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca