A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Tentunya ini akan menjadi alasan pribadi saya dalam mengikuti sebuah blog. Karena saya memang suka mengikuti pelbagai ragam tulisan di internet, daripada saya langganan berita cetak yang isinya itu-itu melulu.

Mungkin Anda sudah pernah membaca “Alasan Saya tidak Berkunjung ke Blog itu Lagi” yang saya tulis pada awal tahun. Maka ini adalah sisi lainnya yang saya tulis pada akhir tahun. Anda mungkin akan menemukan alasan-alasan Anda tersendiri nantinya.

Alasan yang pertama dan utama adalah karena kontennya berkaitan dengan profesi saya. Dunia kedokteran adalah dunia yang berkembang dengan sangat pesat, jika tidak selalu memperbarui informasi maka akan semakin tertinggal jauh di belakang. Ha ha…, tapi saya kadang malah malas membacanya, karena kepala saya jadi sering pusing dibuatnya.

Blog itu menarik minat saya yang ada di luar profesi saya. Minat saya seperti sastra, teknologi peranti lunak berkode sumber terbuka, isu ekologi, arkeologi dan astronomi adalah hal-hal yang suka saya cari di dunia blog. Sekadar menambah wawasan, dan saya memang menyukainya. Biasanya saya akan mengikuti blog seperti ini via pemasok RSS.

Blog personal dengan keunikan adalah tentunya yang bisa mencuri perhatian saya. Keunikan di sini tidak sama dengan pencitraan pribadi sebuah blog (personal branding). Keunikan di sini adalah penyajian sebuah konten yang memiliki suasana personal dengan beberapa hal yang saya sekilas tahu bahwa saya cocok dengan blog tersebut.

Misalnya disusun dalam bahasa yang santun dan mudah dipahami, tentunya akan lebih nyaman jika narablog juga menata tipografi pada blognya. Ditulis menurut pandangan narablog, bukan semata-mata kutipan dari sana dan sini, saya ingin melihat sudut pandang blog itu, kadang rasanya meluap minat saya ketika membaca narasi dengan daya bedah yang mendalam.

Saya tidak suka blog yang sekadar membebek, semua orang tahu sudah rahasia umum dalam pemilu ada kecurangan, dalam penerimaan pegawai negeri ada oknum yang terlibat dalam jalur pintu belakang, tapi bagaimana memandang ini secara tegas dan objektif sangat sulit ditemukan. Semua orang tahu bahwa lokalisasi dan pelacuran membawa pelbagai masalah dalam masyarakat, tapi tidak usah ikut-ikutan berteriak menutup pelacuran jika tidak punya ide yang bisa diaplikasikan secara riil oleh penulis sendiri untuk kemudian mengalihkan mata pencaharian para pelacur termasuk membuat mereka diterima di lingkungan barunya jika bukan lagi di area lokalisasi.

Blog personal selalu memiliki dua arah, ke dalam dan ke luar. Ke luar adalah penulisan tentang hubungan antar personal dengan sosial, seperti contoh saya di atas. Ke dalam diri sendiri bisa jadi melahirkan tulisan atau media yang absurd, namun ke arah dunia sosial, saya ingin melihat pandangan yang jujur dan menembus ke dalam realitas sosial itu sendiri. Jika hanya sekadar mengkliping media sosial/berita, membebek gosip hangat, beretorika muluk-muluk, ah…, setiap hari juga ada di televisi sampai rasanya jenuh sekali. Jika tulisan-tulisan blog itu bisa adil dalam memandang dan bersikap, terbuka dalam penyampaian gagasan dan pertanyaan, maka saya rasa itu adalah apa yang saya ingin baca selalu untuk mengisi waktu luang saya.

Dan tentu saja saya akan mengikuti blog teman-teman daring saya, sedemikian hingga saya juga bisa sedikit menyampah di sana karena mereka tidak akan marah, ha ha…. Walau banyak sekali, saya (mumpung masih bisa) sesekali menyempatkan diri membacanya, walau tidak ikut urun pendapat, selama pasokan RSS diberikan secara penuh, saya masih bisa membaca semuanya (oke, mungkin  tidak seluruhnya).

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

38 tanggapan

  1. Avatar Agung Pushandaka
    Agung Pushandaka

    Wah, syarat untuk menjadi blog yang anda ikuti ternyata berat juga ya. Hehe!

    Kalau blog saya — yang pengen lebih banyak menulis tentang hukum — termasuk membebek ndak mas? Sebab tulisan hukum saya cuma membaca peraturan, mengutipnya, kadang-kadang mengaitkannya dengan isu yang berkembang.

    1. Avatar Cahya

      Mas Agung,
      Ha ha…, persyaratan saya ndak mutlak kok Mas, bisa dikredit juga :D.

      Kalau yang saya lihat di blog Mas Pushandaka – yang lebih banyak menulis tentang hukum – adalah sebentuk pendalaman namun juga penyederhanaan makna elemen-elemen hukum dalam sebuah tulisan, serta menciptakan kesempatan berdiskusi yang baik. Saya suka blog seperti itu :).

  2. Avatar yustha tt
    yustha tt

    dan sy berterimakasih karna mas cahya sudah 'mengikuti' blog sy yg isinya acakadul..
    sy juga menambahkan catatan legawa ke reader meskipun mungkin tidak selalu datang kemari dan meninggalkan komen di sini.
    Salam persahabatan.

    1. Avatar Cahya

      Yustha,
      Ha ha…, ndak perlu sampai sebegitunya. Tidak ada yang terlalu bagus juga dalam tulisan-tulisan saya :).
      #OOT, iya untuk beberapa tahapan, tanggapan di blog ini sementara dimoderasi :).

  3. Avatar yustha tt
    yustha tt

    komennya dimoderasi ya?

  4. Avatar yustha tt
    yustha tt

    dan sy berterimakasih karna mas cahya sudah 'mengikuti' blog sy yg isinya acakadul…
    sy jg menambahkan catatan legawa ke reader, meskipun mungkin tidak selalu dtang kemari dan meninggalkan komen di sini.
    Salam persahabatan.

    *duh, bahasa sy jadi resmi gini ya….kebawa yg atas2 nih.. hihi…*

  5. Avatar Agung Haryono

    Terkadang penulis (yang punya blog) mencurahkan isi hatinya lewat postingan di beranda blognya, sediakah untuk mengikutinya hehe. 😀

    1. Avatar Cahya

      Mas Agung,
      Mengapa tidak 🙂 – membaca isi hatinya, bukankah itu salah satu cara memahami orang lain?

  6. Avatar TuSuda
    TuSuda

    BTW…mari menjadi seperti bagaimana karakter diri kita dalam berbagi bersama.
    SALAM hangat dari Kendari… 🙂

  7. Avatar Abdul Hakim
    Abdul Hakim

    tulisan membebek itu maksudnya apa ya? seseorang mempunyai pendapat dan opini sendiri yang muncul ketika melihat suatu kejadian dan naluri positifnya mungkin sama dengan orang yang katanya baik, apa itu dianggap membebek?

    1. Avatar Cahya

      Mas Hakim,
      Tidak ada yang salah dengan beropini sama sekali. Dan kebebasan mengungkapkan pendapat tentu sudah diakui secara de facto dan dilindungi secara de jure.

      Membebek yang saya maksudkan, tentu saja dalam kaitannya sebagai sebuah blog, adalah sesuatu yang selalu dan melulu mengikuti kata-kata (katakanlah demikian) pihak atau orang lain.

      Kita tahu bebek kan, begitu satu ber"gek" dan berlari, maka yang lain mengikuti. Nah, ketika orang mulai membebek, orang hanya mengikuti dan melihat dunia dari kaca mata orang lain, opininya hanyalah pernyambung lidah orang lain melulu. Lalu jika saya kembali ditanyakan apakah ada yang salah dengan itu? Maka jawabannya sama sekali tidak.

      Namun ini adalah bagian dari karakter saya Mas Hakim, orang mesti melihat dunia dengan mata kepalanya sendiri, bukan mata kepala orang lain. Maka di sinilah sebuah kemanusiaan bisa hadir secara sepenuhnya.

      Misalkan saja, kita tahu bahwa kita mesti menolong sesama manusia. Tapi jika kita beropini untuk menolong sesama hanya karena menyambung opini lainnya, atau sekadar membebek, maka mungkin sesungguhnya kita tidak "sungguh-sungguh" melihat menolong itu seperti apa.

      Tapi ketika orang melihat orang lainnya tergeletak tidak berdaya, disinilah realita disuguhkan. Apakah orang mesti berpikir sejenak "oh…, kemarin saya dengar bahwa menolong sesama itu baik, dan saya juga sudah mengabarkannya, maka saya akan menolong sehingga saya jadi orang baik." Ataukah di situ ada suatu letupan unik, ketika aksi/tindakan orang menjadi natural, dengan sendirinya ia menolong tanpa banyak basa-basi.

      Nah, satu sisi yang pertama adalah orang yang menolong karena keterkondisian terhadap ide kebaikan, karena melihat "menolong" dari kacamata orang lainnya. Satu sisi bahkan mungkin kata "menolong" itu sendiri tidak ada kepalanya, namun itulah reaksi alaminya ketika berhadapan langsung dengan kehidupan, dan dia memperlihatkan dirinya yang sesungguhnya saat berhadapan dengan realita.

      Tentu saja dua-duanya tidak salah, dan akhirnya pun sama-sama menolong. Tapi bagi saya, ide pun opini itu ada di mana-mana dan sudah banyak yang tahu, disampaikan ulang tidak masalah. Tapi saya lebih menyukai tulisan dari orang yang melihat langsung sebuah permasalahan dengan daya bedahnya, orang yang melihat realita secara langsung dalam tulisannya – dan jika nanti ia sampai pada simpulan yang sama atau berbeda dengan opini atau kaidah umum yang ada, itu bukan masalah, karena orang seperti ini akan terbuka dalam setiap realita termasuk masukkan-masukkan yang datang padanya, dan dia siap membedah ulang kehidupan itu.

      Tapi kalau orang yang cenderung membebek, melihat dunia dari kacamata orang lain. Biasanya dia terkondisi dengan ide yang sudah melekat di kepalanya, "pokoknya memang begitu" – itulah prinsipnya rata-rata yang saya temui. Dan ia sulit membuka diri pada kehidupan, apalagi membedahnya, karena merasa sudah aman dan nyaman hanya dengan membebek, kita pun menjadi sulit berdiskusi dengan mereka yang melulu membebek, karena memang tidak pernah melihat masalah dalam sebuah realita yang sesungguhnya.

      1. Avatar andi sakab

        hmmm…. kalo latah apakah sama dengan membebek, mas cahya?

      2. Avatar Cahya

        Mas Andi,
        Saya tidak habis pikir kalau tulisan ada juga yang "latah", jadi belum terbayang tulisan yang "latah" itu seperti apa.

      3. Avatar
        Anonim

        Saya kurang setuju dengan kalimat "Dan kebebasan mengungkapkan pendapat tentu sudah diakui secara de facto dan dilindungi secara de jure."
        Saya masih teringat ketika beberapa bulan lalu seorang anggota TNI di hukum karena mengeluarkan pendapat yang bertentangan dengan pimpinannya.
        Saya rasa orang-orang yang bekerja di lingkungan pemerintah (PNS, Polisi, Abri, dll) tidak bisa mengeluarkan pendapatnya dengan bebas bro

      4. Avatar Cahya

        Eserzone,
        Saya tidak tahu kasus seperti itu, tapi ayah saya bekerja di militer, ibu saya pns, tidak pernah saya mendengar kebebasan berpendapat dipermasalahkan. Berpendapat bebas tentu saja tidak sama dengan garis komando/kepemerintahan itu sendiri.

        Misal – IMHO – bawahan bisa bebas menyampaikan pendapatnya, namun atasanlah yang sebagai pimpinan tetap memutuskan, apakah pendapat itu akan dilaksanakan atau tidak. Tapi kalau karena pendapatnya tidak diakomodir dan justru menentang putusan yang sudah dibuat, itu kan lain perkaranya.

        Itulah mengapa setiap orang belajar teknik komunikasi, politik dan diplomasi, sehingga penyampaian pendapat atau gagasan bisa tepat. Meski pembelajaran di sini tidak mesti melalui jalur pendidikan resmi.

  8. Avatar andi sakab

    kalo saya pribadi mengikuti suatu blog selain seperti yang di sebutkan oleh mas cahya di atas juga faktor kedekatan sendiri. secara telah ada saling silahturahmi juga memiliki ikatan emosi karena telah mengenal baik di blognya, jejaring sosial, dari kunjunganya atau pertemuan di forum lain.

    Sisanya memang jika tidak ada timbal balik komunikasi 2 arah. maksud di sini bukanlah saling blogwalking tapi lebih ditekankan kecocokan dan pertemanan di media lain. umumnya saya akan melupakannya secara tidak langsung.

    Jujur masalah RSS blog saya. engga saya buat full entri karena memang saya buat supaya reader mau berkenan membacanya di blognya langsung. jadi jika memang di headline dia kurang sreg maka dia engga musti datang ke blog. secara tidak langsung memang saya memberlakukan opsi pilihan di RSS. kalo suka, silahkan baca lengkapnya, kalo engga cukup tinggalkan saja. 🙂

  9. Avatar iskandaria
    iskandaria

    Salah satu yang membuat saya jenuh dan tidak tertarik dengan sebuah tulisan blog yaitu karena isinya yang terkesan 'membebek' dengan pandangan umum yang sudah kita ketahui bersama (tanpa upaya pendalaman atau ulasan dari sudut pandang lain).

    Contoh saja topik seputar kontroversi kampanye kondom. Kalau cuma beropini bahwa itu akan mendorong seks bebas atau terkesan melegalkan prostitusi, rasanya terlalu klise. Terlebih jika tidak memberikan solusi konkret atau ulasan dari sisi lain, yang mungkin saja luput dari perhatian banyak orang.

    Topik lain yang membuat saya kurang tertarik lagi yaitu masalah komentar spam dan basa-basi. Termasuk masalah komentar pamrih. Topik yang sangat de javu 😀 (kecuali kalau disajikan dengan cara berbeda atau mengandung sesuatu yang baru).

    1. Avatar Cahya

      Jika pandangan umum yang diulang hanya dengan tujuan saling mengingatkan saya rasa tidak masalah sedikit de' javu, kadang malah jadi bernostalgia 🙂 – apalagi seperti yang Mas Is sampaikan, bahwa penulisannya disajikan secara apik dan menarik, dengan tambahan sudut pandang.

    2. Avatar Abdul Hakim
      Abdul Hakim

      apa salahnya beropini? toh semua orang bebas mengungkapkan pendapat, kita semua tau itu

  10. Avatar Antyo Rentjoko
    Antyo Rentjoko

    Hidup ini kan soal pilihan dan ketersesatan. Memilih blog tertentu, kalau semakin banyak, akhirnya reader kita jadi tambun sehingga kita hanya membaca selintas, tidak berkomentar. Tidak memilih tapi suatu kali tersesat ke sebuah blog yang bagus, itu menyenangkan dan akhirnya diikuti. Kalau nggak bagus ya gitu deh… 😀

    1. Avatar Cahya

      Tidak bisa dipungkiri memang bahwa semakin banyak blog yang diikuti seiring berjalannya waktu. Kadang mesti menunggu dulu, karena tidak bisa dibaca semua sekaligus. Ada yang dibaca belakangan :). Mungkin benar juga pada awalnya adalah ketersesatan :D.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca