Seorang petani di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, telah hidup dengan benjolan bersisik di tungkainya selama lebih dari dua puluh tahun. Ia sempat berulang kali diobati dengan kortikosteroid oral dengan dugaan lichen simplex chronicus atau psoriasis, namun luka itu justru terus membesar hingga akhirnya menghambatnya bekerja di ladang. Ketika akhirnya diperiksa melalui layanan teledermatologi, diagnosisnya baru terungkap: kromoblastomikosis—salah satu penyakit jamur kulit paling terabaikan di dunia, dan satu dari delapan kasus serupa yang ditemukan di pulau itu antara 2021 hingga 2024 (Siregar et al., 2025).
Kisah semacam ini menggambarkan wajah nyata dari kelompok penyakit yang oleh WHO disebut deep mycoses atau mikosis dalam—infeksi jamur yang menembus lapisan kulit lebih dalam dan, pada beberapa kasus, jaringan di bawahnya. Tiga jenis utama yang paling sering ditemukan di kawasan Asia Tenggara adalah mycetoma, kromoblastomikosis, dan sporotrikosis.
Ketiganya Berawal dari Hal yang Sama: Luka Kecil di Tanah
Yang menyatukan ketiga penyakit ini adalah cara penularannya. Jamur penyebabnya hidup bebas di tanah, kayu, dan sisa tumbuhan yang membusuk—bukan menular dari manusia ke manusia, melainkan masuk melalui luka kecil seperti tusukan duri, goresan, atau luka saat berjalan tanpa alas kaki. Karena itu, ketiganya digolongkan sebagai penyakit akibat kerja (occupational disease) yang paling sering menyerang petani, pekerja kehutanan, tukang kebun, dan siapa pun yang kesehariannya bersentuhan langsung dengan tanah dan tumbuhan (World Health Organization, Regional Office for South-East Asia [WHO SEARO], 2026).
Kromoblastomikosis: Ketika Gatal Justru Menyebarkan Infeksi
Kromoblastomikosis disebabkan jamur penghasil pigmen cokelat seperti Phialophora, Fonsecaea, dan Cladophialophora. Lesi biasanya dimulai di kaki atau tungkai sebagai benjolan tunggal yang tumbuh sangat lambat, kemudian berkembang menjadi lesi berkerak, menyerupai kutil (verrucous), atau berulkus. Lesi satelit baru dapat muncul di sekitar lesi awal seiring waktu.
Rasa gatal yang khas pada penyakit ini justru menjadi bagian dari masalahnya—garukan berulang dipercaya turut menyebarkan infeksi melalui proses autoinokulasi, alias “menanam sendiri” jamur ke bagian kulit lain. Tanpa pengobatan, lesi akan terus memburuk dan dapat memicu edema, infeksi sekunder, hingga—pada kasus yang sangat lama—karsinoma sel skuamosa, sebagaimana ditemukan pada salah satu pasien dalam studi Sumba yang akhirnya harus menjalani amputasi tungkai bawah (Siregar et al., 2025).
Diagnosis dilakukan melalui kerokan kulit atau biopsi, dengan sasaran terbaik berupa lesi bertitik hitam kecil menyerupai lada cayenne. Di bawah mikroskop, jamur tampak sebagai sel besar berdinding tebal berwarna cokelat gelap—dikenal sebagai sclerotic bodies atau “medlar bodies”—akibat pigmen melanin pada dinding selnya.
Mycetoma: Trias Klasik Benjolan, Saluran Nanah, dan “Butiran”
Mycetoma dapat disebabkan oleh jamur (disebut eumycetoma) maupun bakteri (disebut actinomycetoma), dengan gejala klinis yang serupa sehingga keduanya sering dibahas bersamaan. Penyakit ini paling umum ditemukan di wilayah tropis dan subtropis dengan pola musim hujan pendek diikuti musim kemarau panjang—kondisi yang mendukung pertumbuhan vegetasi berduri.

Trias klasik mycetoma terdiri dari tiga tanda: benjolan subkutan yang tidak nyeri, pembentukan banyak saluran (sinus) yang mengeluarkan cairan, dan keluarnya cairan nanah yang mengandung “butiran” (grains)—partikel kecil khas yang menjadi ciri diagnostik penyakit ini. Warna butiran dapat membantu membedakan jenisnya: butiran eumisetoma bervariasi dari putih hingga hitam, sementara butiran aktinomisetoma cenderung berwarna kuning-oranye atau kemerahan. Tanpa pengobatan, infeksi dapat menyebar dan merusak otot serta tulang di bawahnya.
Sporotrikosis: “Penyakit Tukang Kebun Mawar” dengan Pola Sebaran Berantai
Disebabkan jamur Sporothrix schenckii yang biasa ditemukan pada duri mawar, jerami, lumut sphagnum, dan ranting, sporotrikosis sering dijuluki “rose gardener’s disease”. Infeksi biasanya dimulai sebagai nodul merah kecil tanpa nyeri di titik masuk jamur, kemudian menyebar mengikuti saluran getah bening tungkai, membentuk pola sebaran linier yang khas—sederet nodul serupa berbaris mengikuti alur pembuluh limfe. Nodul-nodul ini dapat berulkus dan mengeluarkan cairan atau nanah seiring waktu.
Tata Laksana: Perjalanan Panjang yang Menuntut Kesabaran
Ketiga mikosis dalam ini memerlukan pengobatan jangka panjang, dan inisiasi terapi sedini mungkin sangat menentukan keberhasilan. Pilihan terapi umumnya berupa kombinasi obat antijamur seperti itrakonazol, terbinafin, dan vorikonazol (atau antibiotik untuk aktinomisetoma), perawatan luka, terapi panas lokal, krioterapi, serta pembedahan bila diperlukan—terutama untuk kromoblastomikosis dan mycetoma (WHO SEARO, 2026). Pencegahannya relatif sederhana secara konsep, meski menuntut disiplin dalam praktik: memakai alas kaki dan pakaian pelindung saat bekerja di area berisiko, menggunakan sarung tangan dan pakaian lengan panjang saat menangani tumbuhan, serta segera membersihkan dan menutup luka kulit untuk mencegah masuknya jamur atau bakteri.
Realitas di Indonesia: Terabaikan secara Global, Nyata secara Lokal
Berbeda dari kusta atau frambusia yang mendapat sorotan kebijakan nasional, ketiga mikosis dalam ini nyaris tak terdengar dalam wacana kesehatan masyarakat Indonesia—meski buktinya ada dan terus bertambah. Sebuah tinjauan literatur global mencatat bahwa dari 7.740 kasus kromoblastomikosis yang dilaporkan dunia selama satu abad terakhir, 13 di antaranya berasal dari Indonesia (Siregar et al., 2025, mengutip Santos et al., 2021). Namun studi kasus terbaru dari Sumba mengungkap gambaran yang lebih besar: sekitar 40 kasus dugaan kromoblastomikosis lain telah dilaporkan di seluruh Indonesia antara 2009 dan 2024, mengindikasikan bahwa penyakit ini sesungguhnya endemik di kawasan tersebut, hanya saja luput dari pencatatan sistematis (Siregar et al., 2025).
Studi yang sama juga menyoroti akar masalah yang lebih struktural: keempat dari delapan pasien di Sumba memiliki status gizi buruk, dan seluruh pasien sempat mendapat diagnosis serta pengobatan yang keliru bertahun-tahun sebelum kromoblastomikosis akhirnya ditegakkan. Wilayah pedesaan di Indonesia timur, yang sangat bergantung pada sistem kesehatan pemerintah, memiliki tingkat ketersediaan obat esensial terendah di seluruh nusantara—sebuah tantangan besar mengingat itrakonazol dan terbinafin, sebagai lini pertama terapi, tergolong mahal dan tidak selalu tersedia di layanan primer (Siregar et al., 2025; Fanda et al., 2024). Pada praktiknya, sebagian pasien di Sumba hanya bisa diberi ketokonazol oral sebagai alternatif yang tersedia, bukan pilihan yang lebih efektif namun lebih mahal.
Data dari rumah sakit rujukan turut memperkuat gambaran ini. Kajian retrospektif di RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama periode 2010–2014 mencatat 15 kasus mikosis subkutan—meliputi eumisetoma, aktinomisetoma, kromoblastomikosis, basidiobolomikosis, dan faeomikosis—dengan mayoritas pasien laki-laki berusia produktif (25–44 tahun) berlatar belakang petani, tukang kayu, dan penghobi berkebun (Sukmawati et al., 2018). Pola demografis ini konsisten dengan karakteristik okupasional yang digambarkan dalam buku pegangan WHO SEARO.
Yang patut dicatat secara positif dari pengalaman Sumba adalah peran teledermatologi dalam mengatasi kesenjangan akses. Program ini memungkinkan tenaga kesehatan garis depan di pulau terpencil mendiagnosis kromoblastomikosis melalui pemeriksaan mikroskopis langsung dengan kalium hidroksida (KOH)—metode sederhana dan murah yang mengurangi ketergantungan pada biopsi kulit yang membutuhkan sumber daya lebih besar (Siregar et al., 2025). Pendekatan semacam ini selaras dengan filosofi buku pegangan WHO SEARO yang menekankan diagnosis berbasis tanda klinis untuk konteks layanan primer dengan sumber daya terbatas.
Mengapa Ketiganya Layak Mendapat Perhatian Lebih
Mikosis dalam sering kali tidak mematikan, sehingga mudah dianggap sebagai masalah kosmetik semata. Padahal, sebagaimana ditunjukkan kasus di Sumba, keterlambatan diagnosis selama bertahun-tahun dapat berujung pada kecacatan permanen, hilangnya kapasitas kerja, stigma sosial, bahkan keganasan kulit yang berujung amputasi. Selama penyakit ini terus disalahartikan sebagai eksem kronis atau psoriasis di tingkat layanan primer—sebagaimana dialami seluruh pasien dalam studi tersebut—maka jumlah kasus yang tercatat akan selalu jauh lebih kecil dari jumlah kasus yang sesungguhnya ada di masyarakat.
Bagi tenaga kesehatan Indonesia, terutama yang bertugas di wilayah agraris dan pedesaan, kewaspadaan terhadap tiga mikosis dalam ini bukan sekadar pengayaan wawasan akademis, melainkan langkah konkret untuk mencegah pasien terjebak bertahun-tahun dalam siklus salah diagnosis—sebuah siklus yang, seperti terlihat di Sumba, bisa dipatahkan dengan sesuatu yang sesederhana pemeriksaan KOH dan kamera ponsel pintar.
Referensi
Fanda, R. B., Probandari, A., Yuniar, Y., et al. (2024). The availability of essential medicines in primary health centres in Indonesia: Achievements and challenges across the archipelago. Lancet Regional Health – Southeast Asia, 22, 100345. https://doi.org/10.1016/j.lansea.2023.100345
Siregar, G. O., Harianja, M., Rinonce, H. T., Zulfikar, E., Bøgh, C., Ataupah, M. R., Laiskodat, R. D., Sundari, E. S., Soebono, H., & Grijsen, M. L. (2025). Chromoblastomycosis: A case series from Sumba, eastern Indonesia. Clinical and Experimental Dermatology, 50(7), 1447–1450. https://doi.org/10.1093/ced/llaf111
Sukmawati, N., et al. (2018). Manifestasi klinik kromoblastomikosis pada petani. Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Universitas Airlangga.
World Health Organization, Regional Office for South-East Asia. (2026). Integrated approach to management of skin-related neglected tropical diseases and common skin conditions: A practical handbook for health-care workers. WHO. ISBN 978-92-9280-002-4.
Catatan transparansi: Data epidemiologi kromoblastomikosis Indonesia bersumber dari studi kasus tunggal berskala kecil (delapan pasien di Sumba) dan tinjauan literatur retrospektif; belum ada surveilans nasional resmi untuk mycetoma, kromoblastomikosis, maupun sporotrikosis di Indonesia sebagaimana tersedia untuk kusta atau frambusia. Angka kasus mycetoma dan sporotrikosis spesifik Indonesia tidak ditemukan dalam pencarian untuk artikel ini—studi RSUD Dr. Soetomo mencatat kasus eumisetoma dan aktinomisetoma tanpa rincian angka terpisah, dan tidak dijumpai kasus sporotrikosis dalam periode studi tersebut.





Tinggalkan Balasan