Sebenarnya ini sebuah insiden yang tidak terduga. Saya sudah mendengar tentang LibreOffice sebelumnya, namun memang belum berniat bermigrasi ke LibreOffice dan masih menggunakan OpenOffice dari Oracle. Namun tampaknya dunia open source sedang gencar-gencarnya bermigrasi ke LibreOffice yang dikembangkan oleh komunitas dan organisasi nirlaba “The Document Foundation”.
Kejadiannya bermula ketika saya memasang “Tumbleweed” dan melakukan zypper dub dari repositoru tersebut. Ternyata salah satu hasilnya adalah openSUSE melepas OpenOffice dan menggantikannya dengan LibreOffice.
The LibreOffice software is developed by users, just like you, who believe in the principles of Open Source software and in sharing their work with the world in a non-restrictive way. At the core of these principles is the promise of better-quality, highly-reliable and secure software that gives you greater flexibility at zero cost. Beyond this, the driving factor behind the community is personal choice and transparency, which translates practically into wider compatability, more utility and no end-user lock-in to using just one product.
Jika sudah cukup sering menggunakan OpenOffice, maka penggunaan LibreOffice-pun tidak akan menjadi kendala, karena kerangka yang digunakan sama persis.
Pratampil LibreOffice 3.3 pada Ubuntu
LibreOffice sebagaimana halnya OpenOffice juga bisa digunakan di Windows dan Mac selain di Linux. Jika Anda ingin mencoba LibreOffice, silakan unduh di sini.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
17 tanggapan
Melvin
saya juga dulu menggunakan openoffice. tapi pas saya mau download lagi, kenapa ngak jalan downloadnya. tapi pas saya coba download libreoffice jalan. padahal server downloadnya sama (di kambing). tapi libreoffice tidak jauh berbeda dengan openoffice 😀
Hmm…, saya kalau mengunduh peranti lunak, biasanya langsung ke sumbernya, jarang mengunduh di server lokal seperti Kambing 🙂 – kenapa ya, rasanya lebih stabil saja.
Oh, kalau openoffice biasanya saya unduh dari Filehippo :D.
Memuat…
iskandaria
Saya sudah sejak beberapa bulan lalu menginstall LibreOffice mas 🙂
Pertama kali tau dari sebuah blog lokal. Penasaran, saya pun langsung mengunduh dan menginstallnya (ke Win XP saya). Tampilan dan fitur-fiturnya memang tidak jauh beda dengan OpenOffice.
Belakangan ini saya membiasakan diri menggunakan LibreOffice untuk mengetik/membuat dokumen ala MS Word. Sekedar latihan migrasi menuju 'open-source' 😀
wah, saya masih awam banget dengan open source, kecuali open office yang pernah saya pakai. first impression utk ubuntu bagi saya adalah gak user friendly dalam hal instalasi dan penggunaan. apa saya salah?
Indobrad,
User friendly itu kembali pada masing-masing pengguna. Kenapa ada yang lebih suka menggunakan Nokia, sementara yang lain bilang lebih enak pakai Samsung atau Sony Ericson misalnya :).
Ubuntu sendiri termasuk sistem operasi yang paling "user friendly" saat ini, jumlah klik yang diperlukan lebih sedikit daripada menggunakan "windows", dengan aksesibilitas yang bisa menyamai "macintosh".
Kalau pemasangan Ubuntu mungkin karena dibuat saking user friendly malah jadi kekurangan informasi, itulah mengapa saya lebih suka openSUSE, informasi yang diberikan lebih transparan sehingga tahu dengan jelas apa yang sedang kita pasang, dan bagaimana efeknya pada sistem.
"Open Source" menjadi alternatif jika tidak ada anggaran untuk membeli peranti lunak proprietary. Coba saja beli MS Office seharga 4 – 6 juta rupiah, jika tidak kemudian jadi bangkrut. Paling yang bisa menjangkaunya adalah golongan menengah ke atas.
Ha ha…, kok bisa murah meriah ya :). Itu ndak adilnya Microsoft, selisih harganya terlalu jauh, sementara pelajar di tempat lain belum tentu mendapatkan dengan harga segitu :).
Mas cahya, kendala saya ketika menggunakan oppenOffice adalah susahnya ketika membuka file excel, padahal pekerjaan utama saya mengharuskan saya menggunakan microsoft excel.
Apakah libreoffice juga sama beratnya dg openoffice?
Mas Ris,
Saya tidak pernah kerja dengan Excel (Spread Sheet) belakangan ini, kalau hanya untuk menulis dan membuat salinda rasanya tidak berat. Namun kalau spreadsheet dengan banyak database saya kurang tahu.
Hmm…, source code OpenOffice dan LibreOffice kan sama, kalau tidak ada tweak yang membedakan performanya, maka bisa dikatakan sama berat atau sama ringan untuk keduanya. He he…, saya tidak pernah sampai sedetil itu memerhatikannya.
Inilah yang membuat saya belum bisa meninggalkan windows. Banyak aplikasi yang penting yang belum bisa dijalankan di linux. Yah sekalipun ms office saya dijamin legal, tapi tetap saja ada beberapa yg masih bajakan (*ngaku)
Saya ada game bajakan, habisnya mau cari original mau cari di mana coba. Game lawas sudah tidak beredar lagi di pasaran.
Memuat…
Ganda
Wah, saya gak pernah bermasalah membuka file excel Windows. Hanya saja, pernah saya membuka file excel berpassword dan saya simpan dari Linux, eh passwordnya jadi hilang. 😀
Tinggalkan Balasan