A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebenarnya ini sebuah insiden yang tidak terduga. Saya sudah mendengar tentang LibreOffice sebelumnya, namun memang belum berniat bermigrasi ke LibreOffice dan masih menggunakan OpenOffice dari Oracle. Namun tampaknya dunia open source sedang gencar-gencarnya bermigrasi ke LibreOffice yang dikembangkan oleh komunitas dan organisasi nirlaba “The Document Foundation”.

Kejadiannya bermula ketika saya memasang “Tumbleweed” dan melakukan zypper dub dari repositoru tersebut. Ternyata salah satu hasilnya adalah openSUSE melepas OpenOffice dan menggantikannya dengan LibreOffice.

The LibreOffice software is developed by users, just like you, who believe in the principles of Open Source software and in sharing their work with the world in a non-restrictive way. At the core of these principles is the promise of better-quality, highly-reliable and secure software that gives you greater flexibility at zero cost. Beyond this, the driving factor behind the community is personal choice and transparency, which translates practically into wider compatability, more utility and no end-user lock-in to using just one product.

Jika sudah cukup sering menggunakan OpenOffice, maka penggunaan LibreOffice-pun tidak akan menjadi kendala, karena kerangka yang digunakan sama persis.

Pratampil LibreOffice 3.3 pada Ubuntu

LibreOffice sebagaimana halnya OpenOffice juga bisa digunakan di Windows dan Mac selain di Linux. Jika Anda ingin mencoba LibreOffice, silakan unduh di sini.

  Copyright secured by Digiprove © 2011 Cahya Legawa

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

17 tanggapan

  1. Avatar Melvin
    Melvin

    saya juga dulu menggunakan openoffice. tapi pas saya mau download lagi, kenapa ngak jalan downloadnya. tapi pas saya coba download libreoffice jalan. padahal server downloadnya sama (di kambing). tapi libreoffice tidak jauh berbeda dengan openoffice 😀

    1. Avatar Cahya

      Hmm…, saya kalau mengunduh peranti lunak, biasanya langsung ke sumbernya, jarang mengunduh di server lokal seperti Kambing 🙂 – kenapa ya, rasanya lebih stabil saja.

      1. Avatar Melvin
        Melvin

        saya arahkan kusor ke link. firefox membacanya download.service.openoffice.org. setelah di klik, langsung memantul ke kambing 🙁

      2. Avatar Cahya

        Oh, kalau openoffice biasanya saya unduh dari Filehippo :D.

  2. Avatar iskandaria
    iskandaria

    Saya sudah sejak beberapa bulan lalu menginstall LibreOffice mas 🙂

    Pertama kali tau dari sebuah blog lokal. Penasaran, saya pun langsung mengunduh dan menginstallnya (ke Win XP saya). Tampilan dan fitur-fiturnya memang tidak jauh beda dengan OpenOffice.

    Belakangan ini saya membiasakan diri menggunakan LibreOffice untuk mengetik/membuat dokumen ala MS Word. Sekedar latihan migrasi menuju 'open-source' 😀

    1. Avatar Cahya

      Mas Is,
      Tapi keseringan pakai OpenOffice atau LibreOffice malah bisa membuat lupa bagaimana cara menggunakan Ms Office :D.

  3. Avatar Nandini Ansa
    Nandini Ansa

    OOT, ada award di "rumah" saya untuk Bli.. 😀

    1. Avatar Cahya

      #OOT, Saya ndak tahu itu mesti diapakah 😀

  4. Avatar Indobrad

    wah, saya masih awam banget dengan open source, kecuali open office yang pernah saya pakai. first impression utk ubuntu bagi saya adalah gak user friendly dalam hal instalasi dan penggunaan. apa saya salah?

    1. Avatar Cahya

      Indobrad,
      User friendly itu kembali pada masing-masing pengguna. Kenapa ada yang lebih suka menggunakan Nokia, sementara yang lain bilang lebih enak pakai Samsung atau Sony Ericson misalnya :).
      Ubuntu sendiri termasuk sistem operasi yang paling "user friendly" saat ini, jumlah klik yang diperlukan lebih sedikit daripada menggunakan "windows", dengan aksesibilitas yang bisa menyamai "macintosh".
      Kalau pemasangan Ubuntu mungkin karena dibuat saking user friendly malah jadi kekurangan informasi, itulah mengapa saya lebih suka openSUSE, informasi yang diberikan lebih transparan sehingga tahu dengan jelas apa yang sedang kita pasang, dan bagaimana efeknya pada sistem.
      "Open Source" menjadi alternatif jika tidak ada anggaran untuk membeli peranti lunak proprietary. Coba saja beli MS Office seharga 4 – 6 juta rupiah, jika tidak kemudian jadi bangkrut. Paling yang bisa menjangkaunya adalah golongan menengah ke atas.

      1. Avatar Rismaka EA

        Di IPB, MS office berlisensi resmi microsoft cuma 75ribu perak mas 😛

      2. Avatar Cahya

        Ha ha…, kok bisa murah meriah ya :). Itu ndak adilnya Microsoft, selisih harganya terlalu jauh, sementara pelajar di tempat lain belum tentu mendapatkan dengan harga segitu :).

  5. Avatar Rismaka EA

    Mas cahya, kendala saya ketika menggunakan oppenOffice adalah susahnya ketika membuka file excel, padahal pekerjaan utama saya mengharuskan saya menggunakan microsoft excel.

    Apakah libreoffice juga sama beratnya dg openoffice?

    1. Avatar Cahya

      Mas Ris,
      Saya tidak pernah kerja dengan Excel (Spread Sheet) belakangan ini, kalau hanya untuk menulis dan membuat salinda rasanya tidak berat. Namun kalau spreadsheet dengan banyak database saya kurang tahu.
      Hmm…, source code OpenOffice dan LibreOffice kan sama, kalau tidak ada tweak yang membedakan performanya, maka bisa dikatakan sama berat atau sama ringan untuk keduanya. He he…, saya tidak pernah sampai sedetil itu memerhatikannya.

      1. Avatar Rismaka EA

        Inilah yang membuat saya belum bisa meninggalkan windows. Banyak aplikasi yang penting yang belum bisa dijalankan di linux. Yah sekalipun ms office saya dijamin legal, tapi tetap saja ada beberapa yg masih bajakan (*ngaku)

      2. Avatar Cahya

        Saya ada game bajakan, habisnya mau cari original mau cari di mana coba. Game lawas sudah tidak beredar lagi di pasaran.

    2. Avatar Ganda
      Ganda

      Wah, saya gak pernah bermasalah membuka file excel Windows. Hanya saja, pernah saya membuka file excel berpassword dan saya simpan dari Linux, eh passwordnya jadi hilang. 😀

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca