Malam yang lalu di milis Ubuntu saya menemukan perbincangan tentang bagaimana cara membuat daftar paket terpasang (program yang terinstal di Ubuntu) dengan mudah. Karena selama ini saya menggunakan beberapa distro yang berbeda, maka biasanya saya menulis manual paket-paket yang saya pasang.
Lalu apa fungsinya membuat daftar paket ini? Seandainya Anda ingin memasang bersih (fresh install) distro Ubuntu, misalnya dari 10.10 ke 11.04 tanpa memperbarui (upgradre), maka membuat daftar paket yang tersedia di sistem operasi lama akan memudahkan memasang paket yang sama lagi pada sistem operasi yang baru nantinya.
Daftar paket terpasang yang dibuat ke dalam teks sederhana
Untuk membuat dafar paket seperti gambar di atas, hanya diperlukan beberapa perintah sederhana melalui terminal dengan menggunakan dpgk tentunya.
Gunakan baris perintah berikut melalui terminal:
dpkg --get-selections "*" > Desktop/applications
Maka daftar tersebut akan langsung dibuat, dan bisa ditemukan di map “dekstop” tentunya. Anda bisa memindahkan berkas tersebut ke kandar luar seperti flash disk misalnya. Jika Anda memiliki komputer lain dengan Ubuntu atau baru memasang kembali Ubuntu, maka salin kembali berkas tersebut ke “desktop“, dan ketik perintah berikut (menurut sumber di milis):
Jangan lupa, hubungan ke Internet juga mesti ada. Dan setelah semua proses di atas selesai, maka Ubuntu itu kini seharusnya memiliki paket-paket yang sama seperti yang terpasang pada Ubuntu sebelumnya.
Cara ini akan jauh mempermudah kita dalam menyiapkan sistem operasi Ubuntu yang baru. Namun karena saya sendiri belum mencobanya, jadi tidak tahu bagaimana kesuksesannya, namun ini akan jadi catatan kecil saya jika saya memerlukannya. Setidaknya beberapa hal mungkin akan jadi pertimbangan, seperti ada tidaknya penambahan PPA pada Ubuntu yang sebelumnya saya rasa.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Masalahnya, setelah Gnome Shell 3 saya pasang kemarin, ternyata pilihan untuk login dengan Ubuntu Classic nggak ada. Jadinya tetap nggak bisa login. Satu-satunya solusi ya uninstall dan intall ulang Ubuntu (soalnya saya tidak tahu cara lain untuk mengatasinya).
Oh, ternyata ada juga yang bernasib sama seperti saya 🙂 Yups, saya suka model dekstop classic karena kesimpelan tampilannya, walaupun mungkin kurang aksesibel.
Kemarin saya sempat upgrade dan berhasil. Namun akhirnya saya uninstall lagi dan memasang yang fresh install saja (tanpa proses upgrade).
Tapi saya masih ingat apa saja yang saya pasang di Maverick Merkat 🙂 Oya, ternyata Gnome 3 bikin Ubuntu hasil upgrade saya jadi crash (gak bisa login). Itulah yang bikin saya memasang ulang (fresh install).
So, saya pakai dekstop classic aja kayaknya (gara-gara masalah VGA yang kecil size-nya).
Mas Is, jika memasang dari fresh/clean install seharusnya sih tidak masalah, tapi beberapa paketnya memang masih belum Gnome 3 sepenuhnya, ada beberapa yang versi 2.91. Tidak cuma Mas Is kok yang mengalami gagal login seperti itu, di forum saya menjumpai beberapa di antaranya. Dan banyak yang masih suka desktop klasik kok :).
Tinggalkan Balasan