A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Belakangan ini saya sulit menulis atau memulai menulis, ha ha…, mungkin inilah sirkulasi tahunan jika musim kemarau berkepanjangan. Bukan hanya tanaman pangan yang mati, bahkan keinginan menulis pun ikut layu dan mati. Ada beberapa hal yang membuat saya (dan saya rasa itu memang memberikan pengaruh secara tidak langsung) enggan mulai menulis.

Pertama yang paling sederhana, blog ini mendapatkan terlalu banyak lalu lintas data, bisa-bisa saya mesti mengungsi mencari VPS untuk sebuah blog. Nah, itu kan malah bisa membuat saya jadi bangkrut.

Saya sedang menghabiskan waktu membaca beberapa buku yang cukup tebal, jadi setelahnya pasti lelah dan mengantuk, paling nyaman kembali menenangkan pikiran dan menghindari menulis yang mungkin justru membuat pikiran saya justru memasuki arena balapan.

Namun bukan berarti saya tidak menulis sama sekali, saya hanya menulis pendek karena tidak bergairah untuk menulis panjang. Dan tentunya tulisan pendek saya tidak akan ditemukan di sini.

Jadi, singkat cerita, saya perlu lebih menjauh dari papan ketik, dan mungkin halaman-halaman baru akan perlu waktu cukup lama untuk diterbitkan di sini.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

27 tanggapan

  1. Avatar Darin

    Farewell bli Cahya. Kegiatan offline memang slalu saja mengacaukan acara blogging hehe, idem with me.
    Bener kata mas Agus, enjoy saja lah 🙂

    1. Avatar Cahya

      Mas Darin, sepertinya Mas lebih banyak menulis deh belakangan ini :).

  2. Avatar @zizydmk

    Saya juga mengalami hal yang kurang lebih sama. Hasrat menulis seperti hilang, mungkin karena kecapekan oleh rutinitas. Jadi sekarang ini pengen mencari waktu khusus untuk mendapatkan spirit menulis… *hiks.

    1. Avatar Cahya

      Maksudnya bertapa dulu ya sebelum mendapatkan inspirasi 😀 – nah saya sekarang malah bingung ingin mencari rutinitas apa karena malas menulis.

  3. Avatar Agus Siswoyo
    Agus Siswoyo

    Mungkin esensi sebenarnya bukan terbunuhnya hasrat menulis. Hanya saja sedang konsen ke hal lain yang lebih prioritas. Nggak masalah. Enjoy hidup aja. 🙂

    1. Avatar Cahya

      Ndak juga kok Pak, saya malah ndak ada kerjaan belakangan ini :D.

  4. Avatar Melvin
    Melvin

    dulu saya juga perna ngeblog (pake wordperss):D
    tapi setelah satu minggu, akun wordpress saya di blokir tanpa sebeb yang jelas 🙁

  5. Avatar indobrad
    indobrad

    sindrom yg sama sedang mendera saya juga nih 🙁

    1. Avatar Cahya

      He he…, ini memang tampaknya sedang ada terpaan gelombang panas di negeri ini, bikin layu semua, dan bikin banyak kerusuhan juga di luar sana.

  6. Avatar alinaun
    alinaun

    semoga semangat menulisnya muncul lagi, ya mas Cahya 🙂

    1. Avatar Cahya

      Makasih ya, semoga bisa segera menulis lagi :).

  7. Avatar iskandaria
    iskandaria

    Saya juga sudah jarang menulis dan mengupdate konten blog saya. Paling cuma seminggu sekali. Tapi naluri menulis tetap ada. Frekuensinya saja yang menurun.

    1. Avatar Cahya

      He he…, sepertinya memang begitu kondisi banyak penulis sekarang, biar yang muda saja yang bergairah :D.

      1. Avatar iskandaria
        iskandaria

        Sebagai pengisi kekosongan, saya sekarang lebih aktif di Facebook..hehehe

  8. Avatar Joko Sutarto

    Hasrat menulis mulai layu sama seperti hasrat cintamu padaku, Mas. Hahahaha. Ya, jangan sampai layu toh. Pelihara terus passionnya. Anggap saja blog ini kekasih. 🙂

    Sepertinya hal seperti ini juga sering saya alami juga. Ada saatnya jenuh dan bosan ngeblog. Gairah surut. Tapi ada saatnya lagi gairah itu kembali datang. Menulis itu seperti panggilan jiwa. Selalu ada kerinduan disana. Betul?

    1. Avatar Cahya

      Kalau ngomong gitu, ini sudah serasa talak satu Pak :D. Nah, kalau terpanggil lagi, semoga masih bisa menulis, sekarang sih masih sibuk menyampah saja.

      1. Avatar Ladeva

        Bwhahaha talak satu! Istilahnya ada aja *numpang ketawa* 😀

      2. Avatar Cahya

        Deva, awas lho, rahangnya copot nanti :D.

      3. Avatar Ladeva

        Itu peringatan atau doa ya? *langsung mingkem* 😀

      4. Avatar Asop

        Rahangnya gak sampe copot, hanya dislokasi. 😀

        *bukan untuk Mbak Deva lho ya*

  9. Avatar imadewira

    Banyak lalu lintas data artinya banyak pengunjung ya? Jika iya, bukankah itu bagus?

    1. Avatar gadgetboi

      senior (bli dani iswara) dan junior (bli cahaya) memiliki pemikiran yang sama 😆 banyak penggunjung malah binggung 😀

      1. Avatar Cahya

        Maklum fakir pita bulanan Mas :D.

      2. Avatar dani

        Saya? Ngga kok…ngga bingung. Asal bukan spam aja. 🙂

    2. Avatar Cahya

      Kalau buat yang ngejar trafik dan target, ya iya sih, tapi juga artinya banyak spam dan lain sebagainya :).

  10. Avatar Ladeva

    Hahaha…kemarau…kemarau ternyata berdampak ke kamu juga, Cahya. Pantesan tiap ngecek blog ini, belum ada tulisan baru, sekalipun ada artikelnya eh otakku yang gak nyampe (komputer mulu bahasannya) makanya kabur ke blog kamu yang lain. Buruan minum air dingin, biar semangat lagi 😀

    1. Avatar Cahya

      Deva, nanti berat badan saya nambah lagi kalau menyejukkan diri, yah, anggap saja panas-panas begitu buat mengurangi beban tubuh :D.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca