Belakangan ini saya sulit menulis atau memulai menulis, ha ha…, mungkin inilah sirkulasi tahunan jika musim kemarau berkepanjangan. Bukan hanya tanaman pangan yang mati, bahkan keinginan menulis pun ikut layu dan mati. Ada beberapa hal yang membuat saya (dan saya rasa itu memang memberikan pengaruh secara tidak langsung) enggan mulai menulis.
Pertama yang paling sederhana, blog ini mendapatkan terlalu banyak lalu lintas data, bisa-bisa saya mesti mengungsi mencari VPS untuk sebuah blog. Nah, itu kan malah bisa membuat saya jadi bangkrut.
Saya sedang menghabiskan waktu membaca beberapa buku yang cukup tebal, jadi setelahnya pasti lelah dan mengantuk, paling nyaman kembali menenangkan pikiran dan menghindari menulis yang mungkin justru membuat pikiran saya justru memasuki arena balapan.
Namun bukan berarti saya tidak menulis sama sekali, saya hanya menulis pendek karena tidak bergairah untuk menulis panjang. Dan tentunya tulisan pendek saya tidak akan ditemukan di sini.
Jadi, singkat cerita, saya perlu lebih menjauh dari papan ketik, dan mungkin halaman-halaman baru akan perlu waktu cukup lama untuk diterbitkan di sini.
Artikel ini membahas simulasi Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) pada proses penandaan lokasi operasi dan time-out di ruang operasi. Ditemukan kelemahan dalam metodologi RPN, di mana dua skenario dengan skor berbeda dapat memberikan angka RPN yang sama. Penekanan perlu diberikan pada kegagalan dengan severitas tinggi meski RPNnya rendah.
Apa satu barang milik Anda yang sangat bernilai sentimental? There is a small, chipped ceramic turtle that has sat on my desk for as long as I can remember. Its shell is a faded, unnatural green, and one of its tiny legs broke off before I even knew how to speak. I have moved house… Read more: The Kite String of Memory
Yosef datang malam-malam membawa seekor kakap merah dan kabar bahwa ia berhenti sekolah. Raka belum mau menerima kabar itu, dan bapa Yosef menantangnya ikut melaut satu malam.
Sebuah film kaca setipis kulit bawang dibaca selapis demi selapis, dan tulisan di dalamnya ternyata memakai tanda yang Kaelen kenal sejak kecil. Di Catacomb Markets, seorang penjaga menjelaskan arti sebuah nama yang seharusnya sudah terkubur.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Saya juga mengalami hal yang kurang lebih sama. Hasrat menulis seperti hilang, mungkin karena kecapekan oleh rutinitas. Jadi sekarang ini pengen mencari waktu khusus untuk mendapatkan spirit menulis… *hiks.
Mungkin esensi sebenarnya bukan terbunuhnya hasrat menulis. Hanya saja sedang konsen ke hal lain yang lebih prioritas. Nggak masalah. Enjoy hidup aja. 🙂
Saya juga sudah jarang menulis dan mengupdate konten blog saya. Paling cuma seminggu sekali. Tapi naluri menulis tetap ada. Frekuensinya saja yang menurun.
Hasrat menulis mulai layu sama seperti hasrat cintamu padaku, Mas. Hahahaha. Ya, jangan sampai layu toh. Pelihara terus passionnya. Anggap saja blog ini kekasih. 🙂
Sepertinya hal seperti ini juga sering saya alami juga. Ada saatnya jenuh dan bosan ngeblog. Gairah surut. Tapi ada saatnya lagi gairah itu kembali datang. Menulis itu seperti panggilan jiwa. Selalu ada kerinduan disana. Betul?
Kalau ngomong gitu, ini sudah serasa talak satu Pak :D. Nah, kalau terpanggil lagi, semoga masih bisa menulis, sekarang sih masih sibuk menyampah saja.
Hahaha…kemarau…kemarau ternyata berdampak ke kamu juga, Cahya. Pantesan tiap ngecek blog ini, belum ada tulisan baru, sekalipun ada artikelnya eh otakku yang gak nyampe (komputer mulu bahasannya) makanya kabur ke blog kamu yang lain. Buruan minum air dingin, biar semangat lagi 😀
Tinggalkan Balasan