A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Google dulu adalah salah satu yang saya suka dari mereka yang membangun dunia maya untuk sebuah keterbukaan informasi. Namun bagi yang sudah lama mengikuti tulisan saya (yang meski mungkin karena kurang kerjaan), pastinya tahu bahwa saya sudah mulai kehilangan simpati dengan Google.

Jika Anda mengikuti pemberitaan sekitar pertengahan hingga akhir November lalu, ketika McAfee melaporkan adanya peningkatan serangan malware terhadap perangkat bersistem operasi Android dan memunculkan Android sebagai salah satu target virus komputer di masa kini dan mendatang. Maka Chris DiBona – manajer program open-source Google segera menyangkalnya.

DiBona berkata bahwa perusahaan antivirus sedang membohongi masyarakat dan berusaha menjual produk mereka untuk sesuatu yang tidak perlu. Ia berkata bahwa perkakas yang menjalankan Android dan iOS tidak memerlukan perlindungan, karena telah dilengkapi pertahanan yang cukup signifikan seperti sandboxing untuk menahan serangan menyebar dari ponsel ke ponsel.

Saya mengakui bahwa sistem kotak pasir milik Google adalah salah satu perlindungan elit yang bisa kita jumpai saat ini, sebagaimana yang juga tertanam dengan baik pada peramban Google Chrome mereka. Si kotak pasir memang bisa menahan semua peranti lunak jahat, sedemikian hingga tidak memberikan celah untuk menyebar – namun saya tidak pernah mendengar si kotak pasir mampu membunuh malware kecuali sandbox itu sendiri dihancurkan.

Apa ini berarti jika perangkat Android kita terinfeksi malware, berarti kita harus membantingnya untuk mengatasi masalah itu?

Google kini (tampaknya) menjadi terlalu tinggi hati, sebagaimana para pengembang iOS.

Coba lihat beberapa jam yang lalu, sekelompok aplikasi berbahaya di Open MarketPlace (Android Market) dihilangkan setelah tim avast! memperingatkan tim keamanan Google. Itu baru yang berada di pasar resmi milik Android, bagaimana dengan banyak lagi aplikasi yang tidak resmi? Apa Google bisa melindungi dari semua itu?

Jadi, seperti apa sebuah malware di Android bekerja. Mungkin dengan banyak cara, tapi ini salah satunya.

Anda menemukan aplikasi menarik seperti permainan di Internet, kemudian mengunduhnya ke perangkat Android. Tidak nampak mencurigakan, karena hanya sebuah aplikasi permainan, yang mungkin terlihat tidak berbeda dengan permainan populer Angry Birds. Namun ketika diunduh, paket yang diunduh tidak hanya berisi permainan (yang asli), namun sejumlah kode yang seharusnya tidak ada di sana.

Aplikasi ini mungkin terlihat aneh karena meminta permisi untuk dapat mengirimkan SMS, jika pengguna tidak teliti – dia akan mulai mengirim SMS premium dengan tarif tertentu. Terdengar tidak asing? Ya, ini kan terjadi juga di negeri kita dan sempat heboh, meski tidak melalui modus dengan menyisipkan diri pada aplikasi ponsel cerdas.

Korban penipuan aplikasi jahat sepertinya sudah tidak sedikit lagi menimpa pengguna Android, terutama di luar negeri di mana tren penggunaan perangkat berbasis Android menjamur. Di Indonesia, mungkin tinggal menunggu waktu sebelum para peretas kita tangannya gatal untuk membuat aplikasi yang usil.

Avast mengenali ini sebagai jenis malware dengan kode Android:RuFraud, dan bagi mereka yang sudah menggunakan avast! Free Mobile Security pada perangkat Androidnya mungkin sudah terlindungi.

Saya berharap Google tidak terlalu memandang tinggi kemampuannya, ataupun meremehkan mereka yang berniat tidak baik. Bahkan Apple pun kini sudah mengakui kerentanan sistem mereka dan menyertakan peranti lunak antimalware pada MacOS. Microsoft yang selama ini jadi serangan malware selalu berbenah diri, membuat sistem mereka lebih baik karena mereka menyadari kelemahannya, dan ini membuat Windows menjadi salah satu sistem operasi teraman dari virus komputer (namun jika komputer Anda dengan Windows masih terinfeksi virus, nah mulailah mencari kesalahan anda sendiri sebelum menyalahkan Microsoft).

Jika Google tidak mampu melindungi pengguna Android dengan penuh, maka sebaiknya menerima bantuan pihak ketiga untuk menanamkan perlindungan yang lebih baik.

Saya tidak tahu bagaimana perkembangan ke depannya, mungkin lima atau sepuluh tahun lagi, sistem operasi Android akan cukup umum memerlukan dan terpasang antivirus di dalamnya sebagaimana sistem operasi Windows saat ini. Itu pun jika kepopulerannya masih berada di puncak. Nah, tapi ini hanya probabilitas saja.

Apakah Anda pengguna Android? Seberapa yakin Anda dengan keamanannya?

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
  • Bukan Sekadar Pikun: Menyimak Pedoman Nasional Tata Laksana Demensia 2026
    Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
  • Satu Kali Kejang, Lalu Apa? Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Epilepsi Dewasa 2026
    Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
  • Sang Peniru Ulung yang Bisa Diobati: Membaca Pedoman Nasional Tata Laksana Sifilis
    Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

28 tanggapan

  1. Avatar Asop

    Bagaimana kalau pengamanan Android Market diperketat seperti App Store milik Apple? Jadi seleksi ketat diberlakukan. Gak semua aplikasi bisa masuk ke market. 🙂

    1. Avatar Cahya

      Mas Asop, berbeda dengan App Store Apple, sumber kode Android kan terbuka, jadi bisa dikembangkan oleh siapapun, jadi aplikasi berbahaya tidak mesti ada di Android Market. Apalagi saking banyaknya aplikasi Android, nyaris keamanan tidak akan bisa dimonitor sepenuhnya, bahkan oleh Google sekalipun. Karena itulah sebenarnya open source perlu komunitas yang memantau, dan dalam hal ini Google menyerahkan sistem keamanan pada pihak pengembang (sekilas sih seperti cuci tangan).

      Pun kalau dibatasi sepert App Strore, yah mungkin tetap saja kan dibajak. Buktinya belakangan ini marak begitu beli iPhone atau iPad, langsung di-jail-break, jadi cuma kemasannya saja dari Apple, isinya sudah tidak legal semua. Lalu kalau demikian keamanannya bagaimana? Ya, lebih tidak tahu juga kan.

      1. Avatar Asop

        Wah, jikalau saya punya iPhone pun mungkin akan saya jailbreak juga… 🙁

  2. Avatar Joko Sutarto

    Apakah karena Google sudah menjadi raksasa penguasa internet sehingga layak bersikap jumawa seperti itu. Kesombongan DiBona itu adalah awal kehancuran jika Google terus bersikap seperti itu. Tunggu saja!

    Saya belum pengguna Android tapi sistem apapun, terlebih open source yang terbuka, rasanya tetap tidak ada yang aman dari serangan virus, malware dan semacamnya jadi sikap kehati-hatian, baik dari pengembang maupun sisi end user tetap harus dijaga.

  3. Avatar alief

    semoga saja google segera berbenah diri dan mengakui bahwa tidak ada sistem yng benar2 sempurna yang aman dari serangan program2 berbahaya.

    ehm…, bukan hanya gooogle ding, tapi juga pihak pengguna, sehingga lebih berhati2 dalam memilih apa yahg ingin dipakai

    1. Avatar Cahya

      Mas Alief, saya setuju, pengguna juga mesti mawas dalam menggunakan teknologinya :).

  4. Avatar iskandaria
    iskandaria

    Mudah-mudahan kesombongan tersebut tidak menjalar ke para pengembang Linux. Bukan tidak mungkin mallware juga akan bisa menembus sistem Linux dengan mudah. Tapi apakah juga bisa menembus mekanisme file-systemnya alias root directory-nya, saya juga masih kurang tahu sih.

    Maksud saya, apakah memungkinkan dibuat sebuah program virus atau mallware untuk bisa menerebos mekanisme file permission atau super user di Linux (yang terproteksi oleh password atau izin hak akses). Ini masih jadi tanda tanya bagi saya 😉

    Kalau seandainya hal tersebut bisa (mungkin), maka bencana juga akan menimpa Linux. Tapi mudah-mudahan dengan dukungan komunitas Linux sendiri (yang banyak juga berprofesi sebagai peretas alias hacker, hal tersebut bisa diantisipasi dengan mudah. Tentunya dengan kekuatan kode sumber terbuka 🙂

    1. Avatar Cahya

      Selama Linux menggunakan super user, saya rasa akan baik-baik saja, meski tidak sepenuhnya aman, namun kan penambalan dan pembaruan keamanan juga terus diberikan. Makanya avast! di Android kan juga ditanamkan di root, sehingga bisa mengamankan dengan optimal.

      Saya tidak tahu apakah bisa dibuat sejenis virus/malware seperti itu, namun kan jika membuat itu bisa-bisa lebih besar pasak daripada tiang. Kebanyakan virus komputer saat ini bersifat merusak dan menyebarkan pesan, sayangnya ini tidak bisa dilakukan tanpa akses root, sehingga di sini Linux dengan super user ataupun Windows dengan UAC akan cukup aman. Atau mengambil data tertentu, misalnya log untuk kegiatan transaksi keuangan.

      Kita tidak bisa menyangkal kemungkinan adanya sejenis backdoor yang bisa menyusup dan mengambil hak akses, tapi motifnya mungkin bukan untuk “iseng” seperti banyak virus pada Windows :). Walaupun orang bisa membuat program seperti ini, biasanya mereka tidak menyebarkannya, karena tahu konsekuensi legal yang akan dihadapi.

  5. Avatar Fad

    Bli,, klo di MacOS, antimalware apa yang disarankan, yang bagus,, soalnya selama ini saya masih belum menggunakan antivirus atau antimalware.. ?
    Klo OS ini juga sudah mulai tidak aman, maka harus segera berbenah…

    1. Avatar Cahya

      Fad, kalau tidak salah MacOS versi terkini sudah membawa sendiri peranti lunak antimalware 🙂 – kalau setahu saya sih, MacOS memang dari dulu rentan.

  6. Avatar dHaNy

    Wah perlu pasang avast segera ini… memang saya memasang aplikasi2 yang saya anggap penting saja mas.. ini saja sudah mulai berat, pengen tak upgrade saja..

    1. Avatar Cahya

      Mas Dhany, ayo, sudah minta di-upgrade tuh :D.

  7. Avatar Ladeva

    Aku bukan pengguna Android, Cahya tapi tertarik sich untuk pakai itu. Maksud kamu, Android itu juga rentan virus ya?

    1. Avatar Cahya

      Deva, bukan kataku lho, tapi kata pakar virus dari perusahaan-perusahaan pembuat antivirus, dan sudah ditemukan banyak kasusnya, hanya saja Google masih menyangkal dan berkata Android “kebal” virus. Nah, sekarang ya terserah, publik mau percaya yang mana.

  8. Avatar jarwadi

    coba kita lihat strategi google menghadapi masalah security ini, akan tetap menyepelekan pihak ketiga atau menggandeng pihak ketiga

    saya rasa kita bisa melihat arah google dalam waktu satu tahun ke depan 🙂

    1. Avatar Cahya

      Iya Pak, saya juga ingin melihat bagaimana tindakan Google ke depannya, apalagi mungkin dengan rilis masalnya Android 4.0 nanti :).

  9. Avatar agung

    Saya sudah memasang Avast setelah membaca tulisan kemarin meskipun masih BETA. 🙂

    1. Avatar Cahya

      Nah, ini dia, Mas Agung seharusnya yang membuat tinjauannya :D.

      1. Avatar agung

        Haha.., saya hanya pengguna biasa, jika membuat tinjauan nanti takutnya malah menyesatkan. 🙂

      2. Avatar Cahya

        Lha, tinjauan kan bisa bersifat personal Mas, saya juga demikian, saya kan bukan profesional di bidang IT, cuma sekadar pengguna saja :).

  10. Avatar .gungws
    .gungws

    wohoo…asyik! harus lebih waspada nih..
    terimakasih peringatannya 😀

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca