A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pakah Anda telah menonton film “The Adjustment Bureau“? Namun sebelum itu, beberapa pertanyaan kembali, apakah kita pernah mempertanyakan apakah kejadian sehari-hari merupakan sebuah takdir ataukah sebuah kebetulan, sesuatu yang memang telah dipastikan, atau sesuatu yang terjadi begitu saja dalam hukum sebab akibat dan peluangnya?

Film ini mengangkat ide dari pertanyaan-pertanyaan mendasar ini dalam sebuah drama ringan yang memukau. Mungkin film ini tidak terlalu istimewa, namun cukup bermakna, dan mungkin amat sayang jika terlewatkan. Dan saya pun suka penjiwaan karakter yang dibawa oleh Matt Damon, dia memberi kesan yang berbeda dari perannya di trilogi Bourne.

Dalam film ini ada sekelompok petugas rahasia – The Adjustment Bureau – yang keberadaan nyaris tidak diketahui oleh siapapun, tugas mereka ada membenahi jalannya “takdir” sesuai yang telah direncanakan oleh sang Chairman – si penentu takdir bagi dunia dan segenap isinya.

Nyaris tidak ada seorang pun yang tahu keberadaan mereka, hingga suatu ketika secara tidak sengaja seorang pria lolos dari upaya pembenahan dan menemukan mereka.

We… are the people that make sure things happen according to plan.

Dia dibiarkan untuk tetap menjalani kehidupannya, namun ada hal yang harus pria ini pahami, bahwa dia tidak boleh lagi mencari gadis yang ia sukai – karena demikianlah yang telah direncanakan dari atas sana.

Tentu saja ia juga tidak boleh menceritakan keberadaan para pekerja ini pada siapapun, baik dengan sengaja ataupun tanpa sengaja – atau mungkin dia bahkan tidak ingin tahu apa yang dapat terjadi.

Very few humans have seen what you’ve seen today. And we’re determined to keep it that way. So, if you *ever* reveal our existence, we’ll erase your brain. The intervention team will be sent, your emotions, your memories, your entire personality, will be expunged. Your friends and family will think you’ve gone crazy. You, well, you won’t think anything…

Dalam kebingungannya, ia tidak tahu harus bagaimana, dan perlahan-lahan mulai mengenal, sebenarnya siapa sosok-sosok yang sedang ia hadapi.

We actually tried Free Will before. After taking you from hunting and gathering to the height of the Roman Empire we stepped back to see how you’d do on your own. You gave us the Dark Ages for five centuries… until finally we decided we should come back in. The Chairman thought maybe we just needed to do a better job of teaching you how to ride a bike before taking the training wheels off again. So we gave you the Renaissance, the Enlightenment, the Scientific Revolution. For six hundred years we taught you to control your impulses with reason, then in 1910 we stepped back. Within fifty years, you’d brought us World War I, the Depression, Fascism, the Holocaust and capped it off by bringing the entire planet to the brink of destruction in the Cuban Missile Crisis. At that point a decision was taken to step back in again before you did something that even we couldn’t fix. You don’t have free will, David. You have the appearance of free will.

Namun kemenarikan dari film ini adalah bagaimana pada akhirnya, seseorang memilih berjuang, meski apa yang diperjuangkan bertentangan dengan apa yang telah digariskan. Adonan emosi yang indah dengan dorongan yang membuat kisah ini hidup dengan nuansa drama yang tidak kehilangan silogismenya.

Di sini seorang karakter dihadirkan dengan segenap sisi manusianya yang sedang berhadapan langsung dengan sebuah tembok yang telah digariskan – sang takdir dan sekelompok sosok yang bertugas untuk menjaga semuanya agar tetap berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan.

Most people live life on the path we set for them, too afraid to explore any other. But once in a while people like you come along who knock down all the obstacles we put in your way. People who realize freewill is a gift that you’ll never know how to use until you fight for it. I think that’s the chairman’s real plan. And maybe, one day, we won’t write the plan. You will.

Saya jadi bertanya-tanya, jika saya ditempatkan dalam situasi seperti itu. Kira-kira apa langkah yang akan saya ambil? Hmm…, mungkin saya tidak akan pernah tahu.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

10 tanggapan

  1. Avatar Asop

    Saya udah nontooooon! 😀 😀

    Tujuh setengah dari 10 dari saya! 😀

    Saya suka konsepnya. Keren. Bisa multitafsir. Ada malaikat. Bertopi. Pintu. Seru! 😀

    1. Avatar Cahya

      Saya rasa penulis naskahnya cukup cerdas dan kreatif :).

  2. Avatar gadgetboi

    di ganool udah dihapus linknya 😥 😆 …

    kembali cara “manual” >> nyewa di Ultradisc 😀

    1. Avatar Cahya

      Mas Rangga, ha ha…, kasihan, rugi dong akses Internet sebanyak itu :lol:.

  3. Avatar ladeva

    Artinya ngelanggar peraturan sekali-kali boleh, siapa tahu justru ada sesuatu yang menarik di situ 😀

    1. Avatar Cahya

      Deva, kalau ngomongnya sama kamu sih bukan sesekali lagi :)).

      1. Avatar ladeva

        Maksudnya apa? Ndak ngerti aku *gaya nulisnya ngikutin kamu* 😛

      2. Avatar Cahya

        Wah, kamu ndak ngerti Dev, wah batal deh direkomendasikan jadi bagian kabinet :lol:.

      3. Avatar ladeva

        Eyalah…aku udah dipecat aja -_-*

      4. Avatar Cahya

        Makanya Dev, seperti aku dong, mana ada yang bisa memecatku, lha wong kerjaan saja ndak punya :lol:.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca