A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebenarnya kasus serupa banyak terjadi, namun saya mungkin mengambil contoh jauh di Madagaskar, karena tersedianya video pengenalan yang cukup bisa menjelaskan pemikiran serupa. Kasus serupa terjadi juga di sekitar kita, yang mana mungkin tidak akan ada cukup banyak orang yang peduli untuk menelitinya.

Jika ada mahluk yang gemar merusak keseimbangan ekologi, itu pasti kita – manusia. Baik secara sadar maupun tanpa mengetahuinya terlebih dahulu, kita adalah penyumbang terbesar terhadap kerusakan hayati di atas planet ini. Fossa di Madagaskar adalah salah satu contoh saja.

Fossa adalah hewan prodator di rantai makanan teratas di hutan-hutan Madagaskar. Sejenis hewan menyerupai kucing yang unik, dan telah berevolusi begitu lama di Madagaskar – yang dikenal juga sebagai benua ke-8 karena ia terisolasi dari dunia luar secara biologis alamiah.

Kemudian populasinya menurun dengan begitu pesat, bukan hanya karena bergesernya ruang gerak mereka oleh pemukiman dan pusat kegiatan manusia. Namun juga oleh musuh alami yang ditangkan oleh manusia – yaitu anjing rumahan.

Orang-orang di sana mungkin tidak tahu, dengan mendatangkan anjing yang tidak pernah ada di Madagaskar akan menggeser keseimbang ekologi di sana. Dan Fossa bukan satu-satunya mahluk yang terancam. Seperti sebuah kesetimbangan, jika satu komponen terdesak, maka efek domino akan muncul pada komponen-komponen lainnya.

Maka, kadang saya prihatin jika ada yang mendatangkan spesies predator asing ke dalam ekologi yang baru kemudian melepasnya begitu saja. Rasanya itu adalah perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Tidak hanya hewan, tumbuhan pun bisa berdampak serupa.

Anda mungkin masih ingat kasus invasi tanaman hias asing seperti Eupatorium sordidum di Taman Nasional Gunung Gede Pangrangro. Tanaman asli Meksiko ini mungkin memiliki bunga cantik, namun pertumbuhannya yang cepat dapat mendesak flora asali wilayah tersebut.

Kita semua bertanggung jawab turut menjaga keseimbangan ekologi. Dan diperlukan kesadaran yang nyata untuk ini.

Artikel Baru Terbit

  • Siklotimia: Ketika “Naik-Turun Suasana Hati” Bukan Sekadar Karakter
    Siklotimia adalah gangguan mood kronis yang ditandai ayunan hipomania dan depresi ringan selama minimal dua tahun, sering disalahartikan sebagai kepribadian labil. Artikel ini membahas kriteria diagnostik DSM-5-TR, risiko berkembang menjadi bipolar, serta tata laksana yang menempatkan psikoterapi sebagai lini pertama sebelum farmakoterapi.
  • Buah Delima dan Jantung yang Kaku: Mengenal Urolithin A, Harapan Baru untuk Gagal Jantung HFpEF
    Urolithin A, senyawa yang dihasilkan dari konsumsi buah delima, menunjukkan potensi dalam mengobati gagal jantung HFpEF dengan memperbaiki relaksasi otot jantung melalui aktivasi protein PKGIα. Meskipun hasil uji pada hewan dan jaringan manusia menjanjikan, uji klinis pada pasien masih diperlukan sebelum penerapan terapi ini.
  • Cyclospora: Parasit Mikroskopis yang Mengintai di Balik Sayuran dan Buah Segar
    Wabah cyclosporiasis melanda ratusan warga Amerika Serikat pada musim panas 2026, disebabkan parasit mikroskopis Cyclospora cayetanensis yang mencemari sayur dan buah segar. Artikel ini mengulas biologi parasit, gejala diare “meledak-ledak”, tantangan diagnosis laboratorium, terapi TMP-SMX, hingga relevansinya bagi keamanan pangan dan kewaspadaan klinis di Indonesia.
  • Ngopi Pagi di Sragen, Otot Lebih Padat: Apa Kata Riset Terbaru soal Kopi dan Komposisi Tubuh?
    Studi kohort Finlandia menemukan bahwa peminum kopi rutin memiliki lemak viseral lebih rendah dan massa otot lebih tinggi meskipun indeks massa tubuh serupa dibanding peminum kopi jarang. Pada pria, konsumsi kopi juga terkait dengan profil testosteron dan SHBG yang lebih baik, namun studi ini bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.
  • Faktor Kesuburan Pria: Sisi yang Sering Terlewat dalam Pencarian Momongan
    Faktor pria berkontribusi pada sekitar separuh kasus infertilitas pasangan, namun sering luput dari pemeriksaan awal. Artikel ini mengulas standar analisis sperma terbaru WHO edisi keenam serta bukti terkini mengenai pengaruh rokok, alkohol, berat badan, paparan panas, dan konsumsi gula terhadap kualitas dan integritas DNA sperma.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar @zizydmk
    @zizydmk

    Di negara kita sendiri juga begitu ya, begitu banyak binatang yang ‘lenyap’ akibat ketidak seimbangan ekologi. Seperti kumbang Tomcat itu…

  2. Avatar Sugeng
    Sugeng

    Ternyata keserhkahan mahluk yang bernama manusia ini terjadi dimana-mana. Dan apakah dengan mendatangkan anjing rumahan ini membuat fossa menjadi santapan pengantin daging yang lain mas ??

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca