A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebenarnya kasus serupa banyak terjadi, namun saya mungkin mengambil contoh jauh di Madagaskar, karena tersedianya video pengenalan yang cukup bisa menjelaskan pemikiran serupa. Kasus serupa terjadi juga di sekitar kita, yang mana mungkin tidak akan ada cukup banyak orang yang peduli untuk menelitinya.

Jika ada mahluk yang gemar merusak keseimbangan ekologi, itu pasti kita – manusia. Baik secara sadar maupun tanpa mengetahuinya terlebih dahulu, kita adalah penyumbang terbesar terhadap kerusakan hayati di atas planet ini. Fossa di Madagaskar adalah salah satu contoh saja.

Fossa adalah hewan prodator di rantai makanan teratas di hutan-hutan Madagaskar. Sejenis hewan menyerupai kucing yang unik, dan telah berevolusi begitu lama di Madagaskar – yang dikenal juga sebagai benua ke-8 karena ia terisolasi dari dunia luar secara biologis alamiah.

Kemudian populasinya menurun dengan begitu pesat, bukan hanya karena bergesernya ruang gerak mereka oleh pemukiman dan pusat kegiatan manusia. Namun juga oleh musuh alami yang ditangkan oleh manusia – yaitu anjing rumahan.

Orang-orang di sana mungkin tidak tahu, dengan mendatangkan anjing yang tidak pernah ada di Madagaskar akan menggeser keseimbang ekologi di sana. Dan Fossa bukan satu-satunya mahluk yang terancam. Seperti sebuah kesetimbangan, jika satu komponen terdesak, maka efek domino akan muncul pada komponen-komponen lainnya.

Maka, kadang saya prihatin jika ada yang mendatangkan spesies predator asing ke dalam ekologi yang baru kemudian melepasnya begitu saja. Rasanya itu adalah perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Tidak hanya hewan, tumbuhan pun bisa berdampak serupa.

Anda mungkin masih ingat kasus invasi tanaman hias asing seperti Eupatorium sordidum di Taman Nasional Gunung Gede Pangrangro. Tanaman asli Meksiko ini mungkin memiliki bunga cantik, namun pertumbuhannya yang cepat dapat mendesak flora asali wilayah tersebut.

Kita semua bertanggung jawab turut menjaga keseimbangan ekologi. Dan diperlukan kesadaran yang nyata untuk ini.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar @zizydmk
    @zizydmk

    Di negara kita sendiri juga begitu ya, begitu banyak binatang yang ‘lenyap’ akibat ketidak seimbangan ekologi. Seperti kumbang Tomcat itu…

  2. Avatar Sugeng
    Sugeng

    Ternyata keserhkahan mahluk yang bernama manusia ini terjadi dimana-mana. Dan apakah dengan mendatangkan anjing rumahan ini membuat fossa menjadi santapan pengantin daging yang lain mas ??

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca