Untuk pemutar musik, saya masih menggunakan Songbird yang sekarang sudah memasuki versi 2. Tentu saja dalam hal ini adalah menggunakan Windows, untuk Linux saya belum mencoba percabangan Nightingale-nya, sudah cukup puas dengan Banshee saat ini.
Saya merasa cocok saja menggunakan Songbird 2 saat ini, hanya saja warnanya sistemnya yang mengandung unsur abu-abu lembut dan merah nila itu membuat serasa berhadapan dengan sistem indigo. Saya memang tidak memanfaatkan tampilan, mau mendesain sendiri dengan GIMP, tapi yang terbentur kemampuan juga.
Benar-benar nyaman untuk mendengarkan lagu-lagu kualitas tinggi dengan bentuk FLAC atau WMA yang masih dienkripsi keamanannya. He he…, mungkin karena saya pelit membagi lagu pada orang lain, apalagi beli CD Audio aslinya tidak pernah mendapatkan harga murah.
Songbird 2.0 – Pemutar Musik untuk Windows.
Dukungan bahasa Indonesia juga cukup baik, dan tentu saja yang saya perlukan adalah sinkronisasi dengan Last.fm. Beberapa hal mempermudah saya menggunakan Songbird, meski tidak semua saya manfaatkan, misalnya mengunduh MP3 – saya tidak gunakan.
Tidak hanya pada Windows, saya juga menggunakan Songbird pada tablet Android, dan cukup memuaskan. Hanya saja bedanya pada Android 2.3, belum ada dukungan untuk berkas FLAC, sehingga kualitas suara harus diturunkan ke tingkat OGG atau MP3.
Songbird sebagaimana halnya dengan sejumlah pemutar musik lain seperti Winamp, bisa diunduh secara gratis. Anda bisa mendapatkannya di Filehippo – Songbird. Sebagai pemutar musik dan pengelola berkas musikal, saya kira aplikasi ini cukup memenuhi syarat penggunaan sehari-hari. Jika memerlukan fungsi tambahan, bisa menggunakan pengaya (plugin) yang disediakan, misalnya untuk mengunduh lirik lagu atau gambar album – tentu saja koneksi Internet diperlukan guna memasang dan/atau menggunakan pengaya.
Legawa.com baru saja melakukan pembaruan identitas visual dengan logo baru yang sederhana, menggambarkan matahari di atas awan. Simbol ini merepresentasikan perjalanan penulis dan esai yang dihasilkan. Desain yang bersih dan konsisten diharapkan dapat menjadikan blog ini lebih tenang dan jujur, tanpa elemen yang bersaing.
Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
10 tanggapan
Andrean Saputro
Dari dulu kenal AIMP, saya tak mau beranjak. Selain itu, terkadang saya memakai iTunes untuk memutar file MP3 dan synching iPod. Di Ubuntu memang saat ini sudah merasa nyaman dengan Banshee. Tapi disayangkan, iTunes tidak bisa berjalan di Ubuntu jadi harus bolak-balik OS hanya untuk menyematkan MP3 baru ke dalam iPod 🙁
Bukannya Banshee bisa untuk iPod ya? Saya memang tidak pernah mencoba sih. Karena pilihan Linux kan lebih pada berkas format terbuka, jadi daripada MP3, lebih disarankan menggunakan OGG vorbis di Linux – CMIIW.
ngomong-ngomong tentang songbird, katanya songbird bisa di jadikan web browser. kalau saya masih senang dengan clementine (di windows). memang agak sedikit aneh mengingat clementine itu audio player yang cukup terkenal di kalangan pengguna linux (bukan windows).
Bisa Melvin, Songbird punya peramban sendiri di dalamnya, tapi ya paling untuk keperluan di dalam Songbird itu sendiri – kalau mau berselancar di Internet, peramban independen lebih enak di-pakai. Saya tidak tahu mesinnya pakai apa, tapi mengingatkan saya dengan Sea Monkey dari komunitas Mozilla.
Hmm…, Clementine saya jarang sekali mencobanya, mungkin dulu sih bersama dengan XMMS atau sejenisnya. Kalau memang sudah betah, mau digunakan di Linux atau di Windows akan tetap nyaman, soalnya kita terbiasa dengan antarmuka grafisnya.
Tinggalkan Balasan