Untuk pemutar musik, saya masih menggunakan Songbird yang sekarang sudah memasuki versi 2. Tentu saja dalam hal ini adalah menggunakan Windows, untuk Linux saya belum mencoba percabangan Nightingale-nya, sudah cukup puas dengan Banshee saat ini.
Saya merasa cocok saja menggunakan Songbird 2 saat ini, hanya saja warnanya sistemnya yang mengandung unsur abu-abu lembut dan merah nila itu membuat serasa berhadapan dengan sistem indigo. Saya memang tidak memanfaatkan tampilan, mau mendesain sendiri dengan GIMP, tapi yang terbentur kemampuan juga.
Benar-benar nyaman untuk mendengarkan lagu-lagu kualitas tinggi dengan bentuk FLAC atau WMA yang masih dienkripsi keamanannya. He he…, mungkin karena saya pelit membagi lagu pada orang lain, apalagi beli CD Audio aslinya tidak pernah mendapatkan harga murah.
Songbird 2.0 – Pemutar Musik untuk Windows.
Dukungan bahasa Indonesia juga cukup baik, dan tentu saja yang saya perlukan adalah sinkronisasi dengan Last.fm. Beberapa hal mempermudah saya menggunakan Songbird, meski tidak semua saya manfaatkan, misalnya mengunduh MP3 – saya tidak gunakan.
Tidak hanya pada Windows, saya juga menggunakan Songbird pada tablet Android, dan cukup memuaskan. Hanya saja bedanya pada Android 2.3, belum ada dukungan untuk berkas FLAC, sehingga kualitas suara harus diturunkan ke tingkat OGG atau MP3.
Songbird sebagaimana halnya dengan sejumlah pemutar musik lain seperti Winamp, bisa diunduh secara gratis. Anda bisa mendapatkannya di Filehippo – Songbird. Sebagai pemutar musik dan pengelola berkas musikal, saya kira aplikasi ini cukup memenuhi syarat penggunaan sehari-hari. Jika memerlukan fungsi tambahan, bisa menggunakan pengaya (plugin) yang disediakan, misalnya untuk mengunduh lirik lagu atau gambar album – tentu saja koneksi Internet diperlukan guna memasang dan/atau menggunakan pengaya.
Studi fase 3b terbaru di JAMA Network Open melaporkan 54% perempuan dengan ISK tanpa komplikasi merasakan gejala membaik dalam 24 jam setelah gepotidacin. Namun desain studinya satu lengan, tanpa pembanding dan tanpa penyamaran. Artikel ini membedah angka, keterbatasan, keamanan, serta relevansinya bagi praktik klinis dan pengendalian resistansi antibiotik di Indonesia.
Bahu adalah sendi paling sering mengalami dislokasi di tubuh manusia—dan salah tangani bisa berujung ketidakstabilan berulang. Artikel ini mengulas mekanisme cedera, lesi Bankart dan Hill-Sachs, protokol reduksi dan imobilisasi terkini, hingga kapan operasi seperti Bankart repair atau Latarjet diperlukan, lengkap dengan konteks layanan ortopedi di Indonesia.
Laporan Direktur Regional WHO Pasifik Barat untuk periode Juli 2025–Juni 2026 memuat bab khusus Indonesia. BPOM naik kelas sebagai WHO Listed Authority dan wabah polio dinyatakan selesai, tetapi hanya 5% penderita hipertensi yang terkendali dan cakupan campak dosis kedua masih 78%.
WHO merilis paket panduan 2026 untuk mencegah penyakit akibat panas di acara massal. Intinya: nilai risiko sejak awal, pasang pelindung berlapis seperti air minum, area pendingin, dan jalur rujukan, tentukan tingkat eskalasi sebelum acara, serta ubah pesan “minum air” menjadi arahan yang didukung layanan nyata. Relevan bagi penyelenggara di Indonesia.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
10 tanggapan
Andrean Saputro
Dari dulu kenal AIMP, saya tak mau beranjak. Selain itu, terkadang saya memakai iTunes untuk memutar file MP3 dan synching iPod. Di Ubuntu memang saat ini sudah merasa nyaman dengan Banshee. Tapi disayangkan, iTunes tidak bisa berjalan di Ubuntu jadi harus bolak-balik OS hanya untuk menyematkan MP3 baru ke dalam iPod 🙁
Bukannya Banshee bisa untuk iPod ya? Saya memang tidak pernah mencoba sih. Karena pilihan Linux kan lebih pada berkas format terbuka, jadi daripada MP3, lebih disarankan menggunakan OGG vorbis di Linux – CMIIW.
ngomong-ngomong tentang songbird, katanya songbird bisa di jadikan web browser. kalau saya masih senang dengan clementine (di windows). memang agak sedikit aneh mengingat clementine itu audio player yang cukup terkenal di kalangan pengguna linux (bukan windows).
Bisa Melvin, Songbird punya peramban sendiri di dalamnya, tapi ya paling untuk keperluan di dalam Songbird itu sendiri – kalau mau berselancar di Internet, peramban independen lebih enak di-pakai. Saya tidak tahu mesinnya pakai apa, tapi mengingatkan saya dengan Sea Monkey dari komunitas Mozilla.
Hmm…, Clementine saya jarang sekali mencobanya, mungkin dulu sih bersama dengan XMMS atau sejenisnya. Kalau memang sudah betah, mau digunakan di Linux atau di Windows akan tetap nyaman, soalnya kita terbiasa dengan antarmuka grafisnya.
Tinggalkan Balasan