A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Salah satu permasalahan yang cukup dirasakan bermakna di lapangan ketika saya melaksanakan tugas sebagai bagian dari sistem kesehatan nasional, adalah kurangnya kepekaan dan pengetahuan mendasar tentang masalah kesehatan. Sehingga tidak jarang ditemukan ketidaktahuan, kekhawatiran berlebih, depresi, hingga kepanikan akan permasalahan kesehatan yang sebenarnya dapat ditangani secara mandiri oleh penderita dan/atau keluarganya.

Beban negara untuk menyelanggarakan dan menyediakan kesehatan yang terjangkau bagi masyarakat tidaklah ringan saya rasa. Bahkan tidak jarang benturan terjadi pada sistem penganggaran dan penyediaan sarana prasarana yang menunjang kesehatan masyarakat terbentur oleh isu-isu yang tidak bisa dipecahkan secara seketika.

Saya percaya memang adalah kewajiban negara menyediakan fasilitas dan layanan kesehatan yang memadai dan terjangkau bagi masyarakatnya. Apalagi kita memang cukup sering mendengar keluhan masyarakat mengenai besarnya dan beratnya beban yang ditanggung untuk mendapatkan layanan kesehatan yang terjangkau.

Namun di sini yang lain, saya rasa sebagai warga negara, masyarakat kita, termasuk saya dan Anda memiliki kewajiban untuk bersama-sama meletakkan kepedulian yang mendasar akan permasalahan-permasalahan kesehatan di sekitar kita. Membekali diri dengan pengetahuan kesehatan baik pribadi maupun lingkungan yang mendasar, sedemikian hingga kita semua dapat berkontribusi secara positif terhadap peningkatan taraf kesehatan yang menyeluruh di sekitar kita.

Saya rasa tidak adil kita menuntut pengobatan diare yang murah sementara kita masih suka membuang sampah sembarang, termasuk menjejali sungai kita dengan sampah dan limbah rumah tangga sehingga sumber air bersih berkurang. Ini sebuah contoh yang sangat nyata saya rasa.

Kedokteran preventif adalah salah satu aspek yang saya gemari. Pencegahan terhadap sebuah masalah kesehatan akan jauh lebih bermakna daripada mengobatinya. Jika secara umum dalam skala besar, pencegahan terhadap suatu bentuk penyakit dapat dilakukan, maka sumber daya yang dimiliki negara ataupun lembaga kesehatan mandiri tidak akan terkuras untuk menangani masalah-masalah kesehatan yang secara esensial sesungguhnya dapat dicegah kemunculannya.

Pun demikian, tampaknya ada upaya-upaya yang bisa kita jumpai memperlemah tindakan preventif ini. Misalnya kelompok-kelompok yang menyuarakan penolakan terhadap upaya vaksinasi/imunisasi. Ketika cakupan imunisasi menurun seperti di wilayah yang saya tempati saat ini, maka wabah pun terjadi sehingga merengut banyak jiwa yang sebenarnya memiliki potensi untuk dicegah melalui tindakan imunisasi. Dan mereka yang menyuarakan penolakan tidak akan pernah bersedia bertanggung jawab ataupun bisa dituntut jika Anda kehilangan orang atau anak yang dikasihi karena mengikuti ajakan yang seringkali tidak mendasar tersebut.

Public health education, circa 1951

Hal inilah yang membuat saya percaya bahwa penting ditanamkan pendidikan kesehatan yang sinergis dengan kehidupan sehari-hari masyarakat kita, tidak hanya melalui penyuluhan dari kampung ke kampung, namun juga di bangku-bangku sekolah. Karena pemahaman akan isu-isu kesehatan memerlukan sebuah pendewasaan yang tidak bisa secara serta merta terwujud melalui satu atau dua kali saresehan.

Ketika banyak budayawan dan pemerhati bangsa saat ini khawatir dengan merosotnya jati diri bangsa dan budi pekerti generasi muda, sehingga mencetuskan ide dikembalikannya pendidikan budi pekerti ke bangku sekolah hingga jenjang tertinggi. Maka saya kira demikian juga dengan kekhawatiran saya pada masalah-masalah kesehatan di sekitar kita.

Saya sering diskusi dengan rekan-rekan sejawat, bahwasanya, permasalahan kesehatan yang mendasar di negeri ini tidak akan bisa diatasi hanya dengan mencetak tenaga kesehatan secara terus menerus, ataupun menambah tingkat sekolah kesehatan dan layanan kesehatan hingga taraf internasional. Karena esensi yang lebih bermakna adalah menyentuh langsung masyarakat yang menjadi perhatian dunia kesehatan melalui pendidikan kesehatan.

Apa yang dibutuhkan sebuah negeri untuk menuju terwujudnya kesehatan yang nyata adalah sebuah kesadaran yang berkedewasaan – bahwa kesehatan adalah hal yang bermakna, serta pengetahuan mendasar akan bagaimana mewujudkan dan menjaga kesehatan secara individu maupun kolektif. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan saya rasa tidak dapat dipandang sebelah mata.

Artikel Baru Terbit

  • Mitos Kesehatan Jiwa yang Masih Dipercaya: Membedah Stigma di Balik Fakta
    Mitos seputar kesehatan jiwa—dari anggapan bahwa gangguan jiwa langka hingga stigma “gila” pada skizofrenia—masih membebani masyarakat Indonesia. Data SKI 2023 mengungkap kesenjangan akses pengobatan yang lebar dan praktik pemasungan yang bertahan. Artikel ini membedah sebelas mitos populer dengan bukti ilmiah dan konteks kebijakan kesehatan jiwa nasional.
  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar Applausr
    Applausr

    betul melek kesehatan memang penting banget….. tapi mencari resource yang realiable juga susah banget…. mungkin dari pihak kedokteran harus sering mengadakan seminar seminar… di salah satu rumah sakit di sini hampir tiap minggu pasti ada seminar… dan gratis loh….

    1. Avatar Cahya

      Kalau itu tentunya akan selalu diupayakan Mas, namun kan tidak semua instalasi atau pusat layanan kesehatan memiliki sumber daya untuk hal tersebut, termasuk di dalamnya seminar gratis. Apalagi tidak jarang rumah sakit miliki pemerintah sering kali nyaris bangkrut karena terbebani oleh upaya mendukung pengobatan terjangkau melalui sistem jaringan pengaman sosial di pelosok-pelosok daerah.

      Sehingga untuk skala nasional, ada sesuatu yang lebih mendasar yang perlu ditanamkan. Yang bisa menjangkau semua pelosok nusantara. Bukan hanya seminar yang bisa diadakan oleh pihak-pihak tertentu saja yang memiliki sumber daya berlebih.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca