A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

 

Kesehatan adalah harta yang paling berharga, tentu saja karena mahalnya tiada terhitung. Dan di negara ini, sakit adalah sesuatu yang mahal, selain mahal dalam makna bahwa seseorang kehilangan waktu produktifnya, juga mahal dalam pengeluaran yang diperlukan. Di negara ini, seperti pada negara lain pada umumnya, ada banyak metode mempertahankan kesehatan, dan ada lebih banyak lagi (mungkin) cara untuk memulihkan kondisi sakit – dari yang mengikuti kedokteran modern, hingga pelbagai alternatif yang tersedia.

Masyarakat marginal di sini adalah mereka yang terpinggirkan, dalam makna akses terhadap kesehatan masih sulit, termasuk tentu saja upaya promotif (pengenalan & pendidikan), preventif (pencegahan), medikatif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan). Mereka tidak mengenal kesehatan seperti dunia modern mengenal kesehatan, walau bukan berarti mereka tidak memiliki konsep akan kesehatan itu sendiri. Namun oleh karena negara sudah memiliki konsep penyelenggaraan kesehatan tersendiri, maka hal ini selayaknya menjadi hak bagi semua warga negara untuk mendapatkan akses kesehatan yang setara (ingat, setara tidak selalu bermakna sama!)

Saat ini kesehatan masih banyak bertumpu pada upaya medikatif, karena mungkin jumlah angka kesakitan itu sendiri sudah menyita waktu para petugas kesehatan dibandingkan dengan membantu melakui promosi kesehatan dan pencegahan kesakitan pada masyarakat. Saya tidak akan memungkiri bahwa tenaga kesehatan (seperti dokter), tersebar lebih banyak di kota besar (baca: wilayah dengan pengembangan infrastruktur yang lebih baik) dibandingkan dengan daerah pinggiran, apalagi hingga pedalaman yang belum terjamah bumbu modernisasi.

Sedemikian hingga masalah pencegahan & promosi ini selayaknya dikembalikan ke masyarakat itu sendiri. Agar masyarakat menjadi cerdas dan peduli dengan kesehatan dirinya, dan juga kesehatan masyarakat lainnya. Jangan sampai mudah jatuh sakit. Memang mungkin media masa seperti televisi dan koran tidak banyak memberikan ruang bagi pendidikan kesehatan, walau harus kita apresiasi mereka tidak menghapus sepenuhnya demi sekadar tayangan hiburan yang lebih menggiurkan di sisi “kejar tayang/cetak”. Di era Internet ini, masyarakat bisa mengakses materi kesehatan hampir lebih luas lagi melalui dunia maya. Pertanyaannya kemudian, apa masyarakat akan siap dan bersedia meluangkan waktu belajar lebih banyak tentang kesehatan?

Karena kembali, sehat itu mahal; dan sakit itu juga cukup mahal untuk membuat kita pusing tujuh keliling. Sehingga ada kiasan klasik bahwa orang miskin dilarang sakit, karena saking tidak terjangkaunya biaya pengobatan.

Kesehatan Mahal

Dan bagi mereka yang berada di luar lingkaran marginal ini, selayaknya turut membantu dan peduli pada kesehatan mereka yang tidak memiliki akses. Sehebat apapun pemerintah saat ini, tanpa dukungan dari masyarakat, hal ini tidak akan terwujud. Kita tidak boleh tidak peduli, ibaratnya kenyang ketika tetangga kelaparan. Mengikuti program JKN seperti BPJS Kesehatan dapat membantu (jika Anda tidak hanya ikut ketika sakit saja).

Fasilitas kesehatan menjadi masalah lainnya. Kita kekurangan fasilitas kesehatan, sementara tantangan kita tetap sama sejak dulu, kekurangan sumber daya (di negara yang katanya kaya melimpah) dan kesulitan birokrasi.

Upaya pemerintah (melalui jaringan pengaman sosial seperti jamkesos, jamkesmas, jamkesda, dan katanya akan ada kartu indonesia sehat) serta swasta (melalui CSR) sudah membantu dengan tanpa menutupi segala kekurangan yang terjadi di lapangan. Hanya saja dengan permasalahan yang kompleks, saya rasa menuntut terlalu banyak tanpa memberikan solusi tidak akan pernah bisa membantu. Setidaknya bagi yang mampu, gunakan asuransi kesehatan yang baik, biarkan bantuan kesehatan sampai ke tangan mereka yang benar-benar tidak mampu, jangan merampas hak mereka yang terpinggirkan.

Justru mereka yang mampu harus membantu mereka yang sudah mendapatkan bantuan, karena bantuan selalu memiliki keterbatasan. Seperti misalnya, walau sudah ditanggung jamkesmas, namun belum tentu seseorang bisa menanggung akses transportasi dan akomodasi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, di sinilah masyarakat lain bisa berperan. Atau walau tahu terdapat bantuan seperti jamkesda dan jamkesos, namun masyarakat belum tentu tahu bagaimana  cara mengaksesnya, sehingga masyarakat lain yang tahu bisa membantu menyampaikan informasi yang diperlukan.

Jangan membiarkan masyarakat merasa terpinggirkan, mari kita semua membantu agar akses kesehatan dapat menjangkau semua orang.

Artikel Baru Terbit

  • Debu, Bor, dan Bangsal Pasien: Mengelola Risiko Infeksi Selama Konstruksi Rumah Sakit
    Setiap kali rumah sakit direnovasi, debu konstruksi membawa risiko infeksi jamur yang bisa mengancam nyawa pasien imunokompromais. Artikel ini mengulas metode ICRA—dari matriks klasik hingga pembaruan ASHE ICRA 2.0—bukti ilmiah di balik aspergilosis terkait konstruksi, kedudukannya dalam regulasi Indonesia, serta praktik terbaik yang seharusnya diterapkan setiap fasilitas kesehatan.
  • Kenapa Pindah ke Linux Terasa Sulit di Awal? (dan Siapa yang Justru Cepat Beradaptasi)
    Perpindahan ke Linux sering kali menimbulkan “kejutan budaya” bagi pengguna baru yang terbiasa dengan Windows atau macOS. Tantangan meliputi manajemen paket yang asing, ketersediaan software, masalah driver, penggunaan command line, dan pilihan distro. Adaptasi lebih mudah bagi developer, power user, dan gamer, sementara pengguna awam mungkin kesulitan. Kesiapan mental dan pemilihan distro yang tepat sangat penting untuk transisi yang baik.
  • Ketika Amarah Pasien Berubah Jadi Ruang Belajar: Menata Keluhan sebagai Bagian dari Mutu Layanan Kesehatan
    Keluhan pasien bukan ancaman, melainkan peluang mutu. Artikel ini mengulas asal-usul kerangka L.E.A.S.T dan L.A.T.T.E dari ilmu manajemen jasa, bukti bahwa pelatihan komunikasi saja tak cukup mengatasi hambatan sistemik dan burnout staf, serta bagaimana hak mengadu pasien dalam UU 17/2023 perlu diimbangi sistem pendukung di faskes Indonesia.
  • Apakah Rumah Sakit Wajib Melakukan Penetration Test? Menelusuri Dasar Hukumnya
    Tidak ada pasal tunggal yang mewajibkan pentest bagi rumah sakit di Indonesia — tetapi UU PDP, kategorisasi risiko sistem elektronik, status Infrastruktur Informasi Vital, dan ekspektasi akreditasi bersama-sama menciptakan kewajiban de facto yang sulit dihindari. Artikel ini memetakan empat jalur regulasi tersebut dan memberi rekomendasi realistis sesuai skala fasilitas.
  • Bayi Tabung dan Godaan “Layanan Tambahan”: Mana yang Benar-Benar Terbukti Menaikkan Peluang Hamil?
    Program IVF di Indonesia tak ditanggung BPJS dan bisa menghabiskan puluhan hingga ratusan juta rupiah. Di tengah biaya besar itu, klinik kerap menawarkan add-ons seperti PGT-A, ICSI, atau assisted hatching. Artikel ini mengulas bukti ilmiah terkini di balik masing-masing prosedur tambahan tersebut—dan mana yang benar-benar layak dipertimbangkan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar jarwadi

    mungkin “Internet Sehat” bisa membantu meningkatkan taraf kesehatan masyarakat kita 🙂

    1. Avatar Cahya

      Tentu saja bisa, karena akses dunia maya sudah merambah banyak tempat saat ini. Bahkan lebih cepat dibandingkan jika para kader kesehatan bergerak satu per satu ke lapangan.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca