A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Beberapa waktu yang lalu, saya iseng menulis sebuah tinjauan (review) produk notebook Asus X201E pada situs toko daring Bhinneka.com. Saya hanya menulis sejumlah baris pendek mengenai pendapat saya tentang produk tersebut. Karena saya tidak bisa menulisnya di blog ini, maka saya mencari tempat yang bisa membantu banyak orang untuk membaca pendapat saya.

Dan ternyata selang beberapa pekan kemudian, pihak Bhinneka menghubungi saya dan mengatakan saya memenangkan lomba menulis tinjauan. Sebagai catatan, setiap pengguna toko daring Bhinneka bisa menulis tinjauan pada masing-masing produk yang dijual, dan secara berkala akan ada tinjauan yang dipilih sebagai pemenang. Saya sendiri tidak tahu apa kriteriannya.

Hadiahnya adalah sebuah smartphone Android: AHAtouch yang merupakan keluaran Bakrie Connectivity. Ini bukan ponsel cerdas baru, melainkan sudah beredar di Indonesia sejak tahun 2010/2011 jika saya tidak salah ingat. Masih menggunakan Android 2.2 Froyo dan ukurannya mungil, namun karena saya belum membuka segelnya, saya tidak tahu seberapa mungil isi di dalamnya.

AHAtouch
AHAtouch, Smartphone Android keluaran Bakrie Connectivity.

Jika saya mendapatkan ini dua tahun yang lalu, saya mungkin melompat kesenangan. Tapi ternyata sekarang pun saya masih tersenyum senang. Teknologi yang diusungnya masih kalah jauh dengan Galaxy Note II yang saya pegang saat ini. Tapi sebuah smartphone toh kembali pada fungsinya sehari-hari. Mampu menggunakan jaringan EVDO Rev.A, kemampuan berbagi koneksi WiFi, layar sentuh, sensor gravitasi, GPS, radio, dan sebagainya. Tampaknya menggunakan kartu RUIM, sehingga bisa diganti operator CDMA lainnya (secara teori).

Satu hal yang saya bingungkan, akan diapakan ponsel cerdas ini? Saya sudah punya dua ponsel cerdas, dan satu ponsel CDMA standar. Apa mau memindahkan CDMA standar AHAtouch ini? Karena sejujurnya, jaringan AHA tidak ada di tempat saya, jadi ya kalau tidak diganti ya akan sia-sia.

Nah, itu urusan belakangan. Sekarang biarkan dulu dalam kotaknya, toh dia tidak akan kemana-mana.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

3 tanggapan

  1. Avatar Cahya

    Iya, sepertinya pengembangannya AHA tidak seluas penyedia jaringan CDMA lain seperti Flexi dan Smartfren.

  2. Avatar gadgetboi

    aha! kebetulan .. kirim saja ke saya! hehehe lumayan tuh bisa jadi portable hotspot 😀

    1. Avatar Cahya

      Telat Mas, sudah ada yang pesan di Jogja. Ya, saya kira juga nanti paling-paling jadi alat WiFi portable.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca