A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Film lanjutan animasi How to Train Your Dragon 2 dari Dream Works sepertinya agak mengecewakan bagi saya. Animasi yang disajikan memang luar biasa memanjakan mata, dan jalan cerita pun benar-benar disusun baru walau agak klise. Mungkin cerita klise yang sudah bisa ditebak walau tanpa membaca bocoran kisahnya membuat film ini sedikit kurang menarik.

How to Train Your Dragon 2
Poster reklame film “How to Train Your Dragon 2”. Menampilkan tokoh-tokohnya yang tumbuh dari anak-anak menjadi remaja bersama naga-naga mereka.

Saya suka menonton film yang pertama berulang kali, namun untuk film yang kedua ini, rasanya sudah cukup puas dengan sekali menonton saja.

Saya hanya tidak suka, tapi bukan berarti film ini buruk. Justru film ini sangat bagus untuk ukuran film animasi DreamWorks. Saya rasa dalam waktu sekitar 100 menit, film ini menampilkan alur cerita yang cepat (fast pace), kejutan di sejumlah sisi, tapi masih bisa ditebak.

When Hiccup and Toothless discover an ice cave that is home to hundreds of new wild dragons and the mysterious Dragon Rider, the two friends find themselves at the center of a battle to protect the peace.

Film kedua ini berkisah antara masa lalu dan masa kini, tentang tokoh antagonis sebelum lini waktu pada film pertama. Sehingga plotnya menjadi cukup menarik. Ada juga penjelajahan dunia baru, namun tidak terlalu banyak disinggung, mungkin padahal bisa menjadi pemancing perdebatan untuk sekuel film ini. Tapi kemudian, dibandingkan plot utama seperti di film pertama, film kedua terlalu banyak cerita sampingan (side story) memakan waktu menurut saya.

Anda mungkin akan menemukan keasyikan menonton film ini, apalagi jika menyaksikan adegan pertempuran para naga.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO
  • Air yang Merenggut Nyawa: Tujuh Strategi Global Mencegah Tenggelam dan Relevansinya bagi Indonesia
    Setiap tahun, lebih dari 300.000 orang di dunia meninggal karena tenggelam, dengan anak-anak sebagai korban utama. WHO meluncurkan paket kebijakan PROTECT yang berisi tujuh strategi mencegah tenggelam. Indonesia perlu mengembangkan strategi nasional dan memperkuat pengumpulan data untuk menurunkan angka kematian terkait tenggelam di negara kepulauan ini.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca