A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Akhir pekan yang lalu, kami melakukan ekowisata ke Hutan Pinus Mangunan, yang berlokasi di Desa Munthuk, Mangunan, Dlingo, Bantul. Memang belakangan ini Bantul terasa penat, sejak berakhirnya peralihan dari musim penghujan, matahari semakin mengganas di langit Utara, oleh karena itu tempat sejuk untuk menghilangkan penat tentu saja adalah daerah perbukitan yang kaya dengan kanopi alaminya. Hutan Pinus Mangunan menjadi target yang tidak terelakkan untuk dipinang.

Kami tidak tahu lokasi tepatnya Hutan Pinus Mangunan itu di mana, dan tidak juga tahu jalan persis menuju ke sana. Untungnya aplikasi perjalanan Waze membantu dengan tepat menemukan lokasi, walau dengan sepeda motor perlu beberapa kali untuk melihat ponsel Android dan peta arah yang ditunjuk.

Kami pun tiba di sana sekitar pukul 12.00 siang tepat, tapi sungguh walau tidak sesejuk area Bedugul dan Bali Botanical Garden yang pernah saya rasakan dulu, namun tentu saja jauh dari nuansa panas menyengat ala dataran rendah Yogyakarta.

Hutan Pinus Mangunan

Saya tidak akan menampilkan banyak gambar, tapi wajah hutan pinus di atas sudah bisa memperlihatkan betapa lega bisa sampai di area tersebut. Dan tentunya Anda bisa mendapatkan banyak gambar yang lebih baik di luar sana.

Kesan saya untuk sampai di tempat ini adalah, sebagai wilayah tujuan wisata, namun sedikit sekali petunjuk jalan yang mengarahkan pelancong menuju ke sana. Setidaknya di sejumlah jalur kunci disediakan arahan yang lebih cermat akan sangat membantu. Saya cukup beruntung memiliki aplikasi GPS.

Ternyata hari libur tempat tersebut cukup padat pengunjung, bahkan ada yang prewedding, ini sangat bagus menunjukkan antusiasme masyarakat. Namun jika menginginkan suasana yang lebih tenang, mungkin hari-hari biasa adalah waktu berwisata yang baik. Waktu yang baik adalah berangkat pada pagi hari, dan pulang sorenya – dan hindari hari menjadi terlanjur gelap bagi yang tidak ingin kesulitan bernavigasi di kegelapan malam.

Artikel Baru Terbit

  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca