A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Akhir pekan yang lalu, kami melakukan ekowisata ke Hutan Pinus Mangunan, yang berlokasi di Desa Munthuk, Mangunan, Dlingo, Bantul. Memang belakangan ini Bantul terasa penat, sejak berakhirnya peralihan dari musim penghujan, matahari semakin mengganas di langit Utara, oleh karena itu tempat sejuk untuk menghilangkan penat tentu saja adalah daerah perbukitan yang kaya dengan kanopi alaminya. Hutan Pinus Mangunan menjadi target yang tidak terelakkan untuk dipinang.

Kami tidak tahu lokasi tepatnya Hutan Pinus Mangunan itu di mana, dan tidak juga tahu jalan persis menuju ke sana. Untungnya aplikasi perjalanan Waze membantu dengan tepat menemukan lokasi, walau dengan sepeda motor perlu beberapa kali untuk melihat ponsel Android dan peta arah yang ditunjuk.

Kami pun tiba di sana sekitar pukul 12.00 siang tepat, tapi sungguh walau tidak sesejuk area Bedugul dan Bali Botanical Garden yang pernah saya rasakan dulu, namun tentu saja jauh dari nuansa panas menyengat ala dataran rendah Yogyakarta.

Hutan Pinus Mangunan

Saya tidak akan menampilkan banyak gambar, tapi wajah hutan pinus di atas sudah bisa memperlihatkan betapa lega bisa sampai di area tersebut. Dan tentunya Anda bisa mendapatkan banyak gambar yang lebih baik di luar sana.

Kesan saya untuk sampai di tempat ini adalah, sebagai wilayah tujuan wisata, namun sedikit sekali petunjuk jalan yang mengarahkan pelancong menuju ke sana. Setidaknya di sejumlah jalur kunci disediakan arahan yang lebih cermat akan sangat membantu. Saya cukup beruntung memiliki aplikasi GPS.

Ternyata hari libur tempat tersebut cukup padat pengunjung, bahkan ada yang prewedding, ini sangat bagus menunjukkan antusiasme masyarakat. Namun jika menginginkan suasana yang lebih tenang, mungkin hari-hari biasa adalah waktu berwisata yang baik. Waktu yang baik adalah berangkat pada pagi hari, dan pulang sorenya – dan hindari hari menjadi terlanjur gelap bagi yang tidak ingin kesulitan bernavigasi di kegelapan malam.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Rumah Baru, Wajah Baru
    Legawa.com baru saja melakukan pembaruan identitas visual dengan logo baru yang sederhana, menggambarkan matahari di atas awan. Simbol ini merepresentasikan perjalanan penulis dan esai yang dihasilkan. Desain yang bersih dan konsisten diharapkan dapat menjadikan blog ini lebih tenang dan jujur, tanpa elemen yang bersaing.
  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca