A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Kemarin (12/07/2016), diadakan acara khitanan massal di Balai Desa Pleret. Panitia penyelenggara berasal dari pelbagai perangkat desa yang berada di wilayah Kecamatan Pleret Bantul. Saya sempat sekitar dua kali menghadiri pertemuan dalam rangka mempersiapkan acara ini sebagai perwakilan dari instansi saya.

Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan menggunakan kirab, dan peserta khitan yang merupakan anak-anak dari kalangan warga kurang mampu yang berjumlah tiga puluh anak diarak di atas andong/dokar dari Balai Kecamatan Pleret menuju pendopo Desa Pleret tempat acara diadakan.

Saya tidak tahu apakah di wajah mereka terpancar kekhawatiran ataukah kegembiraan. Mungkin senang karena bisa melakukan khitan bersama-sama dengan teman sebaya.

Para keluarga/wali dan pengantar-pun tampak antusias – selain mengantar, tidak lupa mengambil gambar putra-putra mereka ketika sejak masih berada di atas kereta kuda.

Kantor Desa Pleret sudah dijejali oleh kendaraan roda dua dari para pengantar ini. Dan bisak-bisik pun segera memenuhi kerumunan masyarakat yang penuh antusias tersebut.

Di pendopo Desa Pleret, segenap panitia telah bersiap menyambut anak-anak ini beserta para wali mereka. Kursi-kursi ditata dengan apik, dan suara musik yang mengiringi rombongan tetap melantun membahana.

Setiap anak telah diberikan baju koko, peci dan sebuah sarung dalam rangka hari yang istimewa bagi mereka. Setelah turun dari kereta kuda, mereka dituntun menuju ke dalam pendopo sebelum pada akhirnya satu per satu bergilir menuju ruang khitan.

Di ruang khitan – sebuah ruangan kerja yang ‘disulap’ menjadi tempat dilaksanakannya khitan massal – anak-anak berbaring pada meja yang agak tinggi dan panjang. Cukup bagi petugas kesehatan untuk melakukan khitan atau dalam bahasa medis dikenal sebagai sirkumsisi.

Tentu saja, bahkan sebelum dimulai dilakukan khitan, tangis anak-anak sudah memecah keheningan terlebih dahulu.

Para orang tua dan wali berusaha menenangkan anak-anak yang ketakutan tersebut. Seakan-akan wajah yang tadinya ceria, berubah menjadi berlinang air mata. Dalam pengalaman saya beberapa kali ikut di dalam kegiatan khitan massal, hal ini merupakan sebuah pemandangan yang tidak terelakkan.

Tim kesehatan yang saat ini diterjunkan berasal dari Puskesmas Pleret, RSU Permata Husada, dan RSU Nur Hidayah yang ketiganya berada di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Dengan total jumlah tenaga kesehatan sekitar 18 personil.

Dalam ruangan dan kondisi yang seadanya, kegiatan sosial ini berhasil terlaksana dengan baik. Beberapa kasus wajar ditemukan penyulit, namun beruntung semua dapat ditangani secara optimal.

Acara dapat selesai pada pukul 11.00, dan para peserta yang telah dikhitan kemudian bisa beristirahat di ruang istirahat yang telah disediakan.

Para orang tua, wali dan panitia saling memberikan ucapan selamat untuk para peserta khitan yang telah selesai dikhitan. Tidak ada banyak formalitas ketika acara berakhir, dan masing-masing peserta pulang ke rumahnya.

Selain acara khitan sebagai acara utama, terdapat juga acara donor darah yang didukung oleh PMI. Hanya saja, karena saya fokus pada acara khitan, saya tidak bisa melihat pojok-pojok lain dari seluruh rangkaian acara. Bahkan acara pembukaan juga tidak saya ikuti.

 

Sebagai penutup, sebelum terlambat lebih lama. Izinkan saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1437 H kepada segenap sahabat Muslim di Nusantara, mohon maaf lahir dan batin.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca