A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Vaksinasi Polio: Apa yang Perlu Anda Ketahui

Polio adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio yang menyerang sistem saraf pusat dan dapat menyebabkan kelumpuhan, bahkan kematian. Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi polio, yaitu pemberian vaksin polio yang membantu tubuh memproduksi antibodi untuk melawan virus polio.

Photo by CDC on Pexels.com

Ada dua jenis vaksin polio yang tersedia, yaitu vaksin polio oral (OPV) dan vaksin polio suntik (IPV). OPV adalah vaksin yang mengandung virus polio yang masih aktif tetapi sudah dilemahkan, sedangkan IPV adalah vaksin yang mengandung virus polio yang sudah tidak aktif atau mati.

OPV diberikan melalui obat tetes mulut, sedangkan IPV diberikan melalui suntikan ke otot atau di bawah kulit. Kedua jenis vaksin ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kelebihan OPV adalah dapat merangsang kekebalan tubuh di usus dan darah, sehingga dapat mematikan virus polio liar yang masuk ke dalam tubuh dan mencegah penyebarannya ke orang lain. Kekurangan OPV adalah dapat menyebabkan efek samping seperti diare, muntah, demam, atau ruam kulit. Selain itu, OPV juga berisiko menyebabkan polio paralitik terkait vaksin (VAPP), yaitu kondisi di mana virus polio dalam vaksin bermutasi menjadi lebih kuat dan menimbulkan gejala polio.

Kelebihan IPV adalah lebih aman karena tidak berisiko menyebabkan VAPP atau menular ke orang lain. Kekurangan IPV adalah tidak dapat merangsang kekebalan tubuh di usus, sehingga virus polio liar masih dapat berkembang biak di usus dan menyebar lewat feses atau tinja.

Oleh karena itu, untuk memberikan perlindungan optimal terhadap polio, dianjurkan untuk memberikan kombinasi OPV dan IPV kepada anak-anak. Jadwal vaksinasi polio yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) adalah sebagai berikut:

  • OPV-0: diberikan saat bayi baru lahir
  • IPV-1: diberikan saat bayi berusia 2 bulan
  • OPV-1: diberikan saat bayi berusia 3 bulan
  • IPV-2: diberikan saat bayi berusia 4 bulan
  • OPV-2: diberikan saat bayi berusia 5 bulan
  • IPV-3: diberikan saat bayi berusia 6 bulan
  • OPV-3: diberikan saat bayi berusia 9 bulan
  • Booster OPV: diberikan saat anak berusia 18 bulan dan 5 tahun

Anak-anak yang terlambat mendapatkan vaksinasi polio dapat menyesuaikan jadwalnya dengan dokter. Orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksinasi polio atau tidak lengkap dosisnya juga dapat mendapatkan vaksinasi ulang, terutama jika mereka bekerja di bidang kesehatan, bepergian ke daerah endemis polio, atau berinteraksi dengan orang yang terinfeksi polio.

Vaksinasi polio adalah salah satu cara untuk mencegah penyakit polio yang dapat mengancam nyawa. Dengan memberikan vaksinasi polio kepada anak-anak sejak dini, kita dapat membantu memberantas penyakit ini dari muka bumi.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca