A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Ada banyak pilihan cairan infus (intravenous solutions). Dan memilih mana yang tepat (sesuai kebutuhan dan sesuai pembiayaan) menjadi sesuatu yang mutlak dikenal oleh semua nakes dan tenaga medis.

Cairan infus biasanya dibagi ke dalam kategori cairan isotonik, hipotonik, hipertonik, dan koloid. Yang mana yang harus diberikan pada pasien?

Cairan intravena adalah cairan yang diberikan melalui infus ke dalam pembuluh darah. Cairan ini dapat berupa cairan isotonik, hipotonik, hipertonik, atau koloid. Masing-masing jenis cairan memiliki karakteristik dan indikasi yang berbeda untuk kebutuhan klinis pasien. Berikut adalah penjelasan singkat tentang kapan menggunakan cairan intravena tersebut.

Cairan isotonik adalah cairan yang memiliki tekanan osmotik yang sama dengan plasma darah. Contoh cairan isotonik adalah larutan natrium klorida 0,9% (NaCl 0,9%) atau normal saline, larutan Ringer laktat (RL), dan larutan dekstrosa 5% (D5W). Cairan isotonik digunakan untuk mengganti kehilangan cairan ekstraseluler akibat dehidrasi, perdarahan, luka bakar, atau operasi. Cairan isotonik juga dapat digunakan sebagai media pengencer obat-obatan yang diberikan secara intravena.

Cairan hipotonik adalah cairan yang memiliki tekanan osmotik yang lebih rendah dari plasma darah. Contoh cairan hipotonik adalah larutan natrium klorida 0,45% (NaCl 0,45%) atau half normal saline, dan larutan dekstrosa 2,5% (D2,5W). Cairan hipotonik digunakan untuk mengganti kehilangan cairan intraseluler akibat hiperglikemia, ketoasidosis diabetikum, atau sindrom kekurangan antidiuretik. Cairan hipotonik juga dapat digunakan untuk mengurangi edema serebral atau pembengkakan otak.

Cairan hipertonik adalah cairan yang memiliki tekanan osmotik yang lebih tinggi dari plasma darah. Contoh cairan hipertonik adalah larutan natrium klorida 3% (NaCl 3%) atau hypertonic saline, larutan dekstrosa 10% (D10W), dan larutan manitol. Cairan hipertonik digunakan untuk meningkatkan tekanan osmotik plasma darah dan menarik cairan dari ruang intraseluler ke ruang ekstraseluler. Cairan hipertonik dapat digunakan untuk mengobati hiponatremia, edema serebral, syok hipovolemik, atau keracunan air.

Cairan koloid adalah cairan yang mengandung molekul besar yang tidak dapat menembus membran kapiler. Contoh cairan koloid adalah albumin, dekstran, hidroksietil pati (HES), dan gelatin. Cairan koloid digunakan untuk meningkatkan tekanan onkotik plasma darah dan mempertahankan volume darah. Cairan koloid dapat digunakan untuk mengobati syok hipovolemik, perdarahan masif, atau luka bakar luas.

Hindari penggunaan cairan intravena tanpa pengawasan dari tenaga kesehatan atau tenaga medis yang berkualifikasi.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca