A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Dehidrasi adalah kondisi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang masuk. Dehidrasi dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti pusing, lemas, mual, bahkan syok. Oleh karena itu, dehidrasi harus segera ditangani dengan cara mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh.

Salah satu cara mengatasi dehidrasi adalah dengan memberikan cairan intravena (IV) kepada pasien. Cairan IV adalah larutan yang mengandung air, garam, dan zat-zat lain yang dibutuhkan oleh tubuh. Cairan IV disuntikkan melalui jarum yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah, biasanya di lengan atau paha. Dengan cara ini, cairan dapat langsung masuk ke dalam aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Namun, tidak semua pasien dehidrasi membutuhkan cairan IV. Cairan IV biasanya diberikan kepada pasien yang mengalami dehidrasi berat atau sedang, atau yang tidak dapat minum cairan secara oral karena muntah, diare, atau kesadaran menurun. Pasien yang mengalami dehidrasi ringan dapat minum cairan secara oral, seperti air putih, jus buah, atau oralit.

Jumlah cairan IV yang diberikan kepada pasien dehidrasi tergantung pada berat badan dan tingkat kehilangan cairan pasien. Secara umum, rumus untuk menghitung kebutuhan cairan IV adalah sebagai berikut:

Kebutuhan cairan IV = (Berat badan x 4%) + (Berat badan x % kehilangan cairan)

Contoh: Pasien A memiliki berat badan 50 kg dan mengalami dehidrasi sedang dengan kehilangan cairan sekitar 10%. Maka, kebutuhan cairan IV pasien A adalah:

Kebutuhan cairan IV = (50 x 4%) + (50 x 10%)
= 2 + 5
= 7 liter

Cairan IV harus diberikan secara bertahap dan diawasi oleh tenaga medis. Kecepatan pemberian cairan IV dapat bervariasi tergantung pada kondisi pasien dan jenis cairan yang digunakan. Beberapa jenis cairan IV yang umum digunakan adalah:

  • Normal saline: larutan garam 0,9% yang cocok untuk mengganti cairan ekstraseluler.
  • Ringer lactate: larutan garam 0,9% yang ditambahkan dengan laktat, kalium, dan kalsium yang cocok untuk mengganti cairan dan elektrolit.
  • Dextrose: larutan gula 5% atau 10% yang cocok untuk memberikan energi dan mencegah hipoglikemia.

Pemberian cairan IV harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dengan indikasi. Jika terlalu banyak atau terlalu cepat, cairan IV dapat menyebabkan komplikasi seperti edema paru, hipernatremia, hipokalemia, atau gangguan fungsi ginjal. Oleh karena itu, penting untuk memantau tanda-tanda vital pasien, seperti tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, dan frekuensi pernapasan selama pemberian cairan IV.

Demikianlah penjelasan singkat tentang cara mengatasi dehidrasi dengan cairan intravena serta menghitung kebutuhan cairannya berdasarkan berat badan pasien. Semoga bermanfaat bagi Anda yang ingin menambah pengetahuan tentang kesehatan.

Artikel Baru Terbit

  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca