A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Halo, selamat tahun baru! Apakah kamu sudah menetapkan resolusi awal tahun yang ingin kamu capai di tahun ini? Jika ya, baguslah. Jika tidak, tidak apa-apa. Karena menurut saya, resolusi awal tahun itu sering kali menjadi buntung di akhir tahun. Mau tahu alasannya?

Pertama, resolusi awal tahun itu biasanya terlalu ambisius dan tidak realistis. Misalnya, kamu ingin menurunkan berat badan 10 kg dalam sebulan, atau ingin naik jabatan dua tingkat dalam setahun. Padahal, kamu tahu sendiri bahwa itu sulit dilakukan tanpa usaha keras dan konsisten. Akhirnya, kamu malah menyerah di tengah jalan dan merasa gagal.

Kedua, resolusi awal tahun itu seringkali tidak spesifik dan tidak terukur. Misalnya, kamu ingin lebih sehat, lebih bahagia, atau lebih sukses. Tapi, bagaimana kamu bisa tahu apakah kamu sudah mencapai tujuan tersebut? Apa indikatornya? Apa targetnya? Tanpa hal-hal tersebut, resolusi awal tahun kamu hanya akan menjadi angan-angan belaka.

Ketiga, resolusi awal tahun itu kadang-kadang tidak sesuai dengan minat dan kemampuan kamu. Misalnya, kamu ingin belajar bahasa asing, atau menguasai alat musik tertentu. Tapi, apakah kamu benar-benar tertarik dengan hal tersebut? Apakah kamu memiliki bakat atau potensi untuk itu? Jika tidak, kamu hanya akan membuang-buang waktu dan energi untuk sesuatu yang tidak kamu sukai.

Jadi, bagaimana solusinya? Menurut saya, sebaiknya kita tidak terlalu fokus pada resolusi awal tahun yang terlalu muluk-muluk. Lebih baik kita menetapkan tujuan-tujuan yang lebih sederhana, namun lebih realistis dan terukur. Selain itu, kita juga harus memilih tujuan-tujuan yang sesuai dengan minat dan kemampuan kita, serta yang memberikan manfaat bagi diri kita dan orang lain.

Dengan begitu, kita akan lebih mudah untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, dan merasa lebih puas dan bahagia. Kita juga tidak akan merasa tertekan atau frustrasi jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan. Kita bisa menikmati prosesnya, bukan hanya hasilnya.

Nah, itulah ulasan saya tentang resolusi awal tahun yang menjadi buntung di akhir tahun. Semoga bermanfaat dan menginspirasi kamu untuk membuat tujuan-tujuan yang lebih baik di tahun ini. Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di postingan selanjutnya tahun depan!

Artikel Baru Terbit

  • Paliatif Bukan Tanda Menyerah: Kapan Sebaiknya Tenaga Kesehatan Mulai Menawarkannya?
    Perawatan paliatif sering disalahpahami sebagai layanan menjelang ajal. Padahal pedoman ASCO 2024, WHO, dan Kepmenkes 2180/2023 menekankan identifikasi dini sejak diagnosis penyakit serius. Artikel ini membahas kapan paliatif sebaiknya ditawarkan kepada pasien dan keluarga, alat penapisan seperti SPICT dan Pertanyaan Kejutan, serta penerapannya di layanan kesehatan Indonesia.
  • Ketika Wajah Bayi Menyimpan Rahasia di Kromosom 22
    Sindrom DiGeorge (22q11.2 deletion syndrome) adalah kelainan delesi mikro kromosom tersering pada manusia, memengaruhi jantung, imunitas, kalsium darah, dan perkembangan. Diagnosis sering terlambat karena gejala menyerupai kondisi lain. Di Indonesia, skrining jantung bawaan kritis berpotensi menangkap sebagian kasus, namun konfirmasi genetik masih terbatas aksesnya.
  • Flu Burung Tak Lagi Sekadar Urusan Kandang: Membaca Kerangka Global Empat Lembaga Dunia dan Maknanya bagi Indonesia
    FAO, WHO, WOAH, dan CMS meluncurkan kerangka global untuk mempercepat pengendalian flu burung melalui pendekatan One Health. Artikel ini mengulas mengapa H5N1 klad 2.3.4.4b kian mengkhawatirkan, bagaimana pengalaman Indonesia dengan 200 kasus manusia, dan langkah praktis bagi Puskesmas serta masyarakat untuk mencegah limpahan virus dari kandang ke manusia.
  • Pil KB Tanpa Jeda, Implan Lima Tahun, dan Mifepriston: Membaca Pedoman Baru WHO tentang Perluasan Pilihan Kontrasepsi
    WHO merilis pedoman baru tentang perluasan pilihan kontrasepsi. Mifepriston kini direkomendasikan sebagai kontrasepsi darurat, pil KB kombinasi dapat diminum tanpa jeda hingga setahun, dan implan etonogestrel dapat dipakai lima tahun. Sebaliknya, ormeloksifen dan pil kuinestrol belum layak masuk program. Apa artinya bagi layanan KB dan jutaan akseptor di Indonesia kini?
  • Dari “Tahu” ke “Mau”: Kursus Ilmu Perilaku WHO dan Pelajaran bagi Kesehatan Masyarakat Indonesia
    WHO meluncurkan kursus daring mandiri tentang ilmu perilaku bagi praktisi kesehatan masyarakat. Artikel ini mengulas isi kursus, kerangka DDDIE, data perilaku berisiko dari SKI 2023, contoh kasus antibiotik tanpa resep, serta batas bukti nudge, agar program kesehatan di Indonesia tidak berhenti pada penyuluhan, tetapi mengubah perilaku masyarakat sehari-hari secara nyata.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca