A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Halo, selamat tahun baru! Apakah kamu sudah menetapkan resolusi awal tahun yang ingin kamu capai di tahun ini? Jika ya, baguslah. Jika tidak, tidak apa-apa. Karena menurut saya, resolusi awal tahun itu sering kali menjadi buntung di akhir tahun. Mau tahu alasannya?

Pertama, resolusi awal tahun itu biasanya terlalu ambisius dan tidak realistis. Misalnya, kamu ingin menurunkan berat badan 10 kg dalam sebulan, atau ingin naik jabatan dua tingkat dalam setahun. Padahal, kamu tahu sendiri bahwa itu sulit dilakukan tanpa usaha keras dan konsisten. Akhirnya, kamu malah menyerah di tengah jalan dan merasa gagal.

Kedua, resolusi awal tahun itu seringkali tidak spesifik dan tidak terukur. Misalnya, kamu ingin lebih sehat, lebih bahagia, atau lebih sukses. Tapi, bagaimana kamu bisa tahu apakah kamu sudah mencapai tujuan tersebut? Apa indikatornya? Apa targetnya? Tanpa hal-hal tersebut, resolusi awal tahun kamu hanya akan menjadi angan-angan belaka.

Ketiga, resolusi awal tahun itu kadang-kadang tidak sesuai dengan minat dan kemampuan kamu. Misalnya, kamu ingin belajar bahasa asing, atau menguasai alat musik tertentu. Tapi, apakah kamu benar-benar tertarik dengan hal tersebut? Apakah kamu memiliki bakat atau potensi untuk itu? Jika tidak, kamu hanya akan membuang-buang waktu dan energi untuk sesuatu yang tidak kamu sukai.

Jadi, bagaimana solusinya? Menurut saya, sebaiknya kita tidak terlalu fokus pada resolusi awal tahun yang terlalu muluk-muluk. Lebih baik kita menetapkan tujuan-tujuan yang lebih sederhana, namun lebih realistis dan terukur. Selain itu, kita juga harus memilih tujuan-tujuan yang sesuai dengan minat dan kemampuan kita, serta yang memberikan manfaat bagi diri kita dan orang lain.

Dengan begitu, kita akan lebih mudah untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, dan merasa lebih puas dan bahagia. Kita juga tidak akan merasa tertekan atau frustrasi jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan. Kita bisa menikmati prosesnya, bukan hanya hasilnya.

Nah, itulah ulasan saya tentang resolusi awal tahun yang menjadi buntung di akhir tahun. Semoga bermanfaat dan menginspirasi kamu untuk membuat tujuan-tujuan yang lebih baik di tahun ini. Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di postingan selanjutnya tahun depan!

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca