Selasa pagi di sebuah Puskesmas di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dr. Nadia menerima Pak Darman (38 tahun), peternak ayam petelur skala rumahan. Keluhannya demam tinggi sejak dua hari, batuk, dan pegal di seluruh badan. Sekilas mirip flu biasa. Pertanyaan tambahan tentang pekerjaan mengubah gambarannya: lima hari sebelumnya, hampir dua ratus ekor ayamnya mati mendadak dalam dua hari. Bangkainya ia kubur sendiri tanpa sarung tangan dan masker. Sebagian ayam yang masih hidup tetapi lemas disembelih tetangga untuk dimasak.
dr. Nadia tidak menunggu hasil laboratorium untuk bertindak. Ia menempatkan pasien di ruang terpisah, mengambil usap tenggorokan dan hidung, memberikan antivirus, lalu melaporkan kasus suspek ke Dinas Kesehatan dalam hari yang sama. Petugas kesehatan hewan dari dinas peternakan setempat dihubungi untuk memeriksa kandang. Kasus ini fiktif, tetapi rangkaian langkahnya merupakan wujud nyata dari gagasan yang kini dirumuskan di tingkat dunia: flu burung hanya bisa dikendalikan jika kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan ditangani bersama.
Kerangka Baru dari Empat Lembaga Dunia
Pada September 2026, empat organisasi internasional menerbitkan Global framework to accelerate action on avian influenza. Keempatnya adalah Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), dan Konvensi tentang Konservasi Spesies Satwa Liar yang Bermigrasi (CMS). Dokumen ini lahir dari konsultasi virtual pada 2024, beberapa putaran telaah teknis, dan konsultasi publik pada Juli 2026 (FAO et al., 2026).

Kerangka ini tidak menggantikan pedoman teknis yang sudah ada dan bukan rencana kerja operasional. Fungsinya adalah menyatukan mandat keempat lembaga yang selama ini berjalan di jalur masing-masing, sehingga negara, mitra, dan donor dapat melihat bagian mana yang paling membutuhkan kerja bersama. Landasannya adalah pendekatan One Health, yaitu cara pandang yang menganggap kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (FAO et al., 2026).
Mengenal Flu Burung Secara Singkat
Flu burung (avian influenza) disebabkan oleh virus influenza tipe A yang secara alami beredar pada burung liar, terutama unggas air. Virus ini dinamai menurut dua protein permukaannya, yaitu hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N). Berdasarkan keparahan penyakit pada unggas, virus dibagi menjadi dua kelompok. Virus patogenisitas rendah (low pathogenicity avian influenza, LPAI) umumnya menimbulkan gejala ringan atau tanpa gejala. Virus patogenisitas tinggi (high pathogenicity avian influenza, HPAI) dapat menyebabkan penyakit berat dengan kematian massal pada ternak (FAO et al., 2026).
Kerangka global menegaskan bahwa ancaman flu burung tidak terbatas pada H5N1. Tabel berikut merangkum subtipe yang disorot.
| Subtipe | Kelompok | Mengapa perlu diwaspadai |
|---|---|---|
| H5N1 (garis keturunan goose/Guangdong, termasuk klad 2.3.4.4b) | HPAI | Menyebar ke semua benua, menginfeksi makin banyak spesies mamalia, dan terus menimbulkan kasus sporadis pada manusia |
| H9N2 | LPAI | Endemik pada unggas; menjadi “donor” materi genetik bagi virus lain melalui reassortment (penataan ulang genetik) dan menjadi sumber infeksi manusia yang konsisten |
| H7N9 dan H7Nx lain | Bervariasi | Muncul tanpa pola yang dapat diprediksi, kadang dengan dampak berat pada manusia |
| H10N3, H10N8, H6Nx | Sporadis atau terbatas wilayah | Pernah menyebabkan penyakit pada manusia sehingga memperluas daftar virus berpotensi pandemi |
Sumber: diolah dari FAO et al. (2026).
Mengapa Kini Lebih Mendesak?
Virus H5 dari garis keturunan goose/Guangdong pertama kali muncul di Asia Tenggara pada 1996–1997. Sejak itu virus ini terus beradaptasi dan bertukar materi genetik hingga melahirkan klad 2.3.4.4b yang kini menyebar luas. Dalam beberapa tahun terakhir, virus H5 ditemukan pada rubah, cerpelai, anjing laut dan singa laut, sapi perah, hingga kucing rumahan. Kematian massal burung dan mamalia liar juga tercatat dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya (FAO et al., 2026; OFFLU, 2026).
Contoh paling mencolok adalah Amerika Serikat. Virus H5N1 klad 2.3.4.4b berpindah ke sapi perah di Texas pada Maret 2024 (Caserta et al., 2024). Sejak itu, negara tersebut mencatat 70 kasus pada manusia dengan satu kematian. Sebanyak 41 kasus berkaitan dengan paparan kawanan sapi perah dan 24 kasus dengan peternakan unggas serta kegiatan pemusnahan. Hingga kini belum ada bukti penularan antarmanusia, dan risiko bagi masyarakat umum dinilai rendah (CDC, 2026a).
Secara global, angka kumulatif memberi gambaran yang lebih suram. Sejak 2003 hingga 22 Januari 2026, WHO menerima laporan 993 kasus infeksi H5N1 pada manusia dari 25 negara. Sebanyak 477 di antaranya meninggal, sehingga angka kematian kasus sekitar 48% (WHO Western Pacific Region, 2026). Laporan terbaru menunjukkan kasus masih terus muncul. Antara Agustus 2025 dan Juni 2026 tercatat 12 kasus baru dari Bangladesh, Kamboja, dan India, tiga di antaranya meninggal. Tidak satu pun berkaitan dengan penularan antarmanusia (CDC, 2026b).
Indonesia: Pengalaman Panjang yang Tidak Boleh Dilupakan
Indonesia punya sejarah yang pahit dengan H5N1. Flu burung pada unggas ditemukan pada akhir 2003 dan dalam empat tahun menyebabkan kematian lebih dari 16 juta ekor unggas. Infeksi pada manusia pertama kali dilaporkan pada 2005 dan terakhir pada 2017. Dalam rentang itu Indonesia mencatat 200 kasus pada manusia dengan 168 kematian, jumlah kasus terbanyak kedua di dunia dengan angka kematian yang sangat tinggi (WHO, 2026).
Tidak adanya kasus manusia sejak 2017 bukan berarti virus sudah hilang. Penelitian filogeografi dari Universitas Airlangga menunjukkan bahwa virus ini telah menjadi endemik di seluruh kepulauan Indonesia selama dua dekade terakhir, dengan wabah unggas yang berulang (Universitas Airlangga, 2025). Pengendalian memang membuahkan hasil. Data Kementerian Pertanian menunjukkan kasus tahunan flu burung pada unggas turun dari 2.751 pada 2007 menjadi 476 pada 2018 (Ditjen PKH Kementan, 2019).
Klad baru juga sudah masuk. Pada awal 2023, klad 2.3.4.4b terdeteksi pada unggas di Kalimantan Selatan. Kementerian Kesehatan merespons dengan Surat Edaran Dirjen P2P tentang kewaspadaan KLB flu burung klad 2.3.4.4b dan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian serta kementerian yang mengurusi lingkungan hidup dan kehutanan. Surat edaran itu mewajibkan Puskesmas melaporkan setiap kasus suspek flu burung dalam waktu kurang dari 24 jam ke dinas kesehatan kabupaten/kota melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Dinas kesehatan kemudian meneruskan laporan ke PHEOC Ditjen P2P dalam batas waktu yang sama. (CNN Indonesia, 2023). Secara hukum, kerja lintas sektor ini berpijak pada Peraturan Presiden Nomor 30 Tahun 2011 tentang Pengendalian Zoonosis.
Siapa Mengerjakan Apa?
Kekuatan kerangka global ini ada pada pembagian peran yang saling melengkapi.
| Lembaga | Fokus utama dalam pengendalian flu burung |
|---|---|
| FAO | Deteksi dini dan pengendalian pada unggas, ternak, dan satwa liar; penguatan sistem peringatan dini, laboratorium, dan kesiapsiagaan darurat; transformasi rantai nilai unggas yang berkelanjutan |
| WHO | Aspek kesehatan masyarakat: surveilans pada manusia, penilaian risiko, deteksi laboratorium, pemilihan kandidat virus vaksin, komunikasi risiko, dan koordinasi jejaring melalui Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS) |
| WOAH | Standar internasional surveilans, diagnosis, vaksinasi hewan, dan perdagangan yang aman; pelaporan global; penguatan layanan veteriner; jejaring laboratorium rujukan dan OFFLU bersama FAO |
| CMS | Keahlian ekologi dan keanekaragaman hayati; perlindungan burung migran; memasukkan kesehatan ekosistem, perubahan habitat, dan faktor lingkungan ke dalam upaya pencegahan |
Sumber: diolah dari FAO et al. (2026).
Peran CMS patut diperhatikan. Burung migran sering dituding sebagai “pembawa virus”, padahal kawanan mereka juga menjadi korban kematian massal. Kerangka ini meminta respons yang melindungi satwa migran sekaligus menghindari tindakan yang keliru atau merusak ekosistem (CMS & FAO Scientific Task Force on Avian Influenza and Wild Birds, 2023; FAO et al., 2026).
Satu Tujuan, Lima Sasaran Strategis
Tujuan besar kerangka ini adalah memadukan langkah jangka pendek dan jangka panjang melalui pendekatan One Health. Hasil yang diharapkan: risiko dan dampak flu burung serta pandemi influenza berkurang, sementara kesehatan manusia, hewan, ekosistem, ketahanan pangan, dan mata pencaharian tetap terlindungi. Tujuan tersebut diturunkan menjadi lima sasaran strategis seperti pada diagram berikut.
Kelima sasaran itu dijalankan melalui tiga jalur: (1) kebijakan, advokasi, dan pembiayaan; (2) pengembangan organisasi, pelaksanaan, dan integrasi antarsektor; serta (3) data, bukti ilmiah, pendidikan, dan pertukaran pengetahuan. Kerangka ini menargetkan empat hasil utama:
- Tata kelola. Negara menjadikan flu burung dan pandemi influenza sebagai prioritas, dengan kebijakan dan kerangka hukum yang memungkinkan kerja lintas sektor.
- Pencegahan di hulu. Praktik berisiko tinggi berkurang, dan pendekatan One Health menjadi bagian dari sistem pertanian, pengelolaan satwa liar, dan pengelolaan lingkungan.
- Sistem informasi terpadu. Surveilans pada manusia, ternak, hewan peliharaan, dan satwa liar berjalan terkoordinasi, termasuk berbagi data dan sampel virus secara tepat waktu.
- Kapasitas dan pendanaan berkelanjutan. Laboratorium siap, tenaga kerja terlatih, strategi komunikasi risiko tersedia, dan rencana respons diuji secara berkala.
Risiko yang Diakui Terus Terang
Salah satu bagian yang jujur dalam dokumen ini adalah daftar risiko yang dapat menggagalkan pelaksanaannya (FAO et al., 2026). Beberapa terasa sangat dekat dengan kenyataan di Indonesia:
- Perhatian tersedot ke krisis lain. Wabah atau krisis kesehatan lain dapat mengalihkan dana dan tenaga dari kesiapsiagaan flu burung.
- Insentif ekonomi yang keliru. Peternak yang khawatir ternaknya dimusnahkan tanpa kompensasi yang layak cenderung menunda atau menyembunyikan laporan kematian unggas.
- Misinformasi dan kurangnya kepercayaan. Keduanya menghambat komunikasi risiko dan pelibatan masyarakat.
- Koordinasi yang terpecah. Sektor kesehatan manusia, peternakan, dan lingkungan di tingkat kabupaten sering bekerja dengan sistem data masing-masing.
- Evolusi virus yang lebih cepat daripada respons. Vaksin, antivirus, dan pemusnahan bisa tertinggal jika virus berubah dengan cepat.
- Komponen satwa liar paling lemah pendanaannya. Surveilans pada burung liar dan mamalia liar sering kekurangan sumber daya.
Dari Jenewa ke Puskesmas: Apa Artinya bagi Layanan Kesehatan Kita?
Kerangka ini ditulis di tingkat global, tetapi dampaknya baru terasa di tingkat nasional dan daerah. Di situlah pencegahan, deteksi, dan respons dijalankan dan dibiayai. Bagi fasilitas kesehatan tingkat pertama, ada beberapa pelajaran praktis.
Tanyakan riwayat paparan hewan. Pada pasien dengan infeksi saluran napas akut, pertanyaan singkat seperti “Apakah ada unggas atau hewan yang sakit atau mati mendadak di sekitar Anda dalam dua minggu terakhir?” dapat menjadi pembeda antara flu biasa dan kasus zoonosis. Pertanyaan ini penting terutama di sentra unggas seperti Blitar, Indramayu, dan Sidrap, serta di daerah penggembalaan itik di persawahan pantura.
Laporkan kasus suspek dalam 24 jam melalui SKDR, sesuai surat edaran Kemenkes, lalu minta dinas kesehatan menghubungi dinas yang membidangi peternakan. Di sisi kesehatan hewan, Kementerian Pertanian memiliki sistem informasi kesehatan hewan tersendiri. Pertemuan kedua jalur data ini di tingkat kabupaten adalah wujud paling konkret dari “sistem informasi terpadu” dalam kerangka global.
Jangan tunda antivirus. Pedoman klinis influenza WHO merekomendasikan oseltamivir sesegera mungkin untuk pasien yang dicurigai atau terbukti terinfeksi influenza zoonotik, tanpa menunggu konfirmasi laboratorium (WHO, 2024).
Lindungi petugas. Terapkan kewaspadaan standar, kontak, dan droplet. Gunakan kewaspadaan airborne saat melakukan tindakan yang menghasilkan aerosol.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
| Situasi | Yang sebaiknya dilakukan | Yang sebaiknya dihindari |
|---|---|---|
| Unggas mati mendadak dalam jumlah banyak | Segera lapor ke petugas kesehatan hewan, perangkat desa, atau Puskesmas | Menyembelih, menjual, atau membagikan unggas sakit |
| Menangani bangkai unggas | Gunakan sarung tangan, masker, dan sepatu bot; kubur atau musnahkan sesuai arahan petugas; cuci tangan dengan sabun | Menyentuh dengan tangan telanjang atau membuang bangkai ke sungai |
| Mengolah daging dan telur | Masak hingga matang sempurna dan pisahkan talenan mentah dari yang matang | Mengonsumsi telur setengah matang dari unggas yang sakit |
| Muncul demam atau batuk setelah kontak dengan unggas sakit | Segera periksa ke fasilitas kesehatan dan sebutkan riwayat kontak dengan unggas | Mengobati sendiri dan menunggu gejala memberat |
| Menemukan burung liar mati | Laporkan ke petugas kehutanan atau kesehatan hewan | Memungut atau memberikan bangkainya kepada hewan peliharaan |
Kucing perlu disebut secara khusus. Kerangka global mencatat infeksi H5 pada kucing rumahan (FAO et al., 2026). Kucing yang memakan bangkai burung atau unggas mentah yang terinfeksi dapat sakit berat. Menjauhkan kucing dari bangkai unggas melindungi hewan peliharaan sekaligus pemiliknya.
Penutup
Kembali ke Pak Darman di Blitar. Keselamatannya tidak hanya bergantung pada resep antivirus dr. Nadia. Ia juga bergantung pada seberapa cepat petugas peternakan memeriksa kandangnya, apakah tetangganya berhenti menyembelih ayam sakit, dan apakah ada sistem yang menghubungkan laporan Puskesmas dengan data kesehatan hewan di kabupaten yang sama. Kerangka global dari FAO, WHO, WOAH, dan CMS pada dasarnya menegaskan hal sederhana: virus tidak mengenal batas antara kandang, rawa, dan ruang periksa. Pengendaliannya pun tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat itu.
Catatan Transparansi
- Kasus pembuka (Pak Darman dan dr. Nadia di Blitar) adalah ilustrasi fiktif gabungan, bukan laporan kasus nyata.
- Angka kasus manusia bersumber dari WHO dan CDC dengan tanggal pemutakhiran yang berbeda-beda (Januari hingga Juni 2026). Angka terbaru dapat berubah dan sebaiknya dicek pada tabel kumulatif WHO yang diperbarui setiap bulan.
- Data penurunan kasus unggas (2007–2018) berasal dari rilis Kementerian Pertanian 2019. Data nasional yang lebih baru belum ditemukan dalam sumber terbuka yang terverifikasi.
- Informasi deteksi klad 2.3.4.4b di Kalimantan Selatan dan isi surat edaran Kemenkes 2023 dikutip melalui pemberitaan media nasional, bukan dari naskah surat edaran aslinya.
- Kerangka global ini bersifat tingkat tinggi. Dokumen tersebut tidak menetapkan mekanisme pemantauan dan belum dijabarkan menjadi kebijakan atau pedoman teknis nasional Indonesia. Istilah “Dari Jenewa ke Puskesmas” menggambarkan harapan penerapan, bukan program yang sudah berjalan.
- Indonesia kini termasuk dalam Kantor Regional WHO Pasifik Barat (WPRO), sehingga data regional Indonesia mengacu pada laporan WPRO.
Referensi
Caserta, L. C., Frye, E. A., Butt, S. L., Laverack, M., Nooruzzaman, M., Covaleda, L. M., Thompson, A. C., Koscielny, M. P., Cronk, B., Johnson, A., Kleinhenz, K., Edwards, E. E., Gomez, G., Hitchener, G., Martins, M., Kapczynski, D. R., Suarez, D. L., Alexander Morris, E. R., Hensley, T., … Diel, D. G. (2024). Spillover of highly pathogenic avian influenza H5N1 virus to dairy cattle. Nature, 634(8034), 669–676. https://doi.org/10.1038/s41586-024-07849-4
Centers for Disease Control and Prevention. (2026a). A(H5) bird flu: Current situation. https://www.cdc.gov/bird-flu/situation-summary/index.html
Centers for Disease Control and Prevention. (2026b, 25 Juni). Global summary of human cases of H5N1 bird flu from August 2025 to June 2026. https://www.cdc.gov/bird-flu/spotlights/global-summary-06262026.html
CMS & FAO Scientific Task Force on Avian Influenza and Wild Birds. (2023). Scientific Task Force on Avian Influenza and Wild Birds statement on: H5N1 high pathogenicity avian influenza in wild birds – Unprecedented conservation impacts and urgent needs. CMS & FAO. https://www.cms.int/publication/h5n1-high-pathogenicity-avian-influenza-wild-birds-unprecedented-conservation-impacts
CNN Indonesia. (2023, 27 Februari). Kemenkes waspadai infeksi flu burung ke manusia. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20230227102540-20-918231/kemenkes-waspadai-infeksi-flu-burung-ke-manusia
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. (2019). Waspadai mutasi virus flu burung, pasar unggas hidup diawasi. https://ditjenpkh.pertanian.go.id/berita/912-waspadai-mutasi-virus-flu-burung-pasar-unggas-hidup-diawasi
FAO & WOAH. (2025). Global strategy for the prevention and control of high pathogenicity avian influenza (2024–2033): Achieving sustainable, resilient poultry production systems. FAO & WOAH. https://doi.org/10.4060/cd3840en
FAO, WHO, WOAH, & CMS. (2026). Global framework to accelerate action on avian influenza. FAO. https://doi.org/10.4060/ce1712en
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Tetap waspada risiko penularan flu burung pada manusia. https://kemkes.go.id/id/tetap-waspada-risiko-penularan-flu-burung-pada-manusia
OFFLU ad-hoc group on global impact. (2026). Global overview of the spread and impact of H5 clade 2.3.4.4b high pathogenicity avian influenza virus in wildlife, 2020–2024. https://offlu.org/publications/2026_offlu-statement-iii/
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2011 tentang Pengendalian Zoonosis.
Universitas Airlangga. (2025, 25 September). Flu burung di Indonesia. https://unair.ac.id/flu-burung-di-indonesia/
WHO, FAO, WOAH, & UNEP. (2022). One Health joint plan of action (2022–2026): Working together for the health of humans, animals, plants and the environment. World Health Organization. https://iris.who.int/handle/10665/363518
World Health Organization. (2019). Global influenza strategy 2019–2030. https://iris.who.int/handle/10665/311184
World Health Organization. (2024). Clinical practice guidelines for influenza. https://www.who.int/publications/i/item/9789240097759
World Health Organization. (2026). Cumulative number of confirmed human cases for avian influenza A(H5N1) reported to WHO, 2003–2026. https://www.who.int/publications/m/item/cumulative-number-of-confirmed-human-cases-for-avian-influenza-a(h5n1)-reported-to-who–2003-2026–6-september-2026
World Health Organization Western Pacific Region. (2026). Avian influenza weekly update number 1033. https://cdn.who.int/media/docs/default-source/wpro—documents/emergency/surveillance/avian-influenza/ai_20260213.pdf





Tinggalkan Balasan