Ringkasan: Seorang bayi berusia sekitar empat pekan meninggal di Surabaya setelah diduga diberi telur mentah saat demam. Penyebab pastinya belum diumumkan, tetapi kasus ini mengingatkan tiga hal: bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi Salmonella, demam pada bayi muda adalah keadaan darurat, dan ASI saja sudah cukup hingga usia enam bulan.
Pada Minggu pagi, 11 Oktober 2026, pukul 07.10 WIB, seorang bayi perempuan meninggal dunia di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, setelah dirawat intensif selama beberapa hari. Menurut keterangan keluarga yang dikutip berbagai media, bayi itu sempat demam, lalu diduga diberi telur mentah oleh neneknya dengan harapan demamnya turun, tanpa sepengetahuan sang ibu. Kondisinya memburuk, ia sempat kejang, dan akhirnya dibawa ke rumah sakit (Kompas.com; Suara.com; Dialogmasa).
Satu hal perlu dinyatakan sejak awal: hingga tulisan ini disusun, belum ada keterangan medis resmi yang memastikan penyebab kematian bayi tersebut maupun hubungannya dengan telur mentah. Pihak RSUD Dr. Soetomo menyatakan penyebab pasti belum dapat diungkapkan, sedangkan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, berdasarkan komunikasi dengan rumah sakit, menyebut adanya dugaan infeksi saluran cerna (Pikiran Rakyat Surabaya). Usia bayi pun dilaporkan berbeda, 24 hari di sebagian media dan 28 hari di media lain. Karena itu, artikel ini tidak bermaksud memvonis siapa pun. Tujuannya menarik pelajaran yang berlaku apa pun hasil akhir pemeriksaannya.
Melalui akun Instagram resminya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan belasungkawa dan berharap, walau penyebabnya baru dugaan, kejadian ini menjadi pembelajaran bagi ayah, ibu, kakek, dan nenek lainnya. Dalam pernyataan resmi tertanggal 12 Oktober 2026, IDAI menegaskan bahwa telur mentah atau setengah matang berisiko membawa Salmonella, dan bahwa demam pada bayi baru lahir perlu penilaian medis, bukan ditangani dengan makanan atau ramuan (dikutip IDN Times).

Refleksi: niat baik yang bertemu informasi usang
Sulit membayangkan seorang nenek yang sengaja mencelakai cucunya. Hampir pasti ia bertindak dari kasih sayang dan dari pengetahuan yang ia terima dari generasi sebelumnya. Kebiasaan memberi telur, madu, atau ramuan tertentu pada bayi yang rewel atau demam diwariskan turun-temurun di banyak daerah, dan biasanya dilakukan dengan niat terbaik. Persoalannya bukan pada cinta, melainkan pada kenyataan bahwa tubuh bayi baru lahir bekerja dengan aturan yang berbeda dari tubuh orang dewasa.
Bayangkan situasi berikut (ilustrasi fiktif, bukan gambaran kasus di Surabaya). Pukul dua dini hari, bayi berusia tiga minggu di sebuah kelurahan di Makassar terasa hangat dan rewel. Sang ibu kelelahan dan baru terlelap, bidan tinggal cukup jauh, dan sang nenek teringat resep ibunya dahulu. Dalam keadaan itu, pilihan yang tampak “aman” dan “alami” terasa masuk akal. Padahal pilihan yang tepat hanya satu: membangunkan ibu, mengukur suhu, dan membawa bayi ke fasilitas kesehatan.
Mengapa bayi baru lahir begitu rentan?
WHO mencatat bahwa salmonelosis pada orang dewasa sehat umumnya ringan dan sembuh tanpa pengobatan khusus, tetapi dapat berat pada anak kecil, lansia, dan orang dengan kekebalan tubuh lemah. Pada anak, dehidrasi akibat muntah dan diare dapat menjadi berat dan mengancam nyawa (WHO). CDC pun menempatkan anak di bawah 5 tahun, terutama di bawah 1 tahun, dalam kelompok yang berisiko sakit berat (CDC). Pada bayi baru lahir, sistem kekebalan tubuh belum matang sehingga bakteri yang pada orang dewasa mungkin hanya menimbulkan diare dapat menembus dinding usus, masuk ke aliran darah, dan menyebar ke organ lain.
| Aspek | Orang dewasa sehat | Bayi baru lahir |
|---|---|---|
| Gejala | Diare, demam, kram perut; umumnya membaik dalam 2–7 hari | Sering tidak khas: demam atau suhu tidak stabil, lemas, malas menyusu, rewel, hingga kejang |
| Dehidrasi | Biasanya ringan | Dapat menjadi berat dan mengancam nyawa |
| Penyebaran ke darah atau otak | Jarang | Lebih mungkin terjadi; dapat berujung sepsis, syok, atau meningitis |
| Antibiotik | Umumnya tidak diberikan rutin | Termasuk kelompok yang dapat memerlukan antibiotik, atas keputusan dokter |
| Penanganan | Sering cukup di rumah dengan cairan | Perlu penilaian dokter segera, sering kali rawat inap |
Infografis IDAI mengingatkan bahwa salmonelosis pada bayi baru lahir tidak selalu tampil sebagai diare yang khas, dan komplikasinya dapat berupa sepsis, syok, atau meningitis, meski gambaran serupa juga dapat ditimbulkan oleh penyebab lain. Panduan NICE menambahkan bahwa pada bayi, tanda infeksi serius sering berupa menyusu buruk, aktivitas menurun, tangisan lemah atau melengking, napas cepat, dan ubun-ubun menonjol; sebagian bayi sakit berat justru tidak menunjukkan tanda klasik meningitis (NICE NG143).
Apa kata data klinis?
Data khusus bayi baru lahir di Indonesia masih terbatas, jadi kita meminjam gambaran dari negara lain dengan hati-hati. Sebuah tinjauan sepuluh tahun di Bangkok terhadap 229 anak usia 0–18 tahun dengan salmonelosis invasif menemukan demam pada 92% dan diare pada hanya 40% kasus. Bakteremia terisolasi tercatat pada 90%, bakteremia disertai meningitis pada 7,8%, dan 63% anak tidak memiliki penyakit penyerta yang tercatat (Punpanich dkk., 2012). Perlu diingat, subjeknya mencakup seluruh usia anak, bukan hanya bayi baru lahir. Di Blantyre, Malawi, surveilans 1998–2014 mencatat 392 kasus meningitis akibat Salmonella nontifoid, dan resistansi terhadap banyak antibiotik ditemukan pada sebagian besar isolat (Feasey dkk., 2015). WHO sendiri menekankan bahwa resistansi antimikroba pada Salmonella adalah masalah kesehatan global. Sebagai gambaran betapa infeksi ini sering tidak terdeteksi, CDC memperkirakan hanya 1 dari 30 infeksi Salmonella di Amerika Serikat yang terdiagnosis.
Demam pada bayi muda adalah keadaan darurat
Pedoman NICE menggolongkan bayi di bawah 3 bulan dengan suhu 38 °C atau lebih sebagai kelompok berisiko tinggi untuk penyakit serius. Pada bayi di bawah 1 bulan yang demam, penilaian di layanan spesialis mencakup pemeriksaan darah, biakan darah, pemeriksaan urin, pungsi lumbal bila tidak ada kontraindikasi, dan antibiotik suntik. Pedoman American Academy of Pediatrics (AAP) 2021 untuk bayi tampak sehat usia 8–60 hari dengan demam 38,0 °C atau lebih juga menyusun algoritma penilaian bertingkat menurut usia (Pantell dkk., 2021; ulasan Leazer, 2023). Alasannya sederhana: demam hanyalah tanda. Di baliknya bisa ada infeksi saluran kemih, pneumonia, sepsis, atau meningitis, dan hanya pemeriksaan yang dapat membedakannya. Makanan, ramuan, atau kompres tidak dapat menggantikan itu.
Satu tips praktis: pada bayi di bawah 4 minggu, NICE menganjurkan pengukuran suhu dengan termometer elektronik di ketiak, dan menyatakan termometer dahi jenis kimia tidak andal. Sampaikan juga kepada tenaga kesehatan kapan demam mulai muncul dan apa saja yang sudah diberikan, termasuk ramuan. Informasi yang jujur membantu dokter menilai bayi dengan tepat, dan tidak dimaksudkan untuk mencari siapa yang salah.
| Situasi | Tindakan |
|---|---|
| Bayi di bawah 3 bulan, suhu 38 °C atau lebih | Bawa ke IGD atau fasilitas kesehatan pada hari itu juga; jangan menunggu pagi |
| Kejang, sulit dibangunkan, kulit pucat atau kebiruan, napas cepat atau dada tertarik ke dalam, ubun-ubun menonjol | Keadaan gawat darurat: segera ke IGD terdekat atau hubungi layanan gawat darurat 119 bila tersedia di daerah Anda |
| Menolak menyusu, muntah terus-menerus, diare, popok basah berkurang jelas | Periksakan ke dokter secepatnya sambil terus menyusui |
| Bayi di atas 3 bulan demam tetapi aktif dan mau minum | Tetap konsultasikan ke tenaga kesehatan dan pantau tanda bahaya di atas |
Yang dapat dilakukan keluarga saat bayi demam
- Ukur suhu dengan termometer elektronik di ketiak, lalu catat jamnya.
- Bila bayi berusia di bawah 3 bulan dan suhunya 38 °C atau lebih, segera ke fasilitas kesehatan. Di daerah yang jauh dari rumah sakit, datangi Puskesmas atau bidan terdekat untuk penanganan awal dan rujukan.
- Teruskan menyusui. NICE menyebut ASI sebagai cairan yang paling tepat bagi bayi yang demam.
- Jangan memberi makanan, minuman, ramuan, atau obat penurun demam sebelum bayi dinilai tenaga kesehatan.
- Bawa catatan: kapan demam mulai, seberapa sering menyusu, dan apa yang sudah diberikan.
Telur untuk bayi: kapan boleh dan bagaimana aman
Telur sebenarnya sumber protein yang baik, dan IDAI menyatakan telur tidak perlu ditunda hingga bayi berusia 1 tahun semata-mata untuk mencegah alergi, kecuali ada pertimbangan dokter anak. Tinjauan European Food Safety Authority (EFSA, 2019) sejalan dengan hal itu. Kuncinya ada pada usia dan cara memasak. WHO dan UNICEF menganjurkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, tanpa tambahan makanan atau cairan lain, bahkan air putih, lalu makanan pendamping ASI (MPASI) mulai usia 6 bulan sambil meneruskan menyusui (WHO, 2026).
| Usia atau kelompok | Telur |
|---|---|
| 0–6 bulan | Tidak diperlukan. ASI saja (atau susu formula atas indikasi medis), tanpa air putih, jus, kaldu, atau makanan lain |
| Sekitar 6 bulan, saat mulai MPASI dan bayi siap makan | Boleh, dimasak hingga putih dan kuning telur matang, dengan tekstur sesuai kemampuan bayi |
| Anak di bawah 5 tahun, ibu hamil, lansia, orang dengan kekebalan lemah | Hindari telur mentah dan setengah matang; bila membuat hidangan yang tidak dimasak matang, gunakan telur pasteurisasi |
Beberapa kebiasaan dapur yang melindungi seluruh keluarga, sejalan dengan Lima Kunci Keamanan Pangan WHO: pilih telur yang tidak retak dan tidak kotor, simpan telur dengan benar, cuci tangan dan alat setelah menyentuh telur mentah, pisahkan bahan mentah dari makanan matang, masak hingga putih dan kuning mengeras, lalu segera sajikan. Telur yang tampak bersih dan utuh pun tetap dapat membawa bakteri, sehingga pemasakan hingga matang adalah benteng terakhir.
Pelajaran bagi kita semua
- Libatkan kakek dan nenek. Ajak mereka ke Posyandu, kelas ibu hamil, atau kunjungan kontrol, dan bacakan bersama Buku KIA. Pengetahuan baru lebih mudah diterima bila disampaikan sebagai ajakan, bukan koreksi.
- Pulang dari fasilitas kesehatan dengan tanda bahaya yang jelas. Edukasi singkat dengan bahasa sederhana, ditujukan kepada siapa pun yang ikut mengasuh bayi, dapat mengubah keputusan di tengah malam.
- Tunggu fakta sebelum menghakimi. Di media sosial, dugaan mudah berubah menjadi vonis. Sebuah keluarga sedang berduka, dan penyebab pasti belum diumumkan.
- Ingat satu kalimat. Bayi demam bukan untuk diobati dengan makanan; bayi demam adalah untuk diperiksakan.
Kepada keluarga bayi yang berpulang, kami menyampaikan belasungkawa yang tulus. Semoga kita yang membaca dapat mengubah duka ini menjadi kewaspadaan yang lembut, tanpa menyalahkan, dan sampai ke rumah-rumah yang paling membutuhkannya, dari Surabaya hingga Sorong. Bacaan terkait di blog ini: Keracunan Makanan: Gejala, Penyebab, dan Tata Laksana Berbasis Bukti dan Keracunan Makanan: Ancaman Nyata yang Masih Sering Diabaikan.
Catatan transparansi
- Kronologi kasus bersumber dari pemberitaan media pada 11–12 Oktober 2026 dan belum diverifikasi secara medis. Hubungan sebab-akibat antara telur mentah dan kematian bayi belum dipastikan.
- Pernyataan resmi IDAI tertanggal 12 Oktober 2026 dirujuk melalui kutipan IDN Times, bukan dari dokumen primernya. Infografis IDAI di Instagram merujuk pada Sumarmo dkk. (Paediatrica Indonesiana, 1982) dan Sharan & Kumar (Journal of Clinical Neonatology, 2013); kedua rujukan itu belum penulis baca langsung.
- Studi Bangkok dan Malawi mencakup anak dari berbagai usia atau populasi dengan konteks berbeda dan tidak dapat langsung digeneralisasi ke bayi baru lahir di Indonesia. Perkiraan 1 dari 30 infeksi terdiagnosis berasal dari data Amerika Serikat.
- Pedoman NICE dan AAP disusun untuk sistem layanan di Inggris dan Amerika Serikat; penerapannya di Indonesia mengikuti pedoman IDAI dan Kemenkes serta pertimbangan dokter yang menangani.
- Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan.
Referensi
- Nuruliar F. Kasus bayi 28 hari meninggal, IDAI ingatkan risiko telur mentah (memuat pernyataan IDAI 12 Oktober 2026). IDN Times; 12 Okt 2026. idntimes.com
- World Health Organization. Salmonella (non-typhoidal). Fact sheet; 20 Feb 2018. who.int
- Centers for Disease Control and Prevention. About Salmonella infection; 4 Okt 2024. cdc.gov
- World Health Organization. Infant and young child feeding. Fact sheet; 4 Agu 2026. who.int
- National Institute for Health and Care Excellence. Fever in under 5s: assessment and initial management (NG143). nice.org.uk
- Pantell RH, Roberts KB, Adams WG, dkk. Evaluation and management of well-appearing febrile infants 8 to 60 days old. Pediatrics. 2021;148(2):e2021052228. doi:10.1542/peds.2021-052228
- Leazer RC. Evaluation and management of young febrile infants: an overview of the new AAP guideline. Pediatr Rev. 2023;44(3):127–38. doi:10.1542/pir.2022-005624
- Punpanich W, Netsawang S, Thippated C. Invasive salmonellosis in urban Thai children: a ten-year review. Pediatr Infect Dis J. 2012;31(8):e105–10. doi:10.1097/INF.0b013e31825894b0
- Feasey NA, Masesa C, Jassi C, dkk. Three epidemics of invasive multidrug-resistant Salmonella bloodstream infection in Blantyre, Malawi, 1998–2014. Clin Infect Dis. 2015;61(Suppl 4):S363–71. doi:10.1093/cid/civ691
- EFSA Panel on Nutrition, Novel Foods and Food Allergens. Appropriate age range for introduction of complementary feeding into an infant’s diet. EFSA J. 2019;17(9):5780 (dirujuk melalui IDN Times). doi:10.2903/j.efsa.2019.5780
- Pemberitaan kasus: Kompas.com, Suara.com, Dialogmasa, Pikiran Rakyat Surabaya; 11–12 Okt 2026.





Tinggalkan Balasan