A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Melatih Insting dalam Mengenali Kasus Darurat di IGD

Salah satu tantangan terbesar bagi dokter yang bekerja di IGD adalah mengenali kasus darurat yang membutuhkan penanganan segera. Tidak semua pasien yang datang ke IGD memiliki kondisi kritis yang mengancam jiwa, tetapi ada juga yang bisa menunggu atau dirujuk ke poliklinik. Bagaimana cara membedakan antara kasus darurat dan non-darurat? Apa saja faktor-faktor yang harus diperhatikan? Bagaimana cara melatih insting dalam mengenali kasus darurat di IGD?

Kasus darurat adalah kasus yang memerlukan intervensi medis secepat mungkin untuk mencegah kematian atau kecacatan permanen. Beberapa contoh kasus darurat adalah serangan jantung, stroke, trauma berat, perdarahan hebat, syok, dan sepsis. Kasus non-darurat adalah kasus yang tidak mengancam jiwa atau fungsi organ vital, tetapi tetap memerlukan pemeriksaan dan pengobatan. Beberapa contoh kasus non-darurat adalah demam, batuk, sakit kepala, luka ringan, dan nyeri kronis.

Photo by Mikhail Nilov on Pexels.com

Untuk mengenali kasus darurat di IGD, dokter harus melakukan triase, yaitu proses penilaian awal untuk menentukan prioritas penanganan pasien berdasarkan tingkat keparahan kondisi mereka. Ada beberapa sistem triase yang digunakan di berbagai negara, seperti Canadian Triage and Acuity Scale (CTAS), Manchester Triage System (MTS), Emergency Severity Index (ESI), dan lain-lain. Sistem triase biasanya menggunakan skala warna atau angka untuk mengklasifikasikan pasien menjadi lima kategori, yaitu:

  • Resusitasi: pasien dengan kondisi kritis yang membutuhkan tindakan segera untuk menyelamatkan nyawa, seperti henti jantung atau henti nafas. Warna merah atau angka 1.
  • Darurat: pasien dengan kondisi serius yang membutuhkan penanganan dalam waktu 10-15 menit, seperti nyeri dada akut atau sesak nafas berat. Warna oranye atau angka 2.
  • Urgen: pasien dengan kondisi sedang yang membutuhkan penanganan dalam waktu 30-60 menit, seperti luka bakar luas atau patah tulang terbuka. Warna kuning atau angka 3.
  • Semi-urgen: pasien dengan kondisi ringan yang membutuhkan penanganan dalam waktu 1-2 jam, seperti infeksi saluran kemih atau luka jahitan. Warna hijau atau angka 4.
  • Non-urgen: pasien dengan kondisi stabil yang bisa menunggu lebih dari 2 jam untuk mendapatkan penanganan, seperti sakit gigi atau nyeri punggung. Warna biru atau angka 5.

Untuk melakukan triase, dokter harus mengumpulkan informasi penting tentang pasien, seperti identitas, riwayat penyakit, keluhan utama, tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, frekuensi pernapasan, saturasi oksigen), dan pemeriksaan fisik singkat. Dokter juga harus memperhatikan faktor-faktor lain yang bisa meningkatkan risiko kematian atau kecacatan pasien, seperti usia lanjut, penyakit kronis, kehamilan, riwayat alergi, penggunaan obat-obatan tertentu, dan sebagainya.

Melatih insting dalam mengenali kasus darurat di IGD tidak bisa dilakukan secara instan. Dokter harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup tentang berbagai macam penyakit dan kondisi medis yang bisa terjadi di IGD. Dokter juga harus memiliki pengalaman dan jam terbang yang banyak dalam menangani pasien-pasien di IGD. Selain itu, dokter harus selalu update dengan perkembangan ilmu kedokteran terbaru dan berdiskusi dengan rekan-rekan sejawat untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas pelayanan.

Melatih insting dalam mengenali kasus darurat di IGD juga membutuhkan sikap profesional dan etis dari dokter. Dokter harus selalu berempati dan berkomunikasi dengan baik dengan pasien dan keluarganya, serta menghormati hak dan kewajiban mereka. Dokter juga harus selalu berhati-hati dan teliti dalam melakukan pemeriksaan dan pengobatan, serta menghindari kesalahan medis yang bisa merugikan pasien. Dokter juga harus selalu siap menghadapi situasi yang tidak terduga dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada di IGD.

Melatih insting dalam mengenali kasus darurat di IGD adalah salah satu kunci keberhasilan seorang dokter dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien. Dengan insting yang terlatih, dokter bisa mengambil keputusan yang tepat dan cepat dalam menangani pasien-pasien di IGD, serta meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan mereka.

Artikel Baru Terbit

  • Mitos Kesehatan Jiwa yang Masih Dipercaya: Membedah Stigma di Balik Fakta
    Mitos seputar kesehatan jiwa—dari anggapan bahwa gangguan jiwa langka hingga stigma “gila” pada skizofrenia—masih membebani masyarakat Indonesia. Data SKI 2023 mengungkap kesenjangan akses pengobatan yang lebar dan praktik pemasungan yang bertahan. Artikel ini membedah sebelas mitos populer dengan bukti ilmiah dan konteks kebijakan kesehatan jiwa nasional.
  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca