Penemuan terbaru dari ilmuwan Kanada mengungkap bahwa ada “bahan bakar tersembunyi” dari bakteri usus yang diam-diam memperburuk kadar gula darah dan merusak hati. Namanya: D-laktat. Molekul ini bukan berasal dari makanan, melainkan dari mikroba di dalam usus—dan ternyata punya dampak besar terhadap metabolisme tubuh.
🔍 Apa Itu D-Laktat?
Selama ini kita mengenal L-laktat, produk alami dari otot saat beraktivitas. Tapi D-laktat adalah versi lain yang dihasilkan oleh bakteri usus. Dalam tubuh orang dengan obesitas, kadar D-laktat cenderung lebih tinggi. Molekul ini bisa masuk ke aliran darah dan memicu hati untuk memproduksi glukosa dan lemak berlebih, memperparah resistensi insulin dan penyakit liver.
🧪 Solusi: “Perangkap Usus” yang Cerdas
Tim peneliti dari McMaster University dan Université Laval menciptakan sebuah polimer biodegradable yang berfungsi sebagai “perangkap” D-laktat di dalam usus. Hasilnya luar biasa:
Penurunan kadar gula darah
Perbaikan resistensi insulin
Pengurangan peradangan dan fibrosis hati Dan semua itu terjadi tanpa perubahan diet atau penurunan berat badan pada tikus obesitas yang diuji.
💡 Mengapa Ini Penting?
Pendekatan ini membuka jalan baru dalam pengobatan diabetes tipe 2 dan fatty liver disease. Alih-alih menyerang hormon atau organ secara langsung, terapi ini mengintersepsi sumber bahan bakar mikroba sebelum sempat menimbulkan kerusakan.
“Ini adalah cabang baru dari siklus metabolik klasik,” kata Prof. Jonathan Schertzer, penulis utama studi tersebut. “Kami menemukan bahwa bakteri usus ikut ‘berbicara’ dalam pertukaran energi tubuh.”
🌱 Apa Selanjutnya?
Studi ini menunjukkan bahwa mikrobioma usus bukan sekadar pendukung pencernaan, tapi juga pemain utama dalam penyakit kronis. Dengan memahami dan mengatur interaksi mikroba dan metabolisme, kita bisa menciptakan terapi yang lebih aman dan efektif.
Schertzer, J. D., et al. (2025).Gut microbial D-lactate fuels hepatic glucose and lipid production in obesity. Cell Metabolism, 37(7), 1234–1249. https://doi.org/10.1016/j.cmet.2025.07.005
Pada 22 Oktober 2026, Direktur Jenderal WHO bertemu grup K-pop ENHYPEN di Seoul untuk merayakan kampanye donor darah bersama penggemar mereka. Artikel ini merangkum faktanya, membandingkannya dengan kondisi Indonesia, dan menimbang apa kata sains tentang cara mengubah ikrar menjadi donor rutin.
WHO, WMO, UNICEF, dan UNFPA merilis indikator prioritas pertama untuk memantau dampak panas pada ibu hamil, bayi baru lahir, dan anak. Artikel ini menguraikan empat ranah indikator, cara menganalisisnya bersama data suhu, dan penerapannya di fasilitas kesehatan Indonesia, lengkap dengan keterbatasan buktinya.
Ulasan pedoman kurikulum resistensi antimikroba WHO 2019: lima modul, enam kurikulum profesi, serta langkah menerapkannya di rumah sakit, puskesmas, dan institusi pendidikan di Indonesia.
Artikel ini membahas pentingnya integrasi Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) dengan Program Manajemen Kualitas Perawatan (PMKP) untuk mengurangi risiko jatuh dan kesalahan pemberian obat. Ditekankan bahwa SKP harus menjadi bagian dari siklus mutu rumah sakit melalui validasi dan analisis data yang ketat, bukan sekadar kepatuhan administratif.
Di Polindes yang kecil, Raka mendengar detak jantung yang belum lahir, dan batuk yang tak mau dijelaskan. Malamnya, Oma berbicara kepada seseorang di luar jendela.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan