A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bayangkan seorang perempuan berusia 34 tahun yang telah bertahun-tahun menjalani pemeriksaan demi pemeriksaan. Perutnya kerap kembung dan diare, tubuhnya mudah lelah, rambutnya rontok, dan kadar hemoglobin terus merosot meski sudah mengonsumsi suplemen zat besi. Ia sudah didiagnosis sindrom iritasi usus, kekurangan gizi, hingga depresi. Namun kondisinya tak kunjung membaik — sampai akhirnya seorang dokter memeriksa antibodi darahnya dan merujuknya untuk biopsi usus dua belas jari. Hasilnya: coeliac disease (CD), kondisi yang selama ini tersembunyi di balik keluhan yang tampak biasa.

Coeliac disease adalah salah satu contoh paling nyata bagaimana sebuah penyakit dapat bertahun-tahun salah didiagnosis karena wajahnya yang begitu beragam. Bagi banyak pasien dan bahkan tenaga kesehatan, nama ini masih terasa asing — padahal kondisi ini memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, termasuk kemungkinan besar di Indonesia.


Bukan Sekadar Alergi, Tapi Autoimun

Coeliac disease adalah gangguan autoimun yang dipicu oleh respons imun usus halus terhadap gluten, protein yang ditemukan dalam gandum, jelai, dan gandum hitam. Meski secara tradisional dipandang sebagai kondisi gastrointestinal yang berkaitan dengan malabsorpsi, kini kondisi ini lebih tepat diklasifikasikan sebagai gangguan autoimun dengan manifestasi sistemik.

Penting untuk membedakan CD dari intoleransi gluten biasa atau non-celiac gluten sensitivity (NCGS). CD adalah gangguan autoimun sistemik yang dipicu oleh peptida gluten, yang memicu respons imun melalui sel-T, menyebabkan atrofi vilus dan inflamasi kronis pada usus halus. Dengan kata lain, pada CD, sistem imun secara aktif menyerang jaringan usus sendiri — bukan sekadar reaksi tidak nyaman terhadap makanan.


Angka dan Epidemiologi: Lebih Banyak dari yang Kita Kira

Prevalensi coeliac disease, bergantung pada populasi yang diteliti dan metodologi yang digunakan, diperkirakan berkisar antara 0,75 hingga 1,6% dari populasi umum. Secara global, angka ini mencerminkan ratusan juta individu yang berpotensi terdampak.

Di Asia, gambarannya lebih kompleks. Di negara-negara Asia seperti Jepang, Taiwan, Korea, dan Indonesia, frekuensi alel HLA predisposisi tergolong rendah, di bawah 5%. Rendahnya frekuensi genetik ini, dikombinasikan dengan konsumsi gandum yang secara historis lebih sedikit, membuat angka kejadian CD di Asia Tenggara diperkirakan lebih rendah dibandingkan Eropa. Namun, gambaran ini sedang berubah.

Saat ini belum tersedia data prevalensi CD pada populasi dewasa berisiko tinggi di Indonesia, meskipun terdapat tren peningkatan konsumsi makanan mengandung gluten. Sebuah studi dari RSCM Jakarta menemukan bahwa dari 283 pasien gastroenterologi berisiko tinggi, sebanyak delapan pasien (2,83%) terkonfirmasi secara serologis menderita CD. Angka ini mungkin tampak kecil, tetapi penting diingat bahwa data tersebut berasal dari populasi yang sudah bergejala — bukan populasi umum. Dengan meningkatnya konsumsi roti, mie instan, dan produk berbasis tepung terigu di Indonesia, pertanyaan tentang seberapa besar angka sebenarnya semakin mendesak untuk dijawab.


Apa yang Terjadi di Dalam Usus?

Coeliac disease adalah gangguan herediter yang disebabkan oleh sensitivitas terhadap fraksi gliadin dari gluten. Pada individu yang secara genetik rentan, sel-T yang sensitif terhadap gluten diaktifkan ketika epitop peptida turunan gluten dipresentasikan. Respons inflamasi ini menyebabkan atrofi vilus mukosa yang khas pada usus halus.

Vilus — tonjolan-tonjolan halus seperti rambut yang melapisi dinding usus — berfungsi menyerap nutrisi. Ketika vilus ini mengalami atrofi akibat serangan imun, permukaan absorpsi usus berkurang drastis. Akibatnya, berbagai zat gizi penting — zat besi, kalsium, folat, vitamin larut lemak — tidak terserap dengan baik. Inilah mengapa CD bukan hanya masalah perut, melainkan masalah seluruh tubuh.

Secara genetik, hampir seluruh penderita CD membawa varian alel HLA-DQ2 atau HLA-DQ8. Namun, memiliki gen ini saja tidak cukup untuk mengembangkan penyakit — faktor lingkungan dan pemicu lain turut berperan, yang menjadikan patogenesis CD tetap menjadi area penelitian aktif.


Wajah yang Berubah: Gejala Klasik hingga Gejala Tersembunyi

Selama beberapa dekade, CD identik dengan gambaran klasik: diare kronis, perut buncit, dan gagal tumbuh pada anak-anak. Kini pandangan tersebut sudah ketinggalan zaman.

Presentasi klinis coeliac disease sangat heterogen. Sebagian pasien datang dengan gejala gastrointestinal atau manifestasi ekstraintestinal, sementara pasien lain bisa sama sekali tanpa gejala dan baru terdeteksi melalui skrining.

Orang dewasa lebih cenderung memiliki gejala gastrointestinal yang lebih ringan, termasuk diare, sembelit, nyeri perut, dan kembung, dan juga dapat mengalami rasa lelah, osteoporosis, masalah neurologis, komplikasi reproduksi, atau peningkatan enzim hati yang abnormal.

Manifestasi ekstraintestinal ini seringkali menjadi “tiket masuk” pasien ke klinik yang sama sekali tidak terkait gastroenterologi:

  • Anemia defisiensi besi yang tidak responsif terhadap suplemen oral — akibat gangguan absorpsi zat besi di duodenum
  • Osteoporosis dini — karena malabsorpsi kalsium dan vitamin D
  • Gangguan neurologis — termasuk gluten ataxia dan neuropati perifer
  • Dermatitis herpetiformis — ruam kulit melepuh yang gatal, manifestasi kutaneus khas CD
  • Infertilitas dan gangguan menstruasi pada perempuan
  • Peningkatan enzim hati tanpa sebab jelas
  • Gangguan mood, kecemasan, dan depresi

Mekanisme yang terlibat dalam patogenesis manifestasi ekstraintestinal CD tidak hanya berkaitan dengan kerusakan mukosa usus dan malabsorpsi yang terkait, tetapi juga dengan inflamasi sistemik. Artinya, meskipun seorang pasien tidak merasakan gejala perut yang mencolok, proses inflamasi di tingkat sistemik tetap berjalan dan merusak organ-organ lain secara perlahan.


Diagnosis: Mengapa Sering Terlambat?

Deteksi antibodi spesifik penyakit, seperti anti-tissue transglutaminase (tTG)–imunoglobulin A (IgA) atau “tTG-IgA” dan antibodi anti-endomisial, merupakan langkah awal yang kunci dalam mendiagnosis dugaan coeliac disease.

Diagnosis memerlukan biopsi usus halus dari bagian kedua duodenum. Temuan histopatologi meliputi kurangnya atau memendeknya vilus (villous atrophy), peningkatan sel intraepitelial, dan hiperplasia kriptus.

Panduan terbaru dari American College of Gastroenterology (ACG) 2023 menekankan pentingnya deteksi dini, kepatuhan diet, dan pemantauan jangka panjang. Sementara itu, panduan European Society for the Study of Coeliac Disease (ESsCD) 2025 bahkan membuka kemungkinan diagnosis tanpa biopsi pada kelompok pasien tertentu dengan titer antibodi yang sangat tinggi.

Sayangnya, keterlambatan diagnosis tetap menjadi masalah global. Rata-rata, seorang pasien dewasa baru didiagnosis CD bertahun-tahun setelah gejala pertama muncul — sebuah “kesenjangan diagnostik” yang berdampak nyata pada kualitas hidup dan risiko komplikasi jangka panjang.


Tatalaksana: Diet Bebas Gluten dan Harapan di Cakrawala

Hingga saat ini, tata laksana yang ada terdiri dari kepatuhan ketat terhadap diet bebas gluten (gluten-free diet/GFD) seumur hidup, yang dianggap aman dan efektif pada sebagian besar pasien. Tidak ada obat yang diminum, tidak ada prosedur operasi — hanya satu instruksi: hindari gandum, jelai, dan gandum hitam selamanya.

Kedengarannya sederhana, tetapi kenyataannya jauh lebih rumit. Gluten bersembunyi di banyak produk — kecap, saus, suplemen, bahkan beberapa obat-obatan. Kontaminasi silang di dapur pun bisa memicu kerusakan mukosa. Hingga 30–40% pasien mengalami gejala persisten dan/atau kerusakan mukosa yang terus berlanjut meski dilaporkan telah mematuhi diet bebas gluten.

Inilah yang mendorong penelitian intensif terhadap terapi alternatif. Berbagai pendekatan terapi non-diet yang sedang dievaluasi mencakup intervensi intraluminal berupa enzim pendegradasi gluten dan agen penyerap gluten, pendekatan yang menargetkan enzim tissue transglutaminase 2, induksi toleransi imun spesifik antigen, atau modulasi sitokin.

Beberapa kandidat yang paling menjanjikan antara lain:

  • ZED-1227, inhibitor tissue transglutaminase 2 yang menunjukkan hasil positif pada uji fase 2
  • KAN-101, terapi toleransi imun yang bertujuan “mengajarkan” sistem imun untuk tidak bereaksi terhadap gluten
  • Amlitelimab, antibodi monoklonal untuk kasus CD refrakter
  • TAK-062 dan TAK-227, yang menargetkan pencernaan gluten dan kaskade imun

Meskipun berbagai upaya signifikan telah dilakukan, belum ada terapi yang berhasil menyelesaikan uji klinis fase III. Studi ke depan kemungkinan akan berfokus pada penggunaan obat tambahan bersamaan dengan GFD, dengan ALV003 dan ZED-1227 saat ini menjadi pilihan terapeutik yang paling menjanjikan.


Komplikasi: Ketika Diagnosis Terlambat, Tubuh Membayar Harga

Komplikasi coeliac disease mencakup defisiensi nutrisi, osteoporosis, peningkatan risiko infeksi viral dan pneumonia, dan, dalam kasus yang jarang, risiko keganasan. Salah satu komplikasi ganas yang paling ditakutkan adalah limfoma sel-T terkait enteropati (enteropathy-associated T-cell lymphoma/EATL), meski kasusnya tergolong langka.

Celiac crisis — kondisi kegawatdaruratan berupa diare berat disertai gangguan elektrolit dan metabolik — merupakan presentasi ekstrem yang jarang terjadi namun mengancam jiwa dan memerlukan penanganan intensif segera.


Penutup: Membaca Gejala dengan Lebih Cermat

Coeliac disease mengajarkan kita sebuah pelajaran penting dalam kedokteran modern: tidak semua penyakit hadir dengan wajah yang mudah dikenali. Di balik keluhan anemia yang berulang, diare kronis yang tak kunjung sembuh, atau kelelahan yang dianggap “stres biasa”, mungkin tersembunyi proses autoimun yang sudah berjalan bertahun-tahun.

Di Indonesia, dengan pola konsumsi pangan berbasis gluten yang terus meningkat, kesadaran terhadap kondisi ini menjadi semakin relevan. Bukan untuk menciptakan kecemasan atau mendorong tren “bebas gluten” tanpa indikasi medis — sebab bagi individu sehat, gluten bukan musuh. Tetapi bagi mereka yang membawa predisposisi genetik dan terus bergulat dengan gejala yang membingungkan, sebuah pemeriksaan darah sederhana bisa menjadi titik balik yang mengubah kualitas hidup sepenuhnya.


Referensi

Al-Toma, A., Volta, U., Auricchio, R., Castillejo, G., Sanders, D. S., Cellier, C., Mulder, C. J., & Lundin, K. E. A. (2025). European Society for the Study of Coeliac Disease 2025 updated guidelines on the diagnosis and management of coeliac disease in adults. Part 1: Diagnostic approach. United European Gastroenterology Journal. https://doi.org/10.1002/ueg2.70119

Baldi, S., Ruiz-Carnicer, Á., Comino, I., Sousa, C., & Amedei, A. (2025). Editorial: Gluten-related disorders: Pathogenesis, diagnosis, and treatment. Frontiers in Nutrition, 12, 1585381. https://doi.org/10.3389/fnut.2025.1585381

D’Heedene, M., Vanuytsel, T., & Wauters, L. (2024). Celiac disease: Hope for new treatments beyond a gluten-free diet. Clinical Nutrition, 43(6), 1240–1249. https://doi.org/10.1016/j.clnu.2024.04.014

Kamil, A., Simadibrata, M., & Syam, A. F. (2024). Prevalence and factors associated with celiac disease in high-risk patients with functional gastrointestinal disorders. PLOS ONE, 19(6), e0297605. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0297605

Kounatidis, D., Pavlou, A., Evangelopoulos, A., Psaroudaki, M., Kotsi, E., Petrakou, I., Paraskevopoulos, P., Stamatopoulos, V., Mylona, E., & Vallianou, N. G. (2025). Rethinking celiac disease management: Treatment approaches beyond the gluten-free diet. Biomedicines, 14(1), 29. https://doi.org/10.3390/biomedicines14010029

Makharia, G. K., & Ahuja, V. (2021). Emergence of celiac disease and gluten-related disorders in Asia. Journal of Neurogastroenterology and Motility, 27(3). https://doi.org/10.5056/jnm21100 (PMC8266496)

Massironi, S., Franchina, M., Elvevi, A., & Barisani, D. (2024). Beyond the gluten-free diet: Innovations in celiac disease therapeutics. World Journal of Gastroenterology, 30(38), 4194–4210. https://doi.org/10.3748/wjg.v30.i38.4194

Parzanese, I., Qehajaj, D., Patrinicola, F., Aralica, M., Chiriva-Internati, M., Stifter, S., Elli, L., & Grizzi, F. (2023). Celiac disease: From pathophysiology to treatment. World Journal of Gastrointestinal Pathophysiology, 8(2), 27–38.

Rubio-Tapia, A., Hill, I. D., Semrad, C., Kelly, C. P., Greer, K. B., Limketkai, B. N., & Lebwohl, B. (2023). American College of Gastroenterology guidelines update: Diagnosis and management of celiac disease. American Journal of Gastroenterology, 118(1), 59–76. https://doi.org/10.14309/ajg.0000000000002075

Scalvini, D., Scarcella, C., Mantica, G., Bartolotta, E., Maimaris, S., Fazzino, E., Biagi, F., & Schiepatti, A. (2025). Beyond gluten-free diet: A critical perspective on phase 2 trials on non-dietary pharmacological therapies for coeliac disease. Frontiers in Nutrition, 11, 1501817. https://doi.org/10.3389/fnut.2024.1501817

Sousa, C., Ruiz-Carnicer, Á., & Comino, I. (2025). Celiac disease — Narrative review on progress in celiac disease. Foods, 14(6), 959. https://doi.org/10.3390/foods14060959

Zingone, F., & Marsilio, I. (2024). Extraintestinal complications of celiac disease: Treatment considerations. Expert Review of Gastroenterology & Hepatology, 18(12), 761–777. https://doi.org/10.1080/17474124.2024.2443053


Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi kesehatan masyarakat dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

  1. … reposted this!

  2. … reposted this!

  3. … reposted this!

  4. … reposted this!

  5. … reposted this!

  6. … reposted this!

  7. … reposted this!

  8. … reposted this!

  9. … reposted this!

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca