Seorang perempuan paruh baya datang ke unit gawat darurat dengan keluhan nyeri dada yang membuatnya panik. Dadanya terasa seperti ditekan, makin nyeri saat mengambil napas dalam atau bergerak. Dalam pikirannya — dan mungkin dalam pikiran keluarganya yang mengantar — hanya ada satu kata: serangan jantung. Setelah serangkaian pemeriksaan, dokter menyampaikan diagnosis yang terdengar asing: costochondritis. Bukan jantung. Bukan paru-paru. Melainkan peradangan pada sambungan tulang rawan di dinding dada.
Kisah seperti ini bukan pengecualian. Ia adalah kisah sehari-hari di ruang praktik dokter dan unit gawat darurat di seluruh dunia.
Apa Itu Costochondritis?
Costochondritis, yang juga dikenal sebagai costosternal syndrome atau anterior chest wall syndrome, adalah kondisi peradangan pada tulang rawan yang menghubungkan tulang iga dengan tulang dada (sternum). Kondisi ini tergolong jinak (benign), namun sering menimbulkan kecemasan besar karena gejalanya yang menyerupai kondisi kardiovaskular serius.
Costochondritis berbeda dari Tietze syndrome — meskipun keduanya sering disamakan. Pada costochondritis, tidak ditemukan pembengkakan, perubahan kulit, maupun kelainan pada pemeriksaan pencitraan atau penanda inflamasi di laboratorium. Perbedaan ini penting secara klinis, meski secara awam keduanya terasa serupa.
Seberapa Sering Kondisi Ini Terjadi?
Angka kejadiannya lebih umum dari yang banyak orang kira. Costochondritis diperkirakan terjadi pada 4% hingga 50% pasien yang datang dengan keluhan nyeri dada. Dalam satu penelitian di unit gawat darurat, costochondritis menjadi diagnosis pada 30% dari 122 pasien yang datang dengan nyeri dada yang bukan disebabkan oleh keganasan, demam, atau trauma. Studi lain menemukan bahwa 45% dari 1.300 kunjungan gawat darurat dengan keluhan nyeri dada memiliki penyebab muskuloskeletal.
Costochondritis paling sering menyerang orang dewasa berusia 40 hingga 50 tahun, dengan sedikit dominasi pada perempuan. Menariknya, kondisi muskuloskeletal dinding dada justru merupakan penyebab nyeri dada yang paling umum di layanan kesehatan primer — melebihi penyebab kardiovaskular.
Apa yang Terjadi di Dalam Tubuh?
Costochondral junction — tempat pertemuan tulang rawan iga dengan tulang dada — tersusun dari tulang rawan hialin (hyaline cartilage) yang rentan mengalami peradangan. Ketika peradangan terjadi di titik-titik ini, muncullah rasa nyeri yang dapat diprovokasi oleh gerakan.
Mekanisme patofisiologi costochondritis belum sepenuhnya dipahami. Kondisi ini dapat dipicu oleh aktivitas fisik berat pada ekstremitas atas, batuk berulang, atau aktivitas yang berat. Sendi yang paling sering terlibat adalah persendian iga ke-2 hingga ke-5, meskipun persendian mana pun dapat terkena.
Adapun penyebabnya beragam: selain bersifat idiopatik (tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi), costochondritis juga dapat timbul akibat infeksi, trauma berulang, seronegative spondyloarthropathy, tumor toraks, penggunaan obat intravena, dan gangguan reumatologis.

Bagaimana Mengenali Gejalanya?
Gejala utama costochondritis adalah nyeri dinding dada bagian depan dengan intensitas yang bervariasi — bisa terasa tajam, seperti tekanan, atau seperti nyeri yang dalam (aching). Nyeri ini biasanya terlokalisasi di daerah parasternal, umumnya di persendian iga kedua hingga kelima, dan umumnya tidak disertai panas, kemerahan, maupun pembengkakan di area tersebut.
Gejala ini memburuk saat bernapas dalam, batuk, atau melakukan aktivitas fisik. Nyeri biasanya dapat direproduksi — artinya, dapat dipancing kembali — saat dokter menekan area persendian yang terdampak. Kemampuan mereproduksi nyeri melalui palpasi inilah yang menjadi ciri khas diagnostik kondisi ini.
Mengapa Sering Dikira Serangan Jantung?
Inilah bahayanya. Costochondritis dapat menyerupai infark miokard, pneumonia, herpes zoster, dan berbagai gangguan sistemik yang melibatkan nyeri dinding dada atau punggung. Lokasi nyeri yang berada di dada anterior kiri, ditambah provokasi oleh napas dan aktivitas, sangat mudah memicu kecemasan tentang jantung — baik pada pasien maupun pada klinisi yang kurang waspada.
Yang lebih mengkhawatirkan, penyakit arteri koroner ditemukan pada 3 hingga 6 persen orang dewasa yang datang dengan nyeri dada dan nyeri tekan saat dilakukan palpasi dinding dada. Artinya, nyeri tekan pada dinding dada tidak serta-merta menyingkirkan penyakit jantung. Evaluasi yang cermat tetap diperlukan sebelum menegakkan diagnosis costochondritis.
Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosisnya?
Diagnosis costochondritis bersifat klinis — ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, bukan dari temuan pencitraan atau laboratorium. Dokter akan mencari adanya nyeri tekan yang dapat direproduksi pada area parasternal melalui palpasi, serta mengevaluasi manuver provokasi tertentu.
Foto rontgen dada dan elektrokardiogram (ECG) direkomendasikan untuk semua pasien dewasa yang datang dengan keluhan nyeri dada, guna menyingkirkan penyebab yang lebih serius. Pemeriksaan laboratorium inflamasi — seperti C-reactive protein (CRP) atau laju endap darah — biasanya normal pada costochondritis murni, dan hasilnya lebih berguna untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti artritis inflamatoris atau infeksi.
Apa Pilihan Pengobatannya?
Kabar baiknya, sebagian besar pasien akan mengalami resolusi gejala yang lengkap dalam beberapa minggu dengan terapi konservatif.
Pilihan tatalaksana yang tersedia — meskipun bukti berkualitas tinggi masih terbatas — mencakup kompres hangat lokal, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) oral maupun topikal, plester lidocaine, krim capsaicin, fisioterapi, dan akupunktur. Pada kasus yang tidak merespons terapi konservatif, injeksi kortikosteroid dapat menjadi pilihan.
Modifikasi aktivitas juga berperan penting: menghindari gerakan yang memprovokasi nyeri, memperbaiki postur tubuh, serta melakukan peregangan dada secara bertahap. Edukasi kepada pasien bahwa kondisi ini bersifat jinak dan self-limiting merupakan bagian tak terpisahkan dari tatalaksana, mengingat kecemasan yang sering menyertai gejala.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Meskipun costochondritis bersifat jinak, nyeri dada tidak pernah boleh didiagnosis sendiri. Segera cari pertolongan medis bila nyeri dada disertai sesak napas, keringat dingin, nyeri yang menjalar ke lengan atau rahang, jantung berdebar, atau demam — karena tanda-tanda ini dapat mengindikasikan kondisi yang mengancam jiwa seperti serangan jantung, emboli paru, atau diseksi aorta.
Penyebab nyeri dada akut yang mengancam jiwa — seperti sindrom koroner akut, emboli paru, dan kondisi serius lainnya — harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum menyimpulkan bahwa nyeri bersumber dari dinding dada.
Pesan Penutup
Costochondritis adalah pengingat bahwa tubuh manusia kompleks dan gejala yang terdengar serius tidak selalu berujung pada diagnosis yang menakutkan. Namun di sisi lain, ia juga pengingat bahwa nyeri dada — dalam bentuk apa pun — layak mendapatkan evaluasi medis yang serius dan sistematis. Mengenali kondisi ini bukan hanya soal menenangkan pasien, tetapi juga soal memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya tersembunyi di balik nyeri yang terasa “biasa.”
Referensi
Mott, T., Jones, G., & Roman, K. (2021). Costochondritis: Rapid evidence review. American Family Physician, 104(1), 73–78. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34264599/
Schumann, J. A., Sood, T., & Parente, J. J. (2024, April 20). Costochondritis. In StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532931/
Waggoner, R., & Needleman, J. P. (2024). Costochondritis. Pediatrics in Review, 45(9), 543–545. https://doi.org/10.1542/pir.2023-006141
Wise, C. M., & Disla, E. (2009). Costochondritis: Diagnosis and treatment. American Family Physician, 80(6), 617–620. https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2009/0915/p617.html
California Correctional Health Care Services. (2024). Acute chest pain care guide. https://cchcs.ca.gov/wp-content/uploads/sites/60/AcuteChestPainCareGuide.pdf




Tinggalkan Balasan