Seorang pasien laki-laki berusia 58 tahun datang ke IGD dengan demam tinggi, takipnea, dan gambaran infiltrat pada foto toraks. DPJP segera memulai antibiotik empiris spektrum luas sembari mengambil sampel darah untuk kultur. Namun di rumah sakit tipe C tanpa laboratorium mikrobiologi mandiri, sampel itu harus dikirim ke laboratorium rujukan berjarak dua kabupaten. Hari ketiga, pasien membaik secara klinis, tetapi hasil kultur baru akan tiba pada hari kelima atau keenam. Haruskah DPJP menunggu, atau adakah cara sahih untuk memutuskan lebih awal berdasarkan angka laboratorium yang tersedia hari itu juga?
Pertanyaan ini adalah kelanjutan langsung dari pembahasan pada artikel “Tantangan Kritis Penatagunaan Antimikroba (PGA) di Rumah Sakit dengan Sumber Daya Terbatas: Mengatasi Hambatan Jeda Waktu Kultur”, yang menyinggung optimalisasi biomarker klinis sebagai salah satu dari empat strategi taktis mengatasi jeda waktu kultur. Artikel kali ini adalah deep-dive atas satu poin tersebut: bagaimana sebenarnya high-sensitivity C-reactive protein (hs-CRP) dan prokalsitonin (procalcitonin/PCT) dapat—dan tidak dapat—menggantikan peran kultur mikrobiologi dalam siklus Penatagunaan Antimikroba (PGA).
Dasar Biologis Singkat: Mengapa Dua Biomarker Ini yang Dipilih
hs-CRP adalah protein fase akut yang diproduksi hati sebagai respons terhadap interleukin-6, meningkat pada hampir semua proses inflamasi—baik infeksi bakteri, infeksi virus, trauma, maupun penyakit autoimun. Prokalsitonin, sebaliknya, adalah prekursor hormon kalsitonin yang pada kondisi fisiologis normal disekresi terutama oleh sel C tiroid dalam kadar sangat rendah, tetapi meningkat tajam ketika terjadi infeksi bakteri sistemik akibat induksi sitokin proinflamasi dan endotoksin bakteri terhadap jaringan ekstratiroid di seluruh tubuh. Perbedaan jalur biologis inilah yang mendasari klaim bahwa PCT relatif lebih spesifik terhadap infeksi bakteri dibandingkan hs-CRP.
Kekuatan Kedua Biomarker dalam Alur PGA
hs-CRP: Murah, Cepat, dan Terjangkau untuk Fasyankes Kecil
Kekuatan utama hs-CRP terletak pada aksesibilitas. Uji ini murah, dapat dikerjakan dengan alat point-of-care sederhana, dan hasilnya tersedia dalam hitungan menit tanpa memerlukan reagen mahal atau alat analisis otomatis kelas atas. Sebuah uji klinis acak terkontrol di layanan kesehatan primer Vietnam menunjukkan bahwa pengujian hs-CRP di titik layanan berhasil mengurangi penggunaan antibiotik pada infeksi saluran pernapasan akut derajat ringan tanpa mengorbankan pemulihan pasien (Do et al., 2016). Panduan internasional terbaru bahkan merekomendasikan agar pengujian hs-CRP di titik layanan dipromosikan secara lebih luas untuk membantu identifikasi pasien dewasa dengan gejala infeksi saluran pernapasan bawah yang benar-benar memerlukan antibiotik (Van Hecke et al., 2023).
Untuk RS tipe C/D atau klinik tanpa laboratorium mikrobiologi, hs-CRP dapat menjadi entry point yang realistis: tren penurunan hs-CRP dari hari ke-0 ke hari ke-3 memberikan sinyal objektif bahwa peradangan sedang mereda, mendukung keputusan de-eskalasi atau penghentian terapi tanpa harus menunggu kultur.
Prokalsitonin: Kinetika Lebih Cepat dan Lebih Spesifik terhadap Bakteri
PCT memiliki keunggulan kinetik: kadarnya mulai meningkat 2–4 jam setelah rangsangan infeksi bakteri dan mencapai puncak dalam 12–24 jam, jauh lebih cepat dibanding CRP yang baru memuncak pada 36–50 jam. Bukti dari analisis data pasien individual terhadap 26 uji klinis acak menunjukkan bahwa PCT dapat mendukung keputusan memulai antibiotik pada pasien risiko rendah maupun menentukan durasi terapi pada pasien risiko tinggi seperti pneumonia (Schuetz et al., 2018). Pada populasi kritis, terapi berpandu PCT pada pasien ICU kritis dikaitkan dengan penurunan mortalitas 28 hari dan pemendekan durasi terapi antibiotik, sebagaimana ditunjukkan studi multisenter MOSES (Schuetz et al., 2019). Nilai ambang penurunan >80% dari kadar awal pada hari keempat sering dipakai sebagai penanda respons terapi yang baik.
Yang relevan bagi konteks Indonesia, sekelompok pakar kawasan Asia Pasifik telah mengadaptasi algoritma konsensus Berlin menjadi algoritma yang lebih sesuai untuk kondisi regional—mempertimbangkan pola penyakit infeksi, keterbatasan sumber daya, dan standar pelayanan klinis yang berbeda dari Eropa dan Amerika Serikat (Lee et al., 2020). Ini menjadi acuan yang lebih tepat untuk diadaptasi Tim PRA rumah sakit daerah dibanding algoritma Barat murni.
Kelemahan dan Jebakan Interpretasi yang Wajib Diwaspadai
hs-CRP: Nonspesifik dan Rentan Perancu
Kelemahan fundamental hs-CRP adalah ketidakspesifikannya. Peningkatan hs-CRP terjadi pula pada infeksi virus, penyakit autoimun, keganasan, trauma jaringan, dan bahkan stres fisiologis pasca-operasi. Peningkatan hs-CRP yang cepat dapat mengindikasikan peradangan dan kerusakan jaringan secara umum, tidak spesifik terhadap infeksi bakteri, sebagaimana ditunjukkan pada penelitian mengenai respons stres perioperatif. Artinya, pasien pascabedah, pasien dengan penyakit reumatologis aktif, atau pasien dengan keganasan berisiko tinggi mengalami positif palsu bila hs-CRP dipakai tunggal sebagai penanda infeksi bakteri.
Prokalsitonin: Tidak Sepenuhnya Konsisten pada Pasien Kritis, dan Berbiaya Lebih Tinggi
Meskipun secara teori lebih spesifik, bukti efikasi PCT pada populasi kritis ternyata tidak seragam. Tinjauan sistematis dan meta-analisis jaringan terbaru tentang penghentian antimikroba berpandu PCT atau CRP pada pasien sepsis kritis menyimpulkan bahwa manfaat kedua biomarker terhadap luaran klinis keras (mortalitas, lama rawat) masih bervariasi antarpopulasi dan derajat keparahan penyakit (Kubo et al., 2024). Tinjauan lain bahkan menemukan bahwa manfaat penurunan mortalitas jangka pendek tidak konsisten pada pasien dengan skor keparahan penyakit (SOFA) yang sangat tinggi—kelompok yang justru paling membutuhkan kepastian klinis. Selain itu, PCT juga dapat meningkat pada kondisi non-infeksi berat seperti trauma mayor, luka bakar luas, pankreatitis akut, dan pembedahan besar, sehingga interpretasinya tetap memerlukan konteks klinis menyeluruh, bukan angka tunggal. Dari sisi operasional, biaya reagen PCT jauh lebih mahal dibanding hs-CRP dan alat pemeriksaannya belum tentu tersedia di seluruh laboratorium rumah sakit tipe C/D—sebuah kendala yang justru bersinggungan langsung dengan alasan mengapa rumah sakit tersebut tidak memiliki laboratorium mikrobiologi sejak awal.
Menyusun Alur PGA Berbasis Biomarker: Kerangka Praktis
Berdasarkan prinsip algoritma konsensus internasional yang telah diadaptasi untuk kawasan Asia Pasifik (Lee et al., 2020; Schuetz et al., 2019), Tim PRA dapat menyusun alur praktis sebagai berikut:
- Hari ke-0 (baseline): Ambil sampel kultur sebelum pemberian antibiotik empiris (langkah ini tetap wajib, terlepas dari ketersediaan biomarker), kemudian ukur hs-CRP dan/atau PCT bersamaan dengan penilaian keparahan klinis (misalnya qSOFA atau NEWS2).
- Hari ke-2 hingga ke-3 (evaluasi tren): Ukur ulang biomarker. Penurunan hs-CRP >50% atau PCT >80% dari nilai awal, disertai perbaikan klinis (demam turun, hemodinamik stabil, laju napas membaik), menjadi dasar yang cukup kuat untuk IV-to-PO switch atau bahkan penghentian terapi—meski hasil kultur definitif belum tiba.
- Dokumentasi keputusan: Setiap keputusan berbasis biomarker wajib dicatat dalam rekam medis dengan menyebutkan nilai baseline, nilai kontrol, dan alasan klinis penyerta, bukan sekadar angka laboratorium semata.
- Kultur tetap dilanjutkan sebagai konfirmasi: Begitu hasil kultur rujukan tiba, hasil tersebut tetap dipakai untuk verifikasi retrospektif dan—yang tidak kalah penting—sebagai kontribusi data surveilans kuman lokal (antibiogram) rumah sakit, terlepas dari apakah hasilnya mengubah keputusan klinis yang sudah diambil.
Batas Krusial: Kapan Kultur Tidak Bisa Digantikan Biomarker
Ini adalah bagian yang paling penting untuk ditegaskan kepada DPJP dan Tim PRA, karena penyalahgunaan biomarker sebagai pengganti mutlak kultur berpotensi membahayakan pasien dan justru mempercepat resistensi. Pedoman IDSA/SHEA tentang program penatagunaan antimikroba secara tegas menempatkan diagnostik mikrobiologi sebagai unsur inti program stewardship yang harus terus diperkuat, bukan digantikan (Barlam et al., 2016). Situasi berikut tetap memerlukan kultur dan tidak boleh diputuskan hanya dengan hs-CRP dan/atau PCT:
- Sepsis berat dan syok septik. Identifikasi definitif patogen dan hasil uji kepekaan antimikroba (AST) tetap diperlukan untuk de-eskalasi yang aman; biomarker hanya memandu arah tren, bukan memastikan pilihan antibiotik spektrum sempit yang tepat sasaran.
- Kecurigaan bakteremia atau endokarditis infektif. Diagnosis dan durasi terapi pada infeksi endovaskular sangat bergantung pada identifikasi organisme dan kultur ulang untuk memastikan sterilisasi darah—sesuatu yang tidak dapat direpresentasikan oleh kadar hs-CRP atau PCT.
- Infeksi terkait implan atau perangkat prostetik (misalnya infeksi sendi buatan, kateter vena sentral, atau perangkat jantung). Biofilm bakteri pada permukaan implan sering tidak memicu respons inflamasi sistemik yang proporsional, sehingga biomarker dapat memberikan gambaran normal meski infeksi aktif tetap ada.
- Kegagalan terapi empiris atau perburukan klinis, meskipun tren biomarker tampak membaik. Diskrepansi antara data laboratorium dan kondisi klinis pasien harus selalu dimenangkan oleh penilaian klinis langsung, dan pada titik ini kultur ulang (termasuk kultur dari sumber infeksi baru yang dicurigai) menjadi wajib.
- Kecurigaan organisme multiresisten (MDRO) atau riwayat infeksi resisten sebelumnya, di mana pilihan antibiotik empiris berisiko tidak adekuat tanpa data sensitivitas aktual.
- Kebutuhan surveilans dan penyusunan antibiogram institusi. Bahkan bila keputusan klinis individual sudah diambil berdasarkan biomarker, kultur tetap harus diselesaikan dan datanya dilaporkan ke Tim PRA sebagai bahan penyusunan Panduan Penggunaan Antibiotik (PPAB) berbasis peta kuman lokal—kebutuhan yang bersifat epidemiologis, bukan sekadar keperluan satu pasien.
Pertimbangan Tata Kelola bagi DPJP dan Tim PRA
Agar pendekatan berbasis biomarker tidak menjadi celah defensif yang justru melemahkan disiplin PGA, beberapa hal perlu menjadi kesepakatan tertulis di tingkat rumah sakit:
- Regulasi internal yang eksplisit. Ambang nilai (cut-off) penurunan hs-CRP/PCT yang dianggap cukup untuk mendukung keputusan de-eskalasi atau penghentian terapi sebaiknya dituangkan dalam Panduan Praktik Klinis (PPK) atau Peraturan Direktur terkait PPRA, sejalan dengan amanat Permenkes Nomor 8 Tahun 2015 dan Pedoman Penatagunaan Antimikroba Kemenkes (2021), agar tidak menjadi kebijakan yang berbeda-beda antar-DPJP secara ad hoc.
- Keterlibatan apoteker klinis dan Tim PRA dalam setiap keputusan berbasis biomarker, terutama untuk antibiotik golongan Watch dan Reserve menurut klasifikasi AWaRe (WHO, 2019), agar keputusan tidak diambil sepihak oleh DPJP tanpa telaah bersama.
- Edukasi berkelanjutan bahwa biomarker adalah alat bantu keputusan (decision support), bukan pengganti penilaian klinis holistik maupun kultur mikrobiologi sebagai baku emas diagnostik infeksi.
- Evaluasi berkala terhadap kesesuaian antara keputusan berbasis biomarker dan hasil kultur yang tiba belakangan, sebagai bagian dari audit mutu FORKKIT (Forum Kajian Kasus Infeksi Terintegrasi), untuk memastikan strategi ini benar-benar aman diterapkan di konteks kasus rumah sakit masing-masing.
Kesimpulan
hs-CRP dan prokalsitonin memberi Tim PRA dan DPJP alat bantu yang sah secara ilmiah untuk menjembatani jeda waktu kultur di rumah sakit tanpa laboratorium mikrobiologi mandiri—tetapi keduanya adalah jembatan sementara, bukan pengganti permanen. Kekuatan aksesibilitas dan kecepatan hasilnya harus selalu diimbangi kesadaran akan keterbatasan spesifisitas dan konteks klinis penyerta. Pada kasus sepsis berat, infeksi terkait implan, kegagalan terapi, atau kecurigaan MDRO, kultur tetap menjadi elemen yang tidak tergantikan—baik untuk keselamatan pasien individual maupun untuk membangun data epidemiologi resistensi yang menjadi fondasi jangka panjang program PPRA rumah sakit.
Catatan transparansi: Artikel ini disusun berdasarkan literatur ilmiah internasional terkini mengenai penatagunaan antimikroba berbasis biomarker, termasuk konsensus pakar kawasan Asia Pasifik yang secara eksplisit mempertimbangkan keterbatasan sumber daya di kawasan ini. Nilai ambang (cut-off) yang disebutkan dalam artikel bersifat rujukan literatur umum, bukan rekomendasi baku yang berlaku universal untuk semua kondisi klinis atau semua fasilitas kesehatan Indonesia. Data epidemiologi spesifik Indonesia mengenai efektivitas strategi ini pada populasi lokal masih terbatas, sehingga adaptasi cut-off dan alur kerja tetap harus disesuaikan dengan kondisi, sumber daya, dan kebijakan lokal masing-masing rumah sakit, serta dikaji ulang oleh Tim PRA dan komite medik setempat. Artikel ini bertujuan edukatif dan tidak menggantikan penilaian klinis langsung terhadap pasien.
Ringkasan: Artikel ini membahas bagaimana hs-CRP dan prokalsitonin dapat menjembatani jeda waktu kultur pada penatagunaan antimikroba di rumah sakit tanpa laboratorium mikrobiologi mandiri. Kekuatan, kelemahan, algoritma praktis, serta batas krusial di mana kultur tetap wajib—seperti sepsis berat, infeksi implan, dan kecurigaan MDRO—diuraikan sebagai panduan bagi DPJP dan Tim PRA.
Daftar Referensi
Barlam, T. F., Cosgrove, S. E., Abbo, L. M., MacDougall, C., Schuetz, A. N., Septimus, E. J., Srinivasan, A., Dellit, T. H., Falck-Ytter, Y. T., Fishman, N. O., Hamilton, C. W., Jenkins, T. C., Lipsett, P. A., Malani, P. N., May, L. S., Moran, G. J., Neuhauser, M. M., Newland, J. G., Ohl, C. A., … Trivedi, K. K. (2016). Implementing an antibiotic stewardship program: guidelines by the Infectious Diseases Society of America and the Society for Healthcare Epidemiology of America. Clinical Infectious Diseases, 62(10), e51–e77. https://doi.org/10.1093/cid/ciw118
Do, N. T., Ta, N. T., Tran, N. T., Than, H. M., Vu, B. T., Hoang, L. B., van Doorn, H. R., Vu, D. T., Cals, J. W., Chandna, A., Lubell, Y., Nadjm, B., Thwaites, G., Wolbers, M., Nguyen, K. V., & Wertheim, H. F. (2016). Point-of-care C-reactive protein testing to reduce inappropriate use of antibiotics for non-severe acute respiratory infections in Vietnamese primary health care: a randomised controlled trial. The Lancet Global Health, 4(9), e633–e641. https://doi.org/10.1016/S2214-109X(16)30142-5
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit. Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Pedoman Penatagunaan Antimikroba (PGA) di Rumah Sakit. Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI.
Kiya, G. T., Asefa, E. T., Abebe, G., & Mekonnen, Z. (2024). Procalcitonin guided antibiotic stewardship. Biomarker Insights, 19, 1–12. https://doi.org/10.1177/11772719241298197
Kubo, K., Sakuraya, M., Sugimoto, H., et al. (2024). Benefits and harms of procalcitonin- or C-reactive protein-guided antimicrobial discontinuation in critically ill adults with sepsis: a systematic review and network meta-analysis. Critical Care Medicine. Advance online publication.
Lee, C. C., Kwa, A. L. H., Apisarnthanarak, A., Feng, J. Y., Gluck, E. H., Ito, A., Kim, H. B., Lee, M. S. Y., Liu, Y. C., Malczynski, M., Nishi, I., Suwanpimolkul, G., Tang, H. J., Yong, M. K., Bellomo, R., & Schuetz, P. (2020). Procalcitonin (PCT)-guided antibiotic stewardship in Asia-Pacific countries: adaptation based on an expert consensus meeting. Clinical Chemistry and Laboratory Medicine, 58(12), 1983–1991. https://doi.org/10.1515/cclm-2019-1122
Schuetz, P., Beishuizen, A., Broyles, M., Ferrer, R., Gavazzi, G., Gluck, E. H., González Del Castillo, J., Jensen, J. U., Kanizsai, P. L., Kwa, A. L. H., Krueger, S., Luyt, C. E., Oppert, M., Plebani, M., Shlyapnikov, S. A., Toccafondi, G., Townsend, J., Welte, T., & Saeed, K. (2019). Procalcitonin (PCT)-guided antibiotic stewardship: an international experts consensus on optimized clinical use. Clinical Chemistry and Laboratory Medicine, 57(9), 1308–1318. https://doi.org/10.1515/cclm-2018-1181
Schuetz, P., Wirz, Y., Sager, R., Christ-Crain, M., Stolz, D., Tamm, M., Bouadma, L., Luyt, C. E., Wolff, M., Chastre, J., Tubach, F., Kristoffersen, K. B., Wei, L., Burkhardt, O., Welte, T., Schroeder, S., Nobre, V., Tejera, A., Bhatnagar, N., … Mueller, B. (2018). Effect of procalcitonin-guided antibiotic treatment on mortality in acute respiratory infections: a patient level meta-analysis. The Lancet Infectious Diseases, 18(1), 95–107. https://doi.org/10.1016/S1473-3099(17)30592-3
Van Hecke, O., Bjerrum, L., Gentile, I., Hopstaken, R., Melbye, H., Plate, A., Verbakel, J. Y., Llor, C., & Staiano, A. (2023). Guidance on C-reactive protein point-of-care testing and complementary strategies to improve antibiotic prescribing for adults with lower respiratory tract infections in primary care. Frontiers in Medicine, 10, 1166742. https://doi.org/10.3389/fmed.2023.1166742
World Health Organization. (2019). The WHO AWaRe (Access, Watch, Reserve) antibiotic book. WHO.





Tinggalkan Balasan