Perlemakan hati metabolik, kini dikenal sebagai MASLD, menjadi masalah kesehatan yang berkembang pesat di Indonesia dengan prevalensi mencapai 30%. Modifikasi gaya hidup, terutama pola makan, tetap menjadi tata laksana utama, meski rekomendasi umumnya berfokus pada pola makan secara umum.
Uji klinis POMOSANO menemukan bahwa konsumsi 200 gram tomat mentah dan 50 gram saus tomat setiap hari selama enam minggu dapat menurunkan lemak hati secara signifikan pada penderita MASLD. Penurunan ini terjadi tanpa perubahan berat badan yang berarti, menunjukkan potensi efek langsung dari komponen bioaktif dalam tomat. Namun, studi ini masih bersifat awal dan memerlukan penelitian lebih lanjut dengan skala yang lebih besar.
Seorang laki-laki berusia 56 tahun datang ke poli penyakit dalam sebuah rumah sakit di Sragen untuk kontrol rutin. Hasil USG abdomen enam bulan lalu menunjukkan perlemakan hati derajat sedang, dan kadar SGPT-nya sedikit di atas normal. Berat badannya stabil, ia sudah rutin jalan pagi, tetapi angka lemak di hatinya belum juga turun signifikan. “Dok, selain olahraga dan turun berat badan, apa ada makanan tertentu yang benar-benar terbukti membantu?” tanyanya. Pertanyaan semacam ini semakin sering muncul di ruang praktik, terutama sejak perlemakan hati metabolik menjadi salah satu masalah kesehatan tidak menular yang paling cepat berkembang di dunia — termasuk di Indonesia.
Jawaban yang selama ini diberikan biasanya berkutat pada pola makan secara umum: kurangi gula, kurangi lemak jenuh, perbanyak sayur dan buah. Namun sebuah uji klinis teracak terkontrol (randomized controlled trial/RCT) yang baru dipublikasikan bulan Juli 2026 mencoba menjawab pertanyaan yang lebih spesifik: apakah satu jenis makanan tunggal — tomat — punya efek yang bisa diukur pada lemak hati?
Mengenal MASLD, “Nama Baru” untuk Perlemakan Hati Metabolik
Istilah medis untuk kondisi ini kini disebut Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD), pembaruan dari istilah lama Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) yang disepakati komunitas hepatologi global sejak 2022 (Méndez-Sánchez et al., 2022). MASLD ditandai penumpukan lemak berlebih di sel hati disertai minimal satu faktor risiko kardiometabolik, seperti obesitas, hipertensi, atau resistensi insulin.
Di Indonesia, gambaran bebannya cukup mengkhawatirkan. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi obesitas pada penduduk dewasa di atas 18 tahun mencapai 23,4% (Kementerian Kesehatan RI, 2026), sementara studi-studi klinis lokal memperkirakan prevalensi perlemakan hati non-alkoholik di populasi Indonesia berkisar 30% (Amarapurkar et al., dikutip dalam Adha & Nasution, 2023). Kementerian Kesehatan sendiri, bersama mitra internasional, memperingati Global Fatty Liver Day 2026 dengan kampanye “Act Now” untuk mendorong deteksi dini, karena kondisi ini kerap berkembang diam-diam tanpa gejala jelas sebelum berlanjut menjadi peradangan hati (MASH), fibrosis, sirosis, bahkan kanker hati (Kementerian Kesehatan RI, 2026).
Tata laksana utama MASLD hingga saat ini tetap modifikasi gaya hidup, dan diet ala Mediterania secara konsisten terbukti menurunkan lemak hati serta memperbaiki profil metabolik (Kawaguchi et al., 2021; Zeng et al., 2024). Namun sebagian besar rekomendasi nutrisi berfokus pada pola makan secara keseluruhan dan penurunan berat badan, bukan pada kontribusi makanan tunggal secara spesifik — celah pengetahuan inilah yang coba diisi oleh studi POMOSANO.
Studi POMOSANO: Tomat Mentah dan Saus Tomat Setiap Hari, Selama Enam Minggu
Tim peneliti dari National Institute of Gastroenterology di Bari, Italia, merancang uji klinis teracak bernama POMOSANO (ClinicalTrials.gov NCT06389851), diterbitkan dalam jurnal Nutrients (Tatoli et al., 2026). Studi ini melibatkan 79 orang dewasa berusia 18–65 tahun dengan diagnosis MASLD terkonfirmasi (indeks massa tubuh/IMT ≤ 30 kg/m²), yang dibagi secara acak menjadi dua kelompok:
- Kelompok intervensi (n=42): mengonsumsi 200 gram tomat mentah dan 50 gram saus tomat setiap hari.
- Kelompok kontrol (n=37): menjalani diet bebas tomat.
Intervensi berlangsung selama enam minggu. Lemak hati diukur menggunakan controlled attenuation parameter (CAP) dari alat FibroScan®, metode non-invasif yang mengukur derajat perlemakan hati melalui gelombang ultrasonik. Peserta dengan konsumsi alkohol berisiko, IMT di atas 30, atau penyebab penyakit hati kronis lain (seperti hepatitis viral atau penyakit hati autoimun) dikeluarkan dari studi, sehingga hasilnya benar-benar mencerminkan efek diet, bukan faktor perancu lain.
Hasil: Penurunan Lemak Hati Lebih Besar pada Kelompok Tomat
Setelah enam minggu, nilai CAP menurun di kedua kelompok — namun penurunan pada kelompok tomat jauh lebih besar. Kelompok kontrol mengalami penurunan median CAP sebesar −18,00 dB/m, sedangkan kelompok tomat turun −35,00 dB/m (Tatoli et al., 2026). Setelah model statistik disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, dan IMT, interaksi antara kelompok perlakuan dan waktu tetap bermakna secara statistik (β = −26,63; interval kepercayaan 95% −44,00 hingga −9,25; p = 0,0030), menunjukkan efek tomat yang konsisten meski faktor perancu utama sudah dikendalikan.
Yang menarik, efek ini terjadi tanpa perubahan berat badan, lingkar pinggang, atau komposisi tubuh yang bermakna antar kelompok (Tatoli et al., 2026). Artinya, penurunan lemak hati tampaknya bukan sekadar efek samping dari penurunan berat badan, melainkan efek langsung dari komponen bioaktif dalam tomat itu sendiri. Di sisi lain, parameter lain seperti kekakuan hati (liver stiffness), indeks fibrosis FIB-4, profil lipid, enzim hati, dan penanda inflamasi tidak menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok — sehingga temuan ini perlu dilihat sebagai perbaikan pada lemak hati semata, bukan perbaikan menyeluruh pada seluruh aspek MASLD.
Mengapa Tomat Bisa Berpengaruh pada Lemak Hati?
Tomat adalah komponen khas diet Mediterania dan sumber utama karotenoid, terutama likopen, pigmen yang memberi warna merah pada tomat sekaligus memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi (Barros et al., 2012; Burton-Freeman & Sesso, 2014). Beberapa mekanisme biologis yang diduga berperan meliputi:
- Modulasi metabolit likopen. Pada studi hewan, metabolit likopen yang disebut apo-10′-lycopenoic acid terbukti meningkatkan aktivitas sirtuin 1 (SIRT1), enzim kunci pengatur metabolisme lemak dan respons inflamasi di hati (Chung et al., 2012).
- Aktivasi jalur SIRT1-AMPK. Jalur ini dikenal sebagai target potensial untuk tata laksana perlemakan hati (Tian et al., 2016).
- Peningkatan adiponektin, hormon yang berkorelasi terbalik dengan derajat perlemakan hati dan dapat mengaktifkan reseptor PPARα yang mengatur homeostasis lemak (Bajaj et al., 2004; Larter & Farrell, 2006).
- Efek antiinflamasi sistemik. Konsumsi jus tomat pada individu dengan berat badan berlebih terbukti menurunkan penanda inflamasi sistemik (Ghavipour et al., 2013).
Menariknya, desain POMOSANO sengaja menggabungkan tomat mentah dan saus tomat. Proses pengolahan panas meningkatkan bioavailabilitas likopen melalui perubahan bentuk trans menjadi cis yang lebih mudah diserap tubuh, sementara tomat mentah menyediakan mikronutrien dan fitokimia yang sensitif panas (Shi & Le Maguer, 2000; Tatoli et al., 2026). Karena likopen bersifat larut lemak, penyerapannya juga meningkat bila dikonsumsi bersama sumber lemak sehat seperti minyak zaitun — kombinasi yang lazim ditemukan dalam masakan Mediterania (Przybylska & Tokarczyk, 2022).
Relevansi bagi Pembaca di Indonesia
Tomat adalah bahan pangan yang mudah didapat dan relatif terjangkau di pasar tradisional maupun swalayan Indonesia, sehingga hasil studi ini punya potensi aplikasi praktis. Beberapa poin yang perlu digarisbawahi bagi pembaca dengan risiko atau diagnosis MASLD:
- Bukan pengganti tata laksana utama. Diet dan olahraga tetap menjadi fondasi tata laksana MASLD sesuai pedoman EASL-EASD-EASO (2024). Tomat berpotensi menjadi strategi tambahan, bukan pengganti.
- Dosis dalam studi: 200 gram tomat mentah (setara 1–2 buah tomat ukuran sedang) plus 50 gram saus tomat per hari — jumlah yang realistis untuk diintegrasikan ke menu harian, misalnya dalam sayur asem, sambal tomat, atau lalapan.
- Konteks program nasional. Anjuran perbanyak konsumsi sayur dan buah sejalan dengan pilar GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) yang sudah lama digaungkan Kemenkes, sehingga rekomendasi ini mudah diintegrasikan ke edukasi pasien di layanan primer maupun program Prolanis bagi peserta JKN dengan risiko metabolik.
Catatan Transparansi
Beberapa hal penting untuk dipahami pembaca terkait kekuatan dan batasan bukti ini:
- Studi POMOSANO adalah RCT eksploratif dengan jumlah sampel relatif kecil (79 peserta) dan durasi pendek (6 minggu). Penulis studi sendiri secara eksplisit menyebutkan besar sampel dihitung secara pragmatis, bukan berdasarkan estimasi efek yang sudah teruji sebelumnya, sehingga temuan ini bersifat hypothesis-generating — menghasilkan hipotesis awal yang perlu dikonfirmasi lewat penelitian lebih besar dan lebih panjang (Tatoli et al., 2026).
- Perbaikan hanya terlihat jelas pada parameter CAP (lemak hati); tidak ada perbaikan bermakna pada kekakuan hati, indeks fibrosis, atau sebagian besar penanda metabolik/biokimia. Artikel ini tidak bermaksud menyiratkan tomat “menyembuhkan” MASLD secara menyeluruh.
- Peserta studi terbatas pada rentang usia 18–65 tahun dengan IMT ≤ 30 kg/m², mayoritas laki-laki, dan berbasis di Italia dengan pola makan serta jenis tomat tertentu (budi daya hidroponik tersertifikasi). Generalisasi hasil ke populasi Indonesia dengan variasi genetik, pola makan, dan jenis tomat lokal yang berbeda perlu dilakukan dengan hati-hati.
- Kadar likopen darah peserta tidak diukur langsung dalam studi ini, sehingga mekanisme biologis yang dijelaskan pada bagian sebelumnya sebagian besar diinterpretasikan dari studi eksperimental terpisah (pada hewan atau sel), bukan dibuktikan langsung dalam RCT POMOSANO itu sendiri.
- Data prevalensi MASLD/NAFLD Indonesia yang dikutip (30%) berasal dari studi observasional era sebelumnya dan mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan kriteria diagnostik MASLD terbaru; pembaca disarankan merujuk data epidemiologi nasional terbaru bila tersedia.
Ringkasan: Uji klinis POMOSANO (Tatoli et al., 2026) menemukan konsumsi 200 g tomat mentah dan 50 g saus tomat setiap hari selama 6 minggu menurunkan lemak hati (CAP) secara bermakna pada penderita MASLD, tanpa perubahan berat badan signifikan. Temuan awal ini menjanjikan sebagai strategi diet tambahan, namun masih memerlukan konfirmasi pada studi berskala lebih besar dan durasi lebih panjang.
Daftar Pustaka
Bajaj, M., Suraamornkul, S., Piper, P., Harides, L. J., Glass, L., Cersosimo, E., Pratipanawatr, T., Miyazaki, Y., & DeFronzo, R. A. (2004). Decreased plasma adiponectin concentrations are closely related to hepatic fat content and hepatic insulin resistance in pioglitazone-treated type 2 diabetic patients. Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, 89(1), 200–206. https://doi.org/10.1210/jc.2003-031315
Barros, L., Dueñas, M., Pinela, J., Carvalho, A. M., Buelga, S., & Ferreira, I. C. F. R. (2012). Characterization and quantification of phenolic compounds in four tomato (Lycopersicon esculentum L.) farmers’ varieties in northeastern Portugal homegardens. Plant Foods for Human Nutrition, 67(3), 229–234. https://doi.org/10.1007/s11130-012-0307-z
Burton-Freeman, B., & Sesso, H. D. (2014). Whole food versus supplement: Comparing the clinical evidence of tomato intake and lycopene supplementation on cardiovascular risk factors. Advances in Nutrition, 5(5), 457–485. https://doi.org/10.3945/an.114.005231
Chung, J., Koo, K., Lian, F., Hu, K. Q., Ernst, H., & Wang, X. D. (2012). Apo-10′-lycopenoic acid, a lycopene metabolite, increases sirtuin 1 mRNA and protein levels and decreases hepatic fat accumulation in ob/ob mice. Journal of Nutrition, 142(3), 405–410. https://doi.org/10.3945/jn.111.150052
European Association for the Study of the Liver, European Association for the Study of Diabetes, & European Association for the Study of Obesity. (2024). EASL-EASD-EASO clinical practice guidelines on the management of metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD): Executive summary. Diabetologia, 67(11), 2375–2392. https://doi.org/10.1007/s00125-024-06196-3
Ghavipour, M., Saedisomeolia, A., Djalali, M., Sotoudeh, G., Eschraghyan, M. R., Moghadam, A. M., & Wood, L. G. (2013). Tomato juice consumption reduces systemic inflammation in overweight and obese females. British Journal of Nutrition, 109(11), 2031–2035.
Kawaguchi, T., Charlton, M., Kawaguchi, A., Yamamura, S., Nakano, D., Tsutsumi, T., Zafer, M., & Torimura, T. (2021). Effects of Mediterranean diet in patients with nonalcoholic fatty liver disease: A systematic review, meta-analysis, and meta-regression analysis of randomized controlled trials. Seminars in Liver Disease, 41(3), 225–234. https://doi.org/10.1055/s-0041-1723751
Kementerian Kesehatan RI. (2026, Juni). Global Fatty Liver Day 2026: Kemenkes dan Novo Nordisk ajak masyarakat “Act Now” cegah perlemakan hati sejak dini [Siaran pers].
Larter, C. Z., & Farrell, G. C. (2006). Insulin resistance, adiponectin, cytokines in NASH: Which is the best target to treat? Journal of Hepatology, 44(2), 253–261. https://doi.org/10.1016/j.jhep.2005.11.030
Méndez-Sánchez, N., Bugianesi, E., Gish, R. G., Lammert, F., Tilg, H., Nguyen, M. H., Sarin, S. K., Fabrellas, N., Zelber-Sagi, S., & Fan, J.-G. (2022). Global multi-stakeholder endorsement of the MAFLD definition. Lancet Gastroenterology & Hepatology, 7(5), 388–390. https://doi.org/10.1016/s2468-1253(22)00062-0
Przybylska, S., & Tokarczyk, G. (2022). Lycopene in the prevention of cardiovascular diseases. International Journal of Molecular Sciences, 23(4), 1957. https://doi.org/10.3390/ijms23041957
Shi, J., & Le Maguer, M. (2000). Lycopene in tomatoes: Chemical and physical properties affected by food processing. Critical Reviews in Biotechnology, 20(4), 293–334. https://doi.org/10.1080/07388550091144212
Tatoli, R., Donghia, R., Carella, N., Cerabino, N., Di Chito, M., Zappimbulso, M., Pesole, P. L., Stabile, D., Ferro, A., Pascale, G., Shahini, E., Pavone, F., Fontana, L., & Giannelli, G. (2026). Effect of tomato consumption on liver steatosis in MASLD: A randomized controlled trial (POMOSANO study). Nutrients, 18(15), 2476. https://doi.org/10.3390/nu18152476
Tian, Y., Ma, J., Wang, W., Zhang, L., Xu, J., Wang, K., & Li, D. (2016). Resveratrol supplement inhibited the NF-κB inflammation pathway through activating AMPKα-SIRT1 pathway in mice with fatty liver. Molecular and Cellular Biochemistry, 422(1–2), 75–84. https://doi.org/10.1007/s11010-016-2807-x
Zeng, X. F., Varady, K. A., Wang, X. D., Targher, G., Byrne, C. D., Tayyem, R., Latella, G., Bergheim, I., Valenzuela, R., & George, J. (2024). The role of dietary modification in the prevention and management of metabolic dysfunction-associated fatty liver disease: An international multidisciplinary expert consensus. Metabolism, 161, 156028. https://doi.org/10.1016/j.metabol.2024.156028





Tinggalkan Balasan