Seorang perempuan berusia 54 tahun datang ke poli onkologi sebuah rumah sakit rujukan dengan keluhan perut yang kian membuncit dan cepat kenyang meski porsi makannya sedikit. Delapan bulan sebelumnya, ia telah menjalani operasi dan kemoterapi berbasis platinum untuk kanker ovarium jenis high-grade serous — jenis yang paling agresif dan paling sering ditemukan. Hasil pemeriksaan pencitraan kali ini menunjukkan sesuatu yang ditakutkan sejak awal: cairan asites baru dan nodul-nodul kecil yang menyebar di lapisan rongga perutnya. Kemoterapi memang sempat “membersihkan” sebagian besar sel kanker, tetapi sisa-sisanya rupanya tidak benar-benar diam. Pertanyaan yang selama ini mengganjal para peneliti adalah: apa yang membuat sel-sel kanker yang “selamat” dari kemoterapi justru mendorong penyebaran sel-sel di sekitarnya? Sebuah studi terbaru di jurnal Nature Aging menemukan jawaban yang tidak terduga — gula sederhana bernama fruktosa.
Mengapa Kanker Ovarium Begitu Sulit Dikendalikan
Kanker ovarium menempati posisi ketiga kanker tersering pada perempuan Indonesia, dengan sekitar 14.896 kasus baru dan 9.581 kematian per tahun menurut data Globocan yang dirujuk Kementerian Kesehatan RI (Kementerian Kesehatan RI, 2022). Kanker ini dijuluki the silent killer karena gejalanya samar pada stadium awal, sehingga banyak pasien baru terdiagnosis ketika penyakit sudah menyebar ke organ sekitar (Kementerian Kesehatan RI, 2022). Kesintasan 5 tahun secara keseluruhan berkisar 43–54%, namun angka ini turun drastis dari 80–90% pada stadium I menjadi kurang dari 5% pada stadium IV (Levani & Qhinta, 2023).
Yang membuat kanker ovarium unik dibanding kanker lain adalah pola penyebarannya. Alih-alih menyebar lewat pembuluh darah atau getah bening, sel kanker ovarium jenis high-grade serous ovarian cancer (HGSOC) umumnya meluruh dari tumor induk dan “mengambang” di cairan rongga peritoneum sebelum menempel di omentum, usus, atau lapisan peritoneum lain — proses yang disebut penyebaran transcoelomic (Cole et al., 2026). Kemoterapi berbasis platinum seperti sisplatin memang menjadi standar tata laksana, dan mayoritas pasien merespons baik pada awalnya. Namun kekambuhan dengan penyakit yang sudah menyebar luas terjadi pada hampir semua pasien HGSOC yang relaps, dan sekitar 90% kematian akibat HGSOC terjadi setelah penyakit menyebar (Cole et al., 2026).
Ketika Sel yang “Tertidur” Justru Berbisik pada Tetangganya
Tim peneliti dari The Wistar Institute dan University of Pittsburgh, dipimpin oleh Katherine M. Aird, tertarik pada fenomena yang disebut therapy-induced senescence (TIS) — kondisi ketika kemoterapi membuat sebagian sel kanker berhenti membelah secara permanen, tetapi sel tersebut tetap hidup dan aktif secara metabolik (Cole et al., 2026). Sel-sel yang mengalami senesens ini melepaskan campuran molekul yang dikenal sebagai senescence-associated secretory phenotype (SASP), yang selama ini banyak diteliti dari sisi protein dan sitokin inflamasinya, sementara komponen metaboliknya justru jarang dikaji (Cole et al., 2026).
Dalam percobaan pada model tikus dan sel HGSOC manusia, para peneliti menyuntikkan sel kanker yang telah dibuat senesens oleh sisplatin bersama sel kanker “pengamat” (bystander) yang masih aktif membelah. Hasilnya mengejutkan: kehadiran sel senesens meningkatkan jumlah nodul tumor di rongga peritoneum, dengan kecenderungan menyebar ke omentum, usus, jaringan lemak viseral, dan peritoneum — tanpa disertai peningkatan laju pembelahan sel (Cole et al., 2026). Bahkan cairan media yang hanya mengandung sekresi dari sel senesens (tanpa sel itu sendiri) sudah cukup untuk mendorong penyebaran ini, menunjukkan bahwa molekul yang disekresikan — bukan selnya — yang menjadi biang keladi (Cole et al., 2026).
Fruktosa: Sinyal Kimia yang Melunturkan “Daya Rekat” Sel Kanker
Penelusuran lebih lanjut mengungkap mekanisme yang cukup rumit namun elegan. Sel-sel senesens diketahui menyerap glukosa lebih banyak, sehingga cairan sekitar sel tersebut justru kekurangan glukosa (Cole et al., 2026). Uniknya, kondisi glukosa tinggi di dalam sel senesens memicu jalur poliol, yang mengubah sebagian glukosa menjadi fruktosa — dan fruktosa inilah yang kemudian dilepaskan ke lingkungan sekitar dalam jumlah lebih tinggi (Cole et al., 2026).
Ketika sel kanker “pengamat” menyerap fruktosa ini melalui transporter SLC2A5 dan memetabolismenya lewat jalur fruktolisis (melibatkan enzim ketohexokinase/KHK dan aldolase B/ALDOB), terjadi serangkaian perubahan metabolik: aktivitas kompleks I mitokondria meningkat melalui subunit NDUFA5, kadar NAD+ naik, enzim sirtuin teraktivasi, dan pada akhirnya jalur SREBP1 yang mengatur sintesis kolesterol justru ditekan (Cole et al., 2026). Karena kolesterol pada membran sel berperan menstabilkan integrin — molekul yang membuat sel saling menempel dan menempel pada matriks di sekitarnya — penurunan kolesterol membran ini membuat sel kanker menjadi kurang “lengket” dan lebih mudah lepas dari tumor induknya untuk memulai penyebaran baru (Cole et al., 2026). Ketika peneliti mematikan gen KHK atau NDUFA5 pada sel kanker, efek pemicu penyebaran dari fruktosa maupun sekresi sel senesens ini pun hilang, membuktikan bahwa jalur ini memang diperlukan untuk terjadinya fenomena tersebut (Cole et al., 2026).
Dari Cawan Petri ke Piring Makan: Bukti pada Hewan dan Pasien
Bagian yang paling menarik perhatian publik adalah percobaan diet. Tikus yang diberi fruktosa dalam air minumnya (dengan glukosa sebagai kontrol rasa manis) menunjukkan penyebaran tumor HGSOC yang lebih luas dibanding tikus kontrol, terutama ketika dikombinasikan dengan keberadaan sel senesens (Cole et al., 2026). Efek ini pun hilang ketika gen KHK atau NDUFA5 pada sel kanker dimatikan, menegaskan bahwa fruktosa bekerja langsung melalui jalur metabolik di dalam sel kanker itu sendiri, bukan semata efek sistemik pola makan (Cole et al., 2026).
Pada data pasien, peneliti membandingkan kadar fruktosa dalam darah pasien HGSOC dari kohort University of Pittsburgh dan menemukan bahwa kadar fruktosa yang lebih tinggi berkaitan dengan stadium diagnosis yang lebih lanjut — bahkan setelah memperhitungkan faktor usia dan indeks massa tubuh sebagai perancu (Cole et al., 2026). Temuan ini sejalan dengan data ekspresi gen tumor pasien: aktivitas kompleks I dan jalur respirasi yang tinggi berkorelasi dengan stadium kanker yang lebih lanjut, sementara ekspresi gen sintesis kolesterol justru menurun seiring meningkatnya ekspresi transporter fruktosa pascakemoterapi (Cole et al., 2026).
Penting digarisbawahi, para peneliti sendiri menekankan bahwa temuan ini bersifat praklinis. Model tikus dan kultur sel tidak serta-merta mencerminkan kompleksitas tubuh manusia, dan penelitian ini belum membuktikan bahwa konsumsi gula fruktosa sehari-hari secara langsung menyebabkan penyebaran kanker ovarium pada manusia (sebagaimana dicatat berbagai liputan media kesehatan yang mengulas studi ini). Yang dibuktikan adalah adanya jalur biologis yang masuk akal dan konsisten pada berbagai model — dari sel, tikus, hingga korelasi pada data pasien — sehingga membuka peluang penelitian klinis lebih lanjut, bukan rekomendasi diet definitif.
Apa Artinya bagi Pasien dan Tenaga Kesehatan di Indonesia?
Temuan ini relevan mengingat konsumsi minuman berpemanis dan produk dengan sirup jagung tinggi fruktosa (high-fructose corn syrup) terus meningkat di Indonesia, sejalan dengan tren urbanisasi pola makan. Meski penelitian ini belum cukup untuk menjadi dasar rekomendasi pembatasan fruktosa secara spesifik bagi pasien kanker ovarium, ia memperkuat pesan yang sudah lama digaungkan program GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) Kementerian Kesehatan RI mengenai pembatasan gula tambahan dalam pola makan sehari-hari sebagai bagian dari pencegahan penyakit tidak menular secara umum.
Bagi tenaga kesehatan, dua hal patut dicermati. Pertama, penelitian ini mengingatkan bahwa pemantauan pascakemoterapi bukan hanya soal memastikan tumor mengecil, tetapi juga memahami bahwa sel yang tampak “tidak aktif” pun berpotensi memengaruhi perilaku sel kanker lain di sekitarnya. Kedua, studi ini secara implisit mengangkat kehati-hatian terhadap suplementasi asam nikotinat (niasin) pada pasien kanker, karena dalam model penelitian ini suplementasi tersebut justru memulihkan kemampuan sel kanker untuk melepaskan diri — meski hal ini juga masih memerlukan pembuktian klinis lebih lanjut (Cole et al., 2026). Konseling gizi pasien kanker ovarium tetap sebaiknya mengikuti panduan tim onkologi yang menangani, bukan berdasarkan pembatasan fruktosa mandiri tanpa pengawasan medis.
Catatan Transparansi
Artikel ini disusun berdasarkan studi praklinis (in vitro dan model tikus) yang dipublikasikan di Nature Aging pada Juli 2026, dilengkapi data korelasional dari satu kohort pasien di Amerika Serikat. Temuan mengenai jalur fruktosa–NDUFA5–SREBP1–kolesterol bersifat mekanistik dan didukung berbagai eksperimen fungsional (knockdown gen, suplementasi, inhibitor), namun belum diuji dalam uji klinis pada manusia. Korelasi kadar fruktosa darah dengan stadium kanker bersifat observasional dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat langsung pada manusia. Data epidemiologi kanker ovarium Indonesia yang dikutip berasal dari Globocan 2020 sebagaimana dirujuk Kementerian Kesehatan RI; angka terbaru Globocan 2022 untuk kanker ovarium spesifik Indonesia belum diverifikasi terpisah dalam penulisan ini. Rekomendasi pembatasan fruktosa dalam artikel ini bersifat kontekstual mengikuti anjuran pola makan sehat umum (GERMAS), bukan simpulan langsung dari studi yang dibahas.
Daftar Pustaka
Cole, A. R., Buj, R., Uboveja, A., Levasseur, E., Tom, A., Wang, H., Kedziora, K. M., Chatoff, A., Andress Huacachino, A., Marcinkiewicz, M. M., Amalric, A., Yang, B., Tangudu, N. K., Noonan, E., Danielson, J., Naruse, M., Elhaw, A. T., White, S., Li, D., … Aird, K. M. (2026). The chemotherapy-induced senescence-associated secretome promotes cell detachment and metastatic dissemination through metabolic reprogramming. Nature Aging, 6(8), 1647–1666. https://doi.org/10.1038/s43587-026-01172-5
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Kanker payudara paling banyak di Indonesia, Kemenkes targetkan pemerataan layanan kesehatan. https://kemkes.go.id/id/kanker-payudaya-paling-banyak-di-indonesia-kemenkes-targetkan-pemerataan-layanan-kesehatan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Mengenal kanker ovarium, the silent killer. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1043/mengenal-kanker-ovarium-the-silent-killer
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Kanker masih membebani dunia. Sehat Negeriku. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/blog/20240506/3045408/kanker-masih-membebani-dunia/
Levani, Y., & Qhinta, B. (2023). Epidemiologi kanker ovarium. Alomedika. https://www.alomedika.com/penyakit/obstetrik-dan-ginekologi/kanker-ovarium/epidemiologi





Tinggalkan Balasan