Seorang ibu muda datang ke IGD RSU Sarila Husada tengah malam, mengeluh perdarahan pascasalin di rumah setelah ditolong dukun beranak di desa terpencil sekitar Sragen. Bidan puskesmas setempat sudah melakukan rujukan sesuai prosedur, namun jarak dan waktu tempuh membuat pertolongan definitif datang terlambat beberapa jam. Kasus semacam ini—yang sebetulnya dapat dicegah dengan akses layanan kesehatan reproduksi yang merata—adalah alasan mengapa Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) terus memperbarui kerangka strategis regionalnya untuk kesehatan seksual dan reproduksi (sexual and reproductive health and rights, SRHR).
Pada Agustus 2026, Kantor Regional WHO Asia Tenggara (WHO South-East Asia Region, SEARO) merilis dokumen Regional Strategic Framework for accelerating universal access to sexual and reproductive health in the WHO South-East Asia Region 2026–2030 (WHO Regional Office for South-East Asia, 2026). Dokumen setebal 121 halaman ini menjadi penerus kerangka 2020–2024 yang pelaksanaannya sempat terganggu pandemi COVID-19. Namun ada satu detail penting yang perlu dipahami pembaca Indonesia sebelum membaca lebih jauh: sejak 23 Mei 2025, Indonesia resmi berpindah dari kawasan SEARO ke Kantor Regional WHO Pasifik Barat (Western Pacific Regional Office, WPRO). Dokumen ini pun secara eksplisit menyatakan bahwa data dan estimasinya “telah dihitung ulang setelah mengeluarkan Indonesia” dari kumpulan data regional (WHO Regional Office for South-East Asia, 2026).
Mengapa Kerangka SRHR Regional Ini Tetap Relevan Dibaca
Meski Indonesia tidak lagi menjadi bagian formal dari kawasan SEARO, kerangka ini tetap punya nilai penting bagi tenaga kesehatan dan pengelola fasilitas kesehatan di Indonesia, setidaknya karena tiga alasan.
Pertama, kerangka ini adalah benchmark metodologis: indikator, target, dan pendekatan pemantauannya konsisten dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs) dan inisiatif Ending Preventable Maternal Mortality (EPMM) yang tetap berlaku universal, terlepas dari kawasan administratif WHO mana pun (WHO Regional Office for South-East Asia, 2026). Kedua, transisi geografis Indonesia baru saja terjadi, sehingga banyak data historis kesehatan reproduksi Indonesia masih tersimpan dalam basis data dan laporan-laporan SEARO periode sebelumnya. Ketiga, dokumen ini secara terbuka mengakui proses transisi tersebut dan menyebutkan perlunya keselarasan dengan dinamika regional yang berubah, termasuk transisi Indonesia ke Pasifik Barat (WHO Regional Office for South-East Asia, 2026).
Empat Hasil Strategis yang Menjadi Tulang Punggung Kerangka
Kerangka 2026–2030 dibangun di atas empat outcome strategis yang saling terkait, bergeser dari pendekatan “bertahan hidup” menuju pendekatan “thrive and transform”—tidak sekadar mencegah kematian, tetapi mendorong kesejahteraan sepanjang siklus hidup (WHO Regional Office for South-East Asia, 2026).
| Outcome Strategis | Fokus Utama |
|---|---|
| 1. Layanan SRH berkualitas dan berpusat pada individu | Ketersediaan dan akses layanan terintegrasi di setiap fase kehidupan, termasuk saat kedaruratan kesehatan |
| 2. Sistem kesehatan yang tangguh dan akuntabel | Tata kelola, tenaga kesehatan, pembiayaan, rantai pasok, dan sistem informasi kesehatan yang mendukung SRHR |
| 3. Pemberdayaan individu, keluarga, dan komunitas | Literasi kesehatan reproduksi dan perilaku mencari layanan (health-seeking behaviour) |
| 4. Kolaborasi dan kemitraan regional | Pertukaran pengetahuan dan kerja sama Selatan–Selatan serta triangular |
Outcome pertama mencakup sembilan area layanan inti—mulai dari perawatan prakonsepsi, layanan antenatal, persalinan yang menghormati martabat pasien (respectful intrapartum care), keluarga berencana, penanganan infertilitas, layanan aborsi komprehensif, kanker organ reproduksi (serviks dan payudara), respons sektor kesehatan terhadap kekerasan pasangan intim, hingga layanan SRH bagi populasi lanjut usia (WHO Regional Office for South-East Asia, 2026).
Gambaran Capaian Regional: Kemajuan yang Belum Merata
Data yang disajikan dokumen ini memperlihatkan capaian kawasan yang mengesankan sekaligus timpang. Rasio kematian ibu (maternal mortality ratio, MMR) di kawasan SEARO mengalami penurunan tercepat secara global sejak tahun 2000, namun angka regionalnya—88,5 per 100.000 kelahiran hidup pada 2023—masih menjadi yang tertinggi ketiga di dunia (WHO Regional Office for South-East Asia, 2026).
| Negara (contoh) | MMR 2023 (per 100.000 KH) | Angka Lahir Mati/1000 kelahiran | Persalinan oleh Nakes Terlatih (%) | Kebutuhan KB Terpenuhi (%) |
|---|---|---|---|---|
| Bhutan | 46,6 | 8,4 | 99 | 85 |
| India | 80,5 | 11,8 | 89 | 74 |
| Bangladesh | 115,1 | 20,4 | 70 | 74 |
| Nepal | 142,0 | 13,5 | 91 | 55 |
| Myanmar | 184,6 | 12,8 | 60 | 75 |
| Timor-Leste | 192,4 | 14,8 | 57 | 47 |
| Rerata Kawasan | 88,5 | 12,6 | 87 | 70 |
Sumber: diolah dari WHO Regional Office for South-East Asia (2026), Tabel 10. Data tidak mencakup Indonesia karena telah bertransisi ke WPRO.
Selain data di atas, dokumen ini menyoroti beberapa tren yang patut diperhatikan tenaga kesehatan: cakupan kontak antenatal delapan kali (ANC8) masih rendah di hampir seluruh negara kawasan, angka seksio sesarea justru meningkat di sejumlah negara berpenghasilan menengah, kanker serviks tetap menjadi kanker kedua terbanyak pada perempuan meski vaksinasi human papillomavirus (HPV) terus diperluas—dan hanya Bhutan yang dinilai memenuhi target skrining nasional efektif dari strategi 90–70–90 milik WHO (WHO Regional Office for South-East Asia, 2026). Sementara itu, kekerasan pasangan intim (intimate partner violence, IPV) tercatat masih tinggi lintas kelompok usia, dan integrasi layanan SRH dengan HIV/infeksi menular seksual dinilai masih terbatas.
Tantangan Baru yang Mengubah Lanskap Kebijakan
Dokumen ini juga mengidentifikasi sederet tantangan baru yang relevan lintas kawasan, termasuk Indonesia: penurunan fertilitas yang memicu tekanan kebijakan pro-natalis terhadap otonomi reproduksi, populasi yang menua dengan kebutuhan SRH lansia yang belum banyak diakui secara kebijakan, urbanisasi cepat dengan sekitar 12% populasi kawasan tinggal di permukiman kumuh, peningkatan risiko penyakit tidak menular pada perempuan usia reproduksi, serta kerentanan tinggi terhadap bencana iklim dan konflik yang mengganggu kesinambungan layanan esensial (WHO Regional Office for South-East Asia, 2026). Penurunan bantuan pembangunan resmi (official development assistance, ODA) turut disebut sebagai ancaman terhadap ketersediaan komoditas SRH esensial, seperti kontrasepsi dan obat-obatan gawat darurat obstetri.
Implikasi bagi Fasilitas Kesehatan di Indonesia
Bagi pengelola rumah sakit dan klinik di Indonesia, kerangka ini bukan dokumen yang secara formal mengikat, mengingat status keanggotaan regional Indonesia kini berada di bawah WPRO. Namun beberapa prinsip di dalamnya tetap dapat menjadi rujukan praktis: pendekatan kontinum layanan sepanjang siklus hidup, penguatan surveilans dan respons kematian maternal-perinatal (MPDSR), penerapan model asuhan kebidanan (midwifery model of care), serta penekanan pada kualitas layanan—bukan sekadar cakupan—sejalan dengan arah kebijakan mutu pelayanan (PMKP) yang juga diadopsi fasilitas kesehatan di Indonesia melalui STARKES. Ke depan, layak dinantikan bagaimana WPRO menyusun kerangka SRHR tersendiri yang secara eksplisit mengakomodasi konteks Indonesia pascatransisi.
Catatan Transparansi
Artikel ini disusun berdasarkan dokumen resmi Regional Strategic Framework for accelerating universal access to sexual and reproductive health in the WHO South-East Asia Region 2026–2030 yang diterbitkan oleh WHO Regional Office for South-East Asia pada 2026. Data dan angka yang dikutip merupakan hasil pengolahan penulis dari tabel dan narasi dalam dokumen tersebut. Karena Indonesia telah bertransisi ke kawasan WPRO sejak Mei 2025, seluruh data dan target dalam dokumen ini tidak mencakup dan tidak berlaku langsung bagi Indonesia; artikel ini disajikan sebagai konteks regional dan bahan perbandingan kebijakan, bukan sebagai acuan target nasional Indonesia.

Ringkasan
WHO SEARO merilis Kerangka Strategis Regional SRHR 2026–2030 dengan empat outcome: layanan berkualitas, sistem kesehatan tangguh, pemberdayaan komunitas, dan kemitraan regional. MMR kawasan turun signifikan namun tetap tertinggi ketiga dunia. Penting dicatat: sejak Mei 2025 Indonesia telah pindah ke WPRO, sehingga data dokumen ini mengecualikan Indonesia dan berfungsi sebagai referensi kontekstual, bukan target nasional.
Daftar Pustaka
WHO Regional Office for South-East Asia. (2026). Regional Strategic Framework for accelerating universal access to sexual and reproductive health in the WHO South-East Asia Region 2026–2030. World Health Organization. ISBN 978-92-9280-016-1. https://www.who.int/publications
United Nations. (1994). Programme of Action of the International Conference on Population and Development. United Nations Population Fund.
World Health Organization. (2010). Developing sexual health programmes: A framework for action. World Health Organization.





Tinggalkan Balasan