A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Mbak Rina, 34 tahun, karyawan swasta di Surabaya, sudah lama meyakini bahwa dua gelas bir sebelum tidur adalah “kunci” istirahat malam yang sempurna. Ia merasa lebih cepat terlelap, dan ketika terbangun pagi harinya, badannya terasa berat, kepalanya penat. “Mungkin kurang tidurnya,” pikirnya. Tapi sesungguhnya, masalah bukan pada kuantitas tidurnya — melainkan pada kualitas yang diam-diam telah dicuri oleh alkohol itu sendiri.

Mitos tentang tidur menyebar jauh lebih cepat dari penjelasan ilmiahnya. Padahal, tidur adalah salah satu proses biologis paling kompleks yang dialami manusia — sekitar sepertiga usia kita dihabiskan dalam keadaan ini, dan ilmu pengetahuan baru terus mengungkap betapa dinamisnya aktivitas yang berlangsung di baliknya.

Di Indonesia, masalah tidur bukan sekadar keluhan pribadi. Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi penderita insomnia pada usia 19 tahun ke atas di Indonesia mencapai 43,7%, angka yang jauh melampaui perkiraan publik. Secara global, WHO memperkirakan sekitar 19,1% penduduk dunia mengalami gangguan tidur dengan keluhan yang signifikan, dan setiap tahun sekitar 25–57% orang dewasa serta lansia mengalami kesulitan tidur.

Meski demikian, mitos seputar tidur tetap bertahan dari generasi ke generasi. Artikel ini akan menelaah lima di antaranya — dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi berdasarkan bukti ilmiah terkini.


Mitos 1: Otak Berhenti Bekerja Saat Tidur

Ini mungkin kesalahpahaman paling mendasar tentang tidur. Gambaran populer tentang seseorang yang “mati sementara” saat tidur sama sekali tidak mencerminkan realita neurologis.

Selama tidur, otak justru menjalani serangkaian aktivitas terkoordinasi yang sangat kompleks. Tidur terbagi menjadi siklus berulang yang mencakup tiga tahap non-REM (non-rapid eye movement) — dari tidur ringan hingga tidur dalam (slow-wave sleep) — diikuti satu fase tidur REM (rapid eye movement). Siklus ini berulang empat hingga enam kali sepanjang malam, masing-masing berlangsung sekitar 90 menit pada orang dewasa.

Pada fase REM, aktivitas gelombang otak menyerupai kondisi terjaga. Inilah mengapa fase ini kadang disebut “paradoxical sleep” — otak aktif, namun tubuh lumpuh sementara (atonia otot) untuk mencegah seseorang benar-benar bertindak berdasarkan isi mimpinya.

Berbagai struktur otak tetap aktif selama tidur, termasuk amigdala yang berperan dalam pemrosesan emosi. Talamus — pusat relai sensorik otak — bersikap relatif tenang pada fase non-REM, namun kembali aktif saat REM, kali ini menyalurkan “gambar dan suara” dari mimpi ke korteks serebral alih-alih sinyal dari dunia luar.

Riset terkini menunjukkan bahwa neuron melanin-concentrating hormone (MCH) dan neuron orexin di hipotalamus lateral memainkan peran sentral dalam mengatur siklus tidur-bangun, termasuk dalam mengatur transisi dari non-REM ke REM, serta dalam koordinasi konsolidasi dan pelupaan memori melalui sirkuit neural hipokampus.

Jauh dari sekadar “diam”, otak yang tidur sedang bekerja keras — membersihkan limbah metabolik, mengonsolidasi memori, memulihkan koneksi sinaptik, dan mengatur respons emosional. Mengorbankan tidur berarti mengorbankan semua proses vital ini.


Mitos 2: Mengingat Mimpi Berarti Tidur Berkualitas

Banyak orang merasa lega ketika terbangun dengan ingatan mimpi yang jelas — seolah itu adalah pertanda tidur yang baik. Padahal, kesimpulan sebaliknya yang lebih mendekati kebenaran ilmiah.

Mimpi terjadi hampir setiap malam, terutama selama fase REM. Namun, otak memiliki mekanisme aktif yang menekan penyimpanan ingatan mimpi tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS) menemukan bahwa neuron MCH yang aktif khusus selama tidur REM berperan dalam menghambat hipokampus — pusat penyimpanan memori otak — sehingga konten mimpi tidak sempat tersimpan. Aktivasi neuron-neuron ini diduga mencegah isi mimpi masuk ke dalam memori jangka panjang.

Mekanisme ini diperkuat oleh kajian lebih lanjut yang menunjukkan bahwa neuron MCH meregulasi “pelupaan aktif” melalui sirkuit neural hipokampus, sebuah proses yang diduga membantu otak membersihkan informasi yang tidak relevan selama tidur.

Seseorang mengingat mimpi bukan karena tidurnya berkualitas, tetapi karena ia terbangun pada momen yang tepat — yaitu selama atau segera setelah fase REM berlangsung, sebelum mekanisme pelupaan aktif sempurna bekerja. Orang yang lebih sering mengingat mimpi justru cenderung lebih sering terbangun di malam hari, yang merupakan penanda kualitas tidur yang kurang optimal.


Mitos 3: Jangan Pernah Membangunkan Orang yang Tidur Sambil Berjalan

Somnambulisme — atau tidur sambil berjalan — adalah parasomnia yang terjadi selama fase tidur non-REM dalam (slow-wave sleep). Penderitanya dapat melakukan berbagai aktivitas kompleks mulai dari sekadar duduk, berjalan, hingga berbicara, tanpa kesadaran penuh, dan biasanya tidak mengingat episode tersebut setelah bangun.

Prevalensi tidur sambil berjalan pada populasi umum diperkirakan antara 1% dan 15%. Kondisi ini lebih umum terjadi pada anak-anak dibanding orang dewasa, dan dipicu oleh berbagai faktor seperti kurang tidur, stres, demam, alkohol, serta obat-obatan tertentu.

Mitos yang beredar menyebutkan bahwa membangunkan seseorang yang sedang tidur sambil berjalan dapat menyebabkan serangan jantung atau bahkan kematian. Ini tidak benar.

Kenyataannya, membangunkan somnambulisme memang bisa menyebabkan kebingungan, disorientasi sementara, dan terkadang respons agresif yang tidak terkontrol — bukan karena bahaya fisiologis, melainkan karena otak yang tiba-tiba ditarik dari tidur dalam ke kondisi setengah sadar. Justru membiarkan seseorang terus berjalan dalam kondisi tidak sadar yang berpotensi berbahaya, karena mereka dapat menabrak furnitur, jatuh dari tangga, atau keluar dari rumah.

Evaluasi medis profesional sangat diperlukan apabila episode somnambulisme terjadi lebih dari dua kali seminggu, membahayakan keselamatan fisik, atau menyebabkan kantuk berlebihan di siang hari. Pemeriksaan polisomnografi (sleep study) dapat direkomendasikan untuk menyingkirkan sleep apnea atau masalah neurologis lainnya.

Pendekatan terbaik saat menemukan seseorang sedang berjalan dalam tidurnya adalah dengan perlahan membimbing mereka kembali ke tempat tidur tanpa mengguncang atau berteriak. Jika episode terjadi pada waktu yang kira-kira dapat diprediksi, teknik “terjadwal membangunkan” (scheduled awakening) 15–30 menit sebelum perkiraan episode dapat membantu memutus siklus tersebut.


Mitos 4: Alkohol Menjamin Tidur Lebih Nyenyak

Ini mungkin mitos yang paling berbahaya secara klinis, karena memiliki dasar yang tampak masuk akal: alkohol memang membantu seseorang tertidur lebih cepat. Namun efek tersebut jauh dari “tidur nyenyak”.

Systematic review dan meta-analysis terhadap 27 studi yang diterbitkan dalam Sleep Medicine Reviews (2024) menemukan bahwa konsumsi alkohol bahkan dalam dosis rendah — setara sekitar dua minuman standar — secara konsisten mengurangi durasi tidur REM. Hubungan dose-response teridentifikasi: semakin besar dosis alkohol, semakin parah gangguan pada arsitektur tidur. Disruption terhadap tidur REM dikaitkan dengan gangguan konsolidasi memori, penurunan fungsi kognitif, dan disregulasi emosional.

Data kronobiologis menunjukkan bahwa etanol mengganggu ekspresi gen jam sirkadian dan sekresi melatonin, yang berujung pada fragmentasi tidur dan defisit kognitif. Secara ilmiah, alkohol adalah chronodisruptor yang aktif mendegradasi kualitas tidur — bukan membantu memulihkannya.

Pola yang terjadi secara sederhana adalah: alkohol menekan aktivitas sistem saraf di paruh pertama malam, mempercepat onset tidur dan memperdalam tidur non-REM awal. Namun ketika efek alkohol mulai mereda di paruh kedua malam, terjadi “efek rebound” berupa tidur yang terfragmentasi, keringat malam, dan berkurangnya fase REM secara keseluruhan. Hasilnya adalah seseorang yang bangun pagi dengan rasa lelah, meskipun secara total jam tidurnya cukup.

Dalam konteks Indonesia, meski konsumsi alkohol tidak setinggi beberapa negara Barat akibat norma agama dan budaya yang dominan, pola penggunaan alkohol untuk “mengatasi stres dan insomnia” tetap ditemukan pada sebagian kelompok masyarakat perkotaan — dan harus dihadapi dengan pemahaman ilmiah yang tepat.


Mitos 5: Makan Tempe atau Tahu Malam Hari Bikin Cepat Ngantuk karena Triptofan

Di negara-negara Barat, mitos ini biasa dikaitkan dengan keju atau kalkun Thanksgiving. Di Indonesia, versi yang beredar sering menyebut susu hangat, atau makanan mengandung tryptophan (triptofan) seperti tempe, tahu, atau kacang-kacangan.

Triptofan memang merupakan asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi serotonin, yang selanjutnya dikonversi menjadi melatonin — hormon yang berperan dalam regulasi siklus tidur-bangun. Logika di balik mitos ini tidak sepenuhnya salah. Namun, persoalannya ada pada kuantitas.

Tahu mengandung triptofan dalam jumlah yang relatif baik — sekitar 128 gram tahu yang sudah dimasak dapat memenuhi kebutuhan triptofan harian yang signifikan. Namun, konversi triptofan menjadi serotonin kemudian melatonin dalam tubuh adalah proses bertahap yang memerlukan waktu dan ko-faktor seperti zat besi serta vitamin B2.

Masalahnya, kadar triptofan dalam satu porsi tempe atau tahu tidak cukup tinggi untuk secara langsung menginduksi rasa kantuk. Penelitian dalam ilmu tidur tidak menemukan efek signifikan pada tidur dari konsumsi makanan bertriptofan tunggal.

Apa yang bisa mengganggu tidur adalah bukan kandungan triptofannya, melainkan efek samping dari makan besar sebelum tidur. Makan malam berlebihan — apapun jenisnya — dapat menyebabkan heartburn, refluks, dan peningkatan aktivitas pencernaan yang meningkatkan frekuensi terbangun di malam hari. Ketika seseorang lebih sering terbangun, ia lebih mungkin mengingat mimpi, dan lebih mungkin mengira tidurnya “tidak beres”.

Mitos keju dan mimpi buruk di Barat kemungkinan besar bermula dari kenyataan bahwa papan keju (cheese board) biasanya disajikan di akhir makan malam besar — sehingga “efek gangguannya” sesungguhnya berasal dari totalitas makanan yang dikonsumsi, bukan keju itu sendiri.


Penutup: Tidur Adalah Ilmu, Bukan Ritual Berbekal Mitos

Selama berabad-abad, tidur diperlakukan sebagai sesuatu yang mistis, penuh simbol, dan dikelilingi kepercayaan yang sulit ditembus. Kini, riset neurosains memberikan pemahaman yang jauh lebih kaya — dan sekaligus menuntut kita lebih kritis terhadap “nasihat tidur” yang beredar dari mulut ke mulut.

Kurang tidur tidak hanya memengaruhi performa kognitif dan konsentrasi, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan kerja dan kendaraan bermotor, penurunan performa kerja, serta disfungsi kognitif. Kurang tidur juga meningkatkan risiko gangguan mood, kecemasan, dan false memory.

Langkah-langkah berbasis bukti untuk kualitas tidur yang lebih baik mencakup menjaga jadwal tidur yang konsisten, menciptakan lingkungan tidur yang kondusif (gelap, sejuk, tenang), menghindari layar elektronik satu jam sebelum tidur, membatasi kafein setelah tengah hari, dan menghindari alkohol sebagai “pembantu tidur”. Jika gangguan tidur persisten, konsultasi ke tenaga medis adalah langkah yang tepat — bukan bereksperimen dengan mitos.


Daftar Referensi

Frontiers in Neuroscience. (2025). The role of orexin and MCH neurons in the hypothalamus in sleep-wake regulation and learning-forgetting balance. Frontiers in Neuroscience, 19, 1590556. https://doi.org/10.3389/fnins.2025.1590556

Gardiner, C., Weakley, J., Burke, L. M., et al. (2024). The effect of alcohol on subsequent sleep in healthy adults: A systematic review and meta-analysis. Sleep Medicine Reviews, 79, 101818. https://doi.org/10.1016/j.smrv.2024.101818

He, Z., et al. (2025). Neural circuitry of rapid eye movement sleep homeostasis: Mechanistic insights and pathological implications. Sleep Research. https://doi.org/10.1002/slp2.70010

Izawa, S., Chowdhury, S., Miyazaki, T., et al. (2019). REM sleep-active MCH neurons are involved in forgetting hippocampus-dependent memories. Science, 365(6459), 1308–1313. https://doi.org/10.1126/science.aax9238

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dalam angka. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.

Nuraini, et al. (dikutip dalam Alomedika, 2023). Epidemiologi gangguan tidur di Indonesia. Alomedika. https://www.alomedika.com/penyakit/psikiatri/gangguan-tidur/epidemiologi

Paendong, D., & Wantania, F. (2024). Hubungan antara kecemasan dengan kejadian insomnia pada mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal Kedokteran Klinik, [edisi terkait].

Sharma, P., & Nelson, R. J. (2024). Disrupted circadian rhythms and substance use disorders: A narrative review. Clocks & Sleep, 6(3), 446–467. https://doi.org/10.3390/clockssleep6030030

Sleep Foundation. (2024). Sleepwalking (somnambulism). https://www.sleepfoundation.org/parasomnias/sleepwalking

World Health Organization. (2020). Sleep disorders: A global public health concern. WHO.


Catatan Transparansi

Data prevalensi insomnia di Indonesia yang dikutip dalam artikel ini bersumber dari penelitian observasional dan epidemiologis dengan metode self-report serta desain potong lintang, sehingga kemungkinan terdapat variasi estimasi. Data SKI 2023 tidak secara spesifik mengukur gangguan tidur sebagai indikator tersendiri; angka yang dirujuk merupakan kompilasi dari beberapa studi nasional dan tinjauan klinis. Riset tentang neuron MCH dan mekanisme pelupaan mimpi saat ini masih sebagian besar berbasis model hewan (tikus); validitas penuh pada manusia masih dalam tahap penelitian lanjutan.

Artikel Baru Terbit

  • Lima Mitos tentang Tidur yang Masih Dipercaya, Padahal Sudah Dipatahkan Sains
    Tidur masih diselimuti mitos yang jauh melampaui pemahamannya. Otak tidak pernah berhenti bekerja saat tidur; mengingat mimpi bukan pertanda tidur berkualitas; membangunkan somnambulisme tidak mematikan; alkohol justru merusak arsitektur tidur; dan kandungan triptofan dalam makanan sehari-hari terlalu rendah untuk secara langsung memicu kantuk.
  • Ketika Perawat dan Bidan Diizinkan Mengoles Fluorida: Menimbang Kebijakan Darurat di Tengah Krisis Dokter Gigi
    Di Puskesmas Sragen, seorang bidan melakukan skrining kesehatan gigi untuk 30 anak sekolah dasar, dan lebih dari 20 anak mengalami karies. Karena kekurangan dokter gigi, Menteri Kesehatan mengeluarkan SE 909/2026 yang memberi wewenang sementara kepada tenaga medis lain untuk mengaplikasikan fluorida topikal sebagai respons terhadap situasi tersebut.
  • Ablasio Retina: Ketika Tirai Gelap Tiba-Tiba Menutupi Penglihatan
    Kilatan cahaya, bintik hitam melayang, dan bayangan seperti tirai bukan sekadar mata lelah—bisa jadi tanda ablasio retina, kondisi darurat yang dapat merenggut penglihatan permanen jika terlambat ditangani. Artikel ini mengulas patofisiologi, faktor risiko (terutama miopia tinggi), pilihan tata laksana bedah terkini, serta konteks layanan kesehatan dan rujukan di Indonesia.
  • Ketika Gunung Berbicara: Kesiapsiagaan Kesehatan Saat Erupsi Vulkanik Melanda Indonesia
    Erupsi Gunung Anak Krakatau pada September 2026 meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, terutama paparan abu vulkanik yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan, iritasi mata dan kulit, serta memperburuk penyakit kronis. Kesiapsiagaan sistemik, penggunaan masker respirator, dan perlindungan sumber air menjadi langkah penting bagi fasilitas kesehatan di wilayah rawan.
  • Ketika Sedih Tak Kunjung Pergi: Memahami Depresi pada Orang Dewasa
    Depresi pada orang dewasa sering menyamar sebagai keluhan fisik yang tak kunjung sembuh. Artikel ini mengulas prevalensi depresi di Indonesia dan dunia, faktor risiko, cara mendiagnosis di layanan primer, serta pilihan terapi psikologis dan farmakologis berbasis bukti terkini dari WHO, NICE, dan data SKI 2023.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca