Seorang ibu di sebuah dusun pinggiran Sragen menggendong anaknya yang demam tinggi menembus hujan sore, menempuh jalan berbatu menuju puskesmas terdekat yang jaraknya lebih dari satu jam perjalanan. Sesampainya di sana, obat yang dibutuhkan sedang kosong. Ia akhirnya membeli antibiotik sisa dari warung terdekat, tanpa resep, tanpa dosis yang tepat, karena itulah satu-satunya pilihan yang bisa dijangkau saat itu. Kisah semacam ini bukan kejadian langka. Ia berulang di ribuan desa di Indonesia dan di negara berpenghasilan rendah-menengah lainnya, dan di baliknya tersembunyi salah satu akar krisis kesehatan global yang paling diabaikan: ketimpangan akses yang mempercepat laju resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR).
Pada tahun 2021, AMR diperkirakan menjadi penyebab langsung 1,14 juta kematian di dunia dan berkontribusi pada 4,71 juta kematian lainnya (GBD 2021 Antimicrobial Resistance Collaborators, 2024). Angka ini diproyeksikan melonjak menjadi 1,91 juta kematian akibat langsung pada tahun 2050. Namun yang sering luput dari sorotan adalah: beban ini tidak dipikul secara merata. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam panduan terbarunya, Integration of Equity into National Action Plans on Antimicrobial Resistance (World Health Organization [WHO], 2026), menegaskan bahwa AMR adalah persoalan struktural, bukan semata persoalan perilaku individu yang “salah minum obat”.

AMR Bukan Hanya Soal “Kuman dan Obat”
Selama ini, kebijakan global tentang AMR banyak berkutat pada isu “bugs and drugs” — memperkuat surveilans kuman resisten dan mengatur penggunaan antimikroba. Padahal, menurut WHO (2026), pendekatan semacam ini sering mengabaikan kenyataan bahwa siapa yang terpapar kuman resisten, siapa yang bisa mengakses layanan kesehatan berkualitas, dan siapa yang akhirnya menanggung dampak kematian akibat AMR, sangat ditentukan oleh kondisi sosial-ekonomi seseorang.
Sejak 2023, WHO memperkenalkan people-centred approach untuk AMR yang terdiri atas 13 intervensi inti, mencakup empat pilar besar: pencegahan, akses layanan kesehatan esensial, diagnosis yang tepat waktu, dan pengobatan berkualitas terjamin (WHO, 2026). Panduan terbaru ini melengkapi kerangka tersebut dengan lensa kesetaraan (equity lens), menggunakan kerangka analisis availability, accessibility, acceptability, and quality (AAAQ+) — yaitu ketersediaan, keterjangkauan, akseptabilitas, dan kualitas layanan (WHO, 2024, sebagaimana dirujuk dalam WHO, 2026).
Kerangka AAAQ+: Mengapa Layanan yang “Tersedia” Belum Tentu “Terjangkau”
Kerangka ini membantu menjelaskan mengapa membangun rumah sakit atau menyediakan stok obat saja tidak cukup. Sebuah layanan kesehatan baru benar-benar memberi manfaat jika keempat syarat berikut terpenuhi secara berurutan:
| Dimensi | Pertanyaan Kunci | Contoh Hambatan |
|---|---|---|
| Ketersediaan (Availability) | Apakah layanan/obat ada di suatu wilayah? | Kekosongan stok antibiotik esensial, kurangnya tenaga kesehatan terlatih di daerah terpencil |
| Keterjangkauan (Accessibility) | Bisakah masyarakat menjangkaunya secara geografis dan finansial? | Jarak fasilitas kesehatan jauh, biaya transportasi, tidak punya jaminan kesehatan |
| Akseptabilitas (Acceptability) | Apakah masyarakat mau dan percaya menggunakan layanan tersebut? | Pengalaman diskriminasi sebelumnya, ketidaksesuaian budaya, stigma |
| Kualitas (Quality) | Apakah layanan yang diterima efektif dan aman? | Obat substandar, tenaga kesehatan kelebihan beban kerja |
Sumber: diadaptasi dari kerangka Tanahashi (1978) sebagaimana digunakan dalam WHO (2026).
Tiga Wajah Ketimpangan dalam Krisis AMR
WHO (2026) menyoroti tiga area intervensi prioritas tempat ketimpangan paling nyata terlihat.
1. Air, Sanitasi, dan Higiene (WASH) yang Timpang
Ketiadaan atau buruknya infrastruktur air bersih dan sanitasi menjadi reservoir dan jalur penyebaran utama kuman resisten (WHO, 2026). Data global menunjukkan 703 juta orang masih belum memiliki akses air minum dasar, dan dua dari lima orang di dunia belum memiliki sanitasi yang dikelola dengan aman (United Nations Children’s Fund [UNICEF] & WHO, 2023, sebagaimana dirujuk dalam WHO, 2026). Yang mengejutkan, penerapan standar pencegahan dan pengendalian infeksi (infection prevention and control/IPC) setara negara maju dan akses WASH universal berpotensi mencegah hampir 585.000 kematian akibat AMR setiap tahun (Lewnard et al., 2024). Kelompok yang paling rentan adalah penduduk permukiman informal perkotaan, masyarakat pedesaan terpencil, pengungsi, dan perempuan — yang menghadapi beban tambahan terkait menstruasi, kehamilan, dan persalinan di fasilitas dengan sanitasi buruk.
2. Akses Layanan Kesehatan dan Antibiotik yang Tidak Merata
Ilustrasi ibu di Sragen di atas mencerminkan pola yang berulang secara global. Ketika antibiotik esensial langka atau layanan kesehatan formal sulit dijangkau, masyarakat beralih ke penyedia informal — apotek tanpa resep, penjual obat keliling, atau pengobatan tradisional (WHO, 2026). Self-medication semacam ini bukan semata persoalan kurangnya pengetahuan, melainkan sering kali strategi bertahan hidup di tengah keterbatasan jaminan kesehatan dan ketiadaan cuti sakit berbayar. WHO (2026) mencatat, ironisnya, kurangnya akses terhadap antibiotik efektif justru menyebabkan lebih banyak kematian dibandingkan resistensi antibiotik itu sendiri — meski kesenjangan ini bisa berubah seiring meningkatnya resistensi.
3. Kesenjangan dalam Data Surveilans AMR
Bagaimana mungkin kita mengatasi ketimpangan jika data surveilans AMR jarang mencatat siapa yang paling terdampak? WHO (2026) menemukan bahwa sistem surveilans AMR dan penggunaan antimikroba (antimicrobial use/AMU) di banyak negara — baik berpenghasilan rendah maupun tinggi — jarang mendisagregasi data berdasarkan jenis kelamin, usia, lokasi, status sosial-ekonomi, atau etnisitas. Akibatnya, muncul “titik buta” (blind spots) surveilans yang menyembunyikan kelompok berisiko tinggi, seperti yang ditemukan di komunitas terpencil Australia (Wozniak et al., 2022, sebagaimana dirujuk dalam WHO, 2026).
Dua Puluh Rekomendasi untuk Rencana Aksi Nasional
Berdasarkan sintesis bukti ini, WHO (2026) merumuskan 20 rekomendasi yang selaras dengan 13 intervensi inti pendekatan berpusat pada masyarakat, mencakup jangka pendek (1–2 tahun), menengah (3–4 tahun), hingga panjang (5 tahun atau lebih). Dua rekomendasi menyeluruh menjadi fondasi utama:
- Memasukkan dimensi kesetaraan ke dalam analisis situasi AMR nasional — termasuk dalam tujuan, kegiatan prioritas, target, indikator, dan anggaran Rencana Aksi Nasional (National Action Plan/NAP).
- Mendisagregasi data program, minimal berdasarkan jenis kelamin, usia, dan lokasi, agar kelompok yang tertinggal dalam respons AMR dapat diidentifikasi.
Prinsip yang diusung WHO (2026) sederhana namun tegas: “do something, do more, do better” — lakukan sesuatu, lakukan lebih banyak, lakukan lebih baik. Negara tidak diharapkan menyelesaikan semua rekomendasi sekaligus, tetapi didorong untuk terus maju sesuai konteks dan kapasitasnya masing-masing.
Mengapa Ini Penting bagi Fasilitas Kesehatan di Indonesia
Bagi pengelola layanan kesehatan di daerah, kerangka AAAQ+ ini bukan sekadar wacana global yang jauh dari keseharian. Ia bisa menjadi alat evaluasi praktis: apakah antibiotik lini pertama benar-benar tersedia stoknya di unit gawat darurat? Apakah pasien dari desa terpencil mampu menjangkau layanan diagnostik sebelum infeksi memberat? Apakah program edukasi penggunaan antibiotik yang rasional menjangkau kelompok yang selama ini justru paling sering luput — pekerja informal, lansia di pelosok, atau kelompok dengan keterbatasan bahasa dan literasi kesehatan?
Deklarasi Politik Pertemuan Tingkat Tinggi PBB tentang AMR tahun 2024 telah menegaskan kesetaraan sebagai prinsip lintas sektor yang harus diintegrasikan secara eksplisit, bukan sekadar retorika (United Nations, 2024, sebagaimana dirujuk dalam WHO, 2026). Ketika kesetaraan ditanamkan dalam desain, implementasi, dan evaluasi strategi AMR, hasilnya bukan hanya lebih adil — tetapi juga lebih efektif dan berkelanjutan.
Catatan Transparansi
Artikel ini disusun berdasarkan sintesis dan adaptasi dari dokumen resmi WHO, Integration of Equity into National Action Plans on Antimicrobial Resistance: Guidance to Complement the People-Centred Approach (2026), dengan tambahan konteks dan interpretasi penulis untuk pembaca umum di Indonesia. Ilustrasi vinyet pembuka bersifat fiktif namun merepresentasikan pola nyata yang didokumentasikan dalam literatur ilmiah yang dirujuk. Data dan angka statistik dikutip langsung dari sumber primer sebagaimana dicantumkan dalam daftar pustaka WHO (2026); pembaca yang membutuhkan detail metodologis lebih lanjut dianjurkan merujuk pada dokumen asli dan web annex-nya.
Ringkasan: Resistensi antimikroba (AMR) bukan sekadar krisis biomedis, melainkan cermin ketimpangan sosial. WHO (2026) menyoroti tiga area — sanitasi air, akses layanan kesehatan, dan surveilans data — tempat kelompok rentan paling dirugikan. Dua puluh rekomendasi ditawarkan agar rencana aksi nasional AMR menjadi lebih responsif terhadap kesetaraan, demi respons yang lebih adil sekaligus lebih efektif.
Daftar Pustaka
GBD 2021 Antimicrobial Resistance Collaborators. (2024). Global burden of bacterial antimicrobial resistance 1990–2021: A systematic analysis with forecasts to 2050. The Lancet, 404(10459), 1199–1226. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)01867-1
Lewnard, J. A., Charani, E., Gleason, A., Hsu, L. Y., Khan, W. A., Karkey, A., et al. (2024). Burden of bacterial antimicrobial resistance in low-income and middle-income countries avertible by existing interventions: An evidence review and modelling analysis. The Lancet, 403(10442), 2439–2454. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)00862-6
United Nations. (2024). Political declaration of the high-level meeting on antimicrobial resistance. https://www.un.org/pga/wp-content/uploads/sites/108/2024/09/FINAL-Text-AMR-to-PGA.pdf
United Nations Children’s Fund & World Health Organization. (2023). Progress on household drinking water, sanitation and hygiene 2000–2022: Special focus on gender. World Health Organization. https://iris.who.int/handle/10665/378150
World Health Organization. (2024). Handbook for conducting assessments of barriers to effective coverage with health services: In support of equity-oriented reforms towards universal health coverage. https://iris.who.int/handle/10665/377956
World Health Organization. (2026). Integration of equity into national action plans on antimicrobial resistance: Guidance to complement the people-centred approach. https://www.who.int/publications/i/item/9789240123892
Wozniak, T. M., Dyda, A., Merlo, G., & Hall, L. (2022). Disease burden, associated mortality and economic impact of antimicrobial resistant infections in Australia. The Lancet Regional Health – Western Pacific, 27, 100521. https://doi.org/10.1016/j.lanwpc.2022.100521





Tinggalkan Balasan