Bu Sartika, seorang guru SD berusia 34 tahun di Kecamatan Sragen Kota, sudah tujuh tahun bergantung pada parasetamol setiap kali migrainnya kambuh — kadang dua kali, kadang lima kali dalam sebulan. Ia tidak pernah berpikir bahwa serangan yang “sudah biasa” itu sebenarnya bisa dicegah, bukan sekadar diredakan setelah muncul. Ketika ia akhirnya berkonsultasi ke poli saraf, dokter menjelaskan bahwa dengan frekuensi serangan sebanyak itu, ia sebenarnya sudah memenuhi kriteria untuk mendapatkan terapi profilaksis — pengobatan yang diminum atau disuntikkan secara rutin untuk mencegah serangan, bukan hanya mengatasinya setelah terjadi.
Kisah semacam ini kini punya sandaran ilmiah yang lebih kuat dan lebih kaya pilihan. Pada 31 Agustus 2026, American Academy of Neurology (AAN) bersama American Headache Society (AHS) menerbitkan pembaruan pedoman praktik klinis tentang pencegahan farmakologis migrain pada orang dewasa, menggantikan pedoman lama yang telah berusia 14 tahun (Potrebic et al., 2026). Pembaruan ini juga telah mendapat dukungan resmi dari American Academy of Family Physicians.
Mengapa Pedoman Ini Perlu Diperbarui?
Sejak pedoman 2012 diterbitkan, lanskap pengobatan migrain berubah drastis. Penemuan bahwa calcitonin gene-related peptide (CGRP) — sebuah protein yang berperan sentral dalam mekanisme migrain — dapat dijadikan target terapi telah melahirkan generasi baru obat: antibodi monoklonal anti-CGRP (mAb) dan gepant (antagonis reseptor CGRP molekul kecil). Pedoman terbaru ini disusun berdasarkan telaah sistematis atas 217 studi yang dipublikasikan hingga 6 Juni 2024, jauh lebih luas dibanding basis bukti pedoman sebelumnya (Pringsheim et al., 2026).
“Ada berbagai obat pencegahan yang efektif dan bekerja dengan cara berbeda-beda, termasuk kelas obat baru yang dirilis dalam beberapa tahun terakhir,” ungkap Tamara Pringsheim, MD, salah satu penyusun pedoman dari University of Calgary, sebagaimana dikutip dalam rilis resmi AAN (American Academy of Neurology, 2026).
Siapa yang Sebaiknya Mendapat Terapi Pencegahan?
Pedoman ini pertama-tama membedakan dua bentuk migrain:
- Migrain episodik: serangan terjadi kurang dari 15 hari per bulan.
- Migrain kronis: sakit kepala terjadi ≥15 hari per bulan selama lebih dari 3 bulan berturut-turut, dengan ciri khas migrain muncul pada minimal 8 hari di antaranya.
Terapi pencegahan direkomendasikan ditawarkan kepada pasien dengan (Potrebic et al., 2026):
- Empat atau lebih hari migrain per bulan, atau empat atau lebih hari sakit kepala sedang-berat per bulan — untuk menurunkan frekuensi serangan.
- Disabilitas terkait migrain yang signifikan, terlepas dari frekuensinya — untuk mengurangi beban fungsional tersebut.
Klinisi juga diminta untuk secara proaktif memberi tahu seluruh pasien migrain bahwa opsi pencegahan yang efektif itu tersedia — sebuah pergeseran penting, karena banyak penderita seperti Bu Sartika tidak menyadari opsi ini ada.
Memilih Obat: Tidak Ada “Juara Tunggal”
Salah satu pesan paling praktis dari pedoman ini: tidak satu pun obat terbukti secara jelas lebih unggul dari yang lain. Pemilihan sebaiknya mempertimbangkan empat aspek — kekuatan bukti efikasi, toleransi efek samping, keamanan jangka panjang, dan biaya — sembari melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan bersama (shared decision-making).
| Prioritas Pasien | Migrain Episodik | Migrain Kronis |
|---|---|---|
| Efikasi (bukti tinggi/sedang) | Atogepant, eptinezumab, erenumab, fremanezumab, galcanezumab, propranolol, topiramat, valproat | Atogepant, eptinezumab, erenumab, fremanezumab, galcanezumab, onabotulinumtoxinA, topiramat, valproat |
| Toleransi/minim efek samping | Atogepant, eptinezumab, erenumab, fremanezumab, galcanezumab | Sama seperti kolom episodik + onabotulinumtoxinA |
| Keamanan jangka panjang (pengalaman pemakaian lama) | Propranolol, topiramat | OnabotulinumtoxinA, topiramat |
Sumber: diadaptasi dari Potrebic et al. (2026) dan neurologylive.com (2026).
Menariknya, obat-obat anti-CGRP — baik golongan mAb (eptinezumab, erenumab, fremanezumab, galcanezumab) maupun gepant (atogepant) — kini menempati posisi bukti tertinggi untuk efikasi maupun toleransi, sejalan dengan pernyataan posisi AHS 2024 yang telah lebih dulu mendorong terapi bertarget CGRP sebagai lini pertama tanpa mengharuskan kegagalan terapi lain lebih dulu (Charles et al., 2024). Sementara itu, obat lama seperti propranolol dan topiramat tetap relevan — justru karena rekam jejak keamanannya yang panjang menjadi keunggulan tersendiri bagi pasien yang mengkhawatirkan risiko tak terduga di kemudian hari.
Untuk migrain episodik, tersedia pula opsi dengan tingkat bukti lebih rendah namun tetap bermanfaat pada pasien tertentu: amitriptilin, flunarizin, metoprolol, pizotifen, rimegepant, dan telmisartan.
Perhatian Khusus: Kehamilan, Usia Lanjut, dan Komorbiditas
Pedoman ini memuat rekomendasi rinci untuk populasi khusus:
- Usia subur dan kehamilan: obat dengan efek teratogenik seperti divalproex sodium dan topiramat sebaiknya dihindari bila memungkinkan. Pendekatan nonfarmakologis (terapi perilaku, akupunktur, olahraga, manajemen pemicu) harus dimaksimalkan lebih dulu pada pasien hamil atau merencanakan kehamilan (Potrebic et al., 2026).
- Usia lanjut: perlu kewaspadaan terhadap penyakit vaskular, interaksi obat, hipotensi ortostatik, serta risiko sedasi dan kebingungan — terutama dengan amitriptilin, valproat, topiramat, dan pizotifen.
- Komorbiditas: pada pasien dengan fibromialgia, amitriptilin dapat dipertimbangkan; pada pasien dengan indeks massa tubuh tinggi, topiramat lebih diutamakan; pada hipertensi yang menyertai migrain, enalapril, nifedipin, atau telmisartan dapat mengatasi keduanya sekaligus.
- Penggunaan berlebihan obat pereda nyeri (medication overuse): pasien yang memenuhi kriteria ini justru harus ditawari terapi pencegahan, dengan prioritas pada golongan anti-CGRP, atogepant, onabotulinumtoxinA, atau topiramat.
Memantau Keberhasilan Terapi
Pedoman menegaskan bahwa kesabaran menjadi kunci: efektivitas kebanyakan obat pencegahan baru dapat dinilai setelah 8–12 minggu pada dosis optimal, sementara onabotulinumtoxinA memerlukan hingga 24 minggu (dua siklus suntikan). Alat bantu seperti buku harian sakit kepala, Headache Impact Test-6 (HIT-6), atau Migraine Disability Assessment (MIDAS) dianjurkan untuk memantau respons secara objektif.
Relevansi bagi Layanan Kesehatan di Indonesia
Bagi dokter umum dan spesialis saraf di Indonesia, pedoman ini menegaskan kembali pentingnya menanyakan frekuensi hari migrain secara rutin pada setiap konsultasi — sebuah langkah sederhana yang sering terlewat di layanan primer maupun IGD yang padat. Tantangannya, sebagian obat dengan bukti tertinggi seperti golongan mAb anti-CGRP dan gepant masih terbatas ketersediaannya dan belum tentu tercakup skema jaminan kesehatan nasional, sehingga propranolol, topiramat, amitriptilin, dan valproat tetap menjadi andalan praktis di banyak fasilitas kesehatan tanah air — sesuatu yang justru selaras dengan rekomendasi pedoman ini sendiri, mengingat obat-obat tersebut juga masuk kategori bukti kuat sekaligus keamanan jangka panjang.
Catatan Transparansi
Artikel ini disusun berdasarkan rilis pedoman resmi AAN-AHS yang dipublikasikan di jurnal Neurology dan Headache pada Agustus 2026, rilis pers American Academy of Neurology, serta liputan dari NeurologyLive. Rekomendasi klinis di atas merupakan ringkasan populer dan tidak menggantikan pedoman lengkap maupun penilaian klinis dokter yang menangani pasien secara langsung.
Ringkasan
Pedoman terbaru AAN-AHS 2026 memperluas pilihan pencegahan migrain, menekankan terapi ditawarkan pada pasien dengan ≥4 hari migrain/bulan atau disabilitas signifikan. Golongan anti-CGRP (mAb dan gepant) kini sejajar bukti tertinggi bersama propranolol, topiramat, dan valproat. Pemilihan obat mempertimbangkan efikasi, toleransi, keamanan jangka panjang, biaya, serta preferensi pasien melalui pengambilan keputusan bersama.
Referensi
American Academy of Neurology. (2026, August 31). AAN and AHS issue updated guideline on migraine prevention medications for adults [Press release]. https://www.aan.com/PressRoom/Home/PressRelease/5361
Charles, A. C., Digre, K. B., Goadsby, P. J., Robbins, M. S., & Hershey, A. (2024). Calcitonin gene-related peptide-targeting therapies are a first-line option for the prevention of migraine: An American Headache Society position statement update. Headache, 64(4). https://doi.org/10.1111/head.14692
Potrebic, S., Tanveer, S., Becker, W. J., Burch, R. C., Pringsheim, T., et al. (2026). Pharmacologic treatment for migraine prevention in adults practice guideline recommendations: Report of the AAN Guidelines Subcommittee and the American Headache Society. Neurology, 107(7), e214881. https://doi.org/10.1212/WNL.0000000000214881
Pringsheim, T., Smith, D. B., Tanveer, S., et al. (2026). Systematic review of pharmacologic treatment for migraine prevention in adults: Report of the AAN Guidelines Subcommittee and the American Headache Society. Neurology, 107(7), e218112. https://doi.org/10.1212/WNL.0000000000218112





Tinggalkan Balasan