Ginjal bekerja diam-diam. Penyakit ginjal kronik sering baru terasa ketika fungsinya tinggal sebagian kecil, padahal darah yang diambil dari lengan Anda bisa memberi tahu lebih awal. Bayangkan seorang petani di Klaten yang bertahun-tahun minum obat pegal linu dari warung, atau pekerja tambang di Kalimantan Timur yang sering kurang minum di bawah terik. Keduanya bisa saja merasa sehat, sementara ginjalnya sudah bekerja lebih keras dari semestinya.
Pemeriksaan fungsi ginjal dan elektrolit adalah salah satu paket pemeriksaan kimia klinik yang paling sering diminta dokter: untuk skrining pada penderita diabetes dan hipertensi, memantau efek obat, menilai dehidrasi, sampai menilai kegawatan di IGD. Artikel ini membahas satu paket utuh, yaitu ureum, kreatinin, perkiraan laju filtrasi glomerulus (estimated glomerular filtration rate, eGFR), serta natrium, kalium, dan klorida, baik untuk pembaca umum maupun tenaga kesehatan.
Apa Itu Pemeriksaan Ini?
Ginjal ibarat saringan kopi yang menyaring darah sekitar 180 liter per hari, membuang limbah, dan menjaga kadar garam serta cairan tubuh tetap seimbang. Pemeriksaan ini mengukur sisa limbah yang menumpuk di darah (ureum dan kreatinin) serta kadar mineral bermuatan listrik yang disebut elektrolit (natrium, kalium, klorida). Dari kreatinin, laboratorium atau klinisi menghitung eGFR, yaitu angka perkiraan seberapa banyak darah yang disaring ginjal tiap menit.
Komponen yang Diperiksa
| Komponen | Apa yang diukur | Rujukan umum dewasa* |
|---|---|---|
| Ureum (BUN) | Sisa pemecahan protein; dipengaruhi hidrasi dan asupan protein | Ureum sekitar 15–45 mg/dL; BUN sekitar 7–20 mg/dL |
| Kreatinin | Sisa metabolisme otot yang disaring glomerulus | Laki-laki sekitar 0,7–1,3 mg/dL; perempuan sekitar 0,6–1,1 mg/dL |
| eGFR | Perkiraan laju filtrasi, dihitung dari kreatinin, usia, dan jenis kelamin | ≥90 mL/menit/1,73 m² dianggap normal bila tanpa tanda kerusakan ginjal lain |
| Natrium | Penentu utama keseimbangan air tubuh | 135–145 mmol/L |
| Kalium | Penentu kerja otot dan irama jantung | 3,5–5,0 mmol/L |
| Klorida | Pasangan natrium; membantu menilai keseimbangan asam-basa | sekitar 98–106 mmol/L |
*Nilai rujukan berbeda antarlaboratorium (alat, metode, dan populasi acuan). Selalu pakai rentang yang tercetak pada lembar hasil Anda.
Kreatinin lebih spesifik daripada ureum untuk menilai ginjal, karena ureum ikut naik oleh banyak hal di luar ginjal. Ureum yang tinggi dengan kreatinin yang normal sering hanya berarti kurang minum, makan banyak protein, atau perdarahan saluran cerna.
Indikasi dan Siapa yang Perlu
- Skrining: penderita diabetes, hipertensi, penyakit jantung, obesitas, riwayat keluarga penyakit ginjal, serta pengguna jangka panjang obat antinyeri golongan OAINS. KDIGO menganjurkan penilaian eGFR bersama albuminuria pada kelompok berisiko.1
- Diagnosis: keluhan bengkak, kencing berbusa atau jumlah kencing berubah, mual muntah hebat, diare, lemas, atau kram.
- Pemantauan: pengguna obat yang memengaruhi ginjal atau kalium (penghambat ACE/ARB, diuretik, metformin, litium), pasien rawat inap, pasien yang akan menjalani pemeriksaan dengan kontras.
Persiapan Pasien
Umumnya tidak perlu puasa untuk ureum, kreatinin, dan elektrolit, kecuali bila diminta bersamaan dengan gula darah puasa atau profil lipid. Minum air secukupnya seperti biasa. Bila ingin hasil kreatinin yang mencerminkan kondisi dasar, hindari makan daging dalam jumlah besar dan suplemen kreatin (sering dipakai pegiat kebugaran) 24 jam sebelumnya. Beri tahu petugas tentang semua obat dan jamu yang sedang dikonsumsi.
Cara Pemeriksaan Dilakukan
Sampel berupa darah vena sekitar beberapa mililiter, diperiksa dengan alat analisis kimia otomatis (kreatinin dengan metode enzimatik atau Jaffe, elektrolit dengan elektroda ion selektif). Hasil biasanya keluar dalam hitungan jam. Di IGD atau ICU, elektrolit juga dapat diperiksa lewat alat analisis gas darah yang hasilnya keluar dalam menit. Dokter sering melengkapinya dengan urinalisis dan rasio albumin-kreatinin urin (UACR), karena protein dalam urin adalah penanda kerusakan ginjal yang tak tertangkap oleh kreatinin.
Interpretasi Hasil
Untuk pembaca umum
Satu angka yang sedikit di luar rentang belum tentu berarti penyakit ginjal. Dokter menilai tren dari waktu ke waktu, gejala Anda, dan hasil pemeriksaan lain. Penyakit ginjal kronik ditegakkan bila kelainan menetap lebih dari tiga bulan.1 Natrium yang terlalu rendah dapat menimbulkan lemas, bingung, hingga kejang; kalium yang terlalu tinggi atau rendah berbahaya karena dapat mengganggu irama jantung, sehingga hasil yang jauh menyimpang perlu ditangani segera.
Untuk tenaga kesehatan
eGFR. Persamaan CKD-EPI 2021 berbasis kreatinin tanpa koefisien ras kini menjadi rujukan: eGFR = 142 × min(Scr/κ, 1)α × max(Scr/κ, 1)−1,200 × 0,9938usia × 1,012 [bila perempuan], dengan κ 0,7 (perempuan) atau 0,9 (laki-laki) dan α −0,241 (perempuan) atau −0,302 (laki-laki).2 Klasifikasi KDIGO: G1 ≥90; G2 60–89; G3a 45–59; G3b 30–44; G4 15–29; G5 <15 mL/menit/1,73 m², dikombinasikan dengan kategori albuminuria A1 (<30 mg/g), A2 (30–300), A3 (>300).1 Bila eGFR berbasis kreatinin kurang akurat atau keputusan klinis bergantung padanya, KDIGO 2024 menganjurkan eGFR gabungan kreatinin-sistatin C.1
Cedera ginjal akut (AKI). Kriteria KDIGO: kenaikan kreatinin ≥0,3 mg/dL dalam 48 jam, atau ≥1,5 kali nilai dasar dalam 7 hari, atau diuresis <0,5 mL/kgBB/jam selama 6 jam.3 Kreatinin tertinggal dari kerusakan sebenarnya, sehingga nilai normal pada hari pertama tidak menyingkirkan AKI.
Rasio ureum/kreatinin. Rasio BUN:kreatinin yang tinggi (umumnya >20) mengarah ke penyebab prarenal (dehidrasi, gagal jantung), perdarahan saluran cerna atas, atau kortikosteroid dosis tinggi; rasio rendah dapat ditemukan pada penyakit hati berat dan malnutrisi.
Natrium. Hiponatremia didefinisikan <135 mmol/L; pedoman Eropa membaginya secara biokimia menjadi ringan (130–134), sedang (125–129), dan berat (<125 mmol/L), lalu diarahkan oleh osmolalitas serum, osmolalitas dan natrium urin, serta status volume.4 Pada hiperglikemia berat, natrium terukur turun sekitar 1,6–2,4 mmol/L untuk setiap kenaikan glukosa 100 mg/dL di atas normal (hiponatremia translokasional), jadi koreksi sebelum menyimpulkan.
Kalium. Hiperkalemia dikategorikan ringan (5,5–5,9), sedang (6,0–6,4), dan berat (≥6,5 mmol/L); perubahan EKG dan kondisi klinis menentukan urgensi lebih daripada angkanya saja.5 Sebelum menanganinya, pastikan bukan pseudohiperkalemia akibat hemolisis, kepalan tangan berlebihan saat pengambilan, atau trombositosis/leukositosis berat. Hipokalemia (<3,5) sering akibat diare, muntah, atau diuretik.
Klorida. Nilainya paling berguna bersama natrium dan bikarbonat untuk menghitung anion gap (Na − [Cl + HCO₃]) pada kecurigaan gangguan asam-basa.
Pemeriksaan lanjutan bila abnormal: ulang pemeriksaan untuk memastikan, UACR dan urinalisis (sedimen), USG ginjal dan saluran kemih, EKG bila kalium menyimpang, analisis gas darah, serta sistatin C bila kreatinin sulit dipercaya. Diagnosis dan terapi tetap menjadi ranah dokter yang menangani.
Keterbatasan dan Faktor Pengganggu
- Massa otot: kreatinin cenderung rendah pada lansia kurus, amputasi, atau penyakit kronik sehingga eGFR tampak terlalu bagus; sebaliknya tinggi pada orang berotot besar atau pengguna suplemen kreatin.
- Obat: trimetoprim, simetidin, dan dolutegravir menaikkan kreatinin dengan menghambat sekresi tubulus tanpa menurunkan GFR sebenarnya.
- Kondisi akut: eGFR hanya valid pada keadaan stabil, bukan saat AKI yang kreatininnya sedang berubah cepat.
- Sampel: hemolisis dan keterlambatan pemrosesan mengubah kalium; pengambilan darah dari lengan yang sedang diinfus memengaruhi semua nilai.
- Metode: kreatinin metode Jaffe dapat terpengaruh senyawa lain seperti glukosa atau keton dibanding metode enzimatik.
Pesan Kunci
- Untuk pasien: penyakit ginjal sering tanpa gejala; bila Anda menderita diabetes atau hipertensi, periksa fungsi ginjal secara berkala. Jangan menyimpulkan dari satu angka, dan jangan menghentikan obat sendiri.
- Untuk pasien: hindari OAINS dan jamu tanpa anjuran bila ginjal sudah bermasalah, dan jaga asupan cairan sesuai saran dokter.
- Untuk tenaga kesehatan: gunakan eGFR CKD-EPI 2021, padukan dengan albuminuria, dan pertimbangkan sistatin C bila kreatinin tidak dapat diandalkan.
- Untuk tenaga kesehatan: kalium dan natrium abnormal dinilai bersama klinis, EKG, dan kemungkinan artefak sampel sebelum bertindak.
Tanya Jawab (FAQ)
Apakah harus puasa?
Biasanya tidak, kecuali bersamaan dengan pemeriksaan yang mensyaratkan puasa. Ikuti petunjuk laboratorium Anda.
Kreatinin saya sedikit tinggi, apakah pasti gagal ginjal?
Tidak. Dehidrasi, otot besar, suplemen kreatin, atau obat tertentu dapat menaikkannya. Dokter akan mengulang pemeriksaan dan melihat eGFR serta protein urin.
Mengapa kalium saya “tinggi” padahal tak ada keluhan?
Salah satu penyebabnya adalah sampel yang rusak (hemolisis). Dokter biasanya meminta pengulangan sebelum mengambil keputusan.
Seberapa sering perlu diperiksa?
Tergantung risiko. Penderita diabetes atau hipertensi umumnya diperiksa minimal setahun sekali, atau lebih sering sesuai anjuran dokter.
Apakah eGFR sama dengan fungsi ginjal “persen”?
Bukan persis, tetapi eGFR sekitar 60 kira-kira setara dengan sisa kemampuan saring yang sudah jauh berkurang dari angka muda sehat (sekitar 90–120). Interpretasi tetap bergantung usia dan kondisi lain.
Referensi
- KDIGO CKD Work Group. KDIGO 2024 clinical practice guideline for the evaluation and management of chronic kidney disease. Kidney Int. 2024;105(4S):S117–S314. doi:10.1016/j.kint.2023.10.018
- Inker LA, Eneanya ND, Coresh J, et al. New creatinine- and cystatin C–based equations to estimate GFR without race. N Engl J Med. 2021;385(19):1737–49. doi:10.1056/NEJMoa2102953
- KDIGO AKI Work Group. KDIGO clinical practice guideline for acute kidney injury. Kidney Int Suppl. 2012;2:1–138. doi:10.1038/kisup.2012.1
- Spasovski G, Vanholder R, Allolio B, et al. Clinical practice guideline on diagnosis and treatment of hyponatraemia. Eur J Endocrinol. 2014;170(3):G1–47. doi:10.1530/EJE-13-1020
- UK Kidney Association. Clinical practice guidelines: treatment of acute hyperkalaemia in adults. ukkidney.org/health-professionals/guidelines
Disclaimer: artikel ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi, diagnosis, atau terapi dari dokter. Nilai rujukan dapat berbeda antarlaboratorium; diskusikan hasil pemeriksaan Anda dengan dokter yang menangani. Artikel ini juga tidak memberikan dosis atau anjuran pengobatan spesifik.





Tinggalkan Balasan