Ringkasan: Laporan WHO 2026 adalah analisis global pertama tentang ketimpangan penyakit tidak menular (PTM) di dalam satu negara. Kelompok termiskin, warga perdesaan, dan laki-laki umumnya tertinggal dalam skrining, diagnosis, dan pengobatan, meski polanya berbeda-beda menurut penyakit dan konteks. Artikel ini merangkum temuan, keterbatasan data, dan tiga aksi yang direkomendasikan WHO.

Ilustrasi (tokoh rekaan). Bu Maria, 48 tahun, bertani di perbukitan Flores, Nusa Tenggara Timur. Puskesmas terdekat berjarak dua jam dengan sepeda motor, dan ia belum pernah menjalani skrining kanker serviks. Pak Anton, 52 tahun, pengemudi ojek daring di Bekasi, tinggal dekat tiga fasilitas kesehatan. Ia merasa sehat, jadi tekanan darahnya sudah bertahun-tahun tidak diperiksa. Keduanya sama-sama berisiko terhadap penyakit tidak menular. Yang berbeda adalah rintangan yang mereka hadapi sebelum penyakit itu terdeteksi.

Perbedaan semacam inilah yang kini dipotret secara sistematis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Melalui laporan State of inequality: noncommunicable diseases and their risk factors[1] dan ringkasan kebijakannya, The hidden inequalities behind noncommunicable diseases: from evidence to action[2], WHO menunjukkan bahwa angka rata-rata nasional sering menyembunyikan kelompok yang bebannya jauh lebih berat.

Apa yang Dianalisis WHO?

Pada 2023, PTM menyebabkan sekitar 45 juta kematian di dunia, dan 40% dari kematian akibat PTM itu terjadi sebelum usia 70 tahun[1]. Empat kelompok penyakit paling berkontribusi: kanker, penyakit kardiovaskular, diabetes, dan penyakit pernapasan kronis. Risikonya didorong oleh lima faktor, yaitu alkohol, pola makan tidak sehat (termasuk obesitas), kurang aktivitas fisik, tembakau, dan polusi udara.

Laporan ini disebut WHO sebagai penilaian global komprehensif pertama tentang ketimpangan PTM di dalam negara, bukan antarnegara. Analisisnya memakai sembilan sumber data multinegara (tiga basis data estimasi model dan enam survei penduduk) untuk 35 indikator, dipilah menurut hingga delapan dimensi ketimpangan[1]:

  • jenis kelamin, usia, status ekonomi, pendidikan, dan tempat tinggal (perkotaan atau perdesaan);
  • status disabilitas, status pekerjaan, dan status migrasi, yang datanya hanya tersedia dari survei di negara-negara Eropa (untuk disabilitas dan migrasi), sehingga hasilnya bersifat awal dan eksploratif.

Temuan Utama: Siapa yang Tertinggal?

Jenis kelamin. Prevalensi hipertensi hanya sedikit lebih rendah pada perempuan, tetapi cakupan diagnosis dan pengobatan pada laki-laki jauh lebih rendah. Secara global, di antara orang berusia 30–79 tahun dengan hipertensi, 58,9% perempuan sudah terdiagnosis dibandingkan 49,0% laki-laki; yang mendapat pengobatan 47,2% dibandingkan 37,9%; dan yang tertangani secara efektif 23,5% dibandingkan 18,4% (estimasi 2019, 192 negara)[1]. Laki-laki juga lebih banyak merokok (32,5% dibandingkan 6,6%) dan minum alkohol (52,2% dibandingkan 35,4%). Sebaliknya, obesitas dan kurang aktivitas fisik lebih sering ditemukan pada perempuan (18,4% dibandingkan 13,8%, dan 33,8% dibandingkan 28,7%)[1].

Cakupan hipertensi menurut jenis kelaminPerempuan dengan hipertensi lebih sering terdiagnosis (58,9% vs 49,0%), diobati (47,2% vs 37,9%), dan terkendali efektif (23,5% vs 18,4%) dibanding laki-laki.Cakupan pelayanan hipertensi menurut jenis kelaminPenderita hipertensi usia 30–79 tahun, estimasi global 2019 (192 negara), persenTerdiagnosis58,9%49,0%Mendapat pengobatan47,2%37,9%Terkendali efektif23,5%18,4%PerempuanLaki-lakiSumber: WHO (2026), Gambar E1
Gambar 1. Laki-laki dengan hipertensi lebih jarang terdiagnosis dan diobati. Diadaptasi dari data WHO (2026).

Usia. Diagnosis dan pengobatan hipertensi meningkat seiring usia, sehingga orang dewasa muda dengan hipertensi paling sering terlewat. Aktivitas fisik menurun, terutama setelah usia 60 tahun, sedangkan obesitas paling sering pada usia 40–70 tahun[1].

Ekonomi dan pendidikan. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, kelompok termiskin dan paling sedikit berpendidikan cenderung lebih buruk pada banyak indikator. Dalam data survei DHS dan MICS 2013–2022, median cakupan skrining kanker serviks seumur hidup hanya 5,9% pada kuintil termiskin, dibandingkan 29,6% pada kuintil terkaya. Untuk skrining kanker payudara angkanya 6,2% dibandingkan 20,0%. Merokok pada laki-laki 25,5% dibandingkan 12,9%, dan keterpaparan asap rokok orang lain di rumah 20,8% dibandingkan 12,8%. Hampir seluruh rumah tangga termiskin (median 99,9%) bergantung pada bahan bakar memasak yang mencemari, dibandingkan 21,4% pada kuintil terkaya[1].

Polanya tidak seragam. Konsumsi alkohol justru lebih tinggi pada kelompok kaya (median 26,3% dibandingkan 19,2%), padahal WHO mencatat bahwa dampak buruk alkohol, yang tidak diukur di sini, sering kali jatuh paling berat pada kelompok miskin. Obesitas juga berbalik arah: di negara berpenghasilan rendah-menengah obesitas lebih banyak pada kelompok kaya dan berpendidikan lebih tinggi (pada perempuan 17,6% dibandingkan 3,0%), sedangkan di negara-negara Eropa berpenghasilan tinggi obesitas dan minuman berpemanis lebih banyak pada kelompok miskin[1].

Tempat tinggal. Warga perdesaan umumnya tertinggal dalam layanan, sedangkan paparan polusi bergeser menurut jenisnya (Tabel 1)[1].

Indikator (median lintas negara, kecuali baris terakhir)PerkotaanPerdesaan
Skrining kanker serviks seumur hidup (usia 30–49 tahun; 18 negara)26,4%15,7%
Hipertensi terdiagnosis (usia 30–69 tahun; 23 negara)47,8%33,7%
Hipertensi diobati (usia 30–69 tahun; 22 negara)33,1%23,9%
Penduduk bergantung pada bahan bakar memasak yang mencemari (rerata terbobot populasi; 191 negara)13,5%39,6%
Tabel 1. Ketimpangan perkotaan–perdesaan di negara berpenghasilan rendah dan menengah (data STEPS 2013–2021 dan GHO 2024). Sumber: WHO (2026), Gambar E4.

Polusi udara luar ruang lebih tinggi di perkotaan, sedangkan polusi udara dalam rumah akibat memasak dengan kayu bakar atau bahan bakar serupa lebih tinggi di perdesaan. Diabetes, hipertensi, aktivitas fisik, dan merokok menunjukkan selisih perkotaan–perdesaan yang kecil (di bawah 5 poin persentase)[1].

Dimensi lain. Di Eropa berpenghasilan tinggi, penyandang disabilitas berat melaporkan hipertensi, diabetes, penyakit pernapasan kronis, dan obesitas lebih sering. Di negara berpenghasilan rendah-menengah, laki-laki yang bekerja lebih banyak minum alkohol dan merokok, sementara orang yang menganggur lebih sering kurang aktif secara fisik. WHO menegaskan temuan pada dimensi ini masih awal[1].

Mengapa Ketimpangan Itu Terjadi?

WHO menekankan bahwa penyebabnya jarang berupa pilihan individu semata. Faktor sosial, ekonomi, komersial, lingkungan, dan kini juga lingkungan digital menentukan seberapa mudah orang hidup sehat dan mengakses layanan[2]. Beberapa mekanisme yang dicontohkan WHO:

  • Norma gender yang membuat merokok dan minum alkohol lebih lazim pada laki-laki, sementara beban pengasuhan dan pekerjaan informal membatasi waktu dan biaya perempuan untuk aktivitas fisik dan makanan sehat.
  • Hambatan biaya dan literasi kesehatan yang lebih rendah pada kelompok miskin, ditambah pemasaran produk tidak sehat yang kerap menyasar kelompok yang sama.
  • Jarak, infrastruktur, dan akses energi bersih yang berbeda antara kota dan desa.

Ketimpangan juga saling memperkuat: PTM jangka panjang dapat menggerus keuangan keluarga atau memaksa anak berhenti sekolah untuk merawat anggota keluarga yang sakit[2].

Bagaimana dengan Indonesia?

Perlu jujur sejak awal: analisis utama laporan ini tidak menyajikan angka khusus Indonesia, dan temuan di atas adalah pola lintas negara. Satu rujukan yang menyebut Indonesia adalah studi tentang konsumsi buah dan sayur di 514 kabupaten/kota. Prevalensi konsumsi yang kurang berkisar 70% hingga 100%, dan kabupaten/kota dengan tingkat pendidikan lebih rendah memiliki prevalensi kurang makan buah dan sayur yang lebih tinggi[1,3]. Itu selaras dengan pola pendidikan dan ketimpangan yang dibahas WHO.

Beban dasarnya sendiri sudah besar. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi hipertensi 30,8% pada penduduk usia 18 tahun ke atas (diukur) dan prevalensi diabetes 11,7% pada usia 15 tahun ke atas[4]. Soal seberapa banyak penderita yang terkendali, kami telah membahasnya dalam ulasan rapor WHO Pasifik Barat. Topik terkait lain bisa dibaca pada artikel tentang ketimpangan kanker antarwilayah, kualitas udara, mitos hipertensi, dan pedoman diabetes tipe 2.

Pelajaran praktisnya bagi layanan primer: rata-rata kabupaten bisa tampak baik padahal satu kecamatan, satu kelompok pekerja, atau satu kelompok usia tertinggal jauh. Di sinilah data terpilah menjadi alat kerja, bukan sekadar laporan.

Tiga Aksi yang Direkomendasikan WHO

Ringkasan kebijakan WHO merumuskan tiga aksi agar pemerataan masuk ke jantung kebijakan PTM nasional[2]. Kolom ketiga di bawah adalah gagasan penerapan dari penulis, bukan rekomendasi WHO.

Aksi WHOIsi utamaGagasan penerapan di Indonesia
1. Perluas intervensi yang menangani ketimpanganPajak kesehatan untuk tembakau, alkohol, dan minuman berpemanis; pelatihan tenaga kesehatan agar bebas bias; menerapkan paket WHO seperti best buys, MPOWER, SAFER, dan paket PEN untuk layanan primer.Menguatkan paket PTM di Puskesmas dan menghubungkannya dengan program pengelolaan penyakit kronis dalam JKN.
2. Gunakan data ketimpangan untuk menyasar kebutuhan terbesarPendekatan berbasis wilayah (skrining di area cakupan rendah, resep multibulan bagi yang tinggal jauh), pendekatan responsif gender, penghapusan hambatan biaya, komunikasi mudah diakses, layanan inklusif disabilitas.Skrining serviks dan hipertensi di kecamatan berjarak jauh seperti wilayah kepulauan dan pegunungan; Posbindu PTM di tempat kerja, terminal, dan pangkalan ojek untuk menjangkau laki-laki usia produktif.
3. Ukur ketimpangan secara rutinKumpulkan data menurut usia, jenis kelamin, status ekonomi, pendidikan, dan tempat tinggal; bangun sistem pemantauan; tingkatkan kapasitas staf program.Mencatat data kunjungan PTM terpilah menurut jenis kelamin, kelompok usia, pendidikan, dan desa/kelurahan, lalu meninjaunya di lokakarya mini Puskesmas.
Tabel 2. Tiga aksi WHO dan gagasan penerapannya. Sumber: WHO (2026) untuk dua kolom pertama.

Dorongan politiknya sudah ada. Dalam Deklarasi Politik PBB tentang PTM dan kesehatan jiwa yang disepakati pada 2025, negara-negara menetapkan target 2030 berupa 150 juta lebih sedikit pengguna tembakau, 150 juta lebih banyak penderita hipertensi yang terkendali, dan 150 juta lebih banyak orang dengan akses layanan kesehatan jiwa[5]. WHO mengingatkan bahwa pengumpulan dan analisis data ketimpangan masih terlalu sering tidak diprioritaskan[2].

Catatan Transparansi

  • Artikel ini bersumber dari dua dokumen WHO dan tidak mewakili pandangan resmi WHO. Grafik pada gambar unggulan dan Gambar 1 dibuat sendiri dari data laporan, tanpa logo WHO.
  • Sebagian angka dibaca dari grafik laporan (Gambar E1, E2, dan E4) dan merupakan median lintas negara atau estimasi global terstandar usia, bukan angka satu negara.
  • Jumlah negara berbeda untuk tiap indikator, data kuintil dan perdesaan hanya berasal dari sebagian negara berpenghasilan rendah-menengah, dan analisis laporan bersifat satu dimensi sehingga tidak menangkap kerugian yang menumpuk. Temuan perlu dibaca sebagai titik awal, bukan sebagai bukti sebab-akibat.
  • Studi konsumsi buah dan sayur di Indonesia dikutip melalui laporan WHO; artikel aslinya tidak dibaca langsung. Gagasan penerapan di Indonesia adalah pendapat penulis, dan belum ada analisis ketimpangan Indonesia dari laporan ini.

Daftar Referensi

1. World Health Organization. State of inequality: noncommunicable diseases and their risk factors. Geneva: WHO; 2026. https://www.who.int/publications/i/item/9789240125018

2. World Health Organization. The hidden inequalities behind noncommunicable diseases: from evidence to action. Geneva: WHO; advocacy brief. https://www.who.int/publications/i/item/B09918

3. Darmawan ES, Kusuma D, Permanasari VY, Amir V, Tjandrarini DH, Dharmayanti I. Beyond the plate: uncovering inequalities in fruit and vegetable intake across Indonesian districts. Nutrients. 2023;15(9):2160. (dikutip melalui rujukan 1) https://doi.org/10.3390/nu15092160

4. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Factsheet penyakit tidak menular, Survei Kesehatan Indonesia 2023. Repositori Badan Kebijakan

5. World Health Organization. World leaders adopt a historic global declaration on noncommunicable diseases and mental health. 16 Desember 2025. https://www.who.int/news/item/16-12-2025-world-leaders-adopt-a-historic-global-declaration-on-noncommunicable-diseases-and-mental-health

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca