Pagi itu di sebuah puskesmas di pinggiran Kota Palu, Sulawesi Tengah, perawat mencatat tekanan darah Ibu Ratna (58 tahun, nama samaran): 168/98 mmHg. Obat antihipertensi sudah diminumnya hampir tiga bulan. Dalam statistik, ia berstatus terdiagnosis dan diobati, dua kotak pertama dalam rantai layanan hipertensi sudah terisi. Kotak ketiga, terkontrol, belum juga terisi. (Ilustrasi fiktif untuk menggambarkan masalah yang dibahas.)
Kotak ketiga itulah yang tampak menyolok dalam laporan terbaru Kantor Regional WHO untuk Pasifik Barat. Di antara negara yang datanya tersedia, pengendalian hipertensi di Indonesia diperkirakan hanya sekitar 5%, yang terendah di kawasan. Angka ini baru satu dari puluhan temuan yang kini ikut menjadi cermin kita, karena Indonesia secara resmi sudah berada di kawasan ini.
Ringkasan: Laporan WHO 2026 menilai 47 indikator SDG kesehatan di Pasifik Barat: 30 membaik, sembilan tidak membaik. Harapan hidup naik, tetapi penyakit tidak menular mendominasi dan kontrol hipertensi rendah. Indonesia, anggota baru kawasan, menonjol dalam kesiapsiagaan dan vaksin HPV, tetapi tertinggal dalam sertifikasi penyebab kematian.
Apa Itu Laporan Ini, dan Mengapa Indonesia Perlu Membacanya?
Health Statistics in the Western Pacific Region 2026: Monitoring health for the SDGs adalah edisi keempat dari seri yang dimulai dengan laporan dasar 2017, lalu laporan kemajuan 2020 dan 2023 (WHO WPRO, 2026). Laporan ini memotret kemajuan 38 negara dan wilayah terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG) bidang kesehatan, dalam lima bab: harapan hidup dan beban penyakit; PROMOTE (populasi yang lebih sehat); PROVIDE (cakupan kesehatan semesta); PROTECT (keamanan kesehatan); dan POWER (data dan teknologi digital).
Catatan penting bagi pembaca Indonesia: berdasarkan resolusi Majelis Kesehatan Dunia WHA78.25 (2025), Indonesia dipindahkan dari Kawasan Asia Tenggara (SEARO) ke Pasifik Barat (WPRO) mulai 27 Mei 2025. Banyak analisis dalam laporan ini selesai sebelum pemindahan itu, sehingga sebagian angka agregat regional, misalnya estimasi penyakit gigi dan mulut serta resistansi antimikroba, belum memasukkan Indonesia. Karena itu, “rata-rata kawasan” dalam laporan ini belum tentu menggambarkan kawasan termasuk Indonesia. Untuk latar belakang perpindahan tersebut, baca juga ulasan laporan Direktur Regional WHO Pasifik Barat dan kerangka kesehatan reproduksi 2026–2030.
Gambaran Besar: Maju, tetapi Belum Merata
Dari 47 indikator kesehatan terkait SDG yang ditinjau, 30 menunjukkan tren regional membaik, sembilan tidak membaik, dan delapan tidak dapat dinilai tren regionalnya. WHO menekankan bahwa tren yang membaik belum berarti kemajuannya merata, apalagi cukup cepat untuk mencapai target 2030 (WHO WPRO, 2026, ringkasan eksekutif).
| Indikator | Temuan regional | Catatan |
|---|---|---|
| Harapan hidup saat lahir | 72,3 tahun (2000) menjadi 77,3 tahun (2023) | Masih 0,4 tahun di bawah 2019; perempuan 80,5 tahun, laki-laki 74,2 tahun |
| Harapan hidup sehat (HALE) | 63,2 tahun menjadi 67,3 tahun | Selisih dengan harapan hidup melebar menjadi 10 tahun |
| Beban penyakit | PTM menyebabkan 84,7% kematian (2023) | Diabetes, kelebihan berat badan, dan obesitas meningkat |
| Kematian ibu, neonatal, balita (2015–2023) | Turun 12%, 17%, dan 17% | Beberapa negara masih di atas target |
| Indeks Cakupan Layanan UHC | 76 (2015) menjadi 81 (2023) | Rentang antarnegara 32–89; subindeks PTM paling lemah |
| Tekanan darah terkontrol pada penderita hipertensi | 18,1% (2024) | Cakupan pengobatan diabetes usia 30+ hanya 40,7% (2022) |
| Imunisasi DTP3 | 94% (2015) turun menjadi 89% (2025) | Keempat indikator vaksin yang dinilai di bawah 90% |
| Kesulitan finansial akibat biaya langsung | 27% (2022), mengenai 596 juta orang | Terkonsentrasi pada rumah tangga miskin, perdesaan, dan lansia |
| Kapasitas International Health Regulations (IHR) | Di atas rata-rata global pada 10 dari 15 area (2025) | Skor negara 38–100; enam negara di bawah 50 |
| Ketersediaan data SDG | 81% indikator memiliki data; sumber nasional sekitar 61% | Banyak negara masih bergantung pada estimasi global |
Tiga pola menonjol. Pertama, orang hidup lebih lama tetapi tidak selalu sehat: kesenjangan sepuluh tahun antara harapan hidup dan harapan hidup sehat berarti layanan penyakit kronis dan perawatan jangka panjang akan semakin dibutuhkan. Kedua, hambatan terbesar bukan lagi menemukan pasien, melainkan menjaga pengobatan hingga target tercapai, seperti terlihat pada angka kontrol tekanan darah. Ketiga, rata-rata regional menyembunyikan kesenjangan besar: negara kepulauan Pasifik menanggung risiko iklim, PTM, dan keterbatasan layanan sekaligus.
Indonesia dalam Angka
Walaupun agregat regional belum memasukkan Indonesia, banyak grafik per negara dalam laporan ini sudah memuatnya. Berikut temuan yang paling relevan, diringkas dari teks laporan (nilai terbaru yang tersedia; tahun berbeda antarindikator).
| Bidang | Temuan untuk Indonesia | Konteks dalam laporan |
|---|---|---|
| Kematian semua sebab | Angka kematian terstandardisasi usia turun 17,8% (2015–2023) | Salah satu penurunan terbesar, bersama Samoa dan Mongolia |
| Kematian prematur PTM (usia 30–70 tahun) | 25,0% menjadi 21,9% (2015–2021) | Penurunan terbesar kedua di kawasan, setelah Mongolia |
| Kematian ibu | 190,2 menjadi 140,5 per 100.000 kelahiran hidup (2015–2023) | Sedikit di atas tolok ukur EPMM (140); target SDG di bawah 70 |
| Kunjungan antenatal minimal empat kali | 68,1% | Termasuk yang terendah, bersama Papua Nugini (49,0%), Naoero (50,7%), dan Kepulauan Marshall (67,8%) |
| Kematian neonatal | Di bawah target SDG (12 per 1.000), di atas target regional 10 per 1.000 | Bersama Kamboja, Palau, dan Viet Nam |
| Diabetes dewasa (18+ tahun) | 8,3% menjadi 12,8% (2015–2022) | Salah satu kenaikan terbesar, bersama Malaysia, Filipina, Vanuatu, dan Mongolia |
| Hipertensi terkontrol | Sekitar 5% | Terendah di kawasan; Korea Selatan 57% |
| Tuberkulosis | Insiden 325 menjadi 382 per 100.000 (2015–2024) | Di atas estimasi global 2024 (131 per 100.000) |
| Hepatitis B | Prevalensi populasi umum 5,24% menjadi 4,42% (2015–2024); HBsAg anak di bawah 5 tahun naik 1,1% menjadi 1,3% (2015–2020) | Satu dari dua negara dengan kenaikan pada anak balita |
| Malaria dan penyakit tropis terabaikan | 631.231 kasus malaria (2024); 67,2 juta orang memerlukan intervensi penyakit tropis terabaikan | Malaria terbanyak kedua setelah Papua Nugini; jumlah penyakit tropis terabaikan terbesar di kawasan, dengan penurunan besar sejak 2015 |
| Imunisasi HPV | 3% (2017) menjadi 83% (2025) | Peningkatan terbesar di kawasan |
| Resistansi antimikroba | E. coli resisten sefalosporin generasi ketiga pada infeksi aliran darah: 73,6% (GLASS 2025) | Tertinggi di antara 11 negara dengan estimasi; bukan peringkat beban resistansi |
| Pembiayaan dan kapasitas | Belanja kesehatan per kapita di bawah US$ 150; kurang dari 14 tempat tidur per 10.000 penduduk | Bersama Kamboja, Papua Nugini, dan beberapa negara lain |
| Kapasitas IHR dan SCORE | Skor SCORE 92% pada swa-penilaian awal (setara Korea Selatan); skor IHR rata-rata masuk delapan besar di kawasan | Indikator kesiapsiagaan dan sistem data |
| Statistik kematian | Sertifikat medis penyebab kematian (MCCD) pada 13% kematian terdaftar; kode ICD pada 1% kematian ber-MCCD | Termasuk yang terendah di kawasan |
Lima Hal yang Patut Dicermati
- Kontrol hipertensi adalah celah terbesar. Rata-rata regional kontrol tekanan darah hanya 18,1%, dan Indonesia berada di bawah 10%. Menurut laporan, tantangannya bukan sekadar menemukan penderita, tetapi menjaga kepatuhan pengobatan, menaikkan dosis atau kombinasi bila perlu, dan mencapai target tekanan darah.
- Beban ganda penyakit. Indonesia mencatat kenaikan diabetes dan insiden TB, sekaligus menanggung malaria dan penyakit tropis terabaikan dalam jumlah besar. Layanan primer perlu menangani keduanya dengan sumber daya yang sama.
- Data kematian yang rapuh. Dengan MCCD hanya 13% dan pengodean ICD 1% pada kematian ber-MCCD, penyebab kematian sulit dipetakan secara andal. Sertifikasi penyebab kematian oleh dokter, terutama di rumah sakit, adalah pekerjaan mutu data yang bisa dimulai dari fasilitas kita sendiri.
- Resistansi antimikroba. Angka 73,6% untuk E. coli resisten sefalosporin generasi ketiga patut menjadi alarm bagi program pengendalian resistansi antimikroba (PPRA) dan penguatan laboratorium mikrobiologi. Laporan sendiri mengingatkan bahwa angka antarnegara tidak boleh dibaca sebagai peringkat sederhana, sebab cakupan surveilans berbeda-beda.
- Ada kekuatan yang nyata. Kematian prematur akibat PTM dan kematian ibu turun, cakupan vaksin HPV melonjak, dan skor kesiapsiagaan (IHR dan SCORE) Indonesia termasuk yang tertinggi. Fondasi ini bisa dimanfaatkan untuk mengejar sisi layanan yang tertinggal.
Apa Pesan Penutup Laporan?
WHO menyimpulkan bahwa kawasan terus maju, tetapi tidak cukup cepat dan tidak merata. Untuk mencapai target 2030, negara perlu mempertahankan capaian yang sudah diraih, membalik tren yang memburuk, memperkuat layanan primer dan perlindungan finansial, menangani iklim dan determinan sosial kesehatan, serta berinvestasi pada sistem data milik nasional yang membuat ketimpangan terlihat (WHO WPRO, 2026). Bagi fasilitas kesehatan di Indonesia, dari puskesmas di Palu hingga rumah sakit kabupaten, pesan itu dapat diterjemahkan sederhana: ukur apa yang benar-benar menentukan hasil (misalnya tekanan darah terkontrol, bukan sekadar terdata), dan pastikan datanya dicatat dengan benar sejak di meja pelayanan. Bagian ini adalah tafsiran penulis, bukan rekomendasi resmi laporan.
Catatan Transparansi
- Artikel ini bersumber dari satu dokumen utama, laporan WHO WPRO 2026. Saya tidak menelusuri ulang sumber primer yang dirujuk laporan (misalnya Global Health Observatory, GLASS, dan estimasi lembaga PBB).
- Banyak angka adalah estimasi berbasis model dengan interval ketidakpastian yang lebar, terutama untuk populasi kecil. Laporan sendiri mengingatkan agar peringkat dan perubahan antarnegara ditafsirkan hati-hati.
- Sebagian agregat regional dihitung sebelum Indonesia bergabung, dan tahun data berbeda antarindikator (2015–2025). Angka Indonesia di sini berasal dari estimasi internasional dan dapat berbeda dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 atau data Kemenkes; perbandingan itu tidak dilakukan dalam artikel ini.
- Kasus di awal tulisan adalah ilustrasi fiktif. Artikel ini adalah ringkasan dan tafsiran independen penulis, tidak disusun atau disahkan oleh WHO, dan bukan pengganti nasihat medis. Diagram dan infografis adalah karya penulis berdasarkan data laporan.
Referensi
World Health Organization Regional Office for the Western Pacific. Health statistics in the Western Pacific Region 2026: monitoring health for the SDGs. Manila: WHO Regional Office for the Western Pacific; 2026. Lisensi CC BY-NC-SA 3.0 IGO. https://www.who.int/publications/i/item/9789290621553





Tinggalkan Balasan