A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sebuah keluarga membawa anaknya, berusia 2 tahun, ke IGD sebuah rumah sakit di Sragen dengan demam tinggi selama tiga hari, disertai ruam makulopapular yang mulai muncul dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh, serta mata merah berair dan batuk pilek yang tak kunjung membaik. Riwayat imunisasi anak tersebut tidak lengkap—orang tuanya sempat menunda jadwal vaksinasi campak-rubela (MR) karena kesibukan bekerja pascapandemi. Dokter jaga segera mencurigai campak dan mengambil spesimen darah serta usap tenggorokan untuk konfirmasi laboratorium, sembari melaporkan kasus tersebut ke sistem surveilans dinas kesehatan setempat. Skenario semacam ini, yang dahulu jarang ditemui di fasilitas kesehatan Indonesia, kini kembali berulang di berbagai wilayah. Namun ada satu hal yang perlu diperbarui dalam pemahaman kita: sejak pertengahan 2025, laporan-laporan eliminasi campak dan rubela dari kawasan Asia Tenggara yang selama ini menjadi rujukan utama Indonesia, tidak lagi secara langsung memuat data dan status negara ini.

Perubahan Peta yang Jarang Disadari: Indonesia Pindah “Kawasan”

Selama lebih dari tujuh dekade, Indonesia tergabung dalam WHO South-East Asia Region (SEARO) bersama India, Bangladesh, Sri Lanka, Thailand, Nepal, dan negara-negara Asia Selatan serta Asia Tenggara lainnya. Namun, pada Sidang Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly) ke-78 di Jenewa, WHO secara resmi menyetujui transisi keanggotaan regional Indonesia dari SEARO ke Western Pacific Regional Office (WPRO), efektif berlaku sejak 23 Mei 2025 (Jakarta Globe, 2025; Seasia, 2026). Perubahan ini bukan sekadar formalitas administratif. Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, menjelaskan bahwa keputusan tersebut didorong oleh pengalaman selama pandemi COVID-19, pertimbangan epidemiologis, serta kemiripan kondisi geografis dan tantangan kesehatan masyarakat—terutama di wilayah timur Indonesia seperti Papua dan Maluku—dengan negara-negara kepulauan Pasifik (Jakarta Globe, 2025).

Konsekuensinya, forum verifikasi eliminasi campak dan rubela yang relevan bagi Indonesia saat ini bukan lagi South-East Asia Regional Verification Commission (SEA-RVC), melainkan Regional Verification Commission for Measles and Rubella Elimination in the Western Pacific (WPRO-RVC)—komisi yang menaungi Jepang, Korea Selatan, Australia, Malaysia, Filipina, serta negara dan wilayah kepulauan Pasifik lainnya (World Health Organization Regional Office for the Western Pacific [WHO WPRO], n.d.).

Apa yang Dibahas dalam Laporan SEA-RVC, dan Mengapa Tetap Relevan Dibaca

Meski Indonesia kini berada di luar cakupan langsungnya, laporan pertemuan kesebelas SEA-RVC—yang diselenggarakan di Kolombo, Sri Lanka pada 22–23 Juni 2026—tetap layak dicermati oleh tenaga kesehatan Indonesia, karena pola masalah yang diungkapnya sangat mirip dengan yang dihadapi Indonesia sendiri.

Dari sepuluh negara yang direview (Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, India, Maladewa, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, dan Timor Leste), hanya empat negara—Bhutan, Korea Utara, Maladewa, dan Timor Leste—yang berhasil mempertahankan status eliminasi campak terverifikasi secara berkelanjutan (WHO SEARO, 2026). Bangladesh, India, Myanmar, Nepal, dan Thailand masih berstatus endemis untuk campak, sementara Sri Lanka bahkan turun kelas menjadi “transmisi yang muncul kembali” (re-established transmission) akibat importasi kasus pascawabah 2023–2024 (WHO SEARO, 2026). Untuk rubela, hasilnya lebih baik: Bhutan, Korea Utara, Maladewa, Nepal, Sri Lanka, dan Timor Leste telah tervalidasi eliminasi, sedangkan Thailand menunjukkan bukti kuat interupsi transmisi endemis sejak 2021, meski verifikasi resminya masih menunggu kunjungan lapangan (WHO SEARO, 2026).

Komisi menyimpulkan bahwa kawasan SEAR secara keseluruhan off track dari target eliminasi 2026, dan mengusulkan penundaan target regional menjadi 2029–2030, dengan syarat negara-negara segera mempercepat penutupan kesenjangan imunitas, memperkuat surveilans, serta mempertahankan komitmen politik dan pendanaan (WHO SEARO, 2026). Akar masalah yang berulang disebut dalam laporan ini: angka cakupan imunisasi nasional sering menutupi kesenjangan yang jauh lebih dalam di tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa, terkonsentrasi pada anak zero-dose, populasi migran dan bergerak, komunitas miskin perkotaan, wilayah perbatasan, kelompok terdampak konflik, serta kelompok yang ragu terhadap vaksin (vaccine-hesitant) (WHO SEARO, 2026).

Bagaimana Kabar dari “Rumah Baru” Indonesia, Kawasan Pasifik Barat?

Jika SEAR masih bergulat dengan target yang berulang kali meleset, kawasan Pasifik Barat justru baru saja mencatat pencapaian penting. Pada September 2025, WHO WPRO mengumumkan bahwa 21 negara dan wilayah kepulauan Pasifik yang tergabung dalam kawasan ini telah diverifikasi secara kolektif berhasil mengeliminasi campak dan rubela, dan Jepang turut mencapai eliminasi rubela setelah sebelumnya berhasil mengeliminasi campak (WHO WPRO, 2025). Direktur Divisi Program Pengendalian Penyakit WHO WPRO, dr. Tran Thi Giang Huong, menegaskan bahwa langkah ke depan memerlukan penguatan imunisasi rutin, surveilans yang tetap waspada, serta peningkatan pencegahan dan respons wabah, sembari terus menutup kesenjangan imunisasi di wilayah yang kurang terlayani (WHO WPRO, 2025).

Namun, capaian ini tidak berarti kawasan Pasifik Barat bebas tantangan. Kasus campak di seluruh kawasan ini justru melonjak 255% dari 2022 ke 2023, didorong oleh kesenjangan cakupan vaksinasi, kelemahan surveilans penyakit, dan mobilitas penduduk dari negara-negara yang tengah mengalami wabah (WHO WPRO, n.d.)—sebuah gambaran yang, sekali lagi, sangat mirip dengan situasi Indonesia saat ini.

Situasi Indonesia: Berjalan Sendiri, Bukan Berarti Bebas Masalah

Terlepas dari perubahan afiliasi regional, tantangan riil di lapangan tidak berubah. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, cakupan imunisasi rutin lengkap sempat mencapai 92% pada 2018, namun menurun menjadi 87,8% pada 2023 (Mediaindonesia, 2026). Untuk imunisasi campak-rubela secara spesifik, cakupan dosis pertama (MR1) tercatat 92% pada 2024, sementara dosis kedua (MR2) hanya mencapai 82,3%—keduanya masih di bawah target 95% yang diperlukan untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Kemenkes RI], 2026a). Ketimpangan antarwilayah pun mencolok: pada 2022, cakupan imunisasi campak-rubela di Jawa dan Bali mencapai 97,9%, sementara di luar Jawa dan Bali hanya 63,9% (Hello Sehat, 2025).

Dampaknya nyata dalam angka kesakitan. Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 di antaranya terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian (case fatality rate 0,1%) (Kemenkes RI, 2026b). Memasuki 2026, hingga minggu ke-7 tercatat 8.224 kasus suspek dengan 572 kasus terkonfirmasi dan 4 kematian, tersebar dalam 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek dan 13 KLB terkonfirmasi laboratorium di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi (Kemenkes RI, 2026b). Situasi ini bahkan menempatkan Indonesia pada peringkat kedua dunia untuk jumlah KLB campak terbanyak berdasarkan pemantauan global periode Juli–Desember 2025 (Mediaindonesia, 2026).

Sebelum transisi keanggotaan regional ini berlaku, Indonesia sejatinya pernah mencatat kemajuan berarti di bawah kerangka SEARO. Laporan bersama Kemenkes RI, WHO Indonesia, dan US Centers for Disease Control and Prevention yang dimuat dalam Morbidity and Mortality Weekly Report mendokumentasikan penurunan signifikan angka kejadian campak dan rubela pada periode 2013–2021, sebelum kembali meningkat pada 2022 akibat terganggunya layanan imunisasi dan surveilans selama pandemi COVID-19 (WHO Indonesia, 2023a). Indonesia juga telah memperkuat jaringan laboratorium campak-rubela nasionalnya melalui uji profisiensi dalam negeri, sejalan dengan standar Global Measles and Rubella Laboratory Network (GMRLN), sebagai bagian dari langkah menuju eliminasi (WHO Indonesia, 2023b).

Implikasi Praktis: Kerangka Verifikasi Berubah, Prinsip Klinis Tidak

Bagi dokter umum dan pengelola fasilitas kesehatan di Indonesia, perubahan afiliasi regional ini membawa beberapa implikasi yang perlu dipahami, meski tidak mengubah prinsip klinis dasar penanganan kasus:

Rujukan kebijakan dan pedoman regional yang akan digunakan Kemenkes RI ke depan kemungkinan besar akan semakin mengacu pada kerangka strategi WPRO—termasuk Regional Strategy and Plan of Action for Measles and Rubella Elimination in the Western Pacific—alih-alih kerangka SEARO yang selama ini menjadi acuan sejak 2013 (WHO WPRO, n.d.).

Kewaspadaan klinis tetap krusial tanpa memandang kerangka regional mana yang berlaku. Setiap kasus demam-ruam (fever-rash) tetap wajib dipandang sebagai kasus suspek yang harus diinvestigasi dan diambil spesimennya sesuai definisi kasus WHO, mengingat penundaan pelaporan dan pengambilan spesimen tetap menjadi kelemahan surveilans yang berulang ditemukan baik di kawasan SEAR maupun WPR.

Verifikasi status vaksinasi anak tetap perlu menjadi bagian rutin anamnesis, khususnya bagi anak dari kelompok yang secara global—di kedua kawasan WHO manapun—teridentifikasi berisiko tinggi: anak zero-dose, keluarga migran atau berpindah tempat tinggal, dan komunitas dengan riwayat keraguan vaksin.

Kolaborasi lintas batas menjadi semakin relevan mengingat posisi geografis Indonesia yang kini secara formal berada dalam satu kawasan administratif WHO dengan negara tetangga seperti Malaysia, Timor Leste, dan Filipina—yang berarti pertukaran data surveilans dan koordinasi respons wabah dengan negara-negara tersebut berpotensi menjadi lebih terstruktur di bawah kerangka WPRO (Jakarta Globe, 2025).

Penutup: Satu Penyakit, Dua Kerangka, Tantangan yang Sama

Perpindahan Indonesia dari SEARO ke WPRO barangkali tidak mengubah virus campak atau rubela itu sendiri, maupun kondisi riil kesenjangan imunisasi di lapangan. Namun perubahan ini penting dipahami oleh tenaga kesehatan dan pengelola fasilitas kesehatan, karena menentukan forum verifikasi, pedoman regional, dan jejaring kolaborasi mana yang relevan bagi Indonesia ke depan. Baik laporan SEA-RVC yang membahas kawasan lama Indonesia, maupun capaian eliminasi terbaru di kawasan Pasifik Barat yang kini menjadi rumah baru Indonesia, sama-sama menegaskan satu pesan inti: angka cakupan nasional yang tampak baik dapat menyembunyikan kantong-kantong kerentanan di tingkat lokal, dan hanya penutupan kesenjangan itu secara sungguh-sungguh yang akan membawa Indonesia—dalam kerangka regional manapun—benar-benar bebas dari campak dan rubela.


Catatan transparansi: Artikel ini disusun berdasarkan laporan resmi WHO SEARO mengenai pertemuan kesebelas SEA-RVC (22–23 Juni 2026), yang mencakup sepuluh negara anggota SEARO dan tidak lagi memuat data Indonesia karena negara ini telah resmi bertransisi ke keanggotaan WHO Kawasan Pasifik Barat (WPRO) sejak 23 Mei 2025. Data mengenai capaian eliminasi di kawasan WPRO dan situasi terkini Indonesia diperoleh dari sumber terpisah (siaran pers WHO WPRO, Kemenkes RI, dan liputan media nasional 2023–2026), bukan dari laporan SEA-RVC itu sendiri, sehingga perbandingan status verifikasi Indonesia dengan negara-negara SEAR maupun WPR dalam artikel ini bersifat kontekstual, bukan perbandingan formal dalam satu dokumen verifikasi yang sama. Pembaca yang memerlukan status verifikasi resmi Indonesia di bawah kerangka WPRO disarankan merujuk pada publikasi terbaru WHO Regional Office for the Western Pacific serta Profil Kesehatan Indonesia/Kemenkes RI.


Referensi

Hello Sehat. (2025). Ketahui jadwal imunisasi campak rubella untuk anak. https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/imunisasi/imunisasi-campak-rubella/

Jakarta Globe. (2025). Indonesia moves WHO regional affiliation from Southeast Asia to Western Pacific. https://jakartaglobe.id/news/indonesia-moves-who-regional-affiliation-from-southeast-asia-to-western-pacific

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026a). Kemenkes waspadai dinamika campak nasional dan global. https://www.kemkes.go.id/id/kemenkes-waspadai-dinamika-campak-nasional-dan-global

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026b). KLB campak meningkat, Kemenkes ingatkan pentingnya imunisasi lengkap. https://kemkes.go.id/id/klb-campak-meningkat-kemenkes-ingatkan-pentingnya-imunisasi-lengkap

Mediaindonesia. (2026). Indonesia peringkat kedua dunia KLB campak, cakupan imunisasi jadi sorotan. https://mediaindonesia.com/humaniora/863060/indonesia-peringkat-kedua-dunia-klb-campak-cakupan-imunisasi-jadi-sorotan

Seasia. (2026). No longer Southeast Asia? Why Indonesia moved to WHO’s Western Pacific Region. https://seasia.co/2025/06/06/no-longer-southeast-asia-why-indonesia-moved-to-whos-western-pacific-region

World Health Organization Indonesia. (2023a). Perkembangan eliminasi campak dan rubela di Indonesia, 2013–2022. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/22-11-2023-progress-toward-measles-and-rubella-elimination-in-indonesia–2013-2022

World Health Organization Indonesia. (2023b). Memperkuat jaringan laboratorium campak-rubela nasional dengan uji profisiensi dalam negeri sebagai langkah Indonesia menuju eliminasi campak-rubela. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/07-12-2023-strengthening-national-measles-rubella-laboratory-network-through-in-country-proficiency-testing-as-indonesia-s-path-to-mr-elimination

World Health Organization Regional Office for South-East Asia. (2026). Eleventh meeting of the WHO South-East Asia Regional Verification Commission for Measles and Rubella Elimination: 22–23 June 2026, Colombo, Sri Lanka. Report of the meeting (SEA-HDC-3). WHO SEARO.

World Health Organization Regional Office for the Western Pacific. (2025). Rubella elimination verified in Japan, and measles and rubella elimination verified in Pacific island countries and areas. https://www.who.int/westernpacific/news/item/26-09-2025-rubella-elimination-verified-in-japan–and-measles-and-rubella-elimination-verified-in-pacific-island-countries-and-areas

World Health Organization Regional Office for the Western Pacific. (n.d.). Measles and rubella. https://www.who.int/westernpacific/health-topics/measles

Artikel Baru Terbit

  • 7 Alternatif Microsoft Office Terbaik untuk Linux: Mana yang Cocok untuk Anda?
    Microsoft tidak merilis Office untuk Linux, namun terdapat alternatif menarik seperti LibreOffice, WPS Office, dan ONLYOFFICE. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, tergantung pada kebutuhan pengguna. Pilihan yang tepat harus disesuaikan dengan prioritas kerja, baik itu untuk kolaborasi, kenyamanan antarmuka, atau penggunaan ringan.
  • Panduan Instalasi Claude di 10 Distribusi Linux Populer
    Claude dapat diinstal di Linux melalui dua cara resmi: Claude Desktop (GUI) untuk Ubuntu/Debian dan Claude Code (CLI) yang lebih mendukung berbagai distro. Instalasi dapat bervariasi tergantung pada distro yang digunakan, dan ada juga paket komunitas yang tidak resmi. Pastikan memeriksa sumbernya sebelum memasang.
  • Komposisi Tim IT Rumah Sakit: Peran, Keahlian, dan Fungsi yang Sebenarnya Dibutuhkan
    Permenkes 82/2013 hanya mensyaratkan empat kualifikasi dasar untuk staf IT rumah sakit — jauh dari cukup di era kewajiban integrasi SATUSEHAT dan ancaman siber yang nyata. Artikel ini memetakan delapan fungsi inti tim IT fasyankes, keahlian yang dibutuhkan tiap peran, serta cara menyesuaikan komposisi tim dengan skala dan anggaran rumah sakit maupun klinik.
  • Ketika Kebahagiaan Menjadi Ibu Terasa Berat: Memahami Kesehatan Mental Reproduksi
    Kehamilan dan persalinan bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga rentan menguji kesehatan jiwa. Artikel ini membedah data SKI 2023 tentang depresi pascapersalinan di Indonesia, faktor risikonya, dampak psikologis infertilitas, hingga protokol skrining EPDS Kemenkes—agar gejala yang sering tersembunyi di balik peran “ibu yang kuat” bisa dikenali dan ditangani lebih awal.
  • Jendela 72 Jam: Kombinasi Tiga Terapi Berhasil “Membersihkan” HIV pada Bayi Primata
    Penelitian dari Oregon Health & Science University menunjukkan bahwa kombinasi terapi antiretroviral, antibodi penetral luas, dan leronlimab dapat “membersihkan” HIV pada bayi kera jika diberikan dalam 72 jam pasca-paparan. Temuan ini membuka harapan untuk uji klinis pada manusia meski Indonesia masih memerlukan perbaikan pada skrining HIV untuk ibu hamil.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca